Selain Tarif, Trump Ingin Saingi China lewat Industri Pembuatan Kapal

Pangsa pasar pembuatan kapal AS di dunia sekarang sebesar 0,2 persen, sedangkan China 74 persen.

10 Apr 2025 19:56 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

WASHINGTON DC, KAMIS — Setelah berselisih lewat tarif, Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus berusaha menjegal dominasi China di berbagai sektor ekonomi. Upaya yang diambil Trump, antara lain, mendorong revitalisasi industri pembuatan kapal AS. Saat ini, China adalah pemimpin di industri ini.

Trump menandatangani sebuah perintah eksekutif terkait pemulihan dominasi maritim AS, di Washington DC, Rabu (9/4/2025). Dalam Lembar Fakta Gedung Putih, tujuan revitalisasi industri maritim AS adalah memperkuat ekonomi dan keamanan nasional yang merupakan bagian dari kebijakan American First.

Perintah eksekutif itu mencakup pengarahan pembuatan Rencana Aksi Maritim (MAP) untuk revitalisasi industri maritim AS. MAP akan berisi strategi konkret untuk merealisasi tujuan Trump.

”Dulu kita membuat banyak sekali kapal. Sekarang kita tidak banyak membuatnya lagi, tetapi kita akan membuatnya dengan sangat cepat, dalam waktu dekat. Ini akan memberi dampak yang besar,” ujar Trump.

Industri pembuatan kapal AS mencapai puncaknya pada tahun 1970-an. Seiring waktu, industri ini meredup akibat tingginya biaya dan struktur regulasi yang rumit. Kondisi ini memberi peluang bagi pesaing untuk tumbuh cepat, termasuk China.

Selama bertahun-tahun, anggota parlemen dari Partai Republik maupun Demokrat telah memperingatkan dominasi China di sektor maritim. Apalagi, di saat bersamaan, kesiapan Angkatan Laut AS menurun.

Senator Mark Kelly dari Demokrat dan Todd Young dari Republik menyambut baik perintah eksekutif tersebut. Mereka berencana memperkenalkan kembali undang-undang bipartisan untuk memberikan Kongres otoritas yang diperlukan untuk merevitalisasi industri pembuatan kapal.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara setelah menandatangani perintah eksekutif di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington DC, AS, pada Rabu (9/5/2025)

Menyentil China

Lembar fakta Gedung Putih mencatat, pangsa pasar pembuatan kapal AS di dunia sekarang sebesar 0,2 persen, sedangkan China 74 persen. China turut unggul atas AS dalam pembuatan kontainer, derek kapal-ke-pantai, dan perangkat lunak untuk operasional pelabuhan.

Perintah eksekutif Trump memerintahkan Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) membuat rekomendasi terkait ”tindakan antipersaingan” China dalam industri pembuatan kapal. Selain itu, pemerintah akan bekerja sama dengan sekutu guna menghentikan praktik nonpasar China di sektor rantai pasokan dan logistik internasional.

Perintah Trump kepada USTR itu memberi lampu hijau untuk meneruskan proposalnya yang sempat memicu kritik tajam. USTR sebelumnya mengusulkan pemungutan biaya tambatan kapal di pelabuhan AS senilai jutaan dollar AS kepada kapal apa pun yang menjadi bagian armada, termasuk kapal buatan atau berbendera China. Sekutu didorong melakukan aksi serupa.

Namun, eksportir, kelompok dagang, dan operator kapal AS tidak menyetujui proposal USTR. Pemungutan itu dinilai dapat mengganggu rantai pasokan, melenyapkan pekerjaan di kota-kota pelabuhan, dan menciptakan inflasi.

USTR mesti menyelesaikan proposal itu paling lambat 17 April 2025. Jamieson Greer dari USTR mengatakan, lembaga itu tidak akan mengimplementasi semua rencana dalam proposal awal.

”Ini mungkin masalah miskomunikasi, sebagian orang mengira semua rencana itu akan diberlakukan,” kata Greer. ”Setelah mendapat masukan dan komentar publik, sekarang USTR mempertimbangkan tindakan mana yang paling tepat.”

Perintah Trump juga mengharuskan USTR mempertimbangkan usulan tarif pada peralatan, seperti derek kapal-ke-pantai, yang diproduksi atau dirakit menggunakan komponen asal China. Tarif juga dapat berlaku pada komponen yang dibuat perusahaan yang dimiliki atau dikendalikan warga negara China.

Kapal kargo membawa tumpukan kontainer saat meninggalkan Pelabuhan Everglades, Florida, Amerika Serikat, Rabu (9/4/2025).Hari ini, Presiden AS Donald Trump menghentikan sementara sebagian tarif besarnya terhadap barang impor.

Respons China

Ketika ditanya tentang kebijakan Trump, Kamis (10/4/2025), Kementerian Luar Negeri China mengatakan, gagasan bahwa China bersalah atas kemunduran industri pembuatan kapal AS tidak berdasar pada fakta.

”Perkembangan industri pembuatan kapal di China merupakan hasil inovasi teknologi dan partisipasi aktif perusahaan dalam persaingan pasar,” kata Juru Bicara Kemenlu Lin Jian dalam konferensi pers rutin.

Menurut Lin, studi AS telah menunjukkan, industri pembuatan kapal AS telah kehilangan daya saing bertahun-tahun lalu. Dia tidak merinci studi mana yang dimaksud.

Sebaliknya, dalam beberapa tahun terakhir, industri pembuatan kapal China berkembang pesat. Menurut CNBC, China menyalip Korea Selatan sebagai pemimpin di semua sektor pembuatan kapal. Pada 2024, kapal pengangkut peti kemas buatan China menguasai 81 persen pangsa pasar, berdasarkan data Veson Nautical.

Peter Sand, Kepala Analis Pengapalan di Xeneta, menilai, pembiayaan yang menarik dari bank-bank China dan lembaga-lembaga peminjaman, peningkatan kualitas produksi, dan harga yang kompetitif ketimbang kapal Korsel berkontribusi pada keunggulan China.

”Dominasi pembuatan kapal China semakin meningkat selama lima tahun terakhir,” katanya, Maret lalu. (REUTERS)



Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul