Luis Enrique, Keteguhan Hati Lewati Tragedi

Luis Enrique mengubah tragedi kehilangan putri menjadi kekuatan dan keteguhan hati untuk melangkah maju. Gelar Liga Champions bersama PSG menunjukkan mentalitasnya.

02 Jun 2025 06:30 WIB · Sosok

Oleh Rebiyyah Salasah

Selepas Paris Saint-Germain memastikan kemenangan 5-0 atas Inter Milan di final Liga Champions, Luis Enrique mengganti pakaiannya. Pelatih PSG ini mengenakan kaus bertuliskan ”Kami adalah juara”. Ada gambar kartun yang mereferensikan dia dan putrinya, Xana, tengah menancapkan bendera klub di lapangan, bersama-sama.

Tak lama berselang, suporter PSG mengibarkan penghormatan mereka sendiri. Sebuah bendera raksasa terpampang di tribune Stadion Muenchen Football Arena, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB itu. Bendera tersebut menampilkan gambar seorang ayah sedang menancapkan bendera bersama anak perempuan berjersei PSG.

Baik bendera suporter maupun kaus yang dikenakan Enrique terinspirasi oleh potret terkenal sang pelatih dengan anaknya setelah final Liga Champions 2014-2015. Xana, yang saat itu berusia lima tahun, mengibarkan bendera Barcelona, lalu menyaksikan sang ayah menancapkan bendera itu di lapangan rumput di Berlin setelah klub itu mengalahkan Juventus, 3-1.

Penghormatan tersebut menambah emosional malam kemenangan PSG yang meraih gelar Liga Champions untuk pertama kalinya. Semua ”penderitaan” mereka saat mengejar Liga Champions terhapus dalam salah satu penampilan terhebat yang pernah dihasilkan tim mana pun di final Eropa.

Para penggemar Paris Saint-Germain memajang spanduk di tribun yang menggambarkan pelatih kepala Paris Saint-Germain asal Spanyol Luis Enrique sedang menancapkan bendera untuk mendiang putrinya Xana, setelah laga final Liga Champions UEFA antara Paris Saint-Germain (PSG) dan Inter Milan di Muenchen, Jerman, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB.

Penderitaan juga adalah milik Enrique. Semua keraguan, karena kepercayaannya pada pemain muda dan ketiadaan pemain megabintang di tim, turut terhapuskan. Inilah hasil keteguhan hatinya, mentalitas yang selalu ia tunjukkan bahkan pada momen sulit. Termasuk ketika menghadapi tragedi kehilangan sang putri.

Jauh sebelum laga final PSG dan Inter Milan, Enrique telah mengatakan bahwa momennya bersama Xana satu dekade lalu itu merupakan kenangan yang indah. Pelatih yang kerap disapa Lucho ingin mengulanginya dengan bendera PSG.

”Putri saya tidak akan hadir secara fisik, tetapi dia akan hadir secara spiritual, dan itu sangat penting bagi saya,” kata Enrique saat konferensi pers Ligue 1 atau Liga Perancis melawan RC Lens, Januari lalu.

”Saya termotivasi untuk terus maju, menghadapi apa pun yang terjadi dalam hidup saya,” tuturnya lagi ketika ditanya bagaimana menemukan kekuatan sepeninggalan putrinya.

Xana berusia sembilan tahun ketika didiagnosis menderita osteosarkoma, suatu bentuk kanker tulang yang langka. Enrique memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai pelatih timnas Spanyol saat penyakit Xana mulai parah.

Selama lima bulan, Xana dirawat di Sant Joan de Deu, sebuah rumah sakit anak-anak di Barcelona. Ia menghabiskan jam-jam terakhirnya di rumah, dikelilingi oleh anggota keluarganya.

TOPSHOT - Paris Saint-Germain's Spanish head coach Luis Enrique, wearing a t-shirt depicting his late daughter Xana with the PSG flag, celebrates at the end of the UEFA Champions League final football match between Paris Saint-Germain (PSG) and Inter Milan in Munich, southern Germany on May 31, 2025. Paris Saint-Germain won the Champions League for the first time by thrashing Inter Milan 5-0 in the most one-sided final in the competition's history. (Photo by Odd ANDERSEN / AFP)

Enrique berterima kasih kepada para pendukung PSG atas penghormatan bagi mendiang putrinya tersebut. Namun, ia juga mengatakan akan selalu ingat anaknya, dengan atau tanpa trofi, dengan atau tanpa penghormataan.

”Dia ada di sini, mendukung keluarga saya. (Kami) merasakan kehadirannya, bahkan saat kami kalah. (Ini) semua tentang menyatukan semua yang telah kami lalui dan mengambil sisi positif dari situasi negatif,” kata Enrique selepas laga kontra Inter, dikutip dari The Athletic.

”Itulah mentalitas saya, mentalitas kami sebagai sebuah keluarga. Sungguh fantastis melihatnya, tetapi saya tidak perlu trofi untuk memikirkan putri saya. Ia selalu ada di sini,” ujarnya lagi.

Enrique pernah mengatakan, Xana bagai bintang yang tak hanya selalu menemaninya, tetapi juga membimbingnya. Xana menjadi pembimbingnya melewati momen-momen sulit. Sebab, hidup Enrique tak melulu mulus, sebelum atau sesudah kepergian Xana.

Paris Saint-Germain's Spanish headcoach Luis Enrique (R), his wife Elena Cullell (2L), son Pacho Martinez (L) and daughter Sira Martinez (2R) pose with the trophy at the end of the UEFA Champions League final football match between Paris Saint-Germain (PSG) and Inter Milan in Munich, southern Germany, on May 31, 2025. (Photo by INA FASSBENDER / AFP)

Jauh ketika masih menjadi pemain, Enrique terpaksa mengakhiri kariernya setelah sering cedera. Namun, salah satu momen paling terkenal dari perjalanan pria kelahiran 8 Mei 1970 itu adalah keputusan kontroversialnya pada 1996.

Setelah mempersembahkan empat gelar untuk Real Madrid, termasuk satu trofi Liga Spanyol 1994-1995, Enrique memilih hengkang ke klub rival, Barcelona. Keteguhan hati dengan keputusan sendiri yang tampak seperti sikap bodo amat ini berbuah berprestasi.

Keraguan para pendukung Barcelona mampu Enrique bayarkan dengan penampilan impresif selama delapan tahun dengan delapan trofi. Ia pun sempat menjadi kapten tim dan mencetak beberapa gol pada momen penting, termasuk ke gawang Real Madrid dalam El Clasico.

Sebagai pelatih, Enrique menempuh perjalanan yang tak pernah terbebas dari kerikil dan keraguan. Saat melatih tim Barcelona B pada 2008-2011, misalnya, ia sukses membawa tim kembali ke Segunda Division setelah absen selama 11 tahun. Namun, Enrique gagal membawa tim promosi meskipun telah mencapai babak playoff.

Paris Saint-Germain's Spanish coach Luis Enrique reacts during the UEFA Champions League, League phase - Matchday 4, football match between Paris Saint-Germain (PSG) and Atletico Madrid, at the Parc des Princes stadium in Paris on November 6, 2024. (Photo by FRANCK FIFE / AFP)

Di AS Roma setelahnya, Enrique juga memilih mundur pada akhir musim setelah menjalani musim penuh tantangan. AS Roma saat itu gagal lolos ke kompetisi Eropa.

Saat kembali ke Barcelona pada 2014, kali itu sebagai pelatih utama, ia mengundang keraguan karena memberikan kesempatan kepada pemain muda. Sebut saja Munir El Haddadi dan Rafinha. Enrique juga tak segan mencadangkan pemain andalan tim, seperti Xavi dan Lionel Messi.

Namun, seperti ciri khasnya, Enrique menepis keraguan itu dengan mengantarkan Barcelona berhasil meraih treble pada musim 2014-2015 dengan memenangi Liga Spanyol, Piala Raja Spanyol, dan Liga Champions. Pada musim berikutnya, Barcelona kembali menambah trofi dengan menang dalam Piala Super Eropa dan Piala Raja Spanyol.

Di PSG, keraguan kembali memayungi Enrique. Ambisi meraih gelar Liga Champions seperti mimpi yang terlampau besar untuk diwujudkan. Apalagi, ”Les Parisiens” terhuyung-huyung pada babak awal Liga Champions.

Paris Saint-Germain's Spanish head coach Luis Enrique gestures during the UEFA Champions League final football match between Paris Saint-Germain (PSG) and Inter Milan in Munich, southern Germany on May 31, 2025. (Photo by Tobias SCHWARZ / AFP)

Marquinhos dan kawan-kawan tidak bisa lolos otomatis ke babak 16 besar karena berada di peringkat ke-15 fase liga. Mereka harus berjuang lagi pada babak playoff fase gugur.

”Pada hari pertama saya di PSG, ketika bahasa Perancis saya bahkan lebih buruk dari sekarang, saya mengatakan tujuan utama saya adalah mengisi kabinet piala,” ucap Enrique.

”Satu-satunya trofi yang tidak ada adalah Liga Champions, dan inilah kami. Kami memenuhi harapan itu. Kami ambisius dan kami akan terus mencoba menaklukkan dunia sepak bola. Sangat menyenangkan ketika Anda dapat membuat orang yang tidak Anda kenal bahagia,” katanya lagi.

Penyerang sayap Desire Doue, yang menginspirasi keunggulan awal PSG atas Inter lewat sumbangan dua gol dan satu asis, mengatakan, Enrique tak hanya pelatih yang punya taktik bagus. Enrique juga adalah pelatih sekaligus sosok dengan mental dan kepribadian luar biasa.

Jika melihat perjalanan panjang Enrique, termasuk perjalanan melewati tragedi dan duka, kesuksesan membawa gelar Liga Champions dan ”mengulangi” momen bersama anaknya ibarat tonggak peneguhan kekuatan dan keteguhan hati sang peracik stategi.

PSG's head coach Luis Enrique celebrates with the trophy after the Champions League final soccer match between Paris Saint-Germain and Inter Milan at the Allianz Arena in Munich, Germany, Saturday, May 31, 2025. (AP Photo/Matthias Schrader)

”Pengalaman paling negatif dalam hidup Anda adalah pengalaman yang paling banyak mengajarkan Anda,” kata Enrique dalam film dokumenter No Teneis Ni P*** Idea (You Have No F****** Idea) yang rilis tahun ini, dikutip dari The Athletic.

”(Orang mungkin berpikir,) ’Tetapi putri kecilmu, putrimu, meninggal di usia sembilan tahun…’. Putriku datang untuk tinggal bersama kami selama sembilan tahun yang indah. Kami punya ribuan kenangan tentangnya. Saya menganggap diri saya beruntung. Sangat beruntung,” ujarnya.

Menjadi pelatih kadang adalah jalan sunyi yang harus ditempuh. Dengan beban besar, tekanan dari segala sisi, dan keraguan yang terus menghampiri, Enrique harus melewatinya untuk mencapai kesuksesan. Namun, dalam perjalanan itu, Enrique percaya, ia tidak menempuhnya sendirian.

Biodata Luis Enrique

Lahir : Gijon, Spanyol, 8 Mei 1970

Karier pemain:

-Sporting Gijon B (1988-1990)

-Sporting Gijon (1989-1991)

-Real Madrid (1991-1996)

-Barcelona (1996-2004)

Karier pelatih:

-Barcelona B (2008-2011)

-AS Roma (2011-2012)

-Celta Vigo (2013-2014)

-Barcelona (2014-2017)

-Timnas Spanyol (2018-2019)

-Timnas Spanyol (2019-2022)

-Paris Saint-Germain (2023-)

Prestasi:

-Juara Liga Champions Eropa 2014-2015 (Pelatih Barcelona)

-Juara Liga Champions Eropa 2024-2025 (Pelatih PSG)


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul