Label Liga Inggris sebagai kompetisi paling menghibur mulai dipertanyakan. Bagaimana bisa terus menghibur jika jumlah gol dan kualitas permainan terus tergerus?
20 Jan 2026 08:56 WIB · Olahraga
AFP/justin tallis
Hasil tak biasa tersaji di pekan ke-22 Liga Inggris. Tiga tim pemimpin klasemen, yakni Arsenal, Manchester City, dan Aston Villa, kompak tidak mencetak gol. Terakhir kali hal serupa terjadi adalah pada Mei 2018, hampir sewindu lalu. Dari anomali itu, mulai muncul kekhawatiran terhadap kondisi liga.
Jika tim papan atas saja kesulitan mencetak gol, apalagi yang di bawah. Wajar jika tren laga tanpa gol semakin meningkat. Di akhir pekan lalu saja terdapat dua laga yang berakhir dengan skor kacamata, 0-0, yaitu Nottingham Forest versus Arsenal dan Wolverhampton Wanderers lawan Newcastle United.
Menurut data Opta, sebanyak 17 laga berakhir tanpa gol sampai pertengahan musim ini. Angka itu tampak mengkhawatirkan karena dihasilkan hanya dari total 218 laga sejauh ini. Bandingkan dengan musim 2024-25, hanya ada 16 laga tanpa gol dari 380 pertandingan dalam sepanjang musim.
Kekhawatiran itu semakin terbukti dalam statistik lain. Seiring dengan kenaikan jumlah laga tanpa gol, produktivitas gol tim-tim Inggris juga menurun cukup signifikan. Rerata produktivitas di musim ini hanya 2,74 gol per laga. Itu merupakan catatan terendah dalam lima musim terakhir.
Jika diamati lebih lanjut, penurunan produktivitas gol terasa aneh. Sebab, tim-tim Inggris sedang panen mencetak gol dari bola mati. Mereka bisa menghasilkan rerata 0,72 gol per laga dari bola mati, catatan tertinggi sejak 2010, baik melalui tendangan sudut dan bebas maupun lemparan ke dalam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/20/0668a96db43772f29965be24f89b418e-sKEMA_GOL.png)
Semestinya produktivitas keseluruhan tim bisa ikut terdorong. Mereka memiliki senjata lain untuk mencetak gol. Hanya saja, kenyataannya tidak seindah itu. Produktivitas dari permainan terbuka justru menurun karena banyak tim yang mulai ketergantung terhadap eksekusi bola mati.
Sejak musim 2022, rerata gol dari permainan terbuka tidak pernah di bawah dua gol. Musim ini, reratanya hanya 1,72 gol per laga. Liga Inggris pun bagai kembali ke era awal tahun 2000-an, sebelum Manajer Pep Guardiola dan Jurgen Klopp datang membawa sistem bermain modern yang sangat terbuka.
Bola mati sangat diandalkan karena cukup efisien dan tidak terlalu berisiko. Arsenal, pemuncak klasemen, sudah membuktikannya. Mereka bisa menang dengan konsisten mengandalkan gol dari bola mati. Dengan begitu, mereka tidak perlu menyerang habis-habisan dan membuat pertahanan rentan terkena serangan balik.
Sebanyak 30 persen gol Arsenal di liga musim ini berasal dari bola mati, tidak termasuk penalti. Saking ketergantungan, 11 dari 15 kemenangan mereka di liga didapatkan berkat gol pembuka lewat bola mati. Mayoritas gol tim asuhan Manajer Mikel Arteta itu datang dari skema tendangan sudut.
”Tidak ada rahasia. Itu karena latihan, menguasai apa yang Anda lakukan, sama seperti aspek lain dalam permainan. Anda bisa melihat tren di liga, jumlah laga dan gol yang ditentukan dari aspek itu. Bukan hanya kami yang melakukanya. Jadi, kami hanya ingin beradaptasi dan berkembang,” kata Arteta soal bola mati ”Si Meriam”, seperti dikutip situs resmi klub.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/18/2f6a4335ebdd0bffdcd84a6659c52f9a-Britain_Premier_League_Soccer_29_.jpg)
Arsenal terbiasa mengandalkan umpan dengan ayunan ke dalam saat skema tendangan sudut. Mereka akan menumpuk banyak pemain di depan gawang untuk mengerumuni kiper lawan. Skema itu terbukti efektif karena sering tidak dihitung pelanggaran oleh wasit. Tim-tim lain pun mengikuti skema serupa.
Sekitar satu setengah dekade lalu, mantan pemain Stoke City, Rory Delap, memperkenalkan ciri khasnya dengan lemparan ke dalam yang sangat jauh. Dia biasanya mengambil handuk terlebih dulu untuk mengelap bola, lalu melempar bola sejauh mungkin hingga ke kotak penalti lawan.
Lemparan yang mirip-mirip dengan konsep tendangan sudut itu kembali ngetren di musim ini. Banyak tim, terutama Brentford dan Leeds United, yang mencari peluang lewat lemparan spekulatif tersebut. Harapannya, terjadi kemelut dan situasi kacau di kotak penalti yang bisa dimanfaatkan.
Menurut Delap, tren itu kembali karena ada peluang besar. ”Pep telah mengubah bagaimana tim bermain. Jika Anda melihat di akademi, semua tim akan bermain dari belakang dan ingin pemain berteknik bagus. Konsekuensinya, banyak pemain tidak bisa bertahan dari umpan panjang ataupun bola mati,” ujar Delap dalam siniar ”On The Grass”, Oktober lalu.
Percobaan lemparan panjang meningkat drastis, dari 1,5 kali per laga musim lalu menjadi 3,97 kali di musim ini. Leeds menjadi tim yang paling efektif memanfaatkan skema itu. Mereka menciptakan 28 tembakan hanya dari 75 lemparan jauh. Nilai tembakan itu bernilai total 3,46 xG (ekspektasi gol).
Seiring dengan fokus berlebih terhadap tendangan sudut dan lemparan jauh, waktu yang terbuang pun semakin banyak. Eksekutor bola mati akan melakukan berbagai rutin sebelum mengambil ancang-ancang, sambil menunggu para pemain lain berkumpul di kotak penalti lawan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/18/4458f49dbd1a2ce36a99578ea732d1d7-wires_photo_2026_01_18T040836.533.jpg)
Hasilnya, menurut ESPN, waktu bermain efektif di lapangan Liga Inggris tinggal 55 menit per laga. Itu terus menurun dari musim 2024-25 (56,6 menit) dan 2023-24 (58,1 menit). Saat waktu bermain merosot tajam, wajar jika peluang dan gol juga ikut tergerus. Semua saling berhubungan.
Pelatih spesialis lemparan ke dalam yang pernah bekerja lima tahun di Liverpool, yakni Thomas Gronnemark, memberikan perspektif lain soal korelasi bola mati dengan permainan terbuka. Menurut dia, selama bekerja di bawah Klopp, ada alasan Liverpool tidak pernah menciptakan satu gol pun dari lemparan jauh.
Itu karena membutuhkan banyak percobaan lemparan jauh untuk menghasilkan satu gol. Mereka perlu menghabiskan banyak waktu untuk itu. ”Saya pikir Klopp merasa bahwa skema itu akan menghentikan permainan menyerang Liverpool yang cepat,” kata Gronnemark kepada The Athletic.
Baginya, dengan tren saat ini, hanya masalah waktu sampai lemparan ke jauh akan lebih diperhitungkan lagi. ”Jika setiap tim melakukan delapan sampai 12 lemparan jauh setiap laga, kita akan mengubah permainan. Kita harus mempertimbangkan lagi aspek hiburan (di sepak bola),” ucap Gronnemark, yang baru saja direkrut Arsenal.
Para penikmat sepak bola mencintai permainan ini karena senang dengan intensitas yang terjadi dalam pertarungan tanpa henti di lapangan. Pada akhirnya ketergantungan terhadap bola mati membuat sepak bola terlalu banyak berhenti sehingga mulai terasa seperti american football.
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto