Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Siapa saja yang menginspirasi Janice Tjen dalam kiprahnya di AS Terbuka 2025?
- Bagaimana Janice Tjen mengukir sejarah untuk tenis Indonesia di AS Terbuka?
- Apa saja yang disiapkan Janice Tjen untuk menghadapi Emma Raducanu di babak kedua AS Terbuka?
Setelah era Yayuk Basuki dan Angelique Widjaja lebih dari tiga hingga dua dekade lalu, Indonesia akhirnya punya kebanggaan lagi di kancah tenis dunia, khususnya di tunggal putri. Janice Tjen, petenis putri berusia 23 tahun asal Indonesia, menjadi buah bibir berkat kiprah mengejutkan di panggung bergengsi tenis dunia, Grand Slam Amerika Serikat Terbuka 2025.
Janice, petenis peringkat ke-149 dunia, tak hanya mewujudkan mimpi bermain pada babak utama turnamen tenis Grand Slam. Dalam debutnya yang dimulai dari babak kualifikasi AS Terbuka 2025, tunggal putri Indonesia itu memenangi babak pertama dengan mengalahkan petenis unggulan.
Momen tersebut berlangsung di Lapangan 13 Flushing Meadows, New York, AS, Minggu (24/8/2025) siang waktu setempat atau Senin dini hari waktu Indonesia. Janice mengalahkan petenis peringkat ke-26 dunia yang menjadi unggulan ke-24 di AS Terbuka 2-25, Veronika Kudermetova (Rusia), dengan skor 6-4, 4-6, 6-4 dalam pertandingan selama 2 jam 12 menit.
Janice menjadi petenis Indonesia pertama dalam 22 tahun yang memenangi laga di babak utama Grand Slam. Ia menyamai prestasi Angelique Widjaja di Wimbledon 2003 silam. Ia juga menjadi petenis Indonesia pertama yang lolos ke babak utama Grand Slam setelah Angelique Widjaja pada 2004 silam.
Kemampuan tenis Janice diasah di AS. Juni 2024 menjadi awal kembalinya petenis kelahiran Jakarta itu ke persaingan profesional setelah vakum sejak Oktober 2022 karena fokus menyelesaikan kuliah di Universitas Pepperdine, California. Janice lulus pada Mei 2024.
Saat kuliah, Janice tetap bertanding tenis, yaitu di NCAA, kompetisi olahraga tingkat universitas di AS. Meskipun di tingkat mahasiswa, NCAA dikenal sebagai kompetisi dari berbagai cabang olahraga yang sangat kompetitif. Janice menjadi finalis ganda putri NCAA 2024 bersama Savannah Broadus.
”Saya bermain tenis karena terinspirasi teman saya yang juga petenis, Priska Madelyn Nugroho. Kami tak hanya teman di tenis, tetapi juga di luar lapangan. Orangtua saya mengatakan agar saya mencobanya, punya aktivitas olahraga agar tidak hanya diam di kamar tanpa mengerjakan apa pun. Itu awal perjalanan saya di tenis,” ujar Janice dalam wawancara yang ditayangkan laman resmi AS Terbuka.
Setelah melewati babak pertama di AS Terbuka 2025, selanjutnya, Janice akan menghadapi tantangan lebih besar, yaitu melawan juara AS Terbuka 2021, Emma Raducanu. Petenis Inggris ini memenangi babak pertama atas Ena Shibahara, 6-1, 6-2.
Siapa saja yang menginspirasi Janice Tjen dalam kiprahnya di AS Terbuka 2025?
Janice menjadi salah seorang petenis Asia Tenggara yang memenangi babak pertama AS Terbuka 2025 dengan mengalahkan petenis unggulan. Alexandra Eala, petenis Filipina yang untuk ketiga kalinya tampil pada babak utama Grand Slam, menyingkirkan unggulan ke-14, Clara Tauson, 6-3, 2-6, 7-6 (11).
Sebelum mengalahkan Veronika Kudermetova di babak pertama, Janice membuat catatan untuk kariernya di arena tenis profesional dan bagi tenis Indonesia. Tiga kemenangan pada babak kualifikasi membuat petenis berusia 23 tahun itu menjadi petenis Indonesia pertama yang lolos ke babak utama Grand Slam setelah Angelique Widjaja di AS Terbuka 2004.
Atlet peringkat ke-149 dunia itu juga memiliki persentase cukup baik dalam pukulan net. Dari 30 percobaan pukulan net melawan Kudermetova, dia mendapat 20 poin (67 persen), termasuk ketika momen match point. Saat konferensi pers, Janice mengatakan, dia selalu berdiskusi dan berlatih bermain ke dekat net untuk mendapat poin terakhir.
Dalam wawancara seusai mengalahkan Kudermetova, Janice mengungkapkan sejumlah petenis yang menjadi inspirasinya menekuni tenis. ”Saya bermain tenis karena terinspirasi teman saya yang juga petenis, Priska Madelyn Nugroho. Kami tak hanya teman di tenis, tetapi juga di luar lapangan. Dia bertanya, apakah saya ingin bermain tenis,” ucap alumnus Universitas Pepperdine, California, itu.
Cara bermain Janice pun sering disamakan dengan Ashleigh Barty, mantan petenis putri nomor satu dunia. ”Banyak yang membandingkan permainan saya dengan Barty, terutama dalam variasi pukulan dengan slice,” ujar Janice.
”Saya mengidolakannya dan mencoba meniru beberapa pukulannya yang cocok untuk saya dan yang tidak, serta mencoba memahami permainannya. Saya mencoba bermain seperti itu sejak dulu dan pelatih di universitas membantu mengembangkannya,” ungkapnya.
Bagaimana perjalanan Janice Tjen mengukir sejarah untuk Indonesia di AS Terbuka?
Setelah Angelique Widjaja kalah pada babak pertama AS Terbuka 2004, Indonesia tak punya lagi petenis yang bisa menembus babak utama Grand Slam hingga Janice Tjen mewujudkannya, 21 tahun kemudian. Perjalanan Janice mengikuti turnamen ITF secara konsisten sejak pertengahan 2024 mengantarkannya pada level tertinggi persaingan tenis profesional, Grand Slam.
Janice menjadi salah satu dari 16 tunggal putri yang memenangi tiga babak kualifikasi hingga bisa bersaing pada babak utama yang berlangsung 24 Agustus-7 September 2025. Janice mengalahkan unggulan ketiga kualifikasi, Aoi Ito, dengan skor 6-1, 6-2, Jumat (22/8/2025). Pada babak pertama, petenis berusia 23 tahun itu juga mengalahkan petenis unggulan, yaitu Varvara Lepchenko (22), 6-3, 6-1.
Kemenangan Janice atas Ito membuat Indonesia memiliki lagi petenis nomor tunggal yang tampil pada babak utama Grand Slam. Angelique, yang aktif bersaing di arena profesional pada 1999-2008, bermain di arena Grand Slam pada 2002-2004.
Capaian Janice tak hanya berhenti di sana. Pada fase pertama di babak utama, ia membuat kejutan besar dengan mengalahkan petenis peringkat ke-26 dunia yang menjadi unggulan ke-24 di AS Terbuka Veronika Kudermetova (Rusia), dengan skor 6-4, 4-6, 6-4. Ia pun menjadi petenis Indonesia pertama dalam 22 tahun yang memenangi laga di babak utama Grand Slam.
Janice bersaing di arena profesional bukan hanya dalam setahun-dua tahun terakhir. Dia memasuki kerasnya persaingan tenis profesional sejak 2018. Laman resmi Federasi Tenis Internasional (ITF) mencatat, petenis asal Jakarta itu absen dari turnamen tenis Oktober 2022 dan baru bertanding lagi pada Juni 2024.
Pada masa tersebut, petenis asal Jakarta itu sebenarnya tetap bertanding, yaitu di NCAA. Ketika kembali ke turnamen profesional, setelah lulus dari jurusan sosiologi pada Mei 2024, dia menjuarai tujuh dari sepuluh turnamen ITF tunggal putri dalam rentang tujuh bulan pada 2024. Janice mengikuti turnamen level W15 dan W35.
Apa saja yang disiapkan Janice Tjen untuk menghadapi Emma Raducanu di babak kedua AS Terbuka?
Ketika Emma Raducanu (22) menyabet gelar juara tunggal putri di AS Terbuka pada 2021 silam, Janice Tjen (23) hanya bisa menontonnya di sela-sela kuliah di AS. Empat tahun berlalu, Janice akan menghadapi idolanya di panggung yang sama, Rabu (27/8/2025) waktu AS.
Janice akan menghadapi Raducanu, petenis Inggris Raya, pada babak kedua atau 64 besar Grand Slam AS Terbuka. Pertandingan ini tidak hanya dinanti-nantikan Janice, tetapi juga publik Tanah Air. Janice menyita perhatian penggemar tenis Indonesia, bahkan Asia, setelah melaju ke babak kedua AS Terbuka dari kualifikasi.
Janice menjadi petenis Indonesia pertama dalam 22 tahun yang memenangi laga di babak utama Grand Slam. Ia menyamai prestasi Angelique Widjaja di Wimbledon pada 2003 silam. Kini, Janice ingin melangkah lebih jauh lagi setelah memenangi tiga laga di babak kualifikasi AS Terbuka 2025 dengan straight sets.
Namun, ambisi itu tak mudah karena ia harus melewati Raducanu, petenis muda yang pernah mengguncang dunia pada 2021. Saat itu, ia menjuarai tunggal putri AS Terbuka seusai mengalahkan sesama petenis remaja, Leylah Fernandez (Kanada), dengan straight sets di final. Ia menyisihkan sejumlah unggulan, seperti Belinda Bencic dan Maria Sakkari, dalam perjalanan ke puncak.
Padahal, saat itu, Raducanu sama sekali tak diunggulkan. Ia bahkan memulai perjalanan di AS Terbuka saat itu lewat kualifikasi, jalur yang ditempuh Janice saat ini. Tak pelak, kisah heroik bak dongeng Cinderella itu sangat menginspirasi Janice.
”Ketika Emma memenangi turnamen (AS Terbuka 2021) dengan tren (kemenangan) menakjubkan di sini, saya sesungguhnya masih kuliah. Saya cedera saat itu sehingga banyak menonton pertandingan tenis,” ujar Janice, yang saat itu kuliah Sosiologi di Universitas Pepperdine, dalam wawancara dengan sejumlah wartawan, Senin (25/8/2025).
Janice pun tak sabar ingin menghadapi Raducanu yang setahun lebih muda darinya.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Siapa saja yang menginspirasi Janice Tjen dalam kiprahnya di AS Terbuka 2025?
- Bagaimana Janice Tjen mengukir sejarah untuk tenis Indonesia di AS Terbuka?
- Apa saja yang disiapkan Janice Tjen untuk menghadapi Emma Raducanu di babak kedua AS Terbuka?
Setelah era Yayuk Basuki dan Angelique Widjaja lebih dari tiga hingga dua dekade lalu, Indonesia akhirnya punya kebanggaan lagi di kancah tenis dunia, khususnya di tunggal putri. Janice Tjen, petenis putri berusia 23 tahun asal Indonesia, menjadi buah bibir berkat kiprah mengejutkan di panggung bergengsi tenis dunia, Grand Slam Amerika Serikat Terbuka 2025.
Janice, petenis peringkat ke-149 dunia, tak hanya mewujudkan mimpi bermain pada babak utama turnamen tenis Grand Slam. Dalam debutnya yang dimulai dari babak kualifikasi AS Terbuka 2025, tunggal putri Indonesia itu memenangi babak pertama dengan mengalahkan petenis unggulan.
Momen tersebut berlangsung di Lapangan 13 Flushing Meadows, New York, AS, Minggu (24/8/2025) siang waktu setempat atau Senin dini hari waktu Indonesia. Janice mengalahkan petenis peringkat ke-26 dunia yang menjadi unggulan ke-24 di AS Terbuka 2-25, Veronika Kudermetova (Rusia), dengan skor 6-4, 4-6, 6-4 dalam pertandingan selama 2 jam 12 menit.
Janice menjadi petenis Indonesia pertama dalam 22 tahun yang memenangi laga di babak utama Grand Slam. Ia menyamai prestasi Angelique Widjaja di Wimbledon 2003 silam. Ia juga menjadi petenis Indonesia pertama yang lolos ke babak utama Grand Slam setelah Angelique Widjaja pada 2004 silam.
Kemampuan tenis Janice diasah di AS. Juni 2024 menjadi awal kembalinya petenis kelahiran Jakarta itu ke persaingan profesional setelah vakum sejak Oktober 2022 karena fokus menyelesaikan kuliah di Universitas Pepperdine, California. Janice lulus pada Mei 2024.
Saat kuliah, Janice tetap bertanding tenis, yaitu di NCAA, kompetisi olahraga tingkat universitas di AS. Meskipun di tingkat mahasiswa, NCAA dikenal sebagai kompetisi dari berbagai cabang olahraga yang sangat kompetitif. Janice menjadi finalis ganda putri NCAA 2024 bersama Savannah Broadus.
”Saya bermain tenis karena terinspirasi teman saya yang juga petenis, Priska Madelyn Nugroho. Kami tak hanya teman di tenis, tetapi juga di luar lapangan. Orangtua saya mengatakan agar saya mencobanya, punya aktivitas olahraga agar tidak hanya diam di kamar tanpa mengerjakan apa pun. Itu awal perjalanan saya di tenis,” ujar Janice dalam wawancara yang ditayangkan laman resmi AS Terbuka.
Setelah melewati babak pertama di AS Terbuka 2025, selanjutnya, Janice akan menghadapi tantangan lebih besar, yaitu melawan juara AS Terbuka 2021, Emma Raducanu. Petenis Inggris ini memenangi babak pertama atas Ena Shibahara, 6-1, 6-2.
Siapa saja yang menginspirasi Janice Tjen dalam kiprahnya di AS Terbuka 2025?
Janice menjadi salah seorang petenis Asia Tenggara yang memenangi babak pertama AS Terbuka 2025 dengan mengalahkan petenis unggulan. Alexandra Eala, petenis Filipina yang untuk ketiga kalinya tampil pada babak utama Grand Slam, menyingkirkan unggulan ke-14, Clara Tauson, 6-3, 2-6, 7-6 (11).
Sebelum mengalahkan Veronika Kudermetova di babak pertama, Janice membuat catatan untuk kariernya di arena tenis profesional dan bagi tenis Indonesia. Tiga kemenangan pada babak kualifikasi membuat petenis berusia 23 tahun itu menjadi petenis Indonesia pertama yang lolos ke babak utama Grand Slam setelah Angelique Widjaja di AS Terbuka 2004.
Atlet peringkat ke-149 dunia itu juga memiliki persentase cukup baik dalam pukulan net. Dari 30 percobaan pukulan net melawan Kudermetova, dia mendapat 20 poin (67 persen), termasuk ketika momen match point. Saat konferensi pers, Janice mengatakan, dia selalu berdiskusi dan berlatih bermain ke dekat net untuk mendapat poin terakhir.
Dalam wawancara seusai mengalahkan Kudermetova, Janice mengungkapkan sejumlah petenis yang menjadi inspirasinya menekuni tenis. ”Saya bermain tenis karena terinspirasi teman saya yang juga petenis, Priska Madelyn Nugroho. Kami tak hanya teman di tenis, tetapi juga di luar lapangan. Dia bertanya, apakah saya ingin bermain tenis,” ucap alumnus Universitas Pepperdine, California, itu.
Cara bermain Janice pun sering disamakan dengan Ashleigh Barty, mantan petenis putri nomor satu dunia. ”Banyak yang membandingkan permainan saya dengan Barty, terutama dalam variasi pukulan dengan slice,” ujar Janice.
”Saya mengidolakannya dan mencoba meniru beberapa pukulannya yang cocok untuk saya dan yang tidak, serta mencoba memahami permainannya. Saya mencoba bermain seperti itu sejak dulu dan pelatih di universitas membantu mengembangkannya,” ungkapnya.
Bagaimana perjalanan Janice Tjen mengukir sejarah untuk Indonesia di AS Terbuka?
Setelah Angelique Widjaja kalah pada babak pertama AS Terbuka 2004, Indonesia tak punya lagi petenis yang bisa menembus babak utama Grand Slam hingga Janice Tjen mewujudkannya, 21 tahun kemudian. Perjalanan Janice mengikuti turnamen ITF secara konsisten sejak pertengahan 2024 mengantarkannya pada level tertinggi persaingan tenis profesional, Grand Slam.
Janice menjadi salah satu dari 16 tunggal putri yang memenangi tiga babak kualifikasi hingga bisa bersaing pada babak utama yang berlangsung 24 Agustus-7 September 2025. Janice mengalahkan unggulan ketiga kualifikasi, Aoi Ito, dengan skor 6-1, 6-2, Jumat (22/8/2025). Pada babak pertama, petenis berusia 23 tahun itu juga mengalahkan petenis unggulan, yaitu Varvara Lepchenko (22), 6-3, 6-1.
Kemenangan Janice atas Ito membuat Indonesia memiliki lagi petenis nomor tunggal yang tampil pada babak utama Grand Slam. Angelique, yang aktif bersaing di arena profesional pada 1999-2008, bermain di arena Grand Slam pada 2002-2004.
Capaian Janice tak hanya berhenti di sana. Pada fase pertama di babak utama, ia membuat kejutan besar dengan mengalahkan petenis peringkat ke-26 dunia yang menjadi unggulan ke-24 di AS Terbuka Veronika Kudermetova (Rusia), dengan skor 6-4, 4-6, 6-4. Ia pun menjadi petenis Indonesia pertama dalam 22 tahun yang memenangi laga di babak utama Grand Slam.
Janice bersaing di arena profesional bukan hanya dalam setahun-dua tahun terakhir. Dia memasuki kerasnya persaingan tenis profesional sejak 2018. Laman resmi Federasi Tenis Internasional (ITF) mencatat, petenis asal Jakarta itu absen dari turnamen tenis Oktober 2022 dan baru bertanding lagi pada Juni 2024.
Pada masa tersebut, petenis asal Jakarta itu sebenarnya tetap bertanding, yaitu di NCAA. Ketika kembali ke turnamen profesional, setelah lulus dari jurusan sosiologi pada Mei 2024, dia menjuarai tujuh dari sepuluh turnamen ITF tunggal putri dalam rentang tujuh bulan pada 2024. Janice mengikuti turnamen level W15 dan W35.
Apa saja yang disiapkan Janice Tjen untuk menghadapi Emma Raducanu di babak kedua AS Terbuka?
Ketika Emma Raducanu (22) menyabet gelar juara tunggal putri di AS Terbuka pada 2021 silam, Janice Tjen (23) hanya bisa menontonnya di sela-sela kuliah di AS. Empat tahun berlalu, Janice akan menghadapi idolanya di panggung yang sama, Rabu (27/8/2025) waktu AS.
Janice akan menghadapi Raducanu, petenis Inggris Raya, pada babak kedua atau 64 besar Grand Slam AS Terbuka. Pertandingan ini tidak hanya dinanti-nantikan Janice, tetapi juga publik Tanah Air. Janice menyita perhatian penggemar tenis Indonesia, bahkan Asia, setelah melaju ke babak kedua AS Terbuka dari kualifikasi.
Janice menjadi petenis Indonesia pertama dalam 22 tahun yang memenangi laga di babak utama Grand Slam. Ia menyamai prestasi Angelique Widjaja di Wimbledon pada 2003 silam. Kini, Janice ingin melangkah lebih jauh lagi setelah memenangi tiga laga di babak kualifikasi AS Terbuka 2025 dengan straight sets.
Namun, ambisi itu tak mudah karena ia harus melewati Raducanu, petenis muda yang pernah mengguncang dunia pada 2021. Saat itu, ia menjuarai tunggal putri AS Terbuka seusai mengalahkan sesama petenis remaja, Leylah Fernandez (Kanada), dengan straight sets di final. Ia menyisihkan sejumlah unggulan, seperti Belinda Bencic dan Maria Sakkari, dalam perjalanan ke puncak.
Padahal, saat itu, Raducanu sama sekali tak diunggulkan. Ia bahkan memulai perjalanan di AS Terbuka saat itu lewat kualifikasi, jalur yang ditempuh Janice saat ini. Tak pelak, kisah heroik bak dongeng Cinderella itu sangat menginspirasi Janice.
”Ketika Emma memenangi turnamen (AS Terbuka 2021) dengan tren (kemenangan) menakjubkan di sini, saya sesungguhnya masih kuliah. Saya cedera saat itu sehingga banyak menonton pertandingan tenis,” ujar Janice, yang saat itu kuliah Sosiologi di Universitas Pepperdine, dalam wawancara dengan sejumlah wartawan, Senin (25/8/2025).
Janice pun tak sabar ingin menghadapi Raducanu yang setahun lebih muda darinya.