Kekal di Liga 1 menjadi ambisi PSIM setelah juara Liga 2 2024-2025. Pelatih baru akan hadir, lalu Rafinha berharap bisa melanjutkan pengabdian di ”Laskar Mataram”.
27 Feb 2025 11:18 WIB · Olahraga
Sejak gagal menembus Liga Super Indonesia 2008, musim demi musim berlalu dijalani PSIM Yogyakarta untuk mengejar tiket promosi ke kompetisi kasta tertinggi sepak bola nasional. Tahun demi tahun harapan itu selalu pupus hingga akhirnya target itu lulus di Pegadaian Liga 2 2024-2025.
PSIM kali terakhir tampil di Divisi Utama Indonesia, yang merupakan format lama Liga 1, pada musim 2007-2008. Bermain di Wilayah Timur, tim berjuluk ”Laskar Mataram” itu hanya duduk di peringkat ke-15 dari 18 peserta.
Hasil itu membuat PSIM gagal hijrah ke Liga Super yang dimulai pada edisi 2008. Pasalnya, tim-tim yang tampil di Liga 1 wajib duduk di posisi delapan besar pada edisi pamungkas Divisi Utama.
Dalam perjalanan mereka lebih dari satu dekade untuk kembali ke kompetisi kasta tertinggi pernah begitu dekat pada Liga 2 2021. Sempat lolos ke babak semifinal Liga 2 musim tersebut, usaha PSIM promosi kandas di duel perebutan peringkat ketiga. Kekalahan 0-1 dari Dewa United di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, 30 Desember 2021, melenyapkan mimpi PSIM ke Liga 1 yang sudah begitu dekat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/26/5f279ca9-049a-44f3-9803-ad0f70abcc5e_jpg.jpg)
Ketika ambisi promosi kembali menggebu di Liga 2 2022, semesta tidak mendukung. Kompetisi Liga 2 dihentikan di tengah jalan setelah kehadiran Tragedi Kanjuruhan, 1 Oktober 2022.
Pada Liga 2 2023, PSIM kembali menata mimpi promosi. Berhasil lolos ke babak 12 besar setelah duduk di peringkat ketiga Grup 2, tetapi mereka gagal lolos ke babak semifinal. Laskar Mataram kalah bersaing dari Semen Padang dan Persiraja Banda Aceh.
Hasil Grup X babak 12 besar itu terasa menyakitkan karena PSIM hanya kalah selisih gol dari Persiraja yang menyabet tiket babak semifinal dengan predikat peringkat kedua terbaik.
Sampai akhirnya semesta sepenuhnya mendukung Laskar Mataram kembali ke kompetisi kasta terbaik di Indonesia pada Liga 2 2024-2025. Namun, perjalanan mereka untuk merebut salah satu dari tiga tiket promosi Liga 1 2025-2026 tidak begitu mulus.
Performa agak menurun pada paruh kedua babak reguler sehingga PSIM memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan pelatih Seto Nurdiantoro. Kehadiran caretaker atau pelatih interim Erwan Hendarwanto memberikan nasib baik bagi PSIM.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/26/b5b453a3-b7c2-4981-a017-0c53eee03e09_jpg.jpg)
Erwan membantu PSIM menghuni peringkat kedua Grup 2 babak reguler untuk lolos ke delapan besar. Perjalanan di babak delapan besar amat mulus. Hanya kalah satu kali dari Persiraja Banda Aceh, Laskar Mataram menyabet enam kemenangan, termasuk laga final kontra Bhayangkara Presisi FC, Rabu (26/2/2025), di Stadion Manahan, Surakarta, Jawa Tengah.
Keberhasilan membawa PSIM mengakhiri penantian selama 17 tahun untuk promosi serta 20 tahun demi juara Liga 2 membuat Erwan mendapat apresiasi besar dari pendukung PSIM. Bahkan, suporter Laskar Mataram memberikan Erwan dukungan sebagai sang pembawa nasib baik.
”Ah, terlalu berlebihan,” ujar Erwan sembari tertawa pada konferensi pers seusai laga, Rabu malam.
Meskipun selalu terlihat serius di sisi lapangan untuk mendampingi anak asuhannya bertanding, Erwan sosok yang santai dan jenaka. Sebagai sosok yang sudah berada di staf ofisial PSIM sejak 2022, Erwan sangat bersyukur bisa membantu PSIM promosi dan meraih gelar juara Liga 2.
Mendapatkan trofi kampiun di Stadion Manahan pun seakan terasa manis bagi Laskar Mataram. Pasalnya, rivalitas antara PSIM dan Persis Solo sudah mengakar sejak era turnamen PSSI periode 1930-an.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/17/746cbd1e-5839-44f9-a6cf-c18784392265_jpg.jpg)
Ketika ditanya dirinya pernah membayangkan bisa membawa PSIM juara di Manahan, Erwan menjawab dengan santai.
”Saya hanya membayangkan istri saya, he-he-he. Dalam bahasa suporter sekarang, Mataram is Love, jadi kami senang mendapat sambutan dari pendukung Persis, Pasoepati. Alhamdulillah, kami bisa berikan hasil yang terbaik di sini (Manahan),” tutur Erwan yang berusia 48 tahun.
Untuk bertarung di Liga 1 2025-2026, PSIM sudah dipastikan wajib melakukan perombakan tim. Utamanya, mereka sudah dipastikan harus mencari sosok pelatih kepala baru.
Hal itu disebabkan Erwan terkendala lisensi kepelatihan. Pelatih di Liga 1 wajib berlisensi Pro AFC, sedangkan Erwan baru memegang lisensi A AFC.
”Saya sadar secara lisensi belum memenuhi syarat. Siapa pun nantinya menangani tim, semoga PSIM bisa eksis lama di Liga 1,” tutur Erwan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/17/becda52e-a191-4ce0-b44b-424314fad58a_jpg.jpg)
Yuliana Tasno, Direktur Utama PSIM, juga tidak ingin terlalu lama menikmati euforia keberhasilan memenuhi target promosi Liga 1. Ia menuturkan, persiapan PSIM untuk Liga 1 musim depan sudah akan dimulai dalam waktu dekat meski Liga 1 baru akan bergulir awal Agustus 2025.
”Mulai Senin (3/3/2025), kami sudah akan memulai persiapan menuju Liga 1. Kami akan manfaatkan waktu semaksimal mungkin,” ujar Yuliana.
Di tengah upaya guna meningkatkan kualitas tim demi bisa bersaing di Liga 1, salah satu pemain musim ini yang diharapkan tetap dipertahankan manajemen tim adalah penyerang Rafael ”Rafinha” de Sa Rodrigues.
Rafinha mencetak 20 gol di Liga 2 musim ini. Itu artinya sebanyak 50 persen gol PSIM berasal dari ketajaman pemain berusia 32 tahun itu.
Setelah membantu PSIM promosi dan menyabet trofi Pemain Terbaik Liga 2 2024-2025, Rafinha tentu menjadi komoditas panas untuk tim-tim Liga 1 mengarungi musim 2025-2026.
Setelah dua musim bermain di Liga 2, sebelumnya Rafinha bermain untuk PSCS Cilacap, Rafinha berambisi untuk bermain di Liga 1. Ia pun ingin melanjutkan pengabdiannya bersama Laskar Mataram.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/17/46bb2ac9-26dd-4e5d-b75b-ba913b00b22a_jpg.jpg)
”Saya sudah membuka komunikasi dengan PSIM untuk perpanjangan kontrak musim depan. PSIM tetap menjadi prioritas utama. Saya sangat mencintai klub, pendukung, dan orang-orang di kota (Yogyakarta) ini,” tutur Rafinha yang pertama kali menginjak kaki di Asia dengan berkarier di Laos pada 2019.
Addi (38), salah satu pendukung PSIM, berharap bisa rutin setiap musim menyaksikan Laskar Mataram di Liga 1. ”Senang akhirnya keinginan melihat PSIM bermain di Liga 1 bisa terwujud musim depan. Seperti di musim ini, saya akan selalu berusaha mendukung langsung PSIM setiap bermain kandang,” ujar Addi yang berdomisili di Bantul, DI Yogyakarta.
Satu hal yang pasti PSIM berambisi kekal di Liga 1. Mereka tidak ingin mengulang kisah bermain di kompetisi kasta tertinggi yang hanya bertahan rata-rata dua musim sejak promosi di era Liga Indonesia pada 1997-1998 dan 2005.
Selamat datang kembali di kompetisi terbaik Tanah Air, mbah!
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .