Dian Siswarini pernah menjadi CEO XL Axiata, sebelum perusahaan ini merger dengan Smartfren Telecom dan Smart Telecom.
28 Mei 2025 16:30 WIB · Ekonomi
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Telkom, Selasa (27/5/2025), resmi menunjuk Dian Siswarini sebagai direktur utama. Dian menggantikan Ririek Adriansyah yang telah menjabat sejak RUPST 24 Mei 2019.
Sebelumnya, Dian Siswarini adalah Presiden Direktur sekaligus CEO PT XL Axiata Tbk (XL Axiata). Dia resmi menjabat sebagai CEO perusahaan itu per 1 April 2015.
Melalui RUPST XL Axiata, Dian — yang sebelumnya menjabat wakil presiden direktur atau deputy CEO — ditunjuk untuk menggantikan Hasnul Suhaimi. Penunjukan ini di tengah Indonesia yang baru memasuki era teknologi akses seluler 4G LTE.
Dian adalah ulusan electrical and electronics engineering Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia memulai karier di industri telekomunikasi pada 1991. Bergabung dengan XL Axiata pada 1996.
Kariernya di XL Axiata terus menanjak hingga ditunjuk menjadi Direktur Jaringan pada 2007 hingga 2011. Setelah itu, dia pindah jabatan menjadi Direktur Layanan Digital pada 2011–2014. Kemudian, dia diangkat menjadi Group of Chief Marketing and Operation Officer pada Juni 2014 - Desember 2014.
Dalam wawancara khusus dengan Kompas, 20 April 2015, Dian mengatakan, mulai 2011 XL Axiata melaksanakan transformasi strategi bisnis yang relevan dengan perkembangan industri telekomunikasi. Perusahaan membangun bisnis vertikal dengan cara mengembangkan jasa digital (digital services). Menjelang akhir 2014, perusahaan resmi meluncurkan layanan 4G LTE dan terus memperluasnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/06/6f89b892-4a2b-40ee-bc3a-5051a34302cb_jpg.jpg)
Menurut Head of Research MNC Sekuritas Victoria Venny, Rabu (28/5/2025), kiprah Dian Siswarini selama menakhodai XL Axiata sangat baik. Transformasi yang dia jalankan menempatkan XL Axiata sebagai operator yang profitabel, efisien, dan punya daya saing tinggi.
Selama kepemimpinannya, pendapatan XL Axiata naik signifikan. Margin laba kotor atau EBITDA margin naik dari 38 hingga 50 persen. Pada 2015, XL Axiata membukukan rugi bersih Rp 25 miliar. Lalu, pada 2023, perseroan membukukan keuntungan bersih Rp 1,3 triliun.
Sampai dengan 30 September 2024, perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,3 triliun. Capaian ini hampir sama dengan setahun penuh pada 2023.
Selama di XL Axiata, Dian juga memelopori Sisternet, aplikasi sekaligus gerakan pemberdayaan perempuan melek internet. Bersamaan dengan perhelatan G20 di Indonesia pada 2022, Dian menjadi Co-Chair W20 Indonesia 2022.
Dian memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO XL Axiata pada 3 Desember 2024. Pengunduran dirinya ini di tengah-tengah proses XL Axiata merger dengan PT Smartfren Telecom Tbk dan PT Smart Telecom. Langkah ini terjadi saat situasi industri telekomunikasi nasional tumbuh stagnan.
Pertumbuhan pendapatan sektor industri telekomunikasi rata-rata hanya 5 persen pada 2015–2024. Meski ada konsolidasi (Indosat Ooredoo dengan Hutchison Tri Indonesia serta XL Axiata dengan Smartfren Telecom dan Smart Telecom), operator terus menghadapi hambatan. Pertumbuhan laba yang di bawah standar, penempatan modal yang tidak produktif, dan beban regulasi yang berat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/28/0c8f821f6c6e13c83bffced7c558629e-cropped_image.jpg)
Total biaya penggunaan spektrum frekuensi di Indonesia meningkat lebih dari lima kali lipat sejak tahun 2010. Perhitungan ini mengacu temuan riset asosiasi yang mewadahi kepentingan operator telekomunikasi seluler seluruh dunia atau Global System for Mobile Communications Association (GSMA).
GSMA juga menemukan, rasio biaya penggunaan spektrum frekuensi tahunan dibandingkan dengan pendapatan operator telekomunikasi seluler di Indonesia sudah mencapai 12,2 persen. Sementara rasio rata-rata di tingkat Asia Pasifik sekitar 8,7 persen dan tingkat global sebesar 7 persen.
Telkom, beserta anak usaha selulernya, Telkomsel, selama ini menjadi operator terbesar di Indonesia. Kinerjanya menjadi salah satu patokan mengukur seberapa sehat industri telekomunikasi nasional.
Pada triwulan I-2025, Telkom membukukan laba Rp 5,81 triliun atau turun 4,01 persen dibandingkan dengan setahun sebelumnya. Sementara pendapatan Telkom tercatat Rp 36,64 triliun atau turun 2,11 persen dibandingkan dengan triwulan I-2024.
Harga saham Telkom juga terseok. Pada Maret 2025, misalnya, harga saham perusahaan telekomunikasi ini sempat berada di zona merah selama empat hari berturut-turut selama 25-28 Maret. Akumulasi penurunan harga saham mencapai 11,47 persen pada periode itu dibanding pekan sebelumnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/02/22/912367c6-fee7-4e68-9010-f915761c5e0e_jpg.jpg)
Analis Trimegah Sekuritas, Sabrina, dalam laporan riset ”Telkom Indonesia: Streamlined Offerings, Dividend Stability (19 Mei 2025)” mengatakan, Telkom membukukan kinerja triwulan I-2025 yang lebih lemah meskipun ada periode Lebaran. Basis pelanggan dan belanja per pengguna (average revenue per user/ARPU) menurun yang mencerminkan belanja konsumen lesu.
Trimegah Sekuritas memperkirakan tekanan pada Telkom terus berlanjut pada bisnis layanan seluler. Sebab, operator seluler saling bersaing melalui paket bonus besar daripada melakukan penyesuaian harga.
Laporan riset ekuitas sektor telekomunikasi dan menara yang dirilis pada 20 Mei 2025 oleh MNC Sekuritas menunjukkan, perubahan kepemimpinan dapat membawa arah strategi yang baru dan meningkatkan kelincahan Telkom di tengah industri telekomunikasi yang menantang. Seiring dengan bergabungnya Telkom dalam Danantara, pengawasan yang lebih ketat terhadap tata kelola dan kinerja perlu diantisipasi.
Pengalaman panjang Dian di industri telekomunikasi dan rekam jejak kepemimpinan yang solid menjadi bekal menghadapi kompleksitas tantangan industri telekomunikasi. Publik menanti gebrakan dan inovasi baru yang akan membawa Telkom melangkah lebih jauh, tidak hanya sebagai ”raksasa” telekomunikasi nasional.
Penulis:
Caecilia MedianaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto