Serangan Israel ke Teheran Perburuk Ketidakpastian Ekonomi

Seusai serangan Israel ke Iran, ekonomi global bergejolak. Harga minyak dunia melejit, bursa Asia melemah, sedangkan dollar AS menguat, dan harga emas meningkat.

13 Jun 2025 14:03 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Agnes Theodora

JAKARTA, KOMPAS — Perekonomian dunia semakin diliputi ketidakpastian pasca serangan Israel ke Teheran, Iran. Serangan militer itu seketika berimbas pada melejitnya harga minyak dunia, rontoknya bursa saham Asia, melemahnya sejumlah mata uang, dan potensi dampak rambatan pada kondisi ekonomi global.

Mengacu data Market Insider, harga minyak dunia telah melesat di atas 8 persen pada Jumat (13/6/2025) pagi. Sebagai perbandingan, sebelumnya, pada Kamis (12/6/2025), pergerakan harga sempat melandai dan ditutup di rentang 69 dollar AS per barel.

Harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 10,17 persen pada level 75,84 dollar AS per barel menjelang Jumat tengah hari WIB. Pada saat yang sama, harga minyak dunia jenis Brent naik 9,51 persen pada level 77,03 dollar AS per barel.

Pada satu titik, pergerakan harga minyak dunia bahkan sempat melejit di atas 12 persen. WTI tercatat menyentuh titik tertinggi di 77,62 dollar AS per barel dalam perdagangan intraday (harian) dan minyak Brent sempat menyentuh titik tertingginya pada level 78,5 dollar AS per barel.

Dilansir dari Reuters, serangan militer Israel ke Iran mendorong kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah sebagai pusat produksi minyak dunia.

Rescue teams work in a building targeted by an Israeli strike in the Iranian capital Tehran on June 13, 2025. Israel carried out strikes against Iran early on June 13, targeting its nuclear and military sites as well as residential buildings in Tehran, after US President Donald Trump warned of a possible "massive conflict" in the region. (Photo by ATTA KENARE / AFP)

Analis pasar senior dari Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, mengatakan, adanya kemungkinan serangan balasan dari Iran ke Israel semakin meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Tensi yang memanas itu akan semakin mendisrupsi pergerakan harga minyak.

"Iran sudah mengumumkan status darurat dan menyiapkan rencana serangan balasan. Ini semakin meningkatkan risiko, bukan hanya di kawasan tetapi juga menyebar hingga negara produsen minyak lainnya,” katanya kepada Reuters.

Bursa dan rupiah melemah

Seiring dengan melejitnya harga minyak dunia, pasar saham Asia juga bersamaan anjlok pada pembukaan perdagangan Jumat pagi. Investor mulai ramai-ramai beralih ke instrumen yang dianggap aman (safe haven) seperti emas dan franc Swiss.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka memerah di level 7.176 pada perdagangan Jumat pagi, melemah 28,19 poin atau 0,39 persen setelah sebelumnya ditutup pada level 7.204,37 pada perdagangan Kamis. Sejauh ini, saham bergerak di rentang level 7.160,87-7.192,66.

Bursa saham regional Asia juga kompak memerah pada perdagangan Jumat pagi. Indeks Nikkei 225 (Jepang) tercatat turun 438,4 poin ke level 37.736, Indeks SSE (Shanghai) melemah 24,64 poin ke level 3.378, dan indeks Hang Seng (Hong Kong) melemah 168,52 poin ke level 23.866.

Pergerakan indeks langsung anjlok hingga minus 9,19 persen saat perdagangan sesi pertama dibuka di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (8/4/2025). PT Bursa Efek Indonesia melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada pukul 09.00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) yang dipicu penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 8 persen. Pembekuan perdagangan dilakukan selama 30 menit. 

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
08-04-2025

Seiring dengan melemahnya bursa saham di berbagai negara, dilansir dari Reuters, harga emas melonjak 1,5 persen ke level 3.434 dollar AS per ons, mendekati rekor tertinggi sejak April 2025 yaitu 3.500 dollar AS per ons.

Dollar AS juga menunjukkan penguatan terhadap mata uang lainnya. Indeks Dollar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dollar terhadap sejumlah mata uang dunia menunjukkan, kurs dollar AS pada Jumat menguat 0,48 persen ke level 98,305. Pada penutupan sebelumnya, Kamis, DXY sempat anjlok ke level 97,836, atau level terendah sejak April 2022.

Seiring dengan menguatnya dollar AS, rupiah tercatat melemah pada perdagangan Jumat pagi. Pada pembukaan perdagangan, rupiah melemah 36,5 poin atau 0,22 persen ke level Rp 16.279 per dollar AS. Sebelumnya, pada penutupan perdagangan, Kamis, rupiah sempat menguat tipis ke level Rp 16.237 per dollar AS seiring dengan melemahnya dollar AS.

Skenario terburuk

Sebelum serangan terhadap Iran terjadi, JP Morgan sempat merilis laporan ”Oil Markets Weekly Note” yang berisi perkiraan atas dampak ketegangan di Timur Tengah terhadap pasar global.

Kendati menyimpulkan bahwa harga minyak dunia kemungkinan berada di kisaran 60 dollar AS per barel sepanjang 2025, laporan itu juga memperkirakan skenario terburuk (worst-case scenario) jika terjadi serangan militer terhadap Iran akibat mentoknya negosiasi nuklir.

JP Morgan memperkirakan, jika ada eskalasi tensi, harga minyak dunia bisa melonjak hingga menyentuh 120 dollar AS per barel. Dengan harga minyak yang meningkat, ada potensi kenaikan inflasi konsumen (CPI) di Amerika Serikat, yang pada akhirnya bisa berdampak pula pada kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve.

Currency traders work near a screen showing the Korea Composite Stock Price Index (KOSPI), top left, and the foreign exchange rate between U.S. dollar and South Korean won, top center, at the foreign exchange dealing room of the KEB Hana Bank headquarters in Seoul, South Korea, Friday, June 13, 2025. (AP Photo/Ahn Young-joon)

Sebelumnya, The Fed sempat menunjukkan tanda-tanda akan menurunkan suku bunga acuannya, memberi harapan "angin segar" bagi banyak negara berkembang seperti Indonesia. Namun, perkembangan terbaru ini berpotensi membuat ketidakpastian ekonomi global semakin menjadi-jadi.

"Serangan terhadap Iran bisa mendorong harga minyak ke level 120 dollar AS, yang kemudian akan meningkatkan inflasi CPI AS ke 5 persen, dan membuka kembali kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed," papar laporan tersebut.

Kepala Penelitian Komoditas Global di JP Morgan Natasha Kaneva memperkirakan, harga minyak dunia bisa semakin tinggi apabila tensi di kawasan Timur Tengah meningkat dan Iran menutup Selat Hormuz. Sekitar seperlima dari perdagangan minyak dunia melalui selat tersebut.

"Dalam kondisi terburuk, jika negosiasi nuklir gagal, kami mengestimasikan harga minyak dunia bisa melonjak hingga level 120-130 dollar AS per barel," katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agnes Theodora
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .