Serena Williams kembali ke Wimbledon setelah menepi dari turnamen selama empat tahun. Dia kembali ke momen yang dirindukan meski akhirnya kalah.
01 Jul 2026 10:08 WIB · Olahraga
AP Photo/Maja Smiejkowska
LONDON, SELASA — Perjalanan Serena Williams dalam nomor tunggal putri turnamen Grand Slam Wimbledon begitu singkat karena tersingkir di babak pertama. Namun, dia begitu menikmati momen comeback di Wimbledon dalam usia 44 tahun.
Tak hanya suami (Alexis Ohanian) dan kedua putrinya (Olympia dan Adira), kakaknya (Venus Williams), dan seluruh anggota keluarga yang menantikan kembalinya Serena ke Lapangan Utama All England Club, London, Inggris, setelah terakhir kali tampil di sana pada 2022.
Mereka berada di tribune penonton bersama sekitar 14.000 orang lain untuk menonton penampilan Serena melawan petenis Australia, Maya Joint, pada babak pertama yang berlangsung hari Selasa (30/6/2026) malam waktu setempat atau Rabu (1/7/2026) dini hari WIB.
Seperti yang dilakukan sejak dia dan adiknya masih muda, Venus selalu memotret ketika Serena bermain, dari kamera saku pada zaman dulu hingga memotret dengan ponsel, Selasa malam itu.
Olympia, yang berusia delapan tahun dan sudah bermain tenis seperti ibunya, menonton dengan serius sambil membawa tulisan ”We love you”. Si kecil Adira (2) dipangku Alexis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/01/7c584568e20bd818085e001e552ae6e1-Britain_Wimbledon_Tennis.jpeg)
Gemuruh dari tepuk tangan dan teriakan penonton terdengar ketika Serena memenangi set kedua dalam tiebreak, menggagalkan satu match point Joint.
Namun, ”sang ratu” dengan tujuh gelar juara Wimbledon, dari total 23 gelar Grand Slam, itu kalah dengan skor 3-6, 7-6 (6), 3-6 setelah bertanding selama 2 jam 22 menit.
Serena masih bisa memperlihatkan kekuatan seperti pada masa terbaiknya, yaitu hunjaman servis dengan kecepatan tertinggi 196 kilometer per jam. Rata-rata kecepatan servisnya adalah 162 km/jam. Angka ini lebih baik dari rata-rata kecepatan servis Joint (154 km/jam) dan kecepatan tertinggi (170 km/jam).
Untuk mempercepat mendapat poin, Serena 11 kali maju ke depan net dan dia mendapat sembilan poin dari upaya ini. Di lapangan rumput, strategi ini memang menguntungkan karena pantulan bolanya paling cepat dibandingkan jenis lapangan lainnya.
Namun, usia 44 tahun dan empat tahun tanpa pertandingan memang menjadi pembeda dengan lawannya yang dalam masa aktif bermain. Joint, yang berusia 20 tahun, bisa bergerak lebih mulus di lapangan rumput yang licin. Selain licin, bergerak di lapangan ini harus lebih berhati-hati karena permukaan yang tidak rata dibandingkan lapangan keras.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/01/4dd1ed80363fa2e455c3177eccb5677c-wimbledon_serena.jpeg)
Pada hari pertama turnamen, misalnya, Senin, beberapa petenis jatuh, salah satunya tunggal putra nomor satu dunia, Jannik Sinner. Finalis tunggal putri Perancis Terbuka, Maja Chwalinska, bahkan terkilir pada pergelangan kaki hingga tak lagi bisa bergerak dengan baik.
Dia kalah tiga set meski telah mendapat match point pada set kedua saat melawan petenis Thailand, Mananchaya Sawangkaew.
Bergerak di lapangan rumput yang licin dan permukaannya tidak rata menuntut langkah yang lebih pendek. Menurut mantan petenis putra Christopher Eubanks, hal itulah yang menjadi kendala bagi Serena.
Apalagi, Joint bermain cukup baik ketika bisa menetralkan serangan Serena, termasuk dari servis. Joint membuat 40 winner (Serena 26 winner) dan lima kali mematahkan servis lawan dari 11 kesempatan (break point Serena adalah 3/11).
Meski hanya bisa bermain sekali di tunggal putri, Serena begitu menikmati momennya. Dia meninggalkan lapangan sambil melambaikan tangan kepada penonton dan tersenyum.
”Sangat menyenangkan kembali ke Wimbledon. Saya tak pernah menduga berada di sini lagi. Atmosfernya luar biasa. Saya sangat merindukan momen ini. Saya menikmatinya lebih dari apapun,” kata Serena melalui pernyataan yang disampaikan melalui panitia turnamen karena dia memilih tidak menghadiri konferensi pers.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/01/d04fe2090382086da1ebc78139d713bf-wimbledon_serena3.jpg)
Sebelum berhadapan dengan Joint, Serena menjalani pertandingan terakhir Wimbledon ketika berhadapan dengan Harmony Tan pada babak pertama.
Pertandingan terakhirnya, sebelum mundur dari persaingan tenis profesional, pada babak ketiga Amerika Serikat Terbuka dalam kekalahan dari Ajla Tomljanovic.
Rindu dengan atmofer kompetisi dan ingin menunjukkan sosoknya sebagai pejuang di lapangan tenis pada kedua putrinya, Serena kembali ke turnamen pada pekan kedua Juni.
Dia bermain dalam nomor ganda putri di WTA London (bersama Victoria Mboko) dan WTA Berlin (Karolina Muchova), sebelum panitia Wimbledon memberinya wildcard untuk tunggal dan ganda putri (bersama Venus). Serena pun menjadi petenis putri tertua kedua yang tampil di Wimbledon setelah Martina Navratilova (47 tahun) saat tampil di tahun 2004.
Joint kesulitan mengungkapkan perasaannya setelah mengalahkan Serena. Bisa bermain melawan salah satu legenda tenis putri itu sudah menjadi kesempatan besar baginya.
Joint bermain di Wimbledon tahun ini hanya dengan bekal bermain pada babak kualifikasi pada 2024 dan kekalahan di babak pertama pada tahun berikutnya. Perjalanan terjauhnya di ajang Grand Slam adalah saat mencapai babak kedua AS Terbuka 2024 dan 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/01/60b24dab228bbce290418005ffded436-wimbledon_joint.jpg)
”Saya tidak tahu apa yang bisa katakan saat ini. Saya sulit tidur semalam, setelah terbangun pukul dua, saya memikirkan pertandingan ini. Saya sampai lupa melakukan pemanasan dan kaki terasa sulit digerakkan. Rasanya sangat gila ketika saya bisa berhadapan dengan legenda,” tuturnya.
Pada babak kedua, Joint akan melawan petenis muda lainnya, Alexandra Eala. Atlet Filipina berusia 23 tahun ini mengalahkan Renata Zarazua 6-1, 6-2 pada babak pertama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/01/9fc51dc31c03ca6761c39237b2ea2fb2-wimbeldon_joint2.jpg)
Sementara, juara bertahan tunggal putri, Iga Swiatek, harus menjalani laga sulit hanya untuk melewati babak pertama. Dia mendapat perlawanan solid dari Taylor Townsend hingga harus bermain tiga set dengan skor 6-1, 2-6, 6-3.
Setelah memenangi set pertama dengan mudah, Swiatek kesulitan dalam melakukan servis sejak set kedua. Dari total sembilan double fault, empat dilakukan pada set kedua dan empat di set ketiga. Dia bahkan membuat dua double fault beruntun pada set kedua.
”Terkadang, melakukan servis hanya untuk membuat bola masuk saja sangat sulit bagi saya. Saya pun harus menumbuhkan rasa percaya diri bahwa saya bisa melakukannya. Saya mendapat dukungan dari tim dan senang bisa menjaga ketenangan,” kata Swiatek yang akan melawan Karolina Muchova pada babak kedua.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/01/3286fbf8fb5dc8a84be202849fa32f02-wimbledon_iga2.jpg)
Sehari sebelumnya, juara bertahan tunggal putra, Jannik Sinner, juga harus melalui laga sulit pada babak pertama. Dia bermain lima set melawan Miomir Kecmanovic dan dua kali tertinggal satu set.
Sementara itu, keinginan Alexander Zverev untuk meneruskan hasil baik saat menjuarai Perancis Terbuka dimulai dengan kemenangan empat set di Wimbledon. Zverev berhadapan dengan Alexander Blockx dan menang 6-4, 6-7 (8), 7-6 (7), 7-6 (0).
Petenis Jerman itu menghindarkan diri dari kekalahan pada babak pertama seperti yang dialaminya pada Wimbledon 2025. Lawan yang dihadapinya pun berkarakter sama, yaitu petenis ”big server”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/01/a8ffe8a6cf306194c958fb2761cc6e1f-wires_photo.jpg)
”Saat melihat undian, saya tahu akan menjalani laga sulit. Di depan saya akan ada petenis yang bisa membuat servis hingga kecepatan 225 km/jam, apalagi, saya selalu kesulitan bermain di lapangan rumput. Padahal, Lapangan Utama All England Club adalah lapangan yang indah,” tutur Zverev.
Zverev, yang meraih gelar Grand Slam pertama di Perancis Terbuka, 24 Mei-7 Juni, pernah menembus final di Grand Slam lain, kecuali di Wimbledon. Di turnamen paling prestisius ini, dia tak pernah melewati babak keempat. (AP/REUTERS)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan