Lomba lari 10K memang tertinggal jauh dari sisi jarak dibandingkan dengan maraton. Namun, bukan tanpa alasan nomor itu menjadi sangat populer di kalangan pelari.
14 Des 2024 07:24 WIB · Olahraga
Di dunia lari jalan raya, nomor maraton seolah bertengger di puncak tertinggi dalam kasta lomba. Tantangan konsistensi dan ketahanan dalam jarak sampai 42,195 kilometer seperti paling sahih mendeskripsikan lari jarak jauh. Wajar jika maraton begitu prestisius saat ini.
Tidak sedikit yang menganggap, belum maraton, belum berlari. Nomor dengan jarak lebih pendek, contoh 10K (10 kilometer), sering dinilai berada di level awal dan hanya jadi batu loncatan untuk ke maraton. Padahal, tidak sesederhana itu. Jarak lari hanya sebatas preferensi.
Pegiat lari, Agus Hermawan atau yang dikenal dengan Abah Ush, punya pandangan unik. Menurut dia, semua orang mungkin bisa melakukan maraton, tetapi tidak semua orang perlu. Ada alasan mengapa lomba dengan jarak 10 km sedang populer di Indonesia, khususnya untuk pelari rekreasional.
”Kenapa 10K populer? Karena paling nyaman untuk pelari. Paling lama satu jam-an. Jadi, masih segar pas finis, masih pagi. Finis masih banyak teman-teman. Tidak kepayahan seperti maraton yang bisa 5-7 jam. Maraton butuh komitmen tinggi, sementara 10K semua orang bisa,” ujar Abah Ush, penulis buku Enggak Lari, Enggak Keren.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/18/38440f41-88fd-4eff-b271-edec4f5b3996_jpg.jpg)
Latihan maraton membutuhkan durasi, repetisi, dan jarak lari yang lebih banyak dibandingkan untuk 10K. Faktor itu yang mungkin berpengaruh untuk pelari kantoran. Adapun bagi banyak penghobi, lari sejauh 10km sudah seperti porsi latihan sehari-hari.
Tantangan, kata Abah Ush, berbeda-beda dalam setiap nomor lari. Semua punya kesulitan masing-masing. Di lomba 10K, para pelari biasanya menargetkan finis di bawah satu jam. Mereka harus berlari lebih cepat dibandingkan dengan saat mengikuti maraton.
”Jadi, salah kaprah kalau ada yang bilang jarak menentukan level pelari. Kategori 5 km semacam SD, 10 km SMP, separuh maraton SMA, dan maraton kuliah. Memang Usain Bolt pernah maraton? Belum tentu (pelari yang finis maraton) bisa finis di bawah satu jam dalam 10K,” kata Abah Ush yang sudah mengikuti empat ajang berlabel World Marathon Majors.
Ajang Semarang 10K yang akan berlangsung pada Minggu (15/12/2024) bisa memberikan perspektif lebih. Banyak pelari datang, rekreasional ataupun elite, yang memang punya target khusus di nomor tersebut. Mereka tidak menjadikan lomba sebatas ajang penutup tahun untuk lari ”ha-ha hi-hi”.
10K punya segmen tersendiri karena dari persiapan sudah berbeda. Jadi, harus spesifik jika mau hasil yang bagus.
Pelari dari komunitas Hoka Run Club, Johan Permana (36), menargetkan perbaikan waktu pribadi di Semarang 10K. Catatannya pada edisi 2023 adalah 39 menit 46 detik. Dia ingin finis dalam 38 menit walaupun akan sulit karena harus mendampingi salah seorang rekan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/14/268843e96b47fd32d6da567867058368-ec8e3a78_3f9c_449f_bc51_178d6ab937a9_1_1_.png)
Bagi Johan, lomba 10K spesial dan bukan batu loncatan untuk lebih baik di maraton. Kedua nomor itu beda pendekatan. ”10K punya segmen tersendiri karena dari persiapan sudah berbeda. Jadi, harus spesifik jika mau hasil yang bagus,” ujar pacer Borobudur Marathon 2024 itu.
Lari 10K lebih mengutamakan kecepatan dibandingkan ketahanan. Hasilnya bisa dilihat dari laju lari atau pace. Contohnya bisa terlihat dari data hasil pelari elite nasional Rikki Simbolon saat menjuarai kategori nasional Borobudur Marathon dan Semarang 10K pada 2023.
Catatan pace Rikki di Borobudur Marathon berkisar 03:37, jauh lebih lambat dari di Semarang 10K (03:03). Jika menggunakan pace saat berlari 10K, dia bisa finis sekitar 25 menit lebih cepat di maraton. Terlepas dari tantangan medan Borobudur Marathon lebih sulit, data menunjukkan pendekatan berbeda yang juga sejalan dengan program latihan.
Di kalangan elite sendiri, nomor 10 kilometer dan di bawah itu cukup favorit. Pelari nasional Robi Syianturi, pemegang rekor nasional maraton, misalnya. Dia merupakan pelari spesialis jarak nomor 5 km dan 10 km. Berlomba di nomor maraton justru hanya menjadi selingan.
Meskipun begitu, sah-sah saja jika ingin menjadikan lomba 10K sebagai persiapan untuk mengikuti maraton. Pacer Semarang 10K, Ayu Fatimah, berkata, pelari pemula perlu turun di lomba dengan jarak yang lebih dekat sebelum terjun ke maraton. Pengalaman berlari jarak jauh sangat penting.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/13/e123c38c67f2095be34c1d2dd2861d70-09f512de_288f_4e3b_825a_dea65a4e8266_1_1_.png)
”Banyak pelari yang ikut 10K sebagai panduan first long run mereka. Nanti di situ kelihatan bagaimana kemampuannya. Tantangan baru dimulai setelah 5 km berlalu, bisa lanjut atau tidak, masih lari atau sudah jalan. Itu bagus untuk pengalaman pertama,” tutur Ayu.
Jika level-level lari ditentukan dengan jarak, apa kabar lomba ultramaraton yang jauhnya kurang masuk akal? Alih-alih seperti kasta, jarak tersebut lebih seperti genre musik. Ada yang menyukai pop, rock, atau dangdut. Seperti juga ada yang lebih condong ke 10K, separuh maraton, ataupun maraton. Semua kembali ke selera dan kebutuhan masing-masing.
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra