Setelah Venezuela, siapa lagi yang akan dicaplok Trump? Denmark dan Greenland yang paling cemas akan jadi korban selanjutnya karena Trump sudah mengancam lagi.
05 Jan 2026 11:45 WIB · Internasional
AP/Evgeniy Maloletka
Gara-gara serangan AS ke Venezuela, Greenland dan Denmark kini cemas dengan perilaku Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Mereka meminta Trump berhenti mengancam akan mengambil alih Greenland yang masuk dalam wilayah Denmark. Mereka khawatir akan bernasib sama dengan Venezuela.
Trump lagi-lagi mengungkapkan keinginannya untuk mengambil alih Greenland saat diwawancara majalah The Atlantic, Minggu (4/1/2026), atau sehari setelah AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Ia sesumbar akan ”mengelola” Venezuela. Trump berulang kali menyinggung kemungkinan Greenland menjadi bagian dari AS dengan alasan lokasi yang strategis dan kekayaan mineralnya.
”Kita memang membutuhkan Greenland, tentu saja. Kita membutuhkannya untuk pertahanan. Greenland dikelilingi oleh kapal-kapal Rusia dan China,” kata Trump, Minggu.
Bukan hanya ancaman Trump yang membuat panik Denmark. Unggahan pemilik siniar sayap kanan, Katie Miller, di X yang mengunggah peta Greenland dengan warna bendera AS dan di sampingnya ada kata ”segera”. Katie adalah istri dari salah satu ajudan Trump, Stephen Miller.
Denmark dan Greenland meradang. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan, sama sekali tidak masuk akal AS mengambil alih Greenland. ”AS tidak berhak mencaplok salah satu dari tiga negara di Kerajaan Denmark. Saya mendesak AS menghentikan ancaman terhadap sekutu yang secara historis dekat dan terhadap negara atau bangsa lain yang sudah jelas-jelas mengatakan mereka tidak mau diambil alih,” ujarnya.
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen juga menegaskan, Trump tidak menghormati kedaulatan wilayah Greenland dan Denmark. Unggahan Miller juga dinilainya tak sopan. ”Hubungan antarbangsa dan masyarakat dibangun atas dasar saling menghormati dan hukum internasional. Bukan atas dasar isyarat simbolis yang mengabaikan status dan hak-hak kita,” tulisnya di X.
Namun, ia juga menulis, ”Tidak ada alasan untuk panik atau khawatir. Negara kami tidak untuk dijual. Masa depan kita tidak ditentukan oleh unggahan media sosial.”
Duta Besar Kopenhagen untuk AS Jesper Møller Sørensen mengunggah ulang provokasi Miller dengan ”pengingat ramah” tentang hubungan pertahanan yang telah lama terjalin antara kedua negara. Denmark adalah anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan dilindungi oleh jaminan keamanan dari NATO.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/13/359936a9-ae01-440d-a516-43bac71bec76_png.png)
Denmark memiliki perjanjian pertahanan dengan AS yang memberinya akses ke Greenland. ”Kita adalah sekutu dekat dan harus terus bekerja sama seperti itu. Keamanan AS juga merupakan keamanan Greenland dan Denmark. Kerajaan Denmark dan Amerika Serikat bekerja sama untuk memastikan keamanan di Arktik,” tulisnya.
Ia menyebutkan, Denmark sudah meningkatkan anggaran pertahanan pada 2025. Denmark mengalokasikan 13,7 miliar dollar AS yang dapat digunakan di Arktik dan Atlantik Utara.
Trump baru-baru ini menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland. Ia berjanji akan menjadikan Greenland bagian dari AS. Ini memicu kemarahan di Denmark.
Greenland memiliki populasi 57.000 jiwa, mayoritas penduduk asli Inuit. Letaknya sekitar 3.000 kilometer dari Denmark. Greenland memiliki pemerintahan sendiri yang luas sejak tahun 1979 meskipun pertahanan dan kebijakan luar negeri tetap berada di tangan Denmark.
Greenland adalah bekas koloni Denmark selama sekitar 300 tahun. Mereka memiliki hak untuk mendeklarasikan kemerdekaan berdasarkan perjanjian tahun 2009, tetapi sangat bergantung pada subsidi Denmark.
BBC edisi 24 Maret 2025 menyebutkan, sebagian besar wilayah Greenland masih terisolasi dan miskin meski termasuk pulau terbesar di dunia yang bukan benua. Sekitar 80 persen wilayahnya tertutup es dan mayoritas penduduknya tinggal di sekitar ibu kota, Nuuk.
Perekonomian Greenland berbasis pada perikanan. Subsidi dari Pemerintah Denmark menyumbang sekitar seperlima dari pendapatan domestik bruto. Pada 1953, Greenland menjadi bagian dari Kerajaan Denmark dan rakyat Greenland menjadi warga negara Denmark.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/e93ef94f-5c7d-44bb-b9cb-0598aa5c5c5a_jpg.jpg)
Pada 1979, referendum tentang pemerintahan sendiri memberi Greenland kendali atas sebagian besar kebijakan di wilayah itu. Namun, Denmark tetap memegang kendali atas urusan luar negeri dan pertahanan.
Selama setahun terakhir, Denmark berupaya memperbaiki hubungan yang tegang dengan Greenland. Mayoritas penduduk Greenland mendukung kemerdekaan dari Denmark. Akan tetapi, jajak pendapat pada Januari 2025 menunjukkan, rakyat Greenland tidak mau menjadi bagian dari AS.
BBC juga mencatat sejarah panjang hubungan AS dengan Greenland. Pada 1867, setelah membeli Alaska dari Rusia, Menteri Luar Negeri AS William H Seward memimpin negosiasi untuk membeli Greenland dari Denmark. Namun, ia gagal mencapai kesepakatan apa pun.
Pada 1946, AS menawarkan untuk membayar 100 juta dollar AS (setara dengan 1,2 miliar dollar AS saat ini) untuk Greenland, tetapi Denmark menolak. Trump juga mencoba membeli Greenland semasa jabatan presiden pertamanya (2017-2021).
Baik Denmark maupun Greenland menolak proposal tahun 2019 tersebut. Mereka mengatakan, ”Greenland tidak untuk dijual.”
Posisi Greenland strategis karena berada di antara Eropa dan Amerika Utara. Ini lokasi penting bagi sistem pertahanan rudal balistik AS. Kekayaan mineralnya juga menarik dan AS berharap ini bisa mengurangi ketergantungan pada ekspor China.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/01/04/79ba8479-9a4a-4f23-a425-4a6cfe056622_jpg.jpg)
Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap sumber daya alam Greenland meningkat, termasuk penambangan mineral tanah jarang, uranium, dan besi. Sumber daya ini mungkin akan lebih mudah diakses karena pemanasan global mengakibatkan sebagian es yang menutupi Greenland mencair.
Greenland adalah tempat pangkalan militer AS paling utara, di Pituffik. Wakil Presiden AS JD Vance berkunjung ke sana, Maret lalu.
Selama transisi kepresidenannya dan pada bulan-bulan awal kembalinya ke Gedung Putih, Trump berulang kali menyerukan yurisdiksi AS atas Greenland. Ia tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland.
AS telah lama memiliki kepentingan di Greenland. Setelah Nazi Jerman menduduki daratan Denmark selama Perang Dunia II, AS menginvasi Greenland. AS mendirikan stasiun militer dan radio di seluruh wilayah tersebut.
Setelah perang, pasukan AS tetap berada di Greenland. Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, yang sebelumnya dikenal sebagai Pangkalan Udara Thule, dioperasikan oleh AS sejak saat itu.
Pada 1951, perjanjian pertahanan dengan Denmark memberi AS peran penting dalam pertahanan wilayah tersebut, termasuk hak untuk membangun dan memelihara pangkalan militer. ”Jika Rusia mengirim rudal ke arah AS, rute terpendek untuk senjata nuklir adalah melalui Kutub Utara dan Greenland. Itulah mengapa Pangkalan Luar Angkasa Pituffik sangat penting mendukung AS,” kata Guru Besar Madya di Royal Danish Defense College Marc Jacobsen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/14/2210caa6-c2b6-47a5-9c84-92c67c32f4d6_jpg.jpg)
Menurut makalah dari Arctic Institute, China dan Rusia telah mulai membangun kemampuan militer Arktik mereka dalam beberapa tahun terakhir. Makalah tersebut menyerukan agar AS lebih mengembangkan kehadirannya di Arktik untuk melawan para pesaingnya.
Pada Januari 2025, Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan, Denmark terbuka untuk diskusi dengan AS. Menurut dia, AS punya kepentingan yang ”sah” di kawasan tersebut.
”Ada Rusia yang mempersenjatai diri dan ada China yang mulai menunjukkan minat. Trump juga tertarik pada potensi pertambangan mineral tanah langka di Greenland,” kata Rasmussen. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra