Amerika Serikat menyerbu Venezuela dan membawa presiden negara itu ke New York untuk diadili. Tindakan unilateral AS ini menuai kecaman.
05 Jan 2026 06:00 WIB · Tajuk Rencana
AFP
Amerika Serikat selama berbulan-bulan telah mengerahkan aset militer dalam jumlah besar ke Laut Karibia di sekitar Venezuela. Ada kapal induk dan ribuan personel dikirim ke perairan tersebut. Berbagai serangan dilancarkan ke kapal-kapal yang dituduh mengangkut narkoba dari pelabuhan di Venezuela. Pengerahan kekuatan militer dilakukan untuk menghancurkan distribusi besar-besaran narkoba yang sebagian mengalir ke AS tersebut.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro dituduh Washington mendalangi penjualan narkoba. Karena itu, muncul alasan untuk menangkapnya dan diadili di New York. Meski demikian, beberapa analisis menyebut, sosok Maduro berbahaya karena dekat dengan Rusia, China, Iran, dan Kuba.
Ada laporan milisi pro-Iran dibantu Venezuela, selain rencana penempatan rudal Iran di negara itu. Persenjataan dan pelatihan militer Venezuela dilaporkan dibantu China dan Rusia. Selain itu, puluhan ribu barel minyak setiap hari diberikan Venezuela ke negara komunis Kuba sehingga menopang rezim di Havana.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/11/6a6e038844faa3cb71a1b39c6ac73efc-wires_photo.jpg)
Ada pula penilaian yang menyebut AS berkepentingan terhadap minyak di Venezuela. Meski demikian, beberapa analisis menyebut, membangun kembali industri minyak di Venezuela tak mudah dan diperkirakan memerlukan waktu setidaknya 10 tahun untuk memberi keuntungan.
Pada saat yang sama, Maduro dikenal bukan pemimpin demokratis. Rezimnya otoriter dan dilaporkan melakukan kekerasan terhadap oposisi. Pemilu yang dimenangi penentangnya dilaporkan berubah sehingga ia bisa tetap berkuasa. Tak mengherankan, sebagian warga Venezuela menyambut gembira penangkapan Maduro.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/03/acf3431a486f1f6d18173527bcc1a1eb-US_VENEZUELA_CONFLICT_DIPLOMACY_134448794.jpg)
Akan tetapi, apa pun alasan AS, tindakan menyerang negara berdaulat dan menangkap pemimpinnya harus dikecam. Hal ini menjadikan aksi unilateral atau tindakan sepihak negara besar terhadap negara lainnya semakin biasa. Paham realisme dalam hubungan internasional kian kuat. Dalam perspektif realis, politik dunia pada dasarnya perebutan kekuasaan di antara negara-negara dengan kepentingan yang diutamakan ialah kepentingan nasional, ekonomi, dan keamanan sendiri. Tidak ada gagasan ideal yang diperjuangkan.
Di dalam negeri, aksi yang dilakukan Pemerintah AS dikritik anggota parlemen. Pengerahan militer dilakukan Presiden Donald Trump tanpa konsultasi kepada parlemen. Rencana jangka panjang atas Venezuela juga tidak pernah dibahas dengan para wakil rakyat AS. Padahal, risiko ketidakstabilan sangat mungkin terwujud setelah Maduro dibawa ke AS.
Kita menaruh harapan serangan ke Venezuela menjadi aksi unilateral militer terakhir oleh negara besar. Meski tak mudah, upaya membangun ketertiban dunia melalui negosiasi dan jalur multilateral akan lebih bertahan lama serta adil.
Penulis:
RedaksiEditor:
Antonius Tomy TrinugrohoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji