Sepak bola menyajikan kesetaraan. Hal itu terwujud dalam skuad LKG BRI Indonesia. Berlaga di Piala Gothia 2025 buah dari pengorbanan mereka.
12 Jul 2025 18:50 WIB · Olahraga
Waktu menunjukkan pukul 12.35 di jam dinding Gamlestadsskolan yang berada di kawasan Larsmassetorg, kota Gothenburg, Swedia. Sebuah ruang kelas berukuran 8 × 8 meter di sekolah itu akan menjadi ”rumah” bagi 18 putra terbaik Indonesia yang bakal membela nama ”Merah Putih” di kategori Boys15 (B15) Piala Gothia 2025.
Mereka adalah para pemain LKG BRI Indonesia. Kualitas dan kemampuan terbaik telah mereka tunjukkan selama 15 pekan Liga Kompas U-14 Powered by BRI musim 2024-2025.
Seperti pada 11 edisi Liga Kompas U-14 sebelumnya sejak 2010, pemain-pemain terbaik dari kompetisi usia dini paling prestisius di Indonesia membela Merah Putih di ajang Piala Gothia yang disebut ”Piala Dunia Remaja”.
Meskipun Liga Kompas U-14 diikuti oleh sekolah sepak bola asal Jakarta dan sekitarnya, para pemain tidak terbatas dari kota-kota satelit Ibu Kota, tetapi juga Pulau Jawa. Tim LKG BRI juga dihiasi remaja-remaja asal Ternate, Maluku Utara, dan Medan, Sumatera Utara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/12/ed5c2dacb8cc345bca91d0934706c2d5-IMG_5972.jpeg)
M Fauzan Alhadar, penyerang sayap asal Villa 2000, menjadi sosok yang paling mudah dikenal dibandingkan 17 rekan setimnya. Rambutnya ikal, kulit gelap, dan garis mukanya seperti kebanyakan anak-anak di kawasan timur Indonesia.
Mimpi untuk menjadi pesepak bola profesional yang membuat Fauzan merantau ke Pulau Jawa sejak berusia sembilan tahun. Malang, Jawa Timur, hingga Tangerang Selatan, Banten, adalah dua kota yang paling lama disinggahinya demi merangkai impian sebagai bintang lapangan hijau di masa depan.
Berjauhan dengan orangtua bukan halangan bagi Fauzan. Selama mengikuti Liga Kompas U-14, ia menetap di rumah Pelatih Villa 2000 Arta Wijaya atau akrab disapa coach Taul. Dalam urusan akademik, coach Taul juga menjadi wali bagi Fauzan.
Pulang dari (Piala) Gothia, dia harus lebih baik dan bisa menjadi panutan bagi teman-teman di tim.
Di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (11/7/2025) sore, Fauzan diantar oleh Taul dan pamannya, Umar. Fauzan menjadi satu-satunya pemain yang tidak didampingi keluarga kandungnya sebelum menuju pintu keberangkatan internasional Bandara Soetta.
”Saya anak pertama di keluarga yang ke luar negeri, Bang,” kata Fauzan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/09/dd8102e95c7cdbf8cbf56cfcdfbdda4e-FAK_7173.jpg)
”Pasti ada sedihnya juga (melihat teman-teman dilepas orangtua). Tetapi, ini bagian pengorbanan yang sudah saya mulai sejak pergi dari Ternate,” ujarnya kemudian.
Ketika disinggung ambisi di Piala Gothia, ia menjawab, ”Mau main sebaik mungkin. Bawa tim juara.”
Taul dan Umar melepas Fauzan dengan pelukan. Keduanya tidak bisa menyembunyikan perasaan haru dan bangga.
”Saya berdoa semoga Fauzan bisa raih prestasi terbaik di Swedia. Pulang dari (Piala) Gothia, dia harus lebih baik dan bisa menjadi panutan bagi teman-teman di tim,” tutur Taul.
Perwakilan dari pulau paling barat Indonesia, Sumatera, hadir pada diri gelandang serang Oksal Kristian Gani. Besar di Medan dari ayah asal Medan dan ibu dari Tasikmalaya (Jawa Barat) memberikan warna bagi penampilan Oksal di lapangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/12/1987869a2e938ab2a80b2aba2fdc3dff-IMG_5959.jpeg)
Sebagai pemain, ia membawa darah Medan yang tampil sangat ngotot dan bekerja keras meski acap kali masih emosional. Di luar lapangan, ia membawa identitias priangan yang ceria dan bersahabat. Karakter itu menjadi modal Oksal dipercaya sebagai kapten tim.
Menjalin hubungan jarak jauh dengan orangtua dan seorang adiknya tidak masalah bagi Oksal. Terdaftar sebagai pemain Cipta Cendikia, Oks sudah masuk di asrama Cipta Cendikia sejak berusia 11 tahun.
Didampingi sang ibu di Bandara Soetta, Oksal berambisi meraih prestasi lebih baik dari pengalamannya berlaga di Piala Gothia edisi 2022. Kala itu, ia membawa pulang medali perak dari kategori Boys12.
”Saya ingin meraih prestasi lebih baik di Piala Gothia kedua ini,” kata Oksalpenuh tekad.
”Semoga kami bisa tampil konsisten serta segalanya berjalan lancar untuk saya dan teman-teman setim,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/18/9454adbac3b046a3f7766a5bdf5f5c26-IMG_3852.jpeg)
Selain wajah ”Indonesia mini” yang terwakili dari Fauzan dan Oksal, latar belakang keluarga hadir di skuad ”Laskar Kera Sakti”. Ada Abdalrahman Yakoub Abd Alkaloti yang merupakan cucu Gubernur DKI Jakarta periode 1977-1982 Tjokropranolo, hingga sejumlah anak yang bertekad memperbaiki takdir keluarganya melalui sepak bola.
Hal itu salah satunya tergambar dari kisah Fikri Pratama Gunawan, kiper yang berasal dari Cimahi, Jawa Barat. Pergi berwisata dengan naik pesawat tidak pernah terlintas oleh Fikri. Ayah dan ibunya ialah pekerja lepas di kawasan Pasar Cimahi.
Dalam momen keberangkatan menuju Swedia, Fikri hanya didampingi ibunya. Mereka bertolak dari Cimahi menggunakan bus menuju Bandara Soetta.
”Ayah tidak bisa ikut. Lagi banyak pekerjaan,” kata Fikri, kiper terbaik Liga Kompas U-14 2024-2025.
Karena tidak punya sanak famili atau kerabat di sekitar Jakarta, tak jarang Fikri bolak-balik Ciracas—lokasi latihan LKG BRI Indonesia di Stadion Ciracas (Jakarta Timur)—ke Cimahi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/12/522b25f85438bf5aee2737a7516839b8-IMG_5966.jpeg)
Meskipun menempuh perjalanan panjang demi latihan selama dua jam tiga kali sepekan sejak April lalu, Fikri tidak pernah terlihat kelelahan. Ia tetap semangat mengenyam sesi latihan khusus untuk dua penjaga gawang.
Perjalanan antarprovinsi untuk latihan juga dialami penyerang sayap, Rayina Pamungkas. Ia menempuh perjalanan dari Sukabumi, Jawa Barat.
Kemauan keras itu berjalan seimbang dengan bakat alami Rayina. Gelar pencetak gol terbanyak sejumlah kompetisi remaja, termasuk Liga Kompas U-14 2024-2025, adalah bukti potensi besar Rayina.
Berbeda dengan rekan setimnya yang sudah menggeluti sepak bola sejak anak-anak, Rayina baru latihan di sekolah sepak bola dua tahun silam.
”Dulu saya main olahraga apa saja. Belum fokus ke satu olahraga. Dua tahun lalu baru ingin fokus main bola,” ucap Rayina.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/04/bb158781337006985f57c68e59ef54c1-20250504YGA25.jpg)
Bekal ketajaman di Tanah Air ingin dilanjutkannya di Swedia. ”Lawan tentu jauh lebih sulit. Saya akan berusaha,” katanya.
Warna di dalam skuad LKG BRI Indonesia menunjukkan sistem egaliter Liga Kompas U-14 yang konsisten berjalan sejak 2010. Transparansi penilaian pemain melalui analisis data dan pantauan pemandu bakat membentuk susunan pemain yang sangat beragam, baik asal daerah maupun latar belakang keluarga.
Skuad LKG BRI Indonesia sekali lagi membuktikan bahwa sepak bola adalah gantungan mimpi anak-anak seluruh Indonesia. Mereka rela berkorban di usia belia demi menggapai prestasi di lapangan hijau.
Jadi, mereka hanya butuh kesempatan berkompetisi dan fasilitas penunjang untuk kian mengasah kemampuan mereka setelah berlaga di Piala Gothia. Hal itu hanya bisa diberikan melalui keberpihakan pemangku kepentingan sepak bola.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra