Serangan Israel Hancurkan Gereja Katolik di Gaza

Tiga orang tewas dan 10 orang terluka, termasuk pastor paroki, akibat serangan itu. Israel menyalahkan peluru tank yang nyasar. Vatikan menyerukan gencatan senjata.

18 Jul 2025 11:10 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

JALUR GAZA, JUMAT — Serangan militer Israel menghancurkan satu-satunya gereja Katolik di Jalur Gaza. Tiga orang tewas dan sejumlah orang terluka, termasuk pastor paroki.

Laporan Associated Press, Jumat (18/7/2025), menyebutkan, Gereja Keluarga Kudus itu menjadi sasaran tembakan. Kompleks gereja juga hancur. Di tempat itu, ratusan warga Palestina berlindung dari perang Hamas-Israel selama 21 bulan terakhir.

Pastor paroki Gabriel Romanelli dikenal dekat dengan mendiang Paus Fransiskus. Sejak pecah perang di Gaza sampai wafatnya pada Mei 2025, Paus Fransiskus kerap berbincang dengan Romanelli melalui sambungan telepon untuk menanyakan kondisi para pengungsi di Gaza, terutama anak-anak.

Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma Paus Leo XIV di Vatikan mengirim ucapan belasungkawa kepada para korban serangan di gereja. Ia juga menyerukan agar gencatan senjata antara Hamas dan Israel disegerakan.

”Saya sangat berharap adanya dialog demi mencapai perdamaian atas konflik yang sudah terlalu lama ini,” ucap Paus Leo.

A view of the damage to the Holy Family church in Gaza City following an Israeli strike on the church, in the Zeitoun neighborhood of Gaza City on July 17, 2025. The Latin Patriarchate of Jerusalem said an Israeli strike on Gaza's only Catholic church injured several people on July 17, including the parish priest, as well as causing damage to the building. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengecam keras serangan terhadap Gereja Keluarga Kudus di Gaza. Dalam akun resmi, Kemenlu menegaskan, serangan itu mencerminkan pengabaian sepenuhnya terhadap Hukum Humaniter Internasional, kemanusiaan, serta kesucian tempa beribadah.

”Hal ini semakin menunjukkan tidak adanya komitmen Israel dalam memenuhi kewajiban hukumnya sebagai Kuasa Pendudukan, apalagi terhadap perdamaian dan stabilitas kawasan,” kata Kemenlu dalam sebuah pernyataan.

Menurut Indonesia, situs keagamaan, fasilitas medis dan sipil lain dilindungi hukum internasional, dan tidak boleh diserang. ”Indonesia mendesak komunitas internasional, terutama Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengambil langkah nyata untuk menekan Israel agar menghentikan semua kekerasan dan kembali ke negosiasi gencatan senjata di bawah Solusi Dua Negara,” kata Kemenlu.

Serangan Israel

Melansir laporan Catholic News Register, Kamis, serangan terjadi pukul 10.20 atau sesudah misa pagi. Tembakan proyektil mengenai atap bangunan gereja dan puing-puing beterbangan ke segala arah.

Berdasarkan laporan, tank militer Israel sejatinya menembakkan peluru ke sasaran di dekat gereja. Akan tetapi, ada proyektil yang mengenai bangunan gereja.

”Kami baru menyadari ada sejumlah orang yang berada di pekarangan dan terkena empasan puing-puing,” kata Direktur Caritas Jerusalem Anton Asfar.

Menurut dia, jumlah korban bisa mencapai 60 orang jika Pastor Romanelli tidak mewanti-wanti umat di dalam gereja supaya jangan keluar.

Gereja Keluarga Kudus menjadi tempat berlindung bagi 500 orang sejak perang antara Hamas dan militer Israel pecah pada 7 Oktober 2023. Selain umat Katolik, orang-orang yang berlindung juga ada yang pemeluk agama Kristen Ortodoks, Protestan, dan Islam. Terdapat pula 50 anak Muslim penyandang disabilitas yang dirawat oleh gereja.

Christian Palestinian mourners attend the funeral ceremony of Saad Salameh and Foumia Ayyad, killed earlier in an Israeli strike that hit the Holy Family church in Gaza City, as Archbishop Alexios of the Saint Porphyrius Church leads the mass on July 17, 2025. An Israeli strike on Gaza's only Catholic church killed three people on July 17, the Latin Patriarchate of Jerusalem said, as Israel said it "never targets" religious sites and regretted any harm to civilians. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Menurut Asfar, setiap hari, militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi. Dua hari lalu, perintah dikeluarkan untuk daerah Zeitoun. Gereja Keluarga Kudus berada di wilayah itu. Area di sekeliling gereja banyak yang rusak akibat serangan Israel.

”Kami kesulitan memindahkan orang sehingga memutuskan akan bertahan di dalam gereja. Tidak ada tempat yang aman di Gaza,” ujarnya.

Selain serangan yang seolah tiada henti, warga bertahan di tengah tekanan bencana kelaparan. Asfar mengatakan, tidak ada bantuan sosial yang masuk Gaza sejak 2 Maret 2025. Baru pada Mei penyaluran bantuan dimulai lagi, tetapi hanya melalui Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang dikelola oleh Israel dan Amerika Serikat.

”Poskonya hanya empat. Tentu tidak bisa menyalurkan bantuan dengan efektif,” kata Asfar.  

Sebelumnya, ada 400 posko bantuan sosial di Gaza dari berbagai organisasi yang dipantau oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Israel melarang mereka semua beroperasi dengan dalih banyak paket bantuan yang malah jatuh ke tangan Hamas.

PBB dan organisasi kemanusiaan internasional meminta Israel dan AS menutup GHF. Sudah 875 orang tewas ketika mengantre bantuan dari GHF. Selain tertindih akibat berdesak-desakan, mereka juga banyak yang tewas tertembak karena menuju posko GHF harus melewati titik kontak senjata.

Peluru ”nyasar”

Militer Israel mengaku khilaf atas serangan terhadap gereja Katolik di Gaza. Pernyataan resmi militer Israel menyebutkan, mereka selalu berusaha menghindari permukiman sipil dan tempat-tempat ibadah.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengutarakan penyesalannya kepada Presiden AS Donald Trump. Ketika berbicara di telepon dengan Trump, Netanyahu mengatakan serangan itu gara-gara peluru nyasar.

”Pak Presiden mengatakan dirinya tidak senang ketika menerima kabar serangan di gereja,” kata Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.

PM Italia Giorgia Meloni lebih tegas. Ia menyalahkan Israel atas serangan itu. ”Kelakuan Israel selama beberapa bulan ini tidak bisa diterima. Militernya terus menyerang populasi warga sipil,” katanya.

Gereja Kristen Ortodoks Yunani di Jerusalem juga mengeluarkan surat kecaman. Menyerang tempat ibadah tidak diperbolehkan menurut hukum perang internasional. Apalagi, tempat ibadah itu merupakan tempat mengungsi bagi kelompok yang sangat rentan, yaitu warga lansia dan penyandang disabilitas.

A Christian Palestinian woman attends the funeral ceremony of Saad Salameh and Foumia Ayyad, killed earlier in an Israeli strike that hit the Holy Family Church in Gaza City, at the Saint Porphyrius Church on July 17, 2025. An Israeli strike on Gaza's only Catholic church killed three people on July 17, the Latin Patriarchate of Jerusalem said, as Israel said it "never targets" religious sites and regretted any harm to civilians. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Perundingan tidak langsung antara Hamas dan Israel masih berlangsung di Qatar. Serangan-serangan semacam ini membuat ketidakpercayaan di antara kedua pihak tetap tinggi sehingga sukar menemukan titik temu untuk gencatan senjata.

Israel ingin supaya 40 persen wilayah Gaza dijadikan zona penyangga dan populasi Gaza ditempatkan di wilayah permukiman khusus. Hal ini ditolak oleh Hamas karena Gaza sudah merupakan wilayah padat penduduk. Jika wilayah hunian dikurangi, tidak manusiawi bagi warganya.

Israel juga meminta supaya Hamas menyerahkan semua senjata dan kekuasaan politik mereka. Tidak boleh ada warga Gaza yang memegang senjata api. Cuma tentara Israel, termasuk yang cadangan, boleh memiliki senjata api. (AP/AFP)

_____

Artikel ini telah diperbaruhi dengan penambahan pada paragraf 6-8.


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji