Skenario Venezuela Sulit Diterapkan di Iran

Serangan ke Iran akan memperkuat posisi pemerintah. Tidak mudah juga menyerbu Teheran.

12 Jan 2026 15:58 WIB · Internasional

AFP

Oleh Kris Mada

WASHINGTON DC, SENIN — Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Iran akan lebih merugikan warga dibandingkan pemerintah. Serangan itu juga belum tentu menghasilkan skenario seperti di Venezuela.

Peringatan kerugian itu disampaikan dua senator AS, Rand Paul dan Mark Warner, secara terpisah. Mereka menyampaikan dalam wawancara yang disiarkan pada Minggu (11/1/2026) malam waktu Washington DC atau Senin pagi WIB.

”Alih-alih melemahkan rezim, serangan militer ke Iran malah membuat orang bersatu melawan musuh dari luar,” kata Paul, senator Republikan, dalam wawancara dengan ABC.

Pendapat serupa disampaikan Warner, senator Demokrat. Serangan ke Iran jelas malah menguntungkan penguasa Iran. Sebab, rakyat semakin diyakinkan bahwa unjuk rasa jadi alat asing untuk melemahkan Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menuding unjuk rasa ditunggangi asing. Pemerintah menyebut, agen-agen asing sengaja membakar masjid dan aneka fasilitas untuk memperburuk keadaan.

Benar atau salah tudingan itu, lalu ditambah ancaman Trump, pemimpin Iran menemukan alasan untuk bertindak keras kepada pengunjuk rasa. ”Pemimpin Iran amat yakin unjuk rasa bagian dari upaya AS dan Israel untuk mengubah rezim. Ini terjadi dalam konteks perang dengan Israel dan AS,” kata diaspora Iran yang juga dosen pada John Hopkins University AS, Vali Nasr, kepada Al Jazeera.

Ia juga menyebut, skenario Venezuela sulit diterapkan pada Iran. ”Kepemimpinan Iran bukan sosok tunggal seperti di Venezuela,” ujarnya.

Ia merujuk pada situasi penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan ancaman Trump ke Iran. Pada 3 Januari 2026, hampir 200 pesawat dan helikopter AS menyerbu Caracas untuk menculik Maduro dan istrinya.

Lalu, pada 11 Januari 2026, Trump mengancam menggunakan opsi keras ke Iran. Sebab, Iran bertindak keras kepada pengunjuk rasa selama dua pekan terakhir.

The Iranian navy ship Naghdi is seen docked at Simon's Town Harbour in Cape Town, South Africa, Friday, Jan. 9, 2026. (AP Photo/Nardus Engelbrecht)

Nasr mengatakan, meski ada pemimpin tertinggi, sistem politik Iran terdiri atas lapisan-lapisan kepemimpinan. Penculikan atau pembunuhan terhadap salah satu tokoh tidak bisa serta-merta melumpuhkan struktur kepemimpinan.

Iran telah berulang kali membuktikan itu pada struktur militernya. Seperti kala AS-Israel menyerang Iran pada Juni 2025, hampir 50 komandan tinggi Iran tewas. Meski demikian, rantai komando tetap berjalan. Sebab, ada lapisan-lapisan pemimpin yang siap mengganti jika lapis atas tidak bisa bertugas karena berbagai alasan.

Nasr tidak cuma menyoroti masalah lapisan kepemimpinan. Ia juga menyoroti perbedaan geografis Caracas dan Teheran. Istana Maduro tidak sampai 12 kilometer dari Laut Karibia. Di perairan itu ada puluhan kapal perang AS.

Sementara Teheran berada 100 kilometer di selatan Laut Kaspia. Di sana tidak ada armada AS.

Armada terdekat AS dengan Iran berjarak lebih dari 1.000 kilometer dan berada di ujung Teluk Persia atau Laut Mediterania. Dengan jarak sejauh itu, sulit bagi AS dan sekutunya menjalankan operasi besar di Teheran seperti dilancarkan ke Caracas. Skala operasi Caracas jauh di atas serangan gabungan AS-Israel ke Iran Juni lalu.

Di sisi lain, ia tak yakin unjuk rasa akan reda dalam waktu dekat. Orang-orang tewas sehingga kemarahan membara di mana-mana. Sementara pemerintah tak punya gambaran menyelesaikan isu ekonomi dan keamanan dalam waktu dekat.

”Isu utamanya adalah apakah para pengunjuk rasa dapat turun ke jalan dalam jumlah yang cukup besar untuk mengalahkan pasukan keamanan. Saya tidak tahu jawabannya karena kita masih berada pada tahap awal protes ini, dan juga karena sangat sulit untuk mendapatkan informasi yang kredibel dari Iran,” ujarnya.

Ia merujuk fakta internet nyaris putus total di Iran sejak Kamis lalu. Dampaknya, informasi sulit disebar. Internet hanya bisa diakses sebagian lembaga pemerintah atau terafiliasi dengan pemerintah.

An Iranian citizen withdraw money from an ATM machine at a Bank Eghtesad Novin, in the capital Tehran on January 7, 2026. Iran's economy has been hit hard by tough international sanctions, with the national currency, the rial, losing more than a third of its value against the US dollar over the past year and inflation in double digits. (Photo by ATTA KENARE / AFP)

Komunikasi

Sementara Trump menyatakan sedang berkomunikasi baik dengan pemerintah dan oposisi Iran. Ia tidak menyebut siapa yang dikontak.

Pernyataan itu disampaikan beberapa jam selepas mengumumkan sedang mengkaji opsi militer terhadap Iran. Sementara Israel siap siaga pada kemungkinan serangan AS ke Iran.

Ancaman Trump dilontarkan di tengah kematian yang terjadi selama unjuk rasa dan kerusuhan. Pemantau HAM Iran yang berkantor di AS, HRANA, mengklaim telah memverifikasi 490 warga sipil dan 48 aparat tewas. Selain itu, hampir 11.000 orang ditangkap. Pemutusan internet membuat verifikasi informasi sulit dilakukan.

Meski demikian, televisi pemerintah menayangkan video sebagian kantong jenazah. Narasinya adalah kantong itu berisi para korban teroris yang memicu kerusuhan. Iran mengumumkan masa berkabung tiga hari mulai Minggu.

Trump mengatakan, berbagai model serangan ke Iran telah dipertimbangkan. Pilihannya antara lain serangan siber, perluasan sanksi, sampai pengiriman perangkat internet satelit. ”Militer sedang mempertimbangkannya, dan kami sedang mempertimbangkan beberapa opsi yang sangat kuat,” kata Trump.

Ia menyebut antara lain berkomunikasi dengan Starlink pimpinan Elon Musk. Layanan internet berbasis satelit dari Starlink diharapkan bisa mengatasi blokade oleh Iran.

Ketua parlemen Iran Mohammad Baagher Qalibaf mengatakan, serangan ke Iran akan memicu pembalasan besar kepada Israel dan seluruh aset AS di kawasan. Sebelumnya, mantan ketua parlemen yang kini jadi anggota Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Lirajani, juga mengatakan hal senada. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji