China Fokus Perkuat Pasar Domestik pada 2026-2030

China menargetkan untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Perekonomian dalam negeri harus digenjot guna melawan dampak perang dagang dengan AS.

21 Okt 2025 08:00 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

BEIJING, SENIN — Partai Komunis China memulai sidang umum keempat pada 2025. Sidang Komite Pusat yang dihadiri 200 anggota tetap dan 170 anggota tidak tetap ini membahas rencana pembangunan lima tahun atau repelita periode 2026-2030. Dugaannya, fokus sidang mengenai penguatan pasar domestik.

Sidang umum Partai Komunis China (PKC) itu dimulai di Beijing, China, Senin (20/10/2025) dan berlangsung sampai dengan Kamis (23/10/2025). Sidang dipimpin oleh Presiden China sekaligus Sekretaris Jenderal PKC Xi Jinping.

A Chinese security person yawns as he stands guard at the entrance gate to the Jingxi Hotel where the Communist Party's Central Committee is holding its fourth plenum, in Beijing, Monday, Oct. 20, 2025. (AP Photo/Andy Wong)

Seperti biasa, agenda sidang dirahasiakan. Agenda bersama hasil sidang akan diumumkan di acara penutupan. Kantor berita nasional China, Xinhua, dalam tajuk rencana hanya mengatakan bahwa sidang ini menggabungkan perencanaan sistematis dengan inovasi yang menggebrak, kinerja level tinggi, transformasi hijau, kemajuan dalam negeri, dan kerja sama luar negeri.

Menurut perkiraan para pengamat isu China, sidang umum repelita ini akan fokus pada penguatan pasar dalam negeri. Saat ini, China menghadapi perang dagang dengan Amerika Serikat akibat penjatuhan tarif impor secara sepihak oleh Presiden AS Donald Trump.

Daya beli lokal

China memutuskan untuk membalas setiap tarif yang dijatuhkan AS. Baru-baru ini, Bejing dan Washington DC saling berbalas tarif untuk kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan. Menurut perhitungan berbagai firma pelayaran, pada 2025, perang dagang di pelabuhan itu saja bisa menaikkan biaya satu kali pelayaran menjadi 3 juta dollar AS. Dalam kurun tiga tahun, biayanya bisa meroket menjadi 10 juta dollar AS untuk sekali berlayar.

Sejak Trump menjatuhkan tarif pada April 2025, China dan AS menjalani beberapa putaran perundingan. Hasilnya naik dan turun. Ketika situasi mulai stabil, tiba-tiba Trump mengumumkan keputusan tarif baru. Akibatnya, suasana perdagangan dunia terombang-ambing.

A woman visits a clothing store in Beijing on October 20, 2025. (Photo by Pedro PARDO / AFP)

Walhasil, sejumlah pengusaha China pun mengambil sikap untuk merelakan lepasnya pasar AS. Mereka berusaha mengganti pasar AS dengan Amerika Latin, Eropa, Afrika, dan Asia. Upaya ini berat karena AS selama ini adalah pasar terbesar bagi komoditas China.

”Oleh karena itu, sepertinya, Beijing ingin pasar domestik bisa bergerak lebih cepat dan kuat. Tampaknya, sidang ini akan membahas mengenai cara meningkatkan daya beli masyarakat,” kata Stefanie Kam, pengamat isu China di Sekolah Kajian Internasional S Rajaratnam (RSIS), Singapura, kepada Channel News Asia.

Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China (NBS), daya beli masyarakat pada Agustus turun ke 5,2 persen. Sebelumnya, pada Juli, daya beli masyarakat berada di angka 5,7 persen. Di wilayah perkotaan, angka pengangguran 5,3 persen.

Di triwulan ketiga tahun 2025, pertumbuhan ekonomi hanya 4,8 persen. Laju pertumbuhan ini melambat dibandingkan dengan triwulan kedua 2025 yang tercatat 5,2 persen.

China mengejar pertumbuhan ekonomi sesuai perkiraan mereka ketika repelita 2021-2025 diluncurkan, yaitu bisa 4,9 triliun dollar AS atau setara 30 persen pertumbuhan dunia setiap tahun.

People ride camels as they visit the Mingsha mountain and Crescent Moon Spring scenic area in Dunhuang, Jiuquan, northwestern China's Gansu province on October 19, 2025. (Photo by Adek BERRY / AFP)

China berusaha meningkatkan produktivitas mereka dengan cara-cara baru. Pada 1 Oktober 2025, Beijing meluncurkan visa jenis K. Visa ini ditujukan kepada profesional di bidang sains, teknologi, keinsinyuran, dan matematika (STEM) dengan pendidikan minimal sarjana S-1.

Pelamar visa K ini tidak memerlukan surat sponsor ataupun kontrak kerja dari perusahaan di China. Harapannya, semakin banyak tenaga profesional asing mau datang ke China melakukan penelitian dan pengembangan yang hasilnya diselaraskan dengan pembangunan dan ekonomi.

Di samping itu, China juga menerapkan sistem bebas visa untuk 75 negara demi mendongkrak perekonomian di sektor pariwisata. Per tahun 2024, ada 20 juta wisatawan asing yang melancong ke China atau dua kali lipat dari tahun 2023. Harapannya, dengan adanya bebas visa, jumlah pelancong yang datang bisa berkali lipat.

Merangkul swasta

Terobosan lain yang dilakukan Beijing ialah merangkul aneka perusahaan swasta. Langkah ini merupakan perubahan 180 derajat dari sikap Xi Jinping ketika terpilih memimpin China untuk ketiga kalinya pada 2022. Xi pada waktu itu melancarkan serangan terhadap pengusaha dan pesohor terkenal yang dinilai mengancam wibawa PKC.

Pada Maret 2025, dalam sidang umum awal tahun, Beijing akhirnya mengatakan bahwa keterlibatan swasta penting bagi kemajuan ekonomi dan pembangunan China. Di sektor swasta, penelitian dan pengembangan yang bermuara pada inovasi dan peningkatan produktivitas terjadi. Di dalam sidang itu juga disahkan undang-undang mengenai pelibatan swasta dalam pembangunan nasional.

Employees work on the production line at the Anhui Jingjiu Silk Company in Fuyang, east China's Anhui province, on October 20, 2025. (Photo by -STR / AFP) / China OUT

Bahkan, Xi juga menulis mengenai pentingnya memberi ruang bagi sektor swasta. Hal ini dituangkan di dalam jurnal milik PKC, Qiushi, edisi 1 Oktober 2025. Menurut Xi, bersama dengan sektor swasta, China bisa melakukan terobosan dalam perkembangan teknologi untuk perubahan ekonomi.

Rilis Politbiro sebelum sidang dibuka juga bernada serupa. Mereka mengatakan, persaingan global semakin ketat sehingga dibutuhkan adaptasi terhadap perubahan secara strategis. Terobosan ini diharapkan bisa mewujudkan modernisasi China.

China dalam kurun satu tahun saja telah membuat terobosan di dunia teknologi. Akal imitasi DeepSeek, walaupun belum sempurna, bisa bersaing dengan pemain-pemain besar, seperti OpenAI dan Meta. Selain itu, mobil-mobil listrik buatan China juga membanjiri pasar global.

Teknologi adalah fokus dari repelita China periode 2016-2020. Ketika itu, rencana pembangunan yang menitikberatkan pada pengembangan teknologi ini disasar bermuara pada fenomena ”Made in China 2025”.

Setelah itu, repelita periode 2021-2025 yang disusun di masa pandemi Covid-19 menyasar pada pemulihan ekonomi. Pemerintah menargetkan, perdagangan di dalam dan luar negeri sama-sama bisa menguat.

(AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim