AUSTRALIA TERBUKA

Siapa Bisa Hentikan Aryna Sabalenka dan ”Sincaraz”?

Grand Slam Australia Terbuka 2026 segera bergulir. Aryna Sabalenka favorit juara di antara petenis putri. Adapun rivalitas Sinner dan Alcaraz jadi sorotan di putra.

17 Jan 2026 07:48 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Yulia Sapthiani

Petenis top dunia berkumpul di belahan bumi selatan sejak akhir tahun 2025. Dalam dua pekan ke depan, tiba saatnya mereka bersaing di arena Grand Slam Australia Terbuka 2026.

Di tengah terbukanya persaingan tunggal putri, Aryna Sabalenka, Iga Swiatek, dan Cori ”Coco” Gauff menjuarai sembilan dari 12 Grand Slam terakhir. Hanya ada Marketa Vondrousova, Barbora Krejcikova, dan Madison Keys di antara mereka.

Swiatek menambah tiga gelar dalam rentang 2023-2025 untuk tiga gelar lain yang diperoleh dari Perancis Terbuka 2022 dan 2022, serta Amerika Serikat Terbuka 2022. Sabalenka meraih semua (empat) gelar pada periode yang sama, sementara Coco dengan dua gelar.

Menjelang Australia Terbuka di Melbourne, 18 Januari–1 Februari 2026, Sabalenka menjadi yang terdepan sebagai favorit juara. Dia pun menjadi target utama para pesaing.

Sabalenka, yang posisinya di puncak peringkat dunia tak tergantikan petenis lain sejak 21 Oktober 2024, datang ke  Melbourne Park sebagai dua kali juara dari tiga final Australia Terbuka. Gelar juara dari WTA 500 Brisbane, 4-11 Januari, menjadi awal yang baik petenis Belarus itu untuk menajamkan dominasinya pada Grand Slam dengan julukan ”Happy Slam” tersebut.

Aryna Sabalenka menghadiri konferensi pers menjelang turnamen tenis Australia Terbuka di Melbourne Park, Jumat (16/1/2026). Sabalenka menjadi unggulan teratas tunggal putri.

Petenis berusia 27 tahun itu tak pernah melewatkan final Australia Terbuka dalam tiga tahun terakhir, sama seperti di AS Terbuka. Ketangguhannya di lapangan keras, seperti Melbourne Park dan Flushing Meadows, sulit diruntuhkan lawan.

Persentase kemenangan dalam dua turnamen itu pun lebih tinggi di antara empat Grand Slam. Dia mempunyai 85 persen kemenangan di AS Terbuka dan 82 persen di Australia Terbuka. Adapun di Wimbledon dan Perancis Terbuka, persentase kemenangannya, masing-masing, 73 persen.

Namun, di Australia Terbuka 2025, langkah menuju hat-trick juara Sabalenka dihentikan Keys. Sabalenka kalah dengan skor 3-6, 6-2, 5-7 ketika dia lebih difavoritkan memenangi final. Apalagi, pesaing beratnya seperti Swiatek, Coco, dan Elena Rybakina kalah lebih dulu. Swiatek dan Rybakina, juga, dikalahkan Keys, yaitu di semifinal dan babak keempat.

Keys, yang meraih gelar pertama Grand Slam di Melbourne Park pada 2025, seharusnya tak terlalu berbahaya pada tahun ini. Sejak saat itu, dia tak menjuarai turnamen pada level apa pun.

Hasil terbaiknya adalah saat mencapai semifinal WTA 1000 Indian Wells dan perempat final Perancis Terbuka. Di AS Terbuka, Grand Slam pertama yang memberinya status finalis pada 2017, Keys bahkan tersingkir pada babak pertama.

Dalam turnamen pemanasan Australia Terbuka, performanya tak begitu baik. Keys kalah dari Sabalenka pada perempat final WTA Brisbane, lalu kalah pada fase yang sama dari remaja Kanada, Victoria Mboko, di WTA Adelaide.

Madison Keys saat tampil pada turnamen tenis WTA Adelaide, 12-17 Januari. Keys tersingkir di perempat final.

Menyadari rekam jejaknya yang tak begitu baik, Keys mengatakan bahwa prioritasnya adalah siap mental saat bertanding kembali di Melbourne Park. Berdasarkan undian, dia akan berhadapan dengan Oleksandra Olynykova pada babak pertama, lalu berpeluang melawan Leylah Fernandez pada babak ketiga, dan Jessica Pegula di babak keempat.

”Saya rasa, hal terpenting adalah bisa merasa nyaman saat bertanding, tidak merasa tertekan. Saya akan berusaha menemukan caranya,” ujar Keys.

Swiatek pun menjalani musim kompetisi 2025 dengan hasil tak terlalu baik meski masih bisa menjuarai Wimbledon. Persentase kemenangan pada ajang besar, di antaranya, dari Grand Slam, WTA 1000, dan Final WTA adalah 79 persen, turun dari rentang 86 hingga 88 persen pada 2022-2024.

Dalam lima pertandingan pada kejuaraan beregu campuran Piala United di Perth dan Sydney, yang dipilihnya sebagai ajang pemanasan Australia Terbuka, Swiatek dua kali kalah pada lima pertandingan meski Polandia akhirnya juara. Swiatek kalah dari Coco saat Polandia melawan AS dan dikalahkan Belinda Bencic (Swiss).

Australian Open Tennis
Quote

Ini adalah tenis, ini olahraga. Untuk itulah dunia tenis dan olahraga begitu indah karena tak bisa diprediksi. Satu-satunya yang pasti, saya akan bertarung dan berjuang.

Coco tak berbeda jauh dengan Swiatek. Dari empat pertandingan pada ajang yang sama, dia kalah dari petenis ranking ke-40 dunia, yakni Jessica Bouzas Maneiro (Spanyol), 1-6, 7-6 (3), 0-6.

Servis masih menjadi masalah bagi Coco meski dia juga bisa membuat as. ”Dia bisa melancarkan servis sekeras mungkin, tetapi itu juga bisa menjadi masalah. Coco harus bisa menyeimbangkan servis dan permainannya yang agresif. Saya pikir, terkadang dia harus bermain lebih konservatif,” tutur mantan petenis yang menjadi komentator bagi ESPN, Patrick McEnroe.

Sulit diprediksi

Meskipun unggul dari yang lain di Melbourne Park dalam tiga tahun terakhir, Sabalenka tak ingin teperdaya rekam jejak para pesaing yang tak begitu solid. ”Ini adalah tenis, ini olahraga. Untuk itulah dunia tenis dan olahraga begitu indah karena tak bisa diprediksi. Satu-satunya yang pasti, saya akan bertarung dan berjuang. Fokus saya adalah permainan, terus berkembang, dan menjaga diri supaya tetap kuat dan sehat,” tuturnya setelah menjuarai WTA Brisbane.

Alasan Sabalenka untuk tak meremehkan setiap pesaing memang masuk akal. Coco memiliki statistik pertemuan imbang dalam pertemuan dengannya, yaitu 6-6. Saat menjuarai AS Terbuka 2023 dan Perancis Terbuka 2025, Coco mengalahkan Sabalenka di final.

Iga Swiatek berlatih di Melbourne Park, Australia, Jumat (16/1/2026) menjelang Grand Slam Australia Terbuka. Swiatek bisa melengkapi gelar dari tiga Grand Slam lain jika juara di Australia Terbuka.

Sabalenka tertinggal 5-8 dari Swiatek, tetapi dia menang dalam dua pertemuan terakhir, yakni pada semifinal WTA 1000 Cincinnati 2024 dan semifinal Perancis Terbuka 2025. Namun, Swiatek akan memiliki motivasi tambahan, yaitu melengkapi enam gelar juara dari tiga Grand Slam. Hanya Australia Terbuka yang belum dijuarainya.

”Itu adalah target besar, tetapi akan sulit untuk diwujudkan. Ada jalan panjang menuju ke sana. Di arena Grand Slam, Anda harus bermain sangat bagus selama dua pekan. Harus konsisten dan tidak boleh ada hari yang buruk,” kata Swiatek saat kejuaraan Piala United.

Tak hanya dari Swiatek dan Coco, ancaman bagi Sabalenka bisa muncul dari ”kuda hitam” Amanda Anisimova dan Elena Rybakina. Anisimova, yang bisa menjadi lawan Sabalenka pada semifinal, mencapai final dua Grand Slam pada 2025, yaitu Wimbledon dan AS Terbuka. Anisimova pun memiliki keunggulan 6-5 dalam persaingan melawan Sabalenka.

Australian Open Tennis

Rybakina, yang menjadi bagian dari persaingan tiga tunggal putri terbaik bersama Sabalenka dan Swiatek pada 2022-2023, tak bisa dianggap remeh dalam pertandingan di lapangan keras. Dia menjuarai Final WTA di Arab Saudi, November 2025, di antaranya dengan mengalahkan Sabalenka, Swiatek, Anisimova, dan Pegula.

Di antara persaingan petenis elite dunia, petenis Indonesia, Janice Tjen, akan menjalani debut di Australia Terbuka. Dia harus mengalahkan Leylah Fernandez jika ingin mencapai fase yang sama saat debut di arena Grand Slam, yaitu babak kedua AS Terbuka 2025. Saat itu, Tjen menapaki jalur kualifikasi untuk tampil di babak utama dan kalah dari Emma Raducanu.

Antara Sinner atau Alcaraz

Dalam persangan tunggal putra, masih sulit untuk tak menyebut Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz sebagai kompetitor terkuat. Salah satu di antara mereka bisa memperpanjang dominasi ”Sincaraz”—sebutan untuk Sinner dan Alcaraz—di Grand Slam. Dalam delapan Grand Slam terakhir pada 2024 dan 2025, Sinner dan Alcaraz berbagi empat gelar.

Alcaraz, petenis nomor satu dunia berusia 22 tahun, bahkan bisa menjadi petenis termuda yang menciptakan ”Career Slam”, sebutan untuk pencapaian menjuarai empat Grand Slam. Dia memiliki enam gelar juara Grand Slam, yaitu dari Perancis Terbuka 2024 dan 2025, Wimbledon 2023 dan 2024, serta AS Terbuka 2022 dan 2025.

Australian Open Tennis

Namun, Melbourne Park selalu menjadi jalur terjal bagi petenis Spanyol itu. Dalam empat partisipasi sejak 2021, dia tak pernah melewati perempat final. Pada perempat final 2025, dia dikalahkan sang senior, Novak Djokovic, setelah setahun sebelumnya dihentikan Alexander Zverev.

Perjalanan tersebut berbeda dengan Sinner yang tak terkalahkan di Melbourne Park sejak 2024. Dia menjuarai Australia Terbuka 2024 dengan mengalahkan Daniil Medvedev dalam laga epik di final.  Sinner menang lima set setelah kehilangan dua set awal. Adapun pada tahun berikutnya, petenis Italia itu menang atas Zverev.

Namun, Sinner tak ingin terburu-buru melihat peluang bertemu Alcaraz yang hanya bisa terjadi di final. ”Australia Terbuka bukan hanya menjadi persaingan saya dan Carlos. Ada banyak petenis lain yang bisa menyulitkan, siapa pun mereka,” katanya.

Jannik Sinner berlatih di Melbourne Park, Australia, Jumat (16/1/2026). Sinner adalah juara tunggal putra turnamen tenis Australia Terbuka 2024 dan 2025.

Berdasarkan perjalanan dalam dua tahun terakhir, Sinner seharusnya baru bertemu lawan berat di semifinal, yaitu Djokovic. Pada babak yang sama, Alcaraz berpeluang melawan Zverev.

Zverev bisa saja mengulangi kemenangan seperti pada Australia Terbuka 2024, tetapi mengalahkan Sinner akan menjadi tantangan teramat besar bagi Djokovic. Pemegang 24 gelar juara Grand Slam itu terkendala kondisi fisik yang tidak fit, dan itu bisa berbahaya untuknya.

Berbeda dengan turnamen ATP, pertandingan tunggal putra Grand Slam berlangsung dalam format best of five sets. Djokovic pernah mengatakan bahwa dia semakin kesulitan bertahan dalam persaingan Grand Slam, terutama ketika harus melawan Sinner atau Alcaraz. Djokovic, bahkan, tak jadi bertanding di ATP Adelaide, 12-17 Januari, karena kondisi fisiknya tidak benar-benar siap.

Novak Djokovic memberikan tanda tangan kepada penggemar seusai berlatih di Melbourne Park, Australia, Kamis (15/1/2026). Djokovic akan tampil di Australia Terbuka, 18 Januari-1 Februari.

Meski demikian, satu-satunya petenis ”Big Three”—lainnya adalah Roger Federer dan Rafael Nadal—yang masih aktif ini belum berbicara tentang pensiun. Dia, bahkan, masih menargetkan tampil dalam Olimpiade Los Angeles 2028.

Maka, ketika Djokovic sudah kesulitan melawan ”Sincaraz” dan Zverev yang semakin tertinggal dari dua petenis generasi di bawahnya itu, sulit rasanya untuk melihat juara baru Grand Slam tunggal putra dari Melbourne Park. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto