Siapa sangka hal yang tampak sepele mengantar Raymond/Nikolaus ke semifinal Indonesia Terbuka 2026. Bersama Sabar/Reza, mereka pastikan satu wakil di final.
05 Jun 2026 17:54 WIB · Olahraga
Kompas/Danu Kusworo
JAKARTA, KOMPAS — Pukulan servis sering terlihat sepele dalam pertandingan bulu tangkis level tertinggi yang begitu kompleks. Namun, di situasi kritis dalam laga sengit, itu bisa menjadi faktor penentu kemenangan. Teori itu dibuktikan ganda putra tuan rumah Raymond Indra/Nikolaus Joaquin saat merebut status semifinalis Polytron Indonesia Terbuka 2026.
Raymond/Nikolaus menjadi wakil Indonesia pertama yang menembus semifinal seusai menang dramatis atas pasangan Jepang, Takura Hoki/Yugo Kobayashi, 16-21, 24-22, 21-18 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Kemenangan itu diraih setelah mereka berhasil bangkit dari kekalahan di gim satu dan ketertinggalan di gim tiga.
Raymond/Nikolaus sempat kesulitan beradaptasi dengan permainan. Mereka bermain di lapangan pertama, di tengah-tengah stadion, untuk pertama kali sepanjang turnamen ini. Sebelumnya, pasangan itu selalu bermain di lapangan kedua yang terletak di pinggir. Menurut Raymond, kondisi angin di lapangan tengah cukup berbeda.
Ganda peringkat ke-12 dunia itu juga dihantui pengalaman buruk di masa lalu. Terakhir kali bermain di lapangan tengah Istora, di Indonesia Masters 2026, mereka kalah dalam partai final. Adapun dalam turnamen tersebut, Raymond/Nikolaus bertanding di lapangan dua sejak awal turnamen sampai semifinal, lalu pindah lapangan di final.
Enggak nyangka juga kami bisa membalikkan keadaan. Apalagi, di gim tiga, kan, kami ketinggalan terus. Jadi hasil ini luar biasa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/05/6cb0a719-7026-4e96-bf40-c07532d255ee.jpg)
Ketidaknyamanan Raymond/Nikolaus bertambah karena baru pertama kali menghadapi Takura/Yugo. Duo Jepang itu mampu meladeni permainan cepat mereka, tidak takut beradu drive dan saling cegat di depan net. Hal tersebut yang membuat Raymond/Nikolaus gagal mengeluarkan kemampuan terbaik dan kalah di gim satu.
Raymond/Nikolaus berkali-kali selamat dari jurang kekalahan. Takura/Yugo sempat mendapatkan dua kali kesempatan match point di gim dua, tetapi selalu berhasil digagalkan. ”Enggak nyangka juga kami bisa membalikkan keadaan. Apalagi, di gim tiga, kan, kami ketinggalan terus. Jadi hasil ini luar biasa,” kata Nikolaus.
Momentum kemenangan diraih Raymond/Nikolaus dalam situasi kritis di gim tiga. Sempat tertinggal 12-16, mereka berhasil membalikkan keadaan dengan menciptakan tujuh poin beruntung. Sebanyak enam poin itu dihasilkan dengan servis Raymond. Takura/Yugo bergantian membuat kesalahan saat menerima servis.
Pukulan servis Raymond sangat tipis melewati net. Takura/Yugo selalu bersiap menyambar servis itu, tetapi malah membuat kesalahan karena kok sudah telanjur turun. Sebanyak tiga dari enam poin gratis itu tercipta dari penerimaan servis lawan. ”Mereka mempunyai variasi servis yang banyak dan bagus-bagus,” kata Yugo.
Nikolaus turut memuji servis dari rekannya. ”Hal-hal kecil seperti servis itu terlihat sepele, tetapi penting banget. Apalagi, di gim ketiga, servisnya Raymond gacor banget, dari 13-16 langsung 19-16 apa ya tadi, jadi balik menekan. Jadi kalau servisnya sudah bagus, kami untuk pola selanjutnya akan jauh lebih gampang," ujarnya.
Di babak 16 besar, pukulan servis Raymond/Nikolaus juga berhasil menginspirasi kemenangan atas unggulan kedua asal Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik. Mereka sering melakukan flick atau servis jauh yang berhasil menyusahkan lawan. Aaron/Soh tidak mampu menekan lebih dulu sehingga selalu tertinggal satu langkah di belakang.
Raymond/Nikolaus sempat mencoba skema serupa untuk meredam tekanan Takura/Yugo. Namun, servis panjang mereka selalu bisa dihentikan. Takura/Yugo justru bisa menghasilkan poin langsung berkali-kali dari penerimaan servis. Beruntung, variasi servis pendek mereka ternyata bisa juga mendulang poin.
Di semifinal, Raymond/Nikolaus akan menghadapi rekan senegara, yaitu Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani. Wakil Indonesia pun bisa memastikan satu tiket di final. Sabar/Reza menyusul setelah menaklukkan Chen Bo Yang/Liu Yi (China) tanpa kesulitan berarti dengan dua gim langsung, 21-15-21-15.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/05/7860122bfd0d8bc733213353ac3d8038-MYE_4739.jpg)
Datang dengan kepercayaan diri yang perlahan tumbuh lagi, Sabar/Reza mampu bermain dengan nyaman untuk membalas kekalahan pada pertemuan pertama dengan Chen/Liu di Kejuaraan Asia 2025. Pasangan independen itu pun kembali menantang Raymond/Joaquin, mengulang pertemuan di semifinal Indonesia Masters 2026.
Saat itu, Sabar/Reza kalah 19-21, 14-21 yang membuat rekor pertemuan mereka menjadi imbang dan Raymond/Nikolaus melaju ke laga puncak. Ganda nonpelatnas itu kesulitan mengantisipasi permainan cepat dan serangan bervariasi dari Raymond/Nikolaus.
”Selain dari segi permainan cepat, mereka juga sangat percaya diri. Mungkin sekarang mereka sedang pede-pedenya, jadi mau bermain dengan gaya apa pun, bolanya masuk. Itu yang akan kami antisipasi dengan benar-benar menjaga fokus,” kata Sabar.
Penulis:
Kelvin Hianusa, Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto