Serangan Israel Mengungkap Penyusupan Mendalam ke Iran
Setelah Israel memutuskan menyerang Iran, AS mengirimkan 300 rudal. Agen intelijen Israel di dalam Iran memandu rudal itu ke lokasi para jenderal dan ilmuwan.
Gelombang serangan Israel ke Iran masih berlanjut. Selain mengirim jet tempur dari luar Iran, Israel juga beroperasi dari dalam Iran selama bertahun-tahun. Penyusupan itu, juga pasokan senjata dari Amerika Serikat, kunci kesuksesan serangan.
Pada Minggu (15/6/2025) dini hari WIB, Israel menyerang kantor Kementerian Pertahanan Iran dan sejumlah depo minyak. Depo Shahran menjadi tempat penyimpanan utama minyak untuk Teheran, ibu kota Iran.
Selain kerusakan aneka bangunan dan fasilitas, Iran juga kehilangan sejumlah jenderal dan ilmuwan. Kantor berita Tasnim pada Sabtu melaporkan, Brigadir Jenderal Mahdi Rabbani dan Brigjen Gholamreza Mehrabi dipastikan tewas akibat serangan Israel.
Mereka Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran. Rabbani bidang operasi, Mehrabi bidang intelijen.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Mohammad Bagheri telah dinyatakan tewas dalam serangan awal Israel pada Jumat dini hari. Bersama Bagheri, ada lima jenderal dan sembilan ilmuwan nuklir Iran tewas.
Salah satu ilmuwan itu adalah Fereydoun Abbasi. Dilaporkan CNN dan The Guardian, Abbasi telah diburu Israel setidaknya sejak 2007. Berulang kali coba dibunuh, Abbasi akhirnya tewas disasar rudal berharga paling murah 113.000 dollar AS atau Rp 1,8 miliar AS per unit.
Perburuan Abbasi bagian dari operasi intelijen Israel di dalam Iran selama bertahun-tahun. ”Iran telah menjadi buku terbuka bagi intelijen Israel selama satu dekade atau lebih lama lagi,” kata penulis senior bidang intelijen Israel, Yossi Melman, kepada The Guardian.
Ada sejumlah kelompok orang di Iran yang menjadi pintu Israel menyusup. Pertama, anggota komunitas Yahudi Iran. Meski membenci Israel, Pemerintah Iran mengizinkan komunitas Yahudi hidup di Iran seperti sejak ribuan tahun lalu. Seperti banyak Yahudi di sejumlah negara lain, ada Yahudi Iran lebih setia ke Israel dibandingkan dengan Iran yang jadi negara tempat mereka hidup.
Kelompok kedua, orang-orang Iran yang pindah ke luar dan masih punya keluarga di Iran. Kelompok ketiga, orang-orang yang membenci pemerintahan Iran. Sebagian dari kelompok ini adalah pendukung Shah Iran yang digulingkan pada 1979.
Kelompok keempat adalah orang yang jadi kaki tangan Israel karena diperas atau mencari bayaran. Mereka biasanya tentara atau pegawai pemerintah. Ada yang diperas dengan rekaman video tidak senonoh.
Mereka membantu Israel memburu berbagai tokoh. Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh, para jenderal dan perwira, sampai ilmuwan nuklir Iran tewas akibat persekongkolan pengkhianat Iran dengan agen Israel itu.
Tidak lazim
Operasi di Iran terutama dijalankan Institut Intelijen dan Operasi Khusus atau dalam bahasa Ibrani, המוסד למודיעין ולתפקידים מיוחדים. Dibentuk dan bekerja secara rahasia sejak 1949, lembaga itu lebih sering disebut ”Institut” atau dalam bahasa Ibrani ”Mossad” saja.
Dalam serangan Juni 2025, Mossad tidak bekerja sendirian. Mereka melibatkan Aman, direktorat intelijen militer Israel. Kerja sama Mossad dan Aman di luar negeri amat jarang. Sebab, Aman tidak punya divisi luar negeri sebesar Mossad. Fokus tugas Mossad memang di luar negeri. Di dalam negeri, intelijen keamanan terutama ditangani Shin Bet.
Hal yang tidak lazim dari operasi di Iran bukan cuma kerja sama Mossad-Aman. Hanya dalam hitungan jam sejak serangan pertama, Israel mengungkap agen intelijennya bekerja dari dalam Iran.
Video yang merekam aksi agen Israel di Iran disiarkan melalui media massa dan media sosial. Biasanya Israel nyaris tak pernah mengakui operasi intelijen di luar negeri, sekalipun operasi itu berhasil.
Tujuan utama Mossad di Iran, kata Melman, menyemai ketakutan di antara warga Iran. ”Mossad seolah menyatakan ke Iran: kami tahu semuanya tentangmu. Kami bisa menyusup ke rumahmu kapan pun,” kata Melman.
Pembunuhan para jenderal Iran dalam serangan Jumat dini hari menunjukkan, Israel tahu perincian banyak hal di Iran. Israel tahu protokol keamanan, rantai komando, lokasi penting, hingga tempat perlindungan petinggi Iran. ”Mossad memperlakukan Iran seperti taman bermain selama bertahun-tahun,” kata peneliti senior kajian Iran pada Washington Institute, Holly Dagres, kepada CNN.
Untuk serangan Jumat, Mossad tidak cuma mengandalkan jaringan kaki tangan di Iran. Mereka mengirimkan petugas lapangan yang bekerja sama dengan agen Aman. Tugas utama tim itu menyasar artileri pertahanan udara (arhanud) serta peluncur dan penyimpanan rudal.
Ada tiga tahapan untuk melaksanakan tugas itu. Pertama, menyelundupkan dan menyimpan pesawat nirawak serta perangkat pemandu bom atau rudal ke Iran. Kedua, memetakan lokasi serangan. Ketiga, membidik lokasi yang akan diserang rudal berpemandu atau pesawat nirawak.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam rapat pada Senin (9/6/2025), dengan sejumlah petinggi Israel, memutuskan serangan akan dilancarkan. Waktu itu, tidak sampai 10 orang di Israel tahu serangan akan dilancarkan pada Jumat dini hari. Tim di Iran juga belum tahu. Mereka cuma diminta siaga. Militer Israel, Tzahal, juga belum tahu.
Kirim rudal
Selesai rapat Senin, Netanyahu menelepon Presiden AS Donald Trump dan memberi tahu rencana serangan. Beberapa jam selepas telepon itu, AS mengirimkan 300 rudal Hellfire ke Israel.
Pengiriman rudal itu bagian dari paket penjualan senjata 7,4 miliar dollar AS yang disetujui Kongres AS pada Februari 2025. Dengan kondisi tersebut, tidak diperlukan pengumuman pengiriman senjata maut itu.
Rudal itu bagian dari senjata Israel untuk menyerang setidaknya 100 lokasi di Iran pada Jumat dini hari. Para jenderal dan ilmuwan nuklir Iran dibunuh dengan rudal itu. Sementara sebagian arhanud dan rudal Iran dihancurkan dengan pesawat nirawak dari dalam Iran.
Meski rudal dan pesawatnya dipakai Israel menyerang Iran dan Israel memberi tahu jauh-jauh hari, AS bergegas menyatakan tidak terlibat. Bom dan rudal Israel meledak di Iran pada pukul 03.30 waktu Teheran. Pukul 03.45, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengeluarkan pernyataan tertulis. Intinya, Israel bertindak sendiri dan AS tidak terlibat.
Beberapa jam setelah pernyataan Rubio, Trump mengumumkan diberi tahu Israel sebelum serangan dilancarkan. Selanjutnya, sejumlah pejabat AS juga mengungkap hal sama.
Tidak cuma Senin, Israel juga memberi tahu AS soal rencana serangan pada Kamis malam. Waktu itu, rudal Hellfire sudah terpasang di jet-jet Israel. Juru bicara Tzahal, Effie Defrin, menyatakan, 200 F-35, F-16, F-15, dan sejumlah pesawat lain dikerahkan menyerang Iran.
AS bukan cuma pembuat F-35, F-16, dan F-15. AS juga membantu Israel mengembangkan jet-jet itu lebih lanjut. Untuk bisa menyerang Iran, AS-Israel memodifikasi F-35 agar bisa terbang jauh tanpa harus mengisi ulang bahan bakar.
Jarak terdekat pangkalan udara Israel ke titik peluncuran rudal dan bom adalah 1.500 kilometer. Dengan demikian, penerbangan bolak-balik paling kurang 3.000 kilometer.
Versi standar F-35 cuma bisa terbang maksimum 2.100 kilometer untuk sekali isi bahan bakar. Sebagian malah cuma bisa 1.100 kilometer. Modifikasi AS-Israel membuat F-35 Adir, varian yang dioperasikan Israel, bisa terbang lebih jauh tanpa harus mengisi ulang bahan bakar.
Tzahal mengklaim jet-jet Israel terbang sampai ke langit Teheran. Keleluasaan itu didapat karena tim Mossad-Aman lebih dulu melumpuhkan sebagian arhanud dan peluncur rudal Iran.
Tim itu memakai pesawat nirawak yang diselundupkan bertahap sejak bertahun-tahun lalu. Tidak ada keterangan apakah pesawat diselundupkan utuh atau terurai lalu dirakit di dalam Iran.
Israel hanya menyatakan, pesawat-pesawat itu disimpan dalam kendaraan yang bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain. Modusnya mirip ”Operasi Jaring Laba-laba” yang dilancarkan Ukraina di Rusia pada 1 Juni 2025.
Pesawat itu, juga tim pemandu sasaran rudal, diberi tahu untuk bertugas pada Jumat dini hari. Waktu itu, seluruh kabinet Israel baru selesai rapat dan kompak menyetujui serangan ke Iran.
Selepas rapat itu, Israel sekali lagi memberi tahu AS soal rencana serangan. ”Sulit memercayai Israel akan dan bisa menyerang dengan skala ini tanpa persetujuan AS,” kata dosen John Hopkins University di AS, Vali Nasr.
Dilaporkan CNN, Israel selalu berkoordinasi dengan AS pada setiap tahapan perkembangan rencana serangan ke Iran. Rencana bisa berkembang bila ada persetujuan AS. (AP/AFP/REUTERS)
Gelombang serangan Israel ke Iran masih berlanjut. Selain mengirim jet tempur dari luar Iran, Israel juga beroperasi dari dalam Iran selama bertahun-tahun. Penyusupan itu, juga pasokan senjata dari Amerika Serikat, kunci kesuksesan serangan.
Pada Minggu (15/6/2025) dini hari WIB, Israel menyerang kantor Kementerian Pertahanan Iran dan sejumlah depo minyak. Depo Shahran menjadi tempat penyimpanan utama minyak untuk Teheran, ibu kota Iran.
Selain kerusakan aneka bangunan dan fasilitas, Iran juga kehilangan sejumlah jenderal dan ilmuwan. Kantor berita Tasnim pada Sabtu melaporkan, Brigadir Jenderal Mahdi Rabbani dan Brigjen Gholamreza Mehrabi dipastikan tewas akibat serangan Israel.
Mereka Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran. Rabbani bidang operasi, Mehrabi bidang intelijen.
Serial Artikel
Israel Pakai Kaki Tangan dalam Iran untuk Bidik Sasaran
Dalam wilayah Iran, Israel menyusupkan perangkat pembidik, pemandu sasaran, dan pelumpuh artileri pertahanan udara. Lalu, kaki tangan membuntuti orang yang disasar.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Mohammad Bagheri telah dinyatakan tewas dalam serangan awal Israel pada Jumat dini hari. Bersama Bagheri, ada lima jenderal dan sembilan ilmuwan nuklir Iran tewas.
Salah satu ilmuwan itu adalah Fereydoun Abbasi. Dilaporkan CNN dan The Guardian, Abbasi telah diburu Israel setidaknya sejak 2007. Berulang kali coba dibunuh, Abbasi akhirnya tewas disasar rudal berharga paling murah 113.000 dollar AS atau Rp 1,8 miliar AS per unit.
Perburuan Abbasi bagian dari operasi intelijen Israel di dalam Iran selama bertahun-tahun. ”Iran telah menjadi buku terbuka bagi intelijen Israel selama satu dekade atau lebih lama lagi,” kata penulis senior bidang intelijen Israel, Yossi Melman, kepada The Guardian.
Ada sejumlah kelompok orang di Iran yang menjadi pintu Israel menyusup. Pertama, anggota komunitas Yahudi Iran. Meski membenci Israel, Pemerintah Iran mengizinkan komunitas Yahudi hidup di Iran seperti sejak ribuan tahun lalu. Seperti banyak Yahudi di sejumlah negara lain, ada Yahudi Iran lebih setia ke Israel dibandingkan dengan Iran yang jadi negara tempat mereka hidup.
Kelompok kedua, orang-orang Iran yang pindah ke luar dan masih punya keluarga di Iran. Kelompok ketiga, orang-orang yang membenci pemerintahan Iran. Sebagian dari kelompok ini adalah pendukung Shah Iran yang digulingkan pada 1979.
Kelompok keempat adalah orang yang jadi kaki tangan Israel karena diperas atau mencari bayaran. Mereka biasanya tentara atau pegawai pemerintah. Ada yang diperas dengan rekaman video tidak senonoh.
Mereka membantu Israel memburu berbagai tokoh. Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh, para jenderal dan perwira, sampai ilmuwan nuklir Iran tewas akibat persekongkolan pengkhianat Iran dengan agen Israel itu.
Serial Artikel
Iran Tangkap Intelijen Israel yang Beroperasi sampai Malaysia-Singapura
Iran mengklaim menangkap 23 anggota jaringan mata-mata Israel. Mereka beroperasi hingga Malaysia dan Singapura.
Operasi di Iran terutama dijalankan Institut Intelijen dan Operasi Khusus atau dalam bahasa Ibrani, המוסד למודיעין ולתפקידים מיוחדים. Dibentuk dan bekerja secara rahasia sejak 1949, lembaga itu lebih sering disebut ”Institut” atau dalam bahasa Ibrani ”Mossad” saja.
Dalam serangan Juni 2025, Mossad tidak bekerja sendirian. Mereka melibatkan Aman, direktorat intelijen militer Israel. Kerja sama Mossad dan Aman di luar negeri amat jarang. Sebab, Aman tidak punya divisi luar negeri sebesar Mossad. Fokus tugas Mossad memang di luar negeri. Di dalam negeri, intelijen keamanan terutama ditangani Shin Bet.
Hal yang tidak lazim dari operasi di Iran bukan cuma kerja sama Mossad-Aman. Hanya dalam hitungan jam sejak serangan pertama, Israel mengungkap agen intelijennya bekerja dari dalam Iran.
Video yang merekam aksi agen Israel di Iran disiarkan melalui media massa dan media sosial. Biasanya Israel nyaris tak pernah mengakui operasi intelijen di luar negeri, sekalipun operasi itu berhasil.
Tujuan utama Mossad di Iran, kata Melman, menyemai ketakutan di antara warga Iran. ”Mossad seolah menyatakan ke Iran: kami tahu semuanya tentangmu. Kami bisa menyusup ke rumahmu kapan pun,” kata Melman.
Pembunuhan para jenderal Iran dalam serangan Jumat dini hari menunjukkan, Israel tahu perincian banyak hal di Iran. Israel tahu protokol keamanan, rantai komando, lokasi penting, hingga tempat perlindungan petinggi Iran. ”Mossad memperlakukan Iran seperti taman bermain selama bertahun-tahun,” kata peneliti senior kajian Iran pada Washington Institute, Holly Dagres, kepada CNN.
Untuk serangan Jumat, Mossad tidak cuma mengandalkan jaringan kaki tangan di Iran. Mereka mengirimkan petugas lapangan yang bekerja sama dengan agen Aman. Tugas utama tim itu menyasar artileri pertahanan udara (arhanud) serta peluncur dan penyimpanan rudal.
Ada tiga tahapan untuk melaksanakan tugas itu. Pertama, menyelundupkan dan menyimpan pesawat nirawak serta perangkat pemandu bom atau rudal ke Iran. Kedua, memetakan lokasi serangan. Ketiga, membidik lokasi yang akan diserang rudal berpemandu atau pesawat nirawak.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam rapat pada Senin (9/6/2025), dengan sejumlah petinggi Israel, memutuskan serangan akan dilancarkan. Waktu itu, tidak sampai 10 orang di Israel tahu serangan akan dilancarkan pada Jumat dini hari. Tim di Iran juga belum tahu. Mereka cuma diminta siaga. Militer Israel, Tzahal, juga belum tahu.
Serial Artikel
100 Pesawat Nirawak Iran Balas 330 Bom Israel
Sebelum 200 pesawatnya mencapai Iran, Israel memberi tahu AS. Sejumlah jenderal dan ilmuwan Iran tewas dalam serangan itu.
Selesai rapat Senin, Netanyahu menelepon Presiden AS Donald Trump dan memberi tahu rencana serangan. Beberapa jam selepas telepon itu, AS mengirimkan 300 rudal Hellfire ke Israel.
Pengiriman rudal itu bagian dari paket penjualan senjata 7,4 miliar dollar AS yang disetujui Kongres AS pada Februari 2025. Dengan kondisi tersebut, tidak diperlukan pengumuman pengiriman senjata maut itu.
Rudal itu bagian dari senjata Israel untuk menyerang setidaknya 100 lokasi di Iran pada Jumat dini hari. Para jenderal dan ilmuwan nuklir Iran dibunuh dengan rudal itu. Sementara sebagian arhanud dan rudal Iran dihancurkan dengan pesawat nirawak dari dalam Iran.
Meski rudal dan pesawatnya dipakai Israel menyerang Iran dan Israel memberi tahu jauh-jauh hari, AS bergegas menyatakan tidak terlibat. Bom dan rudal Israel meledak di Iran pada pukul 03.30 waktu Teheran. Pukul 03.45, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengeluarkan pernyataan tertulis. Intinya, Israel bertindak sendiri dan AS tidak terlibat.
Beberapa jam setelah pernyataan Rubio, Trump mengumumkan diberi tahu Israel sebelum serangan dilancarkan. Selanjutnya, sejumlah pejabat AS juga mengungkap hal sama.
Tidak cuma Senin, Israel juga memberi tahu AS soal rencana serangan pada Kamis malam. Waktu itu, rudal Hellfire sudah terpasang di jet-jet Israel. Juru bicara Tzahal, Effie Defrin, menyatakan, 200 F-35, F-16, F-15, dan sejumlah pesawat lain dikerahkan menyerang Iran.
AS bukan cuma pembuat F-35, F-16, dan F-15. AS juga membantu Israel mengembangkan jet-jet itu lebih lanjut. Untuk bisa menyerang Iran, AS-Israel memodifikasi F-35 agar bisa terbang jauh tanpa harus mengisi ulang bahan bakar.
Jarak terdekat pangkalan udara Israel ke titik peluncuran rudal dan bom adalah 1.500 kilometer. Dengan demikian, penerbangan bolak-balik paling kurang 3.000 kilometer.
Versi standar F-35 cuma bisa terbang maksimum 2.100 kilometer untuk sekali isi bahan bakar. Sebagian malah cuma bisa 1.100 kilometer. Modifikasi AS-Israel membuat F-35 Adir, varian yang dioperasikan Israel, bisa terbang lebih jauh tanpa harus mengisi ulang bahan bakar.
Serial Artikel
Hampir 100 Peluncur THAAD untuk Melindungi Israel
Israel kini dilindungi 96 peluncur THAAD. Seperti Arrow, THAAD untuk menghancurkan rudal pada ketinggian di atas 100 km.
Tzahal mengklaim jet-jet Israel terbang sampai ke langit Teheran. Keleluasaan itu didapat karena tim Mossad-Aman lebih dulu melumpuhkan sebagian arhanud dan peluncur rudal Iran.
Tim itu memakai pesawat nirawak yang diselundupkan bertahap sejak bertahun-tahun lalu. Tidak ada keterangan apakah pesawat diselundupkan utuh atau terurai lalu dirakit di dalam Iran.
Israel hanya menyatakan, pesawat-pesawat itu disimpan dalam kendaraan yang bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain. Modusnya mirip ”Operasi Jaring Laba-laba” yang dilancarkan Ukraina di Rusia pada 1 Juni 2025.
Pesawat itu, juga tim pemandu sasaran rudal, diberi tahu untuk bertugas pada Jumat dini hari. Waktu itu, seluruh kabinet Israel baru selesai rapat dan kompak menyetujui serangan ke Iran.
Selepas rapat itu, Israel sekali lagi memberi tahu AS soal rencana serangan. ”Sulit memercayai Israel akan dan bisa menyerang dengan skala ini tanpa persetujuan AS,” kata dosen John Hopkins University di AS, Vali Nasr.
Dilaporkan CNN, Israel selalu berkoordinasi dengan AS pada setiap tahapan perkembangan rencana serangan ke Iran. Rencana bisa berkembang bila ada persetujuan AS. (AP/AFP/REUTERS)