Kehilangan para pemimpin utama akan berpengaruh pada perlawanan Houthi terhadap Israel. Serangan ini baru permulaan.
31 Agt 2025 14:26 WIB · Internasional
SANAA, MINGGU — Kelompok Houthi mengumumkan tewasnya Perdana Menteri Ahmed Ghaleb al-Rahawi dan sejumlah menteri akibat serangan Israel, Kamis (28/8/2025). Kelompok Houthi menyatakan akan membalas kematian tersebut. Sementara Israel menyebutkan, serangan terhadap Ahmed Ghaleb merupakan serangan awal. Sejatinya, Israel mengincar tokoh-tokoh utama yang mengendalikan militer dan keamanan Yaman.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam pernyataan pada Minggu (31/9/2025), menyebut pembunuhan Rahawi kembali membuktikan kebrutalan Israel. Dunia tak bisa terus mendiamkan ancaman yang dihadirkan Israel pada kawasan.
Kabar tewasnya Ahmed Ghaleb dan sejumlah pejabat tinggi Houthi disampaikan Kepala Dewan Politik Houthi Mahdi al-Mashat, Sabtu (30/8/2025). Selain Rahawi, tidak ada penjelasan lebih detail siapa saja yang tewas akibat serangan tersebut selain Rahawi.
Akan tetapi, sejumlah sumber menyebut, serangan Israel juga menewaskan menteri energi, menteri luar negeri, dan menteri informasi Houthi. Sasaran utama Israel adalah pemimpin Houthi Abdul Malek al-Houthi dan Menteri Pertahanan Mohammed al-Atifi. Atifi menjadi sasaran pembunuhan karena memimpin kelompok pakar dan panglima militer yang menguasai teknologi rudal dan sistem persenjataan Houthi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/6f015e2cb75226df126b0f72274c5f50-000_72WM6NR.jpg)
Militer Israel dalam pernyataannya, Jumat (29/8/2025), menyebutkan, serangan udara itu menargetkan kepala staf, menteri pertahanan, dan sejumlah pejabat senior Houthi. Mereka dianggap menjadi aktor utama serangan-serangan rudal dari Yaman ke Israel. Dalam pernyataannya, Israel juga menyebut para pejabat senior yang ada di lokasi pertemuan adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas serangan ke Israel.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan, serangan itu merupakan pukulan telak bagi Houthi. Dia juga menyatakan serangan itu hanyalah permulaan.
Ketika serangan terjadi, Ahmed Ghaleb dan sejumlah menteri dikabarkan tengah berada di sebuah lokasi di selatan kota Sanaa. Saat itu mereka tengah melakukan lokakarya rutin, evaluasi kerja pemerintah selama setahun terakhir. Ketika itu Ahmed Ghaleb dan sejumlah menteri tengah mendengarkan pidato pemimpin Kelompok Houthi Abdul Malik al-Houthi soal perkembangan terbaru di Gaza dan rencana kebijakan mereka atas situasi tersebut.
Ahmed Ghaleb baru menjabat sebagai Perdana Menteri Houthi pada satu tahun terakhir. Dia adalah sekutu mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh yang digulingkan Houthi pada akhir tahun 2014.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/10/d084231f-a396-4bff-81d1-88fc04143f2e_jpg.jpg)
Penggulingan itu kemudian memicu perang saudara di Yaman. Setelah Yaman jatuh ke tangan Houthi, Ahmed Ghaleb bergabung dengan Houthi.
Ahmed Ghaleb bukan bagian dari lingkaran dalam al-Houthi yang menjalankan urusan militer dan strategis kelompok tersebut. Pemerintahannya, seperti pemerintahan sebelumnya, ditugaskan untuk menjalankan urusan sipil sehari-hari di Sanaa dan wilayah lain yang dikuasai Houthi.
Bahkan, tugas sehari-hari pemerintahan secara de facto dilaksanakan oleh Mohammed Miftah, wakilnya. Setelah kematian Ahmed Ghaleb, Miftah langsung mengambil alih jabatan tersebut.
Menurut tiga pemimpin suku yang menolak disebutkan namanya, serangan yang akhirnya menewaskan Ahmed Ghaleb ditujukan ke sebuah vila di Beit Baws, sebuah desa kuno di Sanaa selatan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/083221ebb605adc577570d4820f95da9-000_72WT9NQ.jpg)
Kantor berita Saba yang dikelola Houthi memuat pernyataan dari Atifi tak lama setelah kematian Ahmed Ghaleb dikonfirmasi oleh kelompok tersebut. Di dalam pernyataan itu, Houthi mengatakan, mereka siap menghadapi Israel.
Pembunuhan terhadap para petinggi kelompok yang bermusuhan dengan Israel adalah salah satu strategi Tel Aviv untuk melemahkan perlawanan terhadap mereka. Pembunuhan para pemimpin Hamas di Palestina dan Hizbullah di Lebanon menjadi strategi Israel untuk membungkam dan melemahkan perlawanan mereka.
Ahmed Nagi, analis senior Yaman di Crisis Group International, mengatakan, pembunuhan Ahmed Ghaleb merupakan kemunduran serius bagi Houthi. Dia menilai, serangan-serangan itu sebagai penanda pergeseran strategi militer Israel, dari sebelumnya menyerang infrastruktur ke pembunuhan tokoh-tokoh politik dan militer.
Perubahan strategi ini dinilainya akan menimbulkan ancaman besar bagi struktur komando Houthi. Kehilangan para pemimpin utama akan berpengaruh pada perlawanan Houthi terhadap Israel. (AP/REUTERS)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase