Jaringan listrik dan pemanas di Kyiv, Ukraina, putus akibat serangan Rusia. Warga terancam kedinginan karena suhu bisa mencapai minus 15 derajat celsius.
20 Jan 2026 20:00 WIB · Internasional
AFP
KYIV, KOMPAS — Serangan rudal dan drone Rusia menghantam Kyiv, ibu kota Ukraina, Selasa (20/1/2026). Serangan itu memutus aliran listrik dan pasokan pemanas ke ribuan bangunan. Kondisi ini mengancam ratusan ribu warga di tengah cuaca dingin dengan suhu di bawah nol derajat celsius.
Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mengatakan, serangan Rusia memutus pasokan pemanas ke 5.635 gedung apartemen bertingkat. Pasokan air di kota berpenduduk lebih dari 3 juta orang itu juga terganggu. Sejumlah gedung, termasuk sekolah, rusak parah.
Awal Januari lalu, warga Kyiv juga sudah menderita akibat pemadaman listrik dan pemanas yang parah karena serangan Rusia. Selama lebih dari sepekan, tim perbaikan bekerja keras memulihkan pasokan listrik warga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/01/deb8cd674de82c245a9696e0664f1ddd-wires_photo.jpg)
Klitschko menyebutkan, sekitar 80 persen dari bangunan yang terkena serangan terbaru sudah pernah terkena serangan sebelumnya. Serangan Rusia itu juga merusak infrastruktur penting lainnya di wilayah Vinnytsia, Dnipro, Odesa, Zaporizhzhia, Poltava, dan Sumy.
Ledakan di Kyiv terjadi pada Selasa sekitar pukul 02.00. Kepala Administrasi Militer Kota Kyiv Tymur Tkachenko mengonfirmasi serangan itu. ”Rusia menyerang ibu kota. Mohon tetap berada di tempat perlindungan,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha melalui pesan yang diunggah di akun media sosial X menyebutkan, saat ini ribuan rumah di Kyiv tanpa pemanas. Padahal, cuaca di luar ruangan bisa mencapai minus 15 derajat celsius.
Serangan Rusia memutus pasokan pemanas ke 5.635 gedung apartemen bertingkat. Pasokan air di kota berpenduduk lebih dari 3 juta orang itu juga terganggu.
”Serangan barbar Rusia pagi ini adalah peringatan bagi para pemimpin dunia yang berkumpul di Davos. Dukungan untuk rakyat Ukraina sangat mendesak,” katanya.
Saat ini hingga beberapa hari ke depan berlangsung Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss. Forum ini rencananya dihadiri oleh 61 kepala negara dan pemerintahan serta lebih dari 1.000 peserta.
Sybiha mengulangi seruannya untuk bantuan energi tambahan yang mendesak dari sekutu Ukraina. Konflik Rusia-Ukraina sudah berlangsung hampir empat tahun. Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik belum membuahkan hasil nyata meskipun sudah ada tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Kyiv dan Moskwa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/24/1068071f6ee3c4253c941fcab5f209c3-7fe2703118ce42fdabd79ebe2ceb82f8_0_dfe0bf9000344780a849b5df3b39765f.jpg)
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dikabarkan tetap berada di Kyiv setelah serangan besar-besaran Rusia itu. Namun, Zelenskyy mungkin akan pergi ke WEF di Davos jika di sana kesepakatan ekonomi dan keamanan dengan AS siap ditandatangani di sana.
Anggota parlemen Ukraina dari Partai Holos, Yaroslav Zhelezniak, mengatakan, kantor parlemen terpaksa bekerja dari jarak jauh karena kekurangan air dan terputusnya pasokan pemanas di gedung itu. ”Tidak ada sesi parlemen yang dijadwalkan pada hari Selasa ini,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/09/a7c4b62c0893a64575fead0df8f00cce-wires_photo_2026_01_09T142529.121.jpg)
Perusahaan energi swasta DTEK menyatakan, lebih dari 335.000 rumah tangga di Kyiv kehilangan pasokan listrik akibat serangan Rusia itu. Aliran listrik untuk 162.000 rumah tangga telah dipulihkan, sementara 173.000 rumah tangga lainnya masih padam.
Warga menilai, serangan Rusia ke Kyiv itu dilakukan untuk menanamkan rasa takut dan kecemasan. (REUTERS/AFP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan