Polisi mengklaim, pelajar korban penembakan oleh polisi di Semarang, Jateng, merupakan anggota geng yang sedang tawuran. Tuduhan itu dibantah sejumlah pihak.
26 Nov 2024 19:08 WIB · Kriminalitas
SEMARANG, KOMPAS — Polisi menyebut G (17), siswa SMKN 4 Semarang, Jawa Tengah, yang ditembak polisi merupakan anggota gangster yang akan tawuran. Sementara itu, tetangga, teman, ataupun guru korban meragukan tuduhan tersebut. Korban dikenal sebagai anak yang baik dan tidak pernah melanggar aturan, termasuk tawuran.
Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Semarang Komisaris Besar Irwan Anwar menyebut, G merupakan anggota gangster dari kelompok Tanggul Pojok. Saat kejadian, Minggu (24/11/2024) dini hari, kelompok itu disebut Irwan akan tawuran dengan kelompok Seroja.
”Saat kedua gangster ini melakukan tawuran, muncul anggota polisi kemudian dilakukan upaya untuk melerai. Namun, ternyata anggota, informasinya, dilakukan penyerangan sehingga dilakukan tindakan tegas,” kata Irwan saat memberikan keterangan di kantornya, Senin (25/11/2024) malam.
Pada Selasa (26/11/2024), polisi menggelar pra-rekonstruksi atas peristiwa pada Minggu dini hari itu. Kegiatan tersebut digelar di tiga titik kawasan Semarang Barat dan Ngaliyan. Menurut polisi, tiga lokasi itu terdiri dari titik kumpul antarkelompok, titik kejar-kejaran antarkelompok, dan titik penembakan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/26/0eb908ee20aa09c83e3b2f2d098394ea-IMG_9220.JPG)
Kami ingin memastikan lokasi dan peristiwa yang terjadi di lapangan seperti apa sehingga kami melaksanakan pra-rekonstruksi. Ini sebagai tahap awal untuk memperkaya pemahaman para penyidik terhadap kejadian yang terjadi. Dengan demikian, apa yang terjadi di lapangan itu betul-betul fakta, tidak ada yang ditutup-tutupi dan transparan,” ujar Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jateng Komisaris Besar Artanto, Selasa.
Dalam pra-rekonstruksi tersebut, polisi menghadirkan empat orang, yakni MPL (20), DP (15), AD (15), dan HRA (15). Mereka disebut sebagai anggota kelompok Seroja dan Tanggul Pojok. Mereka pun telah ditetapkan sebagai tersangka.
G bukan satu-satunya korban dalam kejadian itu, melainkan ada dua korban lain, yaitu S dan A. Keduanya yang juga siswa SMNK 4 Semarang itu selamat, tetapi disebut menderita luka tembak. Kini, keduanya yang sempat dilarikan ke rumah sakit itu menjalani rawat jalan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/26/5f1c4b66-c555-40c7-a224-85ab00caf6bc_jpg.jpg)
Sementara itu, penembak adalah pria berinisial R dengan pangkat ajun inspektur dua (aipda). Aipda R adalah anggota Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Semarang.
Menurut Artanto, Aipda R belum ditahan. Ia sedang diperiksa oleh Pengamanan Internal dari Divisi Profesi dan Pengamanan Polda Jateng. Pemeriksaan itu dilakukan untuk menggali apakah tindakan yang dilakukan Aipda R sudah sesuai prosedur.
”Tentunya, anggota yang melakukan upaya tindakan kepolisian itu harus dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Setiap penggunaan alat dan sebagainya dia harus dapat bertanggung jawab, apakah dia sudah melaksanakan sesuai dengan prosedur standar operasi atau dia melanggar?” ucap Artanto.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/26/7c5e6d34-a817-47fe-879f-522364d988e8_jpg.jpg)
Anggapan bahwa korban merupakan anggota gangster dan melakukan tawuran dibantah oleh tetangga korban. Sri, salah satu tetangga korban, mengatakan, G pendiam dan tidak pernah membuat masalah di lingkungannya.
”Orangnya itu pendiam, jarang keluar rumah. Setahu saya, anaknya sibuk kegiatan di sekolah, ikut paskibra. Kalau keluar rumah, biasanya ya cuma sekolah atau sesekali latihan pencak silat. Sebelum kejadian itu, kan, dia pamit sama neneknya, mau keluar untuk latihan pencak silat,” ujar Sri.
Tak hanya tetangga korban G, tetangga korban A, yakni Wakimin, juga membantah tuduhan yang menyebutkan A merupakan anggota gangster. Selama ini, A disebut Wakimin sering mengikuti kegiatan sosial di kampungnya, salah satunya ronda.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/26/edee3e7b-9cf9-4809-9f99-47bf3ffdd48d_jpg.jpg)
”Anaknya baik, biasa saja. Dia tidak ikut kegiatan macam-macam. Di sini paling ikut remaja masjid. Orang-orang di sini pada kaget semua dia disebut ikut tawuran,” ucap Wakimin yang merupakan salah satu ketua RT di Kecamatan Ngaliyan tersebut.
Menurut Wakimin, di wilayahnya tidak ada kelompok remaja atau gangster seperti yang disebut polisi. Wakimin juga mengaku tidak pernah mengetahui atau mendengar nama-nama kelompok remaja seperti Seroja dan Tanggul Pojok di Ngaliyan.
Di samping para tetangga, teman-teman G, S, dan A juga membantah tuduhan polisi bahwa ketiganya tergabung dalam kelompok geng dan terlibat dalam tawuran. Alfian Arif (17), teman sekelas G, prihatin dengan peristiwa yang menimpa G.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/26/2e051df6-d6fd-4b74-9a05-c1f071c8cc35_jpg.jpg)
”Dia enggak pernah nakal. Selama ini, G kalau main paling cuma ke kafe, angkringan, warung kopi, cuma nge-game saja,” ucap Alfian.
Sementara itu, Zaskia Amrina Rosyada (16) yang merupakan teman sekelas S juga kaget dengan kabar yang menyebut S ikut tawuran. Menurut Zaskia, S dikenal pendiam dan sering melakukan kegiatan berbau keagamaan.
”Orangnya enggak pernah mengajak ke hal-hal negatif, positive vibes banget. Setahu saya, dia suka pengajian, biasanya kalau posting di Instagram suka mengaji, suka hadro. Saya enggak terima teman saya disebut kreak (gangster),” tutur Zaskia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/26/e20f7007-62b7-4f26-9600-21252d77dc18_jpg.jpg)
Wakil Kepala Kesiswaan SMKN 4 Semarang Agus Riswantini terkejut karena tiga siswanya disebut anggota gangster dan ikut tawuran. Selama ini, G, S, dan A dikenal sebagai siswa yang baik dan berprestasi. Ketiganya juga tidak pernah melanggar aturan sekolah.
”Kami tahunya semua siswa kita baik, pembinaan juga sudah dilakukan. Mereka dianggap sebagai kreak, ya saya kaget,” ujar Agus.
Korban dikenal sebagai anak yang baik dan tidak pernah melanggar aturan, termasuk tawuran.
Sebelum menggelar pra-rekonstruksi, sejumlah polisi mendatangi lokasi yang disebut sebagai lokasi penembakan, yakni di depan sebuah minimarket di kawasan Kalipancur, Semarang Barat. Di sekitar kawasan itu, polisi meminta rekaman kamera pemantau (CCTV) kepada sejumlah pihak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/26/296da434233ecb7cd1d7167d6aa6304e-IMG_9187.JPG)
Salah satu yang dimintai rekaman CCTV ialah pengelola sebuah minimarket di Kalipancur. Reza (21), pekerja di minimarket, menyebut, polisi dua kali datang ke tempatnya bekerja untuk meminta rekaman CCTV, yakni pada Minggu pagi dan Senin pagi.
”Saat itu, saya melihat rekamannya. (Dari rekaman itu), saya lihat ada seseorang naik sepeda motor PCX, bawa senjata tajam semacam celurit, terus mencegat orang-orang yang melintas. Jadi, bukan tawuran antarkelompok,” katanya.
Takmir Masjid Al Amin Kalipancur, Amsori (58), menyebut, pihaknya juga sempat dimintai rekaman CCTV oleh polisi. Menurut dia, polisi datang pada Selasa Siang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/26/5d7810e32a1cdf70c03e3baa1956313d-IMG_9196.JPG)
”Orangnya ke sini, bilang dari Polda, mau mengecek CCTV begitu. Tapi, saya tidak mengecek seperti apa isi rekamannya. Sebab, dia bilang kalau dia tidak bisa membuka rekamannya,” ucap Amsori.
Menurut penuturan Raza dan Amsori, di wilayah tersebut pernah terjadi tawuran. Namun, keduanya sama-sama tidak melihat secara langsung kejadian tawuran yang disebut terjadi di wilayah itu pada Minggu dini hari.
”Saya tidak melihat langsung, cuma dengar-dengar katanya ada tawuran. Tapi, kalau ada yang tertembak atau terluka, saya malah tidak tahu, tidak dengar,” ujarnya.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Rini Kustiasih