Bukan Lamine Yamal yang lebih ditakuti pelatih PSG Luis Enrique, melainkan jenderal lini tengah Barcelona, Pedri Gonzalez.
01 Okt 2025 14:30 WIB · Olahraga
BARCELONA, RABU — Banyak pemain berbahaya di kubu Barcelona yang akan menjadi ancaman bagi Paris Saint-Germain saat kedua tim bertemu pada fase liga Liga Champions di Barcelona, Kamis (2/10/2025) dini hari WIB. Akan tetapi, ada satu pemain yang wajib dilumpuhkan jika PSG ingin mematikan permainan Barca. Pemain itu adalah Pedri Gonzalez.
Pelatih PSG Luis Enrique menyebut gelandang Barcelona, Pedri Gonzalez, sebagai seorang pemain yang memiliki kemampuan khusus. Enrique membandingkan Pedri dengan Harry Potter, tokoh fiktif yang terkenal dengan ilmu sihirnya.
Skill dan ketajaman Yamal memang tidak diragukan lagi. Namun, Pedri adalah jenderal permainan lini tengah Barca. Ia adalah jelmaan gelandang legendaris Xavi, yang berperan sebagai pengatur serangan. Tanpa peran Pedri, skema permainan Barca tidak berkembang.
Enrique menyoroti keinginan kedua tim untuk menguasai bola dan memainkan sepak bola menyerang, dengan Pedri berperan sebagai roda penggerak lini tengah Barca.
Pemain asal Kepulauan Canary berusia 22 tahun itu pernah menjadi kunci bagi tim nasional Spanyol asuhan Enrique yang mencapai semifinal Piala Eropa 2020. ”Saya pernah mengatakan tentang Pedri beberapa waktu lalu bahwa dia adalah Harry Potter, dan saya berharap besok dia tidak membawa tongkat sihirnya,” kata Enrique dalam konferensi pers, Selasa (30/9/2025).
Enrique wajar waswas dengan Pedri karena pemain tersebut sangat mengenal filosofi permainannya sebagai seorang pelatih. ”Saya pikir Pedri mengenal saya dengan baik karena tim nasional, dan dia tahu apa yang coba kami lakukan,” ujar Enrique.
Untuk itu, menurut Enrique, para pemainnya harus berupaya keras membatasi permainan Pedri. ”Kami akan berusaha melakukan segala cara agar dia berpartisipasi sesedikit mungkin,” tandas pelatih berusia 55 tahun ini.
Tugas itu tidak akan mudah mengingat sejumlah gelandang PSG terancam tak bisa tampil karena belum fit. Juara bertahan PSG masih harus menunggu kabar kondisi gelandang Vitinha, Joao Neves, Fabian Ruiz, dan pemain sayap Bradley Barcola apakah bisa bermain atau tidak. Sementara penyerang Ousmane Dembele, Desire Doue, dan Khvicha Kvaratskhelia sudah dipastikan tidak bisa bermain.
Enrique mengatakan tidak akan mengambil risiko dengan kondisi pemainnya. Ia akan memastikan semua pemain benar-benar fit untuk tampil menghadapi Barcelona.
”Keputusan akan lebih diserahkan kepada para pemain daripada saya, mereka harus merasa siap,” kata Enrique.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/01/7d0e6526327f8444aaa026a68647b512-wires_photo_2025_10_01T131959.903.jpg)
Enrique menambahkan bahwa timnya tetap berpikir positif meski dirundung masalah cedera. Kondisi pemain bukan menjadi alasan untuk tidak memburu kemenangan meski mereka harus bermain di kandang Barcelona.
”Ada berbagai cara memandang cedera, itu bisa menjadi alasan atau justru untuk mendapat hasil, dan kami mencari hasil. Siapa pun yang bermain, ia akan menjadi bagian dari tim yang sesungguhnya, dan kami akan mempersiapkan pertandingan seperti biasa untuk meraih kemenangan,” tandas Enrique.
Barcelona sendiri juga mengalami masalah cedera pemain. Gelandang Gavi dipastikan absen sekitar enam bulan karena baru saja menjalani operasi lutut.
Adapun Yamal sudah kembali bermain setelah pulih dari cedera pangkal paha. Ia langsung memberi asis begitu masuk sebagai pemain pengganti saat laga LaLiga melawan Real Sociedad, akhir pekan lalu.
Meski demikian, pelatih Barcelona Hansi Flick mengaku belum terlalu gembira dengan penampilan Yamal. Menurut pelatih asal Jerman ini, jika Yamal ingin semakin berkembang, ia harus mulai fokus meningkatkan etos kerjanya di tim.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/01/af8dd361ec3f184f977e1a8b533619ca-wires_photo_2025_10_01T132014.191.jpg)
”(Memanggilnya) super, super, super. Saya tidak suka ini... dia baru 18 tahun dan bagi saya dia harus fokus bekerja keras,” kata Flick kepada wartawan.
Tidak mudah meningkatkan level permainan, terlebih ketika Yamal sendiri sudah pada tahap kelas dunia, terbukti dengan keberhasilannya menempati urutan kedua pada penghargaan Ballon d’Or. ”Tidak selalu mudah, dengan bakat Anda bisa mencapai titik ini, tetapi untuk mencapai level berikutnya, satu atau dua langkah lagi—dan saya pikir dia mampu melakukannya—dia harus bekerja keras,” kata Flick.
Menghadapi juara bertahan, Flick menuntut Yamal dan pemain lainnya bekerja keras dalam bertahan saat PSG menguasai bola. ”Ini bukan hanya tentang bermain dengan bola, melainkan juga tentang bertahan. Ini yang kami butuhkan dari setiap pemain—bahkan pemain hebat seperti dia—itulah yang membuat perbedaan,” kata Flick. (AP/AFP)
Penulis:
Prasetyo Eko PrihanantoEditor:
Billy KhaerudinPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari