Benarkah Trump menyerang Iran semata karena ingin menaikkan harga kripto?
28 Mar 2026 06:32 WIB · Internasional
NASRU ALAM AZIZ
Dinamika harga gas, minyak, emas, dan kripto dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan pasar bergerak cepat mengikuti ketidakpastian akibat perang Iran. Perubahan harga terjadi dalam waktu singkat dan memengaruhi berbagai sektor secara langsung. Dari pergerakan itu muncul pertanyaan tentang pihak yang paling diuntungkan dari situasi perang ini.
Menjelang akhir Maret 2026, pasar memberi sinyal yang penuh gejolak. Harga minyak dunia berada di level tinggi, dengan Brent sekitar 102 dolar AS per barel dan WTI sekitar 90 dolar AS. Sementara emas bertahan di kisaran 4.552 dolar AS per troy ounce dan bitcoin bergerak di sekitar 68.970 dolar AS setelah sempat menyentuh hampir 74.000 dolar AS.
Di pasar gas, guncangannya lebih terasa karena harga gas Eropa sempat melonjak hingga 35 persen dalam sehari. Bahkan, harganya terpantau sudah naik 85 persen sejak akhir Februari 2026. Adapun LNG Asia naik hingga 143 persen dalam periode yang sama.
Deretan kenaikan ini penting karena memperlihatkan bahwa tidak ada aset yang benar-benar stabil dari situasi perang AS-Israel dan Iran. Saat satu kelas aset dianggap pelindung, kelas aset lain justru bergerak lebih liar, dan pergerakan itu berubah dari hari ke hari mengikuti berita lapangan, pernyataan pejabat, dan ekspektasi pasar.
Gas alam adalah contoh paling nyata dari kerentanan ini dengan lonjakan hingga 35 persen imbas serangan ke sejumlah infrastruktur energi di Timur Tengah. Dua jalur LNG di fasilitas Ras Laffan, Qatar, mengalami kerusakan dan diperkirakan dapat mengurangi sekitar 17 persen ekspor LNG negara itu selama tiga hingga lima tahun.
Kantor berita Reuters mencatat, jaringan pasokan gas lebih sulit dialihkan dan kapasitas penyimpanannya lebih kecil dibandingkan minyak sehingga gangguan pada gas terasa lebih akut dan pemulihannya lebih lambat.
Komoditas minyak memang lebih cepat diserap pasar, tetapi bukan berarti aman. Pada 25 Maret 2026, Brent masih berada di 102,22 dolar AS per barel dan WTI di 90,32 dolar AS. Sehari setelahnya, ketika harapan deeskalasi memudar, harga minyak kembali melonjak. Kontras dengan harga saham, obligasi, dan emas yang justru jatuh serta menunjukkan saat ini pasar mengartikan minyak sebagai harga yang dibentuk oleh sentimen kecemasan global.
Harga emas menguat pada fase awal ketegangan sebagai respons terhadap ketidakpastian. Kenaikan tersebut tercatat sekitar satu persen dalam satu hari perdagangan. Namun, tren ini tidak bertahan lama karena faktor makro, seperti suku bunga dan penguatan dolar, kembali menekan harga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/01/6228fc6f47cf93d559d16b2ba4b3d788-wires_photo_2026_02_01T152320.387.jpg)
Pergerakan emas menunjukkan bahwa statusnya sebagai aset aman tidak sepenuhnya konsisten. Harga emas dapat bergerak berlawanan dengan ekspektasi, terutama saat terjadi tekanan inflasi dan berubah-ubahnya kebijakan moneter. Hal ini memperlihatkan bahwa perlindungan nilai tidak bersifat absolut.
Sementara itu, kripto terutama bitcoin menunjukkan volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan emas. Dalam satu fase, harga naik lebih dari lima persen, tetapi kemudian terkoreksi tajam sebelum kembali menguat. Pola ini menunjukkan bahwa kripto lebih dipengaruhi oleh likuiditas dan sentimen pasar.
Fluktuasi kripto juga memperlihatkan respons yang lebih cepat terhadap perubahan informasi. Berbeda dengan emas yang cenderung bergerak bertahap, kripto dapat mengalami perubahan besar dalam waktu singkat. Hal ini membuatnya lebih dekat dengan aset spekulatif dibandingkan instrumen lindung nilai tradisional.
Jika dilihat secara keseluruhan, tidak ada pola tunggal yang konsisten di antara berbagai aset tersebut. Gas dan minyak bergerak karena faktor pasokan, sementara emas dan kripto dipengaruhi faktor keuangan global. Perbedaan ini menunjukkan kompleksitas respons pasar terhadap tekanan eksternal.
Dapat dikatakan, tidak adanya aset yang benar-benar aman. Setiap instrumen memiliki kerentanan terhadap faktor yang berbeda. Dalam kondisi tertentu, bahkan aset yang dianggap stabil dapat mengalami tekanan signifikan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/6c234213bf56ea711a219da622042a2c-VIETNAM_ECONOMY_CRYPTO_136102572.jpg)
Pergerakan harga yang tidak stabil tersebut membuka ruang keuntungan bagi sejumlah aktor ekonomi. Pihak pertama yang diuntungkan adalah negara eksportir energi seperti Rusia dan Arab Saudi. Kenaikan harga langsung meningkatkan penerimaan, tanpa perlu meningkatkan produksi secara signifikan.
Keuntungan tersebut berasal dari selisih harga yang melebar di pasar internasional. Negara eksportir hanya perlu mempertahankan volume produksi untuk memperoleh pendapatan lebih besar. Dalam situasi ini, ketegangan justru memperkuat posisi fiskal mereka.
Dalam konteks yang lebih luas, AS juga memiliki posisi yang kompleks. Sebagai produsen energi, negara ini diuntungkan dari harga tinggi, tetapi di sisi lain menanggung biaya fiskal dari konflik. Laporan Reuters mencatat, AS sebagai produsen dan eksportir gas alam terbesar di dunia menaikkan porsi kapasitas jalur pipa gas baru dari sekitar 10 persen pada 2025 menjadi lebih dari 33 persen pada awal 2026.
Perusahaan energi juga dapat memetik keuntungan dengan kenaikan harga minyak dan gas. Skemanya, pendapatan perusahaan hulu dan pedagang komoditas ikut terdorong imbas kenaikan tersebut, sementara kontrak jangka pendek dan transaksi spot memberi ruang bagi margin yang lebih lebar.
Secara historis, pergerakan pasar lebih sensitif pada gangguan pasokan dibandingkan pada isu diplomasi sehingga korporasi yang memegang aset produksi, terminal LNG, jaringan pipa, dan armada distribusi berada dalam posisi yang lebih menguntungkan.
Namun, yang paling sering luput dari perhatian adalah pelaku pasar finansial yang hidup dari volatilitas. Saat harga emas naik-turun dan harga minyak melonjak lalu terkoreksi oleh kabar gencatan senjata, ruang untuk trading terbuka lebar. Lembaga kemitraan investasi swasta (hedge fund), desk komoditas, serta trader makro menerapkan strategi perdagangan jangka pendek dalam kondisi ini.
Industri pertahanan juga berada dalam posisi yang diuntungkan. Perusahaan seperti Lockheed Martin dan Raytheon Technologies memperoleh peningkatan permintaan. Anggaran militer yang naik di beberapa negara pada akhirnya memperbesar nilai kontrak yang diterima.
Permintaan tersebut tidak hanya berasal dari negara yang terlibat langsung. Negara lain yang merasa terancam juga meningkatkan belanja pertahanan. Hal ini menciptakan siklus permintaan baru yang berkelanjutan bagi industri tersebut.
Keuntungan di sektor finansial tidak bergantung pada arah harga. Baik kenaikan maupun penurunan dapat menghasilkan profit selama volatilitas tinggi. Kondisi ini menjelaskan, ketidakpastian situasi global justru menarik bagi sebagian pelaku pasar.
Lantas, bagaimana dengan kripto? Dalam beberapa tahun terakhir, bitcoin dan aset kripto lain semakin sering diposisikan sebagai alternatif investasi di tengah ketidakpastian global. Ketika konflik antara AS-Israel dan Iran meningkat, sebagian investor mengalihkan dana ke aset digital sebagai respons atas potensi gangguan ekonomi dan geopolitik. Namun, pergerakan ini tidak selalu searah karena pada fase ketegangan yang ekstrem, arus modal justru kembali ke dolar AS sebagai aset likuid utama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/18/7611061f-14ca-4b27-a121-4cc8085e000b.jpg)
Dalam praktiknya, harga kripto lebih mencerminkan siklus psikologi pasar dibandingkan desain intervensi yang terencana. Skemanya dapat disederhanakan demikian, ketika muncul harapan deeskalasi atau stabilitas, investor kembali masuk ke aset berisiko, termasuk kripto, sehingga harga pun naik.
Sebaliknya, saat ketidakpastian memuncak, tekanan jual meningkat dan harga dapat terkoreksi tajam. Pola ini menunjukkan bahwa volatilitas kripto berada dalam orbit yang sama dengan aset global lain, yakni bergerak mengikuti dinamika sentimen pasar.
Di tengah dinamika tersebut, posisi Trump kerap menjadi sorotan karena keterkaitannya dengan ekosistem kripto dan pengaruhnya terhadap pasar. Dukungan politik terhadap industri ini, serta kedekatan dengan berbagai inisiatif berbasis aset digital, memunculkan dugaan adanya potensi konflik kepentingan. Dalam kerangka ekonomi politik, kondisi ini dapat dipahami sebagai pertemuan antara kekuasaan politik dan peluang keuntungan ekonomi dalam satu ruang yang sama.
Meski begitu, menarik garis lurus antara konflik militer dan kepentingan bisnis pribadi tetap memerlukan kehati-hatian. Keputusan strategis seperti konflik antarnegara melibatkan banyak aktor dan kepentingan, mulai dari militer, lembaga intelijen, hingga aliansi internasional. Dengan kompleksitas tersebut, sulit menyimpulkan bahwa dinamika konflik dirancang secara spesifik untuk menggerakkan harga aset tertentu, termasuk kripto.
Selain itu, tuduhan mengenai manipulasi pasar sering muncul dalam situasi volatil seperti ini. Pernyataan politik dari figur besar memang terbukti mampu menggerakkan sentimen dalam waktu singkat, termasuk di pasar kripto. Namun, dalam standar analisis empiris, manipulasi mensyaratkan adanya pola yang konsisten dan terukur, seperti koordinasi antara pernyataan publik dan posisi transaksi yang diambil. Hingga kini, tidak ada bukti terbuka yang menunjukkan pola tersebut secara sistematis dalam konteks konflik ini.
Hal yang justru lebih terbukti adalah fenomena saling memengaruhi antara politik dan pasar. Pernyataan atau langkah kebijakan memicu pergerakan harga, lalu pergerakan itu sendiri memperkuat narasi yang berkembang di ruang publik. Dalam kondisi seperti ini, batas antara pengaruh dan manipulasi menjadi kabur di tingkat persepsi, tetapi tetap berbeda secara analitis.
Dengan demikian, kripto seperti halnya minyak, emas, dan instrumen finansial lain menjadi bagian dari ekosistem yang diuntungkan oleh ketidakpastian. Situasi konflik menciptakan gejolak pasar yang tinggi sehingga memberi peluang bagi perpindahan modal dan penerapan berbagai strategi spekulatif. Dalam konteks ini, keuntungan berpihak kepada mereka yang mampu membaca arah pasar lebih cepat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/27/c4c6aafc0565beefaf9e77bdde9ade2d-20260327_KID_Performa_Aset_Konflik_Iran_mumed.jpg)
Pada akhirnya, negara yang terlibat langsung dalam konflik tidak selalu diuntungkan karena beban finansial yang ditanggung bersifat menyeluruh dan tidak bisa dihindari dalam jangka pendek. Kenaikan harga energi segera mendorong inflasi, tekanan fiskal, dan kebutuhan intervensi pemerintah untuk menjaga daya beli. Dalam situasi seperti ini, ruang kebijakan justru menyempit saat kebutuhan belanja negara tidak diimbangi dengan penerimaan.
Pada saat yang sama, keuntungan dari lonjakan harga energi tidak terdistribusi secara merata di dalam suatu negara. Sektor tertentu seperti energi dan komoditas bisa menikmati margin yang lebih tinggi, tetapi sektor lain seperti manufaktur, transportasi, dan rumah tangga menghadapi kenaikan biaya. Artinya, konflik tidak menciptakan keseimbangan baru yang lebih baik, tetapi memperlebar kesenjangan antarsektor dalam ekonomi domestik.
Namun, aktor ekonomi global bergerak dalam logika yang berbeda dari negara. Mereka tidak terikat pada batas wilayah atau kewajiban sosial sehingga dapat dengan cepat memindahkan modal, kontrak, dan eksposur risiko ke pasar yang lebih menguntungkan. Dalam kondisi volatilitas tinggi, kemampuan untuk bergerak cepat ini menjadi sumber keuntungan utama yang tidak dimiliki banyak negara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/30/c830e8282aa4ac3001cb4d32480a0c5a-20251030PRI7HR.jpg)
Industri energi dan sektor finansial juga bekerja dalam siklus yang secara struktural diuntungkan oleh ketidakpastian. Ketika pasokan terganggu, harga naik dan menciptakan ruang keuntungan bagi produsen serta pedagang komoditas. Selain itu, fluktuasi harga membuka peluang bagi pelaku pasar finansial untuk mengambil posisi jangka pendek yang mengandalkan perubahan harga dan sentimen pasar.
Dengan demikian, peta keuntungan dalam konflik modern lebih banyak ditentukan oleh posisi dalam rantai ekonomi global daripada oleh kemenangan militer. Negara bisa memenangi pertempuran atau mempertahankan posisi geopolitik, tetapi tetap menanggung biaya ekonomi yang luas dan berkepanjangan.
Sebaliknya, aktor yang menguasai produksi energi, jaringan distribusi, dan arus modal global justru berada pada posisi paling siap untuk mengubah ketidakpastian menjadi keuntungan yang terukur. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Yohanes Mega HendartoEditor:
A. Yoga PrasetyoInfografik:
Dicky IndratnoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji