BINA DAMAI

Sinyal Positif Perundingan AS-Iran

Menurut Trump,  kesepakatan untuk mengakhiri perang sedang dirundingkan. Iran masih bersiap pada perubahan sikap AS.

24 Mei 2026 16:30 WIB · Internasional

AFP/STR

Oleh Elsa Emiria Leba

WASHINGTON DC, MINGGU — Upaya bina damai Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah kembali menunjukkan sinyal positif. Ada kemajuan signifikan dalam negosiasi di antara kedua pihak yang selama ini mandek.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, ada kemajuan signifikan dalam perundingan. Dari New Delhi, India, pada Minggu (24/5/2026), ia menyebutkan bahwa pengumuman kesepakatan mengakhiri perang mungkin terjadi pada Minggu sore waktu Washington DC.

Sebelumnya di Washington DC pada Sabtu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa perjanjian damai dengan Iran telah ”sebagian besar dinegosiasikan”, termasuk tentang pembukaan kembali Selat Hormuz. Akan tetapi, ia tidak memberi rincian lebih lanjut, khususnya mengenai program nuklir dan uranium yang diperkaya Iran.

”Nota kesepahaman tentang perdamaian masih menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Iran, dan beberapa negara lain. Aspek dan detail akhir dari kesepakatan tersebut sedang dibahas dan akan segera diumumkan. Selain banyak elemen lain dari perjanjian tersebut, Selat Hormuz akan dibuka,” tulis Trump melalui media sosial.

Trump mengumumkan hal tersebut setelah ia menelepon para pemimpin dan pejabat dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Jordania, dan Bahrain. Secara terpisah, ia menelepon Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Semuanya membahas nota kesepahaman.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada wartawan setelah turun dari pesawat kepresidenan Air Force One di Joint Base Andrews, Maryland, Rabu (20/5/2026), setibanya di Washington, D.C. usai menyampaikan pidato wisuda bagi lulusan Akademi Penjaga Pantai AS. Pada Sabtu (23/5/2026), Trump menyatakan kesepakatan dengan Iran telah “sebagian besar dinegosiasikan”, termasuk usulan pembukaan kembali Selat Hormuz, meski masih menunggu finalisasi.
Seorang aktivis sayap kiri Israel berkostum dengan mengenakan topeng bergambar Presiden Amerika Serikat Donald Trump membawa boneka bayi bergambar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat mengikuti demonstrasi menentang pemerintahan dan perang yang berlangsung di Timur Tengah di HaBima Square, Tel Aviv, Sabtu (16/5/2026).

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menggambarkan draf itu sebagai ”kesepakatan kerangka kerja”. Teheran ingin kesepakatan itu mencakup isu-isu penting untuk mengakhiri perang bagi Iran yang detailnya dibahas dalam jangka waktu 30-60 hari.

”Tren minggu ini mengarah pada pengurangan perselisihan, tetapi masih ada masalah yang perlu dibahas melalui mediator. Kita harus menunggu dan melihat bagaimana situasi ini berakhir dalam tiga atau empat hari ke depan,” ujar Baghaei.

Pakistan berperan sebagai mediator dalam negosiasi tersebut. Sebelumnya, dua pejabat regional dan seorang diplomat menyatakan harapan bahwa keputusan akhir mengenai draf yang disiapkan Pakistan dapat terwujud dalam waktu 48 jam karena kedua belah pihak sedang meninjaunya.

Seorang pejabat kawasan yang tak mau identitasnya diungkap menyebutkan bahwa AS-Iran hampir mencapai kesepakatan. ”Keduanya telah membuat kemajuan signifikan dalam pembicaraan, tetapi perselisihan menit terakhir dapat menggagalkan upaya tersebut,” katanya.

Sudah beberapa kali dalam beberapa minggu terakhir negosiasi AS-Iran disebut hampir mencapai kesepakatan. Progres menjanjikan itu terjadi ketika AS sedang mempertimbangkan serangan baru terhadap Iran.

Perincian kesepakatan

Markas besar Angkatan Bersenjata Pakistan menyatakan, negosiasi telah menghasilkan kemajuan yang ”menggembirakan”. Dua sumber Pakistan menyebutkan, kesepakatan yang sedang dinegosiasikan ”cukup komprehensif untuk mengakhiri perang”.

Draf kesepakatan AS-Iran terdiri atas tiga tahap. Tahap itu mencakup deklarasi resmi pengakhiran perang, penyelesaian krisis di Selat Hormuz, dan persetujuan perpanjangan gencatan senjata untuk membahas program nuklir Iran selama 60 hari.

”Fokus kami pada tahap ini adalah mengakhiri perang di semua lini, termasuk Lebanon. Pencabutan sanksi terhadap Teheran telah secara eksplisit dimasukkan dalam teks dan menjadi posisi tetap kami,” ujar Baghaei kepada kantor berita IRNA.

Para nomaden Bakhtiari, mengenakan pakaian tradisional, memegang senjata saat pertemuan pro-pemerintah di Teheran, Iran, Senin (18/5/2026).

Pembukaan kembali Selat Hormuz tertera dalam draf itu. Axios melaporkan, menurut seorang pejabat AS, Iran setuju untuk membuka selat tanpa memungut biaya tol serta membersihkan ranjau agar kapal bisa lewat dengan bebas selama periode 60 hari tersebut.

Sebaliknya, kantor berita Fars di Iran, Minggu (24/5/2026), menyebutkan, Selat Hormuz tetap berada di bawah pengelolaan Iran berdasarkan draf kesepakatan. Sementara Baqei mengatakan, AS tak ada urusan soal Selat Hormuz.

”Mekanisme harus didefinisikan antara kami dan Oman sebagai negara pantai. Kami sedang berunding dengan organisasi yang relevan. Kami sadar pentingnya jalur pelayaran ini bagi komunitas internasional. Masyarakat internasional tahu bahwa ketidakamanan disebabkan tindakan AS dan rezim zionis,” katanya.

Dalam rancangan kesepakatan disebutkan, AS akan menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Komando Tengah AS (Centcom) menyatakan, pasukan AS telah menghalau lebih dari 100 kapal dagang dan melumpuhkan empat kapal sejak blokade mulai pada 13 April 2026.

Washington juga akan mengeluarkan sejumlah pengecualian sanksi sehingga Teheran bisa menjual minyak secara bebas. Selain itu, AS bakal menyetujui untuk bernegosiasi mengenai pencabutan sanksi atas Iran serta pencairan dana Iran yang dibekukan selama periode 60 hari itu.

Draf itu menjabarkan pula komitmen Iran untuk tidak pernah membuat senjata nuklir. Teheran akan bersedia untuk bernegosiasi tentang penangguhan program pengayaan uraniumnya serta penghapusan persediaan uranium yang sudah diperkaya.

”Iran memberikan komitmen lisan kepada AS melalui para mediator tentang cakupan konsesi yang bersedia mereka berikan terkait penangguhan pengayaan dan penyerahan material nuklir,” kata dua sumber kepada Axios dan The New York Times.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian (kanan) bertemu Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Syed Asim Munir di Tehran, Sabtu (23/5/2026). Kunjungan pejabat militer Pakistan ke Iran bertujuan memperkuat upaya mediasi antara Iran dan Amerika Serikat di tengah negosiasi lanjutan pascagencatan senjata 8 April 2026 yang hingga kini belum menghasilkan kesepakatan permanen maupun pembukaan penuh Selat Hormuz.

Baqaei menyangkal. ”Kami tak membahas perincian isu nuklir di tahap ini. Kami tahu bahwa isu nuklir kami hanya dalih atas dua perang agresif terhadap bangsa Iran. Di saat yang sama, kami juga jadi sasaran serangan ilegal selama perundingan nuklir,” ujarnya.

Iran, lanjutnya, memutuskan memberikan prioritas tahap ini pada isu mendesak. ”Yang mengakhiri perang di semua palagan, termasuk Lebanon,” ujarnya.

Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar mengenai laporan tersebut. Menurut salah satu pejabat AS, Trump sudah mendengarkan berbagai pendapat tentang usulan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Pendapat sekutu di Timur Tengah terbelah karena sebagian tidak yakin apakah perpanjangan itu adalah ide yang baik.

Televisi Al-Manar menyebutkan, kelompok Hizbullah yang berbasis di Lebanon menerima surat dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang menegaskan Teheran tidak akan meninggalkan sekutunya di kawasan itu. Selama perang AS-Israel terhadap Iran berlangsung, Hizbullah terlibat dengan menyerang Israel.

Segera bertemu

Di media sosial, PM Pakistan Shehbaz Sharif menyambut baik upaya Trump untuk memajukan perdamaian di Timur Tengah. Pembicaraan melalui telepon antara Trump dengan para pemimpin dan pejabat di kawasan berlangsung produktif.

”Diskusi tersebut memberikan kesempatan untuk bertukar pandangan tentang situasi regional saat ini dan bagaimana memajukan upaya mewujudkan perdamaian abadi di kawasan ini. Pakistan akan melanjutkan upaya perdamaiannya dan berharap dapat menjadi tuan rumah putaran pembicaraan berikutnya dalam waktu dekat,” ujar Sharif.

Salah satu sumber dari Pakistan mengatakan, jika AS menerima draf itu, pembicaraan lebih lanjut dapat berlangsung setelah libur Idul Adha selesai pada Jumat (29/5/2026). Trump sudah menunda serangan militer baru kepada Iran.

Dia merujuk pada ”negosiasi serius” yang sedang berlangsung serta permintaan sekutu di Timur Tengah. Trump telah berulang kali menetapkan tenggat untuk Teheran lalu mundur.

Sementara Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Besar Asim Munir bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Araghchi, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf, dan pejabat senior lainnya. Kunjungan ini adalah bagian dari upaya memperkuat mediasi antara AS dan Iran.

Seusai pertemuan, Qalibaf menyebutkan, Iran telah membangun kembali aset militer. Ia merupakan salah satu negosiator utama dalam pembicaraan tatap muka AS-Iran di Islamabad, bulan lalu. ”Jika Trump melanjutkan serangan, hasilnya akan lebih menghancurkan dan lebih pahit daripada di awal perang,” tutur Qalibaf.

Sejak 28 Februari 2026, perang AS-Israel terhadap Iran sudah berlangsung selama 12 minggu. Perang itu menewaskan banyak orang penting Teheran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Perang ini memicu penutupan Selat Hormuz, jalur perdagangan seperlima pasokan minyak dan gas global, sehingga harga minyak melonjak. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji