Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2014-2024 Stagnan 5 Persen

Di luar periode pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi Indonesia satu dekade terakhir, 2014-2024, stagnan di 5 persen.

05 Feb 2025 15:45 WIB · Ekonomi

Oleh Agnes Theodora

JAKARTA, KOMPAS — Perekonomian Indonesia tumbuh 5,03 persen sepanjang 2024. Realisasi ini melambat dibandingkan 2023 sekaligus di bawah target pemerintah. Industri manufaktur dan konsumsi rumah tangga sebagai dua mesin utama ekonomi tumbuh landai di bawah potensi. Ekspor juga melambat.

Badan Pusat Statistik mencatat, nilai produk domestik bruto Indonesia atas dasar harga berlaku (ADHB) sepanjang 2024 adalah Rp 22.139 triliun. Sementara, PDB atas dasar harga konstan (ADHK) senilai Rp 12.920 triliun. 

Sepanjang 2024, ekonomi tumbuh 5,11 persen secara tahunan pada triwulan I. Selanjutnya, angkanya berturut-turut adalah 5,05 persen pada triwulan II, 4,95 persen pada triwulan III, dan 5,02 persen pada triwulan IV. 

Dengan capaian itu, ekonomi Indonesia sepanjang 2024 tumbuh 5,03 persen. Ini lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi 2023 sebesar 5,05 persen sekaligus di bawah target 5,2 persen yang dipatok pemerintah. 

Capaian itu sesuai dengan prediksi bahwa target pertumbuhan ekonomi 2024 akan sulit dicapai. Apalagi, dua mesin utama perekonomian Indonesia, yaitu industri manufaktur dan konsumsi rumah tangga, melemah secara signifikan sepanjang 2024.

Pekerja menyelesaikan pembangunan gedung perkantoran di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Selasa (17/9/2024). Perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai terlihat. Berdasar data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi pada kuartal- II 2024 5,05 persen secara year on year. Angka tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2024 yang menyentuh level 5,11 persen. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 17-09-2024

Pelaksana Tugas Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, Rabu (5/2/2025), mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 melambat dibandingkan 2023. Salah satu faktor yang menahan laju pertumbuhan ekonomi itu adalah kondisi net ekspor yang mencerminkan kinerja perdagangan.

Meski ekspor pada triwulan IV-2024 tumbuh positif sebesar 7,63 persen, laju pertumbuhannya masih di bawah impor yang tumbuh 10,36 persen. Sepanjang 2024, ekspor juga tumbuh 6,51 persen, tetapi masih di bawah impor yang tumbuh 7,95 persen. 

Akibat kinerja ekspor yang ”kalah” dari impor itu, kontribusi net ekspor (selisih nilai ekspor dan nilai impor) terhadap pertumbuhan ekonomi pun negatif alias minus 0,2 persen pada triwulan IV-2024 dan minus 0,01 persen sepanjang 2024. Kinerja net ekspor itu lebih kecil dibandingkan 2023.

”Jadi, kalau kita lihat dari sumber pertumbuhannya, satu komponen yang agak menahan ekonomi kita dari tumbuh lebih tinggi tahun ini adalah net ekspor itu,” kata Amalia dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida.

Aktivitas warga berbelanja kebutuhan sehari-hari di Pasar Smep, Kota Bandar Lampung, Lampung, Sabtu (15/10/2022). Empat pekan setelah kenaikan harga BBM, tingkat belanja masyarakat sedikit lebih rendah. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga berpotensi melambat. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu kedua Oktober 2022, Bank Indonesia (BI) memperkirakan, tingkat inflasi sampai pekan kedua Oktober 2022 sebesar 0,05 persen secara tahunan. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 15-10-2022

Konsumsi landai 

Salah satu hal mencolok dari kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 adalah konsumsi rumah tangga yang sepanjang tahun secara berturut-turut tumbuh di bawah 5 persen alias di bawah potensinya. BPS mencatat, konsumsi rumah tangga sudah melambat sejak selepas pandemi Covid-19. 

Dari segi komponen pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih kontributor utama pertumbuhan ekonomi dengan sumbangsih hingga 54,04 persen terhadap pembentukan PDB. Namun, konsumsi terus tumbuh di bawah 5 persen. 

Pada triwulan IV-2024, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,98 persen. Ini melanjutkan tren pertumbuhan di bawah 5 persen pada triwulan I (4,91 persen), triwulan II (4,93 persen), dan triwulan III (4,91 persen). 

Amalia mengatakan, meski konsumsi masih tumbuh di bawah 5 persen, kondisinya membaik dibandingkan 2023. Sebagai perbandingan, pada 2023, konsumsi tumbuh 4,82 persen. Namun, pada 2024, konsumsi sedikit menguat menjadi 4,94 persen atau sama dengan 2022. 

Ekonomi Indonesia pada 2024 tumbuh 5,03 persen.

”Komponen konsumsi yang tumbuh di atas 6 persen adalah konsumsi untuk sektor transportasi dan komunikasi yang tumbuh 6,56 persen, lalu konsumsi restoran dan hotel yang tumbuh 6,53 persen. Untuk konsumsi baju dan alas kaki hanya tumbuh 2,55 persen,” kata Amalia. 

Kontributor kedua pertumbuhan ekonomi adalah investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang tumbuh 4,61 persen pada 2024 dengan sumbangsih 29,15 persen terhadap PDB. PMTB tumbuh positif karena ditopang oleh peningkatan realisasi investasi asing dan dalam negeri, serta aktivitas PMTB oleh pemerintah dan swasta yang tumbuh positif. 

Kinerja ekspor juga masih tumbuh positif sebesar 6,51 persen dengan kontribusi 22,18 persen terhadap PDB. Namun, impor tumbuh lebih cepat, yakni 7,95 persen, dan berkontribusi hingga 20,39 persen.

Sementara itu, berkat Pemilu dan Pilkada 2024, konsumsi pemerintah dan konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) juga tercatat tumbuh positif. Masing-masing tumbuh 6,61 persen dan 12,48 persen.

Pengendara sepeda motor melintas di depan spanduk bergambar pasangan calon dan wakil calon gubernur DKI Jakarta 2024 di Jalan Dr Saharjo, Jakarta, Jumat (22/11/20240). KPU Provinsi DKI Jakarta menggencarkan sosialisasi pasangan calon dan wakil calon gubernur DKI Jakarta 2024 jelang masa tenang Pilkada 2024 pada Minggu 24 November 2024. KPU Provinsi DKI Jakarta menggencarkan sosialisasi ini dengan menggunakan spanduk, banner, iklan di media konvensional serta media sosial, hingga iklan di videotron. Adapun pasangan calon dan wakil calon gubernur DKI Jakarta yakni nomor urut 1 Ridwan Kamil-Suswono, nomor urut 2 Dharma Pongrekun-Kun Wardhana, dan nomor urut 3 Pramono Anung-Rano Karno.

Manufaktur melambat

Jika dilihat dari sisi komponen lapangan usaha, seluruh lapangan usaha tumbuh positif sepanjang 2024. Industri pengolahan yang tumbuh 4,43 persen masih menjadi sumber pertumbuhan tertinggi dengan kontribusi 18,98 persen terhadap PDB. 

Pertumbuhan industri manufaktur, menurut Amalia, didorong oleh permintaan domestik dan luar negeri. Sektor yang mendorong kinerja manufaktur adalah industri makanan dan minuman yang tumbuh 5,9, industri logam dasar yang tumbuh 13,34 persen, serta industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik yang tumbuh 6,16 persen.

Selain manufaktur, ekonomi juga masih ditopang oleh sektor perdagangan yang tumbuh 4,86 persen, pertanian yang tumbuh 0,67 persen, konstruksi yang tumbuh 7,02 persen, pertambangan yang tumbuh 4,90 persen, serta transportasi dan pergudangan yang tumbuh 8,69 persen. Kelima sektor itu menyumbang hingga 63,9 persen terhadap ekonomi Indonesia.

Meski demikian, senasib dengan konsumsi rumah tangga yang tumbuh landai sejak pascapandemi, kinerja industri manufaktur pun demikian. BPS mencatat, sejak pandemi usai, pertumbuhan industri pengolahan beturut-turut adalah 4,89 persen (2022), 4,64 persen (2023), dan 4,43 persen (2024). 

Para buruh pabrik alas kaki berhamburan keluar pabrik saat jam istirahat makan siang di kawasan Gerendeng, Karawaci, Kota Tangerang, Banten, Senin (14/11/2022). Pemutusan hubungan kerja atau PHK tengah melanda sejumlah industri padat karya, seperti tekstil dan produk tekstil atau TPT serta produk alas kaki.

Idealnya, sebagai penyumbang tertinggi PDB dari segi lapangan usaha, industri manufaktur bisa tumbuh di atas 5 persen atau setara dengan laju pertumbuhan ekonomi. Demikian pula semestinya konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang tertinggi PDB dari segi pengeluaran.

Secara terpisah, peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, menilai, berkaca dari kondisi perekonomian sepanjang 2024, Indonesia memasuki tahun 2025 dengan kondisi perekonomian yang penuh pelemahan. 

”Dari daya beli yang menurun, kelas menengah yang menyusut, dan penurunan produktivitas sektoral yang berkepanjangan. Itu semua memberi sinyal yang jelas bahwa ada masalah struktural yang signifikan seperti tecermin dalam angka pertumbuhan ekonomi kita sepanjang 2024,” kata Riefky. 

Melihat tantangan dari dalam negeri dan global, ia menilai, ekonomi Indonesia akan mengalami masa-masa sulit ke depan. ”Tanpa strategi mitigasi yang tepat untuk menahan risiko eksternal dan reformasi ekonomi struktural yang konkret, ekonomi kita mungkin tidak dapat tumbuh konsisten sebesar 5 persen atau lebih, apalagi mencapai target 8 persen,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agnes Theodora
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan