Seusai Amorim dan Maresca, Siapakah Korban Selanjutnya?

Potensi besar dan penghargaan individu tidak menjadi jaminan bagi para pelatih Liga Inggris untuk tidak didepak dari klub. Amorim dan Maresca sudah membuktikan itu.

10 Jan 2026 17:54 WIB · Olahraga

AP/JOHN WALTON

Oleh Kelvin Hianusa

Bayangkan, apa rasanya jika pelatih dari tim kesayangan Anda meminum air dari gelas yang berlogo tim rival, saat tim itu bahkan tidak terlibat dalam laga tersebut? Itulah perasaan para penggemar Tottenham Hotspur terhadap pelatih Thomas Frank yang tertangkap memegang gelas berlogo Arsenal.

Sebuah foto menggemparkan media sosial menjelang laga Tottenham versus Bournemouth, Kamis (8/1/2026). Frank tampak tersenyum lepas sambil memegang gelas berlogo Arsenal. Seperti diketahui, Tottenham dan Arsenal yang sama-sama berasal asal London Utara merupakan musuh bebuyutan.

Frank mengklarifikasi insiden itu seusai laga. ”Saya sama sekali tidak menyadarinya. Akan sangat bodoh jika saya menerimanya kalau saya tahu. Agak menyedihkan di dunia sepak bola bahwa saya harus ditanya tentang hal itu. Saya tidak akan pernah melakukan sesuatu yang sebodoh itu,” ujarnya.

Pelatih Tottenham Hotspur Thomas Frank tertangkap memegang gelas berlogo Arsenal jelang pertandingan Liga Inggris versus Bournemouth di Stadion VItality, Bournemouth, Inggris, Kamis (8/1/2026). Frank menuai kritikan dari pendukung sendiri, mengingat Arsenal merupakan musuh bebuyutan Tottenham.

Sentimen buruk para penggemar Tottenham kepada Frank semakin bertambah parah. Seusai pertandingan yang berujung kekalahan Tottenham itu, para pendukung tandang mencemooh sang pelatih. Mereka tidak puas dengan berbagai hal saat kepemimpinan Frank, khususnya tren hasil buruk.

”Si Lili Putih”, julukan Tottenham, hanya berada di peringkat ke-14 setelah 21 pekan berlalu. Posisi itu persis dengan pencapaian di waktu yang sama pada musim lalu, saat masih dipegang Ange Postecoglou. Adapun Frank direkrut pada musim panas untuk memperbaiki prestasi Postecoglou.

Lebih mengkhawatirkan lagi, Cristian Romero dan rekan-rekan hanya menang 2 kali dari 12 pertandingan liga sejak November. Mereka menjadi tim dengan rekor terburuk keempat dalam rentang waktu itu, hanya lebih baik dari tim medioker Bournemouth serta dua tim penghuni zona degradasi Burnley dan Wolverhampton.

Thomas Frank

Frank pun sudah berada di tepi jurang pemecatan hanya tujuh bulan setelah menjabat. Tidak hanya hasil, performa Tottenham juga tidak meyakinkan. Dia ditunjuk untuk membuat permainan tim lebih seimbang. Pada era Postecoglou, mereka tampil terlalu ofensif sehingga sering jadi bumerang.

Hasilnya, bersama Frank, Tottenham jadi lebih berhati-hati dalam menyerang. Menurut Squawka, mereka baru melakukan 11 kali umpan terobosan sepanjang musim, bahkan kalah dari jumlah milik gelandang Crystal Palace Adam Wharton sendirian (12 kali).

Tottenham juga menempati lima posisi terbawah di liga dalam banyak aspek serangan. Mulai dari xG atau ekspektasi gol (20,53) sampai jumlah tembakan (214). Mereka terbilang beruntung mampu mencetak 30 gol sejauh. Itu terbantu dengan konversi tembakan yang sangat baik, mencapai 14,02 persen atau terbaik ketiga di liga.

Frank berkata, sebenarnya ingin lebih ofensif. Namun, mereka tidak memiliki pemain yang dibutuhkan untuk itu. ”Saya rasa wajar untuk mengatakan bahwa kami mungkin sedikit kekurangan pemain penyerang sayap terbaik yang kami miliki di musim lalu,” tuturnya.

Pelatih Tottenham Hotspur Thomas Frank memperlihatkan rasa frustasi dalam pertandingan Liga Inggris versus Sunderland di Stadion Tottenham Hotspur, London, Inggris, Minggu (4/1/2026).

Sang pelatih merujuk kepada kehilangan penyerang sayap veteran Son Heung-min yang konsisten berkontribusi dua digit gol di setiap musim. Pemain sayap yang didatangkan untuk mengisi kekosongan Son, Mohammed Kudus, belum berkontribusi maksimal.

Masalah utamanya, pertahanan Tottenham juga tidak baik-baik amat walaupun sudah tampil lebih pragmatis. Buktinya mereka sering kehilangan posisi unggul, termasuk saat kalah dari Bournemouth. ”Si Lili Putih” unggul 1-0 lebih dulu, sebelum kecolongan tiga gol dan kalah 2-3.

Tren pemecatan

Enam manajer atau pelatih kepala sudah menjadi korban kekejaman Liga Inggris sejauh ini. Dua sosok terakhir yang baru saja terdepak adalah Enzo Maresca dan Ruben Amorim. Mereka adalah dua dari empat nama yang mampu meraih penghargaan manajer bulanan terbaik musim ini.

Maresca keluar dari Chelsea dengan kesepakatan bersama pada hari pertama di tahun baru, hanya sekitar sebulan setelah mendapatkan gelar manajer terbaik bulan November. Empat hari berikutnya, giliran MU memecat Amorim yang berstatus manajer terbaik bulan Oktober.

Dua kisah itu membuktikan, tidak ada jaminan bagi para manajer Liga Inggris. Hasil adalah segalanya, tak ada yang lebih penting dari itu. Amorim dan Maresca didepak karena rentetan hasil buruk. Chelsea hanya menang 2 kali dalam 11 laga, sementara MU menang 3 kali dari 12 laga.

Keduanya memang diisukan bermasalah dengan manajemen klub masing-masing. Namun, itu hanyalah bumbu tambahan dalam kisah perpisahan mereka. Buktinya semua terasa baik-baik saja pada pertengahan paruh pertama musim, sebelum deretan hasil buruk menghampiri Chelsea dan MU.

Jika dilihat dari kasus Amorim dan Maresca, Frank sepertinya sudah berada di ambang pemecatan. Tren buruk Tottenham mempersulit dirinya. Apalagi, di bawah kepengurusan pebisnis Daniel Levy, Tottenham dikenal suka gonta-ganti pelatih. Levy sudah memecat empat pelatih sejak 2021.

Ekspresi kekesalan Manajer Manchester United Ruben Amorim (kanan) saat mendampingi timnya melawan West Ham United pada laga Liga Inggris di Stadion Old Trafford, Manchester, Minggu (11/5/2025). Tuan rumah MU kalah, 0-2.

Beruntung, Frank masih didukung para pemainnya. Bek Micky van de Ven dan gelandang Joao Palhinha sempat mengonfrontasi pendukung tandang yang tidak terima seusai kalah dari Bournemouth. ”Kami menghormati mereka. Mereka ingin menang. Kami juga menginginkan hal yang sama,” kata Palhinha.

Frank sempat ikut berkomentar saat ditanya tentang pemecatan Amorim. Komentar itu agaknya juga berisi saran kepada Tottenham. ”Sangat sulit mencapai kesuksesan yang berkesinambungan jika Anda terus mengganti personel penting, seperti pelatih dan direktur olahraga,” ujarnya.

Komentar pelatih asal Denmark itu ada benarnya, tetapi tidak sepenuhnya relevan. Terkadang, klub-klub butuh mengambil keputusan cepat untuk mengubah momentum sesegera mungkin. Itu terkadang menjadi pilihan satu-satunya, terutama bagi tim yang sedang terjebak di zona degradasi.

Karena itu, selain Frank, posisi pelatih Nuno Espirito Santo di West Ham United dan pelatih Sean Dyche di Nottingham Forest juga terancam. Walaupun baru ditunjuk di pertengahan musim ini, kedua pelatih itu belum bisa membawa tim masing-masing keluar dari tren buruk.

West Ham belum menang lagi dalam 10 pertandingan liga terakhir, sehingga berada di peringkat ke-18. Forest, peringkat ke-17, hanya menang sekali di laga terakhir setelah menderita empat kekalahan beruntun. Tidak mengejutkan jika Nuno dan Dyche akan kembali jadi korban transisi kedua tim itu.

Sama seperti penyebab krisis, cara terbaik untuk selamat dari pemecatan adalah lewat hasil. Pelatih Liverpool Arne Slot membuktikannya. Posisinya sempat terancam seusai tidak mampu menang atas Fulham dan Leeds di awal tahun. Tiba-tiba, dia sudah dihujani pujian hanya karena mampu menahan imbang pemuncak klasemen Arsenal.

(AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase