PT Pertamina (Persero) biasanya mengumumkan harga avtur pada tanggal 1 tiap bulan. Perkiraannya, potensi kenaikan harga avtur mencapai 20-30 persen.
31 Mar 2026 21:02 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/AGUS SUSANTO
JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah pelaku industri penerbangan memilih menanti dan melihat (wait and see) kebijakan pemerintah serta harga avtur yang akan ditentukan PT Pertamina (Persero). Maskapai mulai melakukan efisiensi terukur dengan tetap mempertimbangkan kondisi pasar.
Presiden Direktur Lion Group Daniel Putu Kuncoro belum dapat menjelaskan rencana tindak lanjut ke depan, khususnya setelah perang Teluk di Timur Tengah pecah pada akhir Februari lalu. Kondisi itu turut mengerek harga minyak dunia yang berdampak langsung pada harga avtur.
”Saya masih menunggu sikap Pertamina dan pemerintah,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Hal serupa diutarakan Head of Indonesia Affairs and Policy AirAsia Eddy Krismeidi ketika ditanya soal kemungkinan penyesuaian khusus saat terjadi perubahan harga avtur. Namun, pihaknya masih menunggu arahan pimpinan.
”Kemungkinan iya (penyesuaian). Kami masih menunggu juga arahan dari Grup AirAsia yang baru akan mengumumkan kebijakan grup pada awal minggu depan,” ujar Eddy.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/26/65d62085b178e1def12a517284332e2d-1000456097.jpg)
Sebelumnya, Pelaksana Tugas Direktur Utama Indonesia AirAsia Achmad Sadikin mengemukakan, pihaknya terus melakukan berbagai langkah efisiensi secara disiplin dan terukur. Hal itu dilakukan guna menjaga keseimbangan antara keberlanjutan operasional dan keterjangkauan layanan bagi masyarakat. Aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama sehingga penyesuaian dilakukan secara hati-hati.
Optimalisasi operasional dilakukan melalui pengelolaan kapasitas, peningkatan efisiensi penggunaan bahan bakar, serta penyesuaian frekuensi pada rute-rute tertentu berdasarkan permintaan. Dari aspek permintaan, pihak maskapai menyatakan belum ada indikasi penurunan jumlah penumpang secara signifikan karena geopolitik global.
Sebagai bagian dari Asosiasi Perusahaan Penerbangan Sipil Nasional Indonesia (INACA), AirAsia mendukung usulan penyesuaian fuel surcharge (biaya tambahan bahan bakar) dan tarif batas atas (TBA). Upaya itu tentu dilakukan dengan menghitung aspek-aspek lainnya.
”Indonesia AirAsia sebagai bagian asosiasi mendukung adanya ruang penyesuaian yang proporsional guna menjaga keberlanjutan industri, dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat serta arahan regulator,” tutur Sadikin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/30/25fc582e1840718c5b87f150595efe33-20260330_122206.jpg.jpeg)
Menanggapi permintaan para pelaku industri penerbangan ini, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi masih berpatokan pada penjelasan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, stok bahan bakar minyak masih aman. Namun, Dudy berjanji akan meninjau ulang aspirasi para pelaku industri.
”Ya, tentunya kami akan melakukan pengkajian, evaluasi, apakah dengan kondisi sekarang masyarakat masih menghendaki (harga tiket pesawat) turun, kan? Tetapi kondisi global, di mana terjadi hal-hal yang perlu juga kita antisipasi. Jadi, kita akan melakukan exercise segala kemungkinannya ya,” ujarnya.
TBA pun berpeluang disesuaikan. Namun, keputusan resmi akan ditentukan berdasarkan pernyataan dan kesimpulan yang dirilis Kementerian ESDM.
Kompas telah berupaya menghubungi pihak Pertamina Patra Niaga untuk mendapat keterangan lebih lanjut mengenai harga avtur, imbas Perang Teluk. Namun, hingga berita ini diterbitkan, pihaknya belum merespons pesan yang dikirimkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/31/4c008f2dea6005e16193c8fde4e95a02-20260331_GKT_Krisis_Minyak_Global_mumed.jpg)
Berdasarkan data Pertamina, harga avtur jet A-1 belum ada penyesuaian pada periode 1-31 Maret 2026. Untuk penerbangan domestik, harga tertinggi masih pada level Rp 15.737,82 per liter, sedangkan harga terendah ditetapkan senilai Rp 13.656,51 per liter. Sementara, harga avtur untuk penerbangan internasional berkisar 74,2 sen AS per liter hingga 85,3 sen AS per liter.
Menanggapi dinamika ini, Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (Apjapi) Alvin Lie menilai, kenaikan harga minyak tidak dapat dihindari. Sebab, negara-negara lain sudah mengerek naik harganya, bahkan hingga 50 persen dibandingkan harga sebelum pecahnya perang antara AS-Israel dan Iran.
Indonesia masih menggunakan harga minyak, baik avtur dan BBM karena nominal yang diperbarui tiap bulan. Pemerintah juga mengintervensi agar tidak terjadi lonjakan harga BBM, khususnya menjelang Idul Fitri lalu.
”Nah, untuk periode 1-30 April ini akan diumumkan besok. Saya yakin harga BBM umum yang nonsubsidi itu akan naik cukup signifikan. Perkiraan saya sekitar 20 persen naiknya dari semula, bisa lebih ya, 20-30 persen. Harga minyak sekarang luar biasa, arah (dinamika global) belum jelas arahnya,” tutur Alvin yang juga pakar penerbangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/10/28/7c0fae73-9fa2-4fe9-9516-8a53a454c829.jpg)
Imbas Pemerintah Indonesia yang belum menaikkan harga minyak, banyak penerbangan luar negeri melakukan tankering di Indonesia. Hal ini terjadi khususnya untuk penerbangan jarak dekat, antara lain Singapura, Malaysia, dan Thailand.
”Mereka membawa bahan bakar secukupnya saja ke Jakarta, kemudian sesampainya di Jakarta diisi full tank walaupun kebutuhannya tidak segitu. Jadi, mereka memanfaatkan harga avtur murah di Jakarta untuk penerbangan-penerbangannya karena sampai hari ini harga avtur Indonesia paling murah dibandingkan negara lainnya,” ujar Alvin.
Ia memperkirakan, kenaikan harga avtur pada masa mendatang perlu diikuti dengan TBA yang disesuaikan. Idealnya, TBA perlu diperbaiki dengan fuel surcharge yang dinamis atau naik-turun tiap bulan mengikuti harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.
Beberapa negara tetangga telah berencana menyesuaikan operasionalnya imbas kenaikan harga minyak dunia. Malaysia, misalnya, maskapai-maskapainya diperkirakan perlu menunda atau menangguhkan sejumlah penerbangannya. Hal ini terjadi jika perang Timur Tengah meningkatkan harga bahan bakar secara signifikan, dikutip dari Straits Times.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/02/15/18ca7de4-a272-48ad-9029-138f9b00d420.jpg)
Dalam laporan Channel News Asia, Hal serupa dilakukan otoritas Vietnam yang telah memperingatkan industri aviasinya untuk bersiap menghadapi kemungkinan pengurangan penerbangan dimulai April. Sebab, China dan Thailand telah menunda ekspor bahan bakar pesawat karena perang Timur Tengah sehingga meningkatkan kemungkinan kelangkaan avtur.
Imbasnya, maskapai-maskapai penerbangan harus meninjau ulang rencana perjalanan mereka, terutama rute domestik. Operator bandara pun diinstruksikan untuk mempersiapkan ruang parkir tambahan untuk maskapai Vietnam, berjaga-jaga jika terjadi operasional berkurang karena kekurangan bahan bakar pesawat.
Penulis:
Yosepha Debrina Ratih PusparisaEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan