Akhiri Penantian 21 Tahun, Petenis Indonesia Janice Tjen Lolos Babak Utama AS Terbuka

Setelah 21 tahun, Indonesia memiliki lagi petenis nomor tunggal yang akan tampil dalam babak utama Grand Slam. Janice Tjen akan bersaing di tunggal putri AS Terbuka.

23 Agt 2025 14:24 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

NEW YORK, JUMAT — Setelah Angelique Widjaja kalah pada babak pertama AS Terbuka 2004, Indonesia tak punya lagi petenis yang bisa menembus babak utama Grand Slam hingga Janice Tjen melakukan itu, 21 tahun kemudian. Perjalanan Janice mengikuti turnamen ITF secara konsisten sejak pertengahan 2024 mengantarkannya pada level tertinggi persaingan tenis profesional, Grand Slam.

Janice akan berhadapan dengan unggulan ke-24, Veronika Kudermetova, pada babak pertama AS Terbuka di Flushing Meadows, New York, AS, Minggu (24/8/2025) siang waktu setempat atau Senin dini hari waktu Indonesia. Petenis Rusia yang akan dihadapinya itu adalah petenis ranking ke-26 dunia yang tampil di arena Grand Slam sejak 2019 dengan hasil terbaik perempat final Perancis Terbuka 2022.

Janice akan merasakan persaingan babak utama Grand Slam pada 2025 setelah bersaing sejak babak kualifikasi. Dia menjadi salah satu dari 16 tunggal putri yang memenangi tiga babak kualifikasi hingga bisa bersaing pada babak utama yang berlangsung 24 Agustus-7 September 2025.

Janice mengalahkan unggulan ketiga kualifikasi, Aoi Ito, dengan skor 6-1, 6-2, Jumat (22/8/2025). Pada babak pertama, petenis berusia 23 tahun itu juga mengalahkan petenis unggulan, yaitu Varvara Lepchenko (22), 6-3, 6-1.

Kemenangan Janice atas Ito membuat Indonesia memiliki lagi petenis nomor tunggal yang tampil pada babak utama Grand Slam. Angelique, yang aktif bersaing di arena profesional pada 1999-2008, bermain di arena Grand Slam pada 2002-2004.

Quote

Rasanya luar biasa ketika bisa menjadi petenis pertama Indonesia yang tampil di babak utama Grand Slam setelah lebih dari 20 tahun. Itu sangat berarti bagi saya.

US Open-Tjen Tennis

Meskipun memiliki dua gelar juara Grand Slam pada kategori yunior, yaitu Wimbledon 2001 dan Perancis Terbuka 2002, perjalanan Angie, panggilannya, di level yang lebih tinggi hanya sebentar karena cedera. Hasil terbaik Angie pada nomor tunggal adalah babak kedua. Adapun di ganda putri dan campuran, sosok yang saat ini berusia 40 tahun itu pernah mencapai perempat final.

Pada tahun-tahun yang sama dengan Angie, tenis Indonesia juga memiliki Wynne Prakusya di persaingan profesional. Seperti Angie, pencapaian terbaiknya di Grand Slam adalah babak kedua.

Setelah itu, ada Christopher Rungkat dan Aldila Sutjiadi yang aktif bersaing di turnamen ATP/WTA, tetapi mereka fokus di nomor ganda karena kesulitan bersaing di tunggal. Christopher memiliki 57 gelar nomor ganda putra dari turnamen ITF dan ATP dan babak kedua sebagai hasil terbaik di Grand Slam. Adapun Aldila mencapai babak ketiga ganda putri di semua Grand Slam serta semifinal ganda campuran Perancis Terbuka 2023, Wimbledon 2023, dan AS Terbuka 2024.

Pada tahun ini, Janice mendapat kesempatan untuk mengikuti jejak para seniornya itu. ”Saat bertanding, saya hanya berusaha mengeluarkan kemampuan terbaik. Rasanya luar biasa ketika bisa menjadi petenis pertama Indonesia yang tampil di babak utama Grand Slam setelah lebih dari 20 tahun. Itu sangat berarti bagi saya,” kata Janice yang mengalahkan Aito dengan servis dan forehand keras.

Janice bersaing di arena profesional bukan hanya dalam setahun-dua tahun terakhir. Dia memasuki kerasnya persaingan tenis profesional sejak 2018. Laman resmi Federasi Tenis Internasional (ITF) mencatat, petenis asal Jakarta itu absen dari turnamen tenis Oktober 2022 dan baru bertanding lagi Juni 2024.

Petenis Jawa Timur, Aldila Sutjiadi (kanan) dan Janice Tjen, berpose setelah menerima medali emas PON Aceh-Sumut 2024 di Kompleks Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Aceh, Kamis (19/9/2024). Aldila Sutjiadi dan Janice Tjen meraih medali emas setelah mengalahkan sesama wakil Jawa Timur, Jessy Rompies dan Beatrice Gumulya. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 19-09-2024

Pada masa tersebut, petenis asal Jakarta itu sebenarnya tetap bertanding, yaitu di NCAA. Ini adalah kompetisi olahraga untuk tingkat universitas di Amerika Serikat. Meski di tingkat mahasiswa, NCAA dikenal sebagai kompetisi olahraga yang sangat kompetitif. Janice, yang membawa nama Pepperdine University, menjadi finalis ganda putri NCAA 2024 bersama Savannah Broadus.

Ketika kembali ke turnamen profesional, setelah lulus dari jurusan sosiologi pada Mei 2024, dia menjuarai tujuh dari sepuluh turnamen ITF tunggal putri dalam rentang tujuh bulan pada 2024. Janice mengikuti turnamen level W15 dan W35.

Dalam struktur turnamen ITF, kejuaraan untuk pemain putri terdiri dari W15, W35, W50, W75, W100, dan WTA 125 dari tingkat terendah ke tertinggi. Untuk level atas dalam struktur turnamen WTA Tour, turnamen terdiri dari WTA 250, 500, dan 1000.

Pada 2025, selain tetap bertanding di level W15 dan W35, Janice bertanding pada level lebih tinggi, yaitu W50, W75, dan W100. Dari 16 turnamen, dia sembilan kali lolos ke final yang menghasilkan enam gelar juara. Lima dari enam gelar juara itu didapat secara beruntun pada rentang Mei-Juni sehingga Janice mendapat penghargaan dari ITF sebagai petenis terbaik World Tour Tennis (WTT) dua bulan beruntun, Mei dan Juni.

”Berkompetisi tenis di universitas membantu saya berkembang sebagai atlet dan manusia, terutama dalam faktor mental. Saya selalu berusaha mengerahkan kemampuan seratus persen,” katanya.

Berkat kemampuannya menerapkan pola pikir tersebut, Janice yang tak mempunyai peringkat dunia saat comeback pada Juni 2024 saat ini menempati peringkat ke-147. Dia akan membawa pola pikir dan kemampuan teknisnya pada level tertinggi yang akan dijalani, babak utama Grand Slam.

Petenis Jawa Timur, Janice Tjen, bertanding pada final tenis nomor ganda putri PON Aceh-Sumut 2024 di Kompleks Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Aceh, Kamis (19/9/2024). Bersama Aldila Sutjiadi, Janice Tjen megalahkan sesama wakil Jawa Timur, Jessy Rompies dan Beatrice Gumulya, dengan poin 7-6, 6-4. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 19-09-2024

Waspadai bintang muda

Dalam persaingan di antara petenis top dunia, petenis putri harus mewaspadai kehadiran bintang-bintang muda. Meski unggul pengalaman, Aryna Sabalenka dan Iga Swiatek tak bisa memandang sebelah mata para remaja di bawah usia 20 tahun, seperti Mirra Andreeva dan Victoria Mboko.

Andreeva, yang berusia 18 tahun, menjadi unggulan kelima di Flushing Meadows. Petenis Rusia ini menjuarai dua turnamen WTA 1000 secara beruntun, di Dubai dan Indian Wells, pada Februari-Maret. Gelar tersebut didapat dalam turnamen di lapangan keras, jenis lapangan yang juga digunakan untuk menggelar AS Terbuka.

Andreeva, yang saat ini menempati ranking kelima dunia, membuat kejutan ketika mencapai semifinal Grand Slam Perancis Terbuka 2024. Dengan didampingi mantan petenis Spanyol, Conchita Martinez, sebagai pelatih, performa Andreeva di lapangan lebih matang dibandingkan usianya.

Persaingan tunggal putri pada 2025 kedatangan wajah baru, petenis berusia 18 tahun lainnya, Victoria Mboko. Petenis Kanada ini menjadi bintang saat tampil dalam turnamen WTA 1000 di negaranya sendiri, 27 Juli-7 Agustus. Mboko menjuarai WTA Kanada setelah mengalahkan tiga juara Grand Slam, yaitu Cori Gauff, Elena Rybakina, dan Naomi Osaka.

Mboko menjadi unggulan ke-22 dalam partisipasinya yang ketiga di Grand Slam setelah Perancis Terbuka dan Wimbledon 2025. Dia bisa bertemu Andreeva jika keduanya melangkah ke babak keempat.

US Open Tennis

Jika bisa bertahan lebih jauh, salah satu di antara mereka bisa menjadi lawan bagi petenis nomor satu dunia yang juga juara bertahan, Sabalenka. Sabalenka belum pernah melawan Mboko, tetapi sudah enam kali berhadapan dengan Andreeva. Dia unggul 4-2, tetapi kalah pada pertemuan terakhir di final WTA Indian Wells.

Sabalenka, yang akan memulai penampilan pada hari pertama turnamen, menjadi petenis dengan persentase kemenangan terbaik (83,3 persen) pada tahun ini, hasil dari 50 kali menang dan 10 kali kalah. Petenis Belarus ini tujuh kali mencapai final, tetapi empat kali kalah. Pada turnamen pemanasan AS Terbuka WTA 1000 Cincinnati, hasilnya tak begitu baik karena tersingkir pada perempat final setelah dikalahkan Rybakina, 1-6, 4-6.

”Aryna harus menyingkirkan rasa gugupnya pada Grand Slam terakhir di tahun ini. Kita lihat, apakah mentalnya tangguh setelah beberapa kali kalah di final. Jika bisa bermain baik, dia bisa mempertahankan gelar,” komentar mantan petenis AS, Mary Joe Fernandez, yang menjadi komentator untuk ESPN.

Swiatek, yang menjadi unggulan kedua, memiliki momentum positif setelah menjuarai WTA 1000 Cincinnati sehingga Fernandez menyebutnya sebagai favorit juara. ”Sejak Wimbledon, dia kembali ke performa terbaik. Caranya bergerak dan mengeksekusi pukulan sangat berbeda,” kata Fernandez.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya ketika Swiatek memiliki performa terbaik pada enam bulan pertama, dia bermain lebih baik setelah melewati semester pertama 2025. Petenis Polandia ini baru mencapai final dalam rentang setahun setelah menjuarai Perancis Terbuka 2024.

APTOPIX Montreal Tennis

Sejak pekan ketiga Juni, Swiatek tiga kali lolos ke final dari empat turnamen dengan gelar juara dari Wimbledon dan WTA Cincinnati. Dia menjuarainya pada final pertama di kedua turnamen tersebut.

Pada persaingan tunggal putra, Carlos Alcaraz berada pada paruh undian yang sama dengan Novak Djokovic. Alcaraz, yang menjadi unggulan kedua, dan Djokovic (7) bisa bertemu pada semifinal paruh bawah.

Di paruh atas, petenis nomor satu dunia, Jannik Sinner, akan mendapat saingan dari Alexander Zverev (3), Jack Draper (5), dan Alex de Minaur. Sinner dan Zverev akan tampil setelah mereka bertanding di ATP Masters Cincinnati dalam kondisi tidak fit. Sinner bahkan mundur pada set pertama saat melawan Alcaraz di final. Setelah itu, dia tak jadi bertanding dalam nomor ganda campuran AS Terbuka bersama Katerina Siniakova.(REUTERS/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji