Di tengah gencatan senjata di Gaza, Bethlehem mencoba kembali bangkit. Perayaan penyalaan pohon natal kembali digelar dan membawa harapan bagi semua orang.
24 Des 2025 08:00 WIB · Internasional
AP
Sudah dua kali Natal, tepatnya pada 2023 dan 2024, tidak ada perayaan meriah di Bethlehem, Tepi Barat. Tahun ini, umat Kristen Palestina bisa kembali menggelar perayaan Natal dengan harapan. Terang Natal terus menjadi suluh dan pandu dalam menjalani hari-hari yang suram di sana.
Dalam dua tahun terakhir, tidak ada perayaan penyalaan pohon natal tradisional, pertunjukan musik, hingga dekorasi yang meriah dan menyilaukan di lapangan kota Bethlehem. Perang antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza yang meletus pada 7 Oktober 2023 memadamkan semua itu.
Umat Kristen Palestina di Tepi Barat yang diduduki Israel memilih merayakan kelahiran Yesus Kristus dalam diam. Mereka menghindari kemeriahan karena sensitivitas terkait perang di Jalur Gaza.
Belum lagi, sepanjang 2024, merujuk pada laporan The New York Times, Senin (22/12/2025), terjadi peningkatan serangan terhadap komunitas Palestina di seluruh Tepi Barat oleh pemukim Israel. Serangan tersebut mencapai rekor tertinggi pada Oktober. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Palestina mencatat, pada bulan itu setidaknya terjadi 271 serangan atau sekitar delapan serangan per hari.
Sementara di wilayah Bethlehem, rumah bagi salah satu komunitas Kristen Palestina terbesar, setidaknya 59 warga Palestina terluka dalam serangan pemukim Israel. Serangan dilakukan sejak awal tahun 2025 hingga November.
Nasib warga Palestina semakin tidak menentu ketika pada awal 2025, Pemerintah Israel mengesahkan perluasan permukiman terbesar dalam beberapa dekade. Kemudian, pada Minggu (21/12/2025), Kabinet Israel menyetujui proposal untuk mengesahkan 19 permukiman lagi. PBB dan Mahkamah Internasional menyatakan semua permukiman Israel di Tepi Barat melanggar hukum internasional.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/24/d5baaafb-90d9-463a-bb48-85e3899bd41c_jpg.jpg)
Di tengah kesuraman itu, pada awal Oktober 2025, gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza akhirnya terwujud. Dengan gencatan senjata yang rapuh, tetapi masih berlaku, umat Kristen di Tepi Barat mencoba menghidupkan kembali semangat Natal.
The Times of Israel edisi 7 Desember 2025 memberitakan, suasana Natal kembali ke Bethlehem, tempat kelahiran Yesus Kristus menurut Alkitab. Kembalinya Natal ke kota itu ditandai dengan penyalaan pohon natal, untuk pertama kalinya sejak pecah perang di Gaza lebih dari dua tahun lalu, pada Sabtu (6/12/2025).
Pohon natal itu meriah. Bola-bola warna merah dan emas menutupi ranting dan dedaunan. Pohon natal berdiri beberapa meter dari Gereja Kelahiran atau Gereja Nativitas di Manger Square atau Alun-alun Palungan. Pohon itu menjadi simbol harapan.
Perayaan dimeriahkan dengan marching band yang memainkan lagu-lagu Natal, juga paduan suara menyanyikan lagu-lagu Natal. Ribuan orang hadir dalam penyalaan pohon natal.
Mereka yang datang bukan hanya umat Kristen Palestina, melainkan juga umat Islam dan banyak orang datang dari seluruh Tepi Barat dan Israel, bahkan dari tempat yang lebih jauh. Mereka ingin menikmati kembali semangat Natal.
Para biarawati terlihat menonton dari salah satu atap bangunan. Sementara banyak keluarga, termasuk anak-anak, memenuhi balkon dan atap rumah untuk melihat sekilas pohon natal yang menyala. Suara tawa memenuhi udara saat banyak orang tak kuasa menahan perasaan gembira di tengah perayaan yang sempat diwarnai hujan.
Di akhir upacara penyalaan yang berlangsung selama dua jam, sorak-sorai terdengar. Pohon natal itu terlihat begitu terang.
Lampu kuningnya berkelap-kelip dan bintang merah terang di puncaknya bersinar di langit malam berawan yang disinari cahaya bulan purnama. Pohon terang itu memberikan secercah harapan di tengah suasana muram.
Di jalan-jalan kota Bethlehem, terlihat spanduk dalam bahasa Arab dan Inggris. Mengutip dari Kitab Yesaya dalam Alkitab, spanduk itu bertuliskan, ”Bangkitlah, bersinarlah, karena terangmu telah datang”.
”Perayaan ini adalah pesan untuk dunia bahwa keadaan sudah tenang,” kata Mike Shahen (43), pemilik toko keramik di alun-alun Bethlehem.
”Acara ini tidak diadakan selama dua tahun terakhir karena perang, dan ini cukup emosional setelah dua tahun hanya dipenuhi perang dan kematian,” kata Liyu Lu (50), yang datang dari Israel utara, dekat perbatasan dengan Lebanon.
Wali Kota Bethlehem Maher Canawati mengatakan, acara Natal baru-baru ini merupakan perayaan sekaligus pernyataan harapan. ”Saya pikir, ini mengirimkan pesan yang bagus kepada seluruh dunia bahwa kami, orang Palestina, mencintai kehidupan dan kami sangat menantikan solusi damai,” ujarnya.
”Perdamaian dibutuhkan agar kami dapat terus hidup di kota-kota kami dan di Palestina.”
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/07/abadcac4-dcca-4f68-9400-c45bdcb7be5b.jpg)
Pernyataan Maher itu bermakna dalam. Di luar makna keagamaannya, Natal juga berperan penting bagi perekonomian Bethlehem. Pariwisata dan peziarah telah lama menjadi penggerak ekonomi utama bagi kota ini.
Menurut Pemerintah Kota Bethlehem, sekitar 80 persen penduduk kota hidup dari sektor tersebut. Pendapatan itu berdampak positif bagi komunitas di seluruh Tepi Barat, wilayah yang sejak lama ditandai dengan ketidakstabilan ekonomi.
”Ketika kita memiliki 10.000 pengunjung dan peziarah yang menginap di Bethlehem, itu berarti tukang daging bekerja, supermarket bekerja, dan semua orang bekerja. Ada efek domino,” kata Maher.
Yousef Handal (47), barista di sebuah kafe di dekat alun-alun utama, menuturkan, tanpa perayaan musiman ini, industri pariwisata kota akan merosot.
Benar saja, sumber daya ekonomi itu lenyap ketika perang pecah di Gaza. Pemerintah Bethlehem membatalkan perayaan Natal besar-besaran selama serangan dahsyat Israel di Gaza. Pada saat yang sama, militer Israel meningkatkan operasi di Tepi Barat, termasuk komunitas di dekat Bethlehem.
Perang di Gaza, lalu diikuti pertempuran antara Israel dan Hizbullah di Lebanon, berdampak buruk pada Bethlehem. Padahal, kota ini baru saja menyambut kembalinya wisatawan pada 2022 setelah pandemi Covid-19, sebelum perang di Gaza pecah. ”Covid-19 memang buruk, tetapi tidak separah dua tahun terakhir,” kata Shahen dari toko keramik.
Alhasil, kemiskinan di Bethlehem meroket dengan sekitar 4.000 orang pergi mencari pekerjaan. ”Tingkat pengangguran di kota ini melonjak dari 14 persen menjadi 65 persen,” ungkap Maher.
Sekarang penduduk Bethlehem menginginkan kebangkitan kembali. ”Keputusan yang kami ambil adalah untuk menghidupkan kembali semangat Natal dan menghidupkan kembali harapan,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/07/68ce6b11-20b9-4c4a-bbe5-82bec4b8296f.jpg)
Di tengah gencatan senjata di Gaza dan Lebanon, menurut Maher, pada November kunjungan wisatawan ke Bethlehem mencapai angka tertinggi sejak perang dimulai. Pemesanan kamar menunjukkan hotel akan terisi sekitar 70 persen selama masa Natal.
Para peziarah Kristen, terutama dari Asia, Amerika Selatan, dan Eropa Timur, juga perlahan-lahan mulai datang dalam beberapa bulan terakhir.
Fabien Safar, Direktur Terra Dei sekaligus pemandu dari penyelenggara ziarah ke Tanah Suci, mengungkapkan, beberapa kelompok kecil akan datang untuk Natal tahun ini. Ia juga sudah melihat beberapa pemesanan untuk tahun 2026.
Safar memperkirakan pemulihan kunjungan yang nyata berpeluang terjadi pada 2027. Namun, pemulihan jelas bergantung pada perkembangan situasi di Gaza dan Lebanon.
Pada November 2024, Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon yang didukung Iran menandatangani gencatan senjata. Namun, setelah lebih dari setahun, Israel terus melancarkan serangan terhadap target Hizbullah di Lebanon.
Situasi itu, lanjut Safar, membuat para peziarah tetap takut karena tidak ada akhir resmi untuk perang di Gaza maupun Lebanon. Sementara komunitas Kristen Palestina juga masih diganggu dengan terjadinya serangan-serangan oleh para pemukim Israel. Seperti yang terjadi di Taybeh, desa Kristen Palestina terakhir di Tepi Barat.
Saat mereka mengupayakan perayaan Natal dengan mendirikan pasar Natal, pemukim Israel mengganggu dengan membakar mobil warga. Meski demikian, gangguan tidak menggoyahkan semangat umat merayakan Natal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/07/39f23123-2b12-437f-8677-f8c58810e8e7.jpg)
Di tengah gencatan senjata yang rapuh, komunitas Kristen Palestina di Taybeh memaknai kelahiran Kristus sebagai sukacita dan seruan untuk kelestarian lingkungan. Selama dua tahun terakhir, adegan Kelahiran Yesus di Gereja Kristus Sang Penebus di Taybeh menunjukkan, Yesus berbaring bukan di atas jerami, melainkan di atas tumpukan puing.
Tahun ini, sebagai isyarat untuk bergerak maju, adegan Kelahiran Yesus tradisional kembali ditampilkan. ”Kita perlu memperbarui tanah dan kehidupan kita,” kata Bashar Fawadleh, pastor paroki, dalam khotbah baru-baru ini.
Ia menyerukan perdamaian dan keamanan di Taybeh. Ia juga berharap orang-orang dari seluruh dunia dapat mengunjungi desa tersebut, ”tempat Yesus berada”.
Di tengah ketegangan Tepi Barat, Issa Montas (29), warga Tepi Barat, menyatakan, ”Perayaan ini bukan hanya untuk kita. Ini untuk semua orang. Kristen, Yahudi, Muslim. Natal ini untuk semua orang.”
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul