Piala FA bisa menjadi penyelamat dari kekacauan Manchester City musim ini. Pep Guardiola tentu enggan mengulang periode terburuknya sebagai pelatih pada 2016-2017.
29 Mar 2025 09:12 WIB · Olahraga
MANCHESTER, SABTU — Piala FA menjadi satu-satunya ajang yang bisa menyelamatkan Manchester City dari keruntuhan dominasi di tanah Inggris pada musim 2024-2025. Tanpa gelar kompetisi sepak bola tertua itu, ”The Citizens” bakal kesulitan memugar kepercayaan diri demi mengembalikan supremasi.
City merupakan satu-satunya tim peraih trofi Piala FA pada abad ke-21 yang tersisa di babak perempat final musim ini. Lawan mereka, Bournemouth, mengejar sejarah pertama kali menembus semifinal Piala FA pada duel di Stadion Vitality, Minggu (30/3/2025) pukul 22.30 WIB.
Adapun dari enam tim lain yang bertahan, hanya tiga tim yang sudah memenangi trofi Piala FA. Tiga tim itu adalah Preston North End (1937-1938), Aston Villa (1956-1957), dan Nottingham Forest (1958-1959).
Tiga tim lain di babak perempat final merupakan calon juara anyar. Mereka adalah Fulham dan Crystal Palace yang saling bertarung, Sabtu (29/3/2025) ini, kemudian Brighton & Hove Albion yang memperebutkan jatah ke babak empat besar menghadapi Forest.
Kondisi itu menyebabkan City berada dalam daftar teratas yang dijagokan untuk meraih trofi Piala FA di Stadion Wembley, Mei nanti. Apalagi City selalu mampu menembus partai puncak pada dua edisi terakhir. Mereka menjalani derbi Manchester beruntun yang berakhir kemenangan pada 2022-2023, lalu hanya puas membawa pulang medali perak pada 2023-2024.
Mencapai semifinal Piala FA untuk tujuh edisi beruntun adalah target kami. Kami meraih rekor musim lalu dengan lolos ke semifinal untuk enam musim beruntun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/29/c057ce3079bd5ff119e7dca18b4d523f-AFP_38927TD.jpg)
Manajer City Pep Guardiola secara tegas menyebut tidak ada kompromi bagi timnya untuk melanjutkan perjalanan di Piala FA. Meskipun sudah melepas Liga Inggris dan tak berdaya di Piala Liga Inggris, marwah The Citizens setidaknya terjaga di Piala FA.
”Mencapai semifinal Piala FA untuk tujuh edisi beruntun adalah target kami. Kami meraih rekor musim lalu dengan lolos ke semifinal untuk enam musim beruntun. Itu menunjukkan betapa pentingnya kompetisi ini bagi kami,” kata Guardiola dalam konferensi pers jelang laga, Jumat (28/3/2025), dilansir laman klub.
Sejak konsisten menembus babak empat besar yang digelar di Wembley pada 2018-2019, City hanya tiga kali mampu lolos ke babak final. Capaian itu tercipta pada 2018-2019 serta dua musim terdahulu, 2022-2023 serta 2023-2024. Gelar Piala FA mereka pada 2018-2019 dan 2022-2023 yang dikawinkan dengan trofi Liga Inggris alias gelar ganda.
”Kami menganggap Piala FA dengan serius seperti ketika memenangi Piala Carabao dalam empat edisi beruntun. Hasil Piala FA kami tidak tahu, tetapi kami harus menjalani dengan serius. Bermain di Wembley akan menjadi sesuatu yang menyenangkan,” ujar Guardiola.
Jika bisa menembus semifinal, Guardiola dan anak asuhannya pasti akan semakin percaya diri. Mereka memiliki pengalaman yang jauh lebih baik dari rival untuk menjalani laga penuh tekanan di Wembley.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/02/b8ff8e9ea67f2daf14f33c9f70a01211-AFP_36YZ4AX.jpg)
Bagi Guardiola, Piala FA juga menjadi satu-satunya harapan untuk mengulangi periode terburuknya sebagai manajer City. Hal itu pernah dirasakan juru taktik asal Catalan itu pada musim perdana bermarkas di Stadion Etihad, 2016-2017.
Setelah sempat merasakan musim pertama tanpa gelar domestik sebagai pelatih, Guardiola membangun dinasti di City yang selalu meraih trofi pada periode musim 2017-2018 hingga setidaknya musim 2023-2024.
Dalam masa-masa indah nan sulit tertandingi bersama City, Guardiola mempersembahkan 18 trofi juara. Guardiola sudah tak terbantahkan sebagai manajer tersukses The Citizens dalam sejarah.
Tsunami gelar yang diberikan Guardiola mustahil terulang oleh para penggantinya nanti. Serupa dengan yang dilakukan Sir Alex Ferguson untuk tetangga City, Manchester United.
Namun, capaian itu tercoreng pada musim ini. Mereka tersisih di playoff fase gugur Liga Champions sehingga mencatatkan perjalanan terburuk di kompetisi antarklub Eropa itu sejak 2013. Kini, City juga masih tertahan di peringkat kelima Liga Inggris.
Guardiola bahkan menempatkan Piala FA jauh lebih berharga dibandingkan Piala Dunia Antarklub yang bakal diikuti City, Juni nanti, di Amerika Serikat. Meskipun berpeluang membawa pulang uang pemenang mencapai 97 juta pound (Rp 2,08 triliun), Guardiola menganggap prestasi di Piala Dunia Antarklub tidak cukup untuk menyelamatkan perjalanan skuadnya musim ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/02/9a0265eada604cd2c06548bcbf54b7f9-AFP_36YZ3TK.jpg)
”Kami tidak pantas menerima bonus musim ini. Bonus itu, jika kami menang, lebih layak untuk klub. Manajer, staf pelatih, pemain tidak pantas mendapatkan apa pun meski itu hanya sebuah jam tangan,” tuturnya.
Joleon Lescott, bekas bek tengah City pra-era Guardiola, sepakat dengan Guardiola. Menurut dia, performa kolektif skuad City sangat jauh dari standar mereka.
”City sangat inkonsisten musim ini. Sesuatu yang sulit dibayangkan sebelumnya,” ucap Lescott kepada TNT Sports.
Namun, ambisi Guardiola untuk menembus semifinal Piala FA ketujuh berturut-turut bukan perkara mudah. Bournemouth adalah tim pertama yang mengalahkan City di Liga Inggris musim ini.
”The Cherries”, julukan Bournemouth, menumbangkan City 2-1 di Stadion Vitality, 2 November lalu. Hasil negatif dari Bournemouth itu adalah bagian dari lima kekalahan beruntun City pada periode akhir Oktober hingga November 2024.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari