”Slow Living”, Strategi Bertahan Hidup Generasi Prekariat

Bagi pekerja urban yang dihantui upah kecil hingga PHK, ”slow living” dan keseimbangan hidup berasa utopia. Namun, dalam bingkai yang tepat, bisa menjadi solusi.

09 Jan 2026 15:00 WIB · Kolom

Kompas/Bahana Patria Gupta

Oleh Neli Triana

Pekan-pekan pertama kembali bekerja setelah musim libur panjang menjelang tahun baru sungguh langsung sibuk. Di tengah tuntutan tenggat pekerjaan, urusan rumah tetap tidak boleh terabaikan. Berangkat naik kendaraan pribadi ataupun angkutan umum sama-sama diburu waktu. Slow living, mindfulness, work life balance? Jangan-jangan semua itu memang hanya seindah unggahan di Instagram.

Memang ada kabar baik kenaikan upah minimum, tapi bagi para pekerja urban, besaran upah tetap tidak dapat mengikuti lonjakan biaya hidup layak. Banyak di antara pekerja yang terus dag-dig-dug terancam pemutusan hubungan kerja (PHK). Sejumlah kenalan dan kerabat yang baru lulus kuliah atau yang usia 30-an tahun masih saja ada yang kirim-kirim CV dan lamaran kerja. Setiap hari, jantung berdebar saat mengecek e-mail atau melihat pesan Whatsapp. Berharap kabar gembira, yang muncul malah kecewa.

Kelompok pekerja dan mereka yang telah masuk usia pekerja di Indonesia kini memang susah merasa tenang. Fenomena yang terjadi setidaknya dari 1-2 tahun lalu adalah kerasnya tantangan bagi kelas pekerja, terutama bagi generasi yang lebih muda usia. Gaya hidup melek kesehatan mental atau keseimbangan menikmati hidup dan bekerja dihadapkan pada realitas tuntutan menghasilkan uang demi bertahan hidup.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Februari 2025, jumlah penganggur di Indonesia mencapai 7,28 juta orang. Angka itu menunjuk pada peningkatan 83.450 orang menganggur dibandingkan tahun sebelumnya. Penyumbang tingkat pengangguran tertinggi berasal dari kelompok usia 15-24 tahun, dengan satu dari enam anak muda di Indonesia menganggur.

Antrean pencari kerja saat menunggu giliran masuk ke dalam toko untuk melakukan wawancara di salah satu toko elektronik di Jalan Lenteng Agung, Jakarta, Jumat, 4 Juli 2025.
Pencari kerja memindai kode batang untuk mengisi biodata di salah satu stan perusahaan di Gelanggang Remaja Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (16/9/2025).
Warga yang terdaftar sebagai masyarakat miskin datang langsung untuk menerima bantuan tunai dengan menumpang becak di Kantor Pos Pemuda, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (30/12/2025).

Dari sumber yang sama disebut ada lebih dari 1 juta lulusan perguruan tinggi tak bekerja pada awal tahun lalu. Kelompok berpendidikan, tetapi menganggur itu disebabkan pilihan menunda bekerja karena tawaran atau lowongan yang ada hanya mampu menggaji mereka di bawah ekspektasi.

Di luar itu, ancaman PHK mengepung mereka yang telah bekerja, bahkan bagi karyawan tetap dan telah bertahun-tahun menekuni bidang tertentu. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 79.302 pekerja di-PHK dari Januari hingga November 2025. Angka ini lebih tinggi dari hampir 68.000 kasus di periode sama tahun 2024.

Lagi-lagi jadi berpikir, di tengah situasi seperti sekarang, apakah kaum muda—juga pekerja pada umumnya—masih bisa mengejar hidup berkeseimbangan, bahkan menikmati hidup lamban setiap detiknya tanpa dihantui nanti siang makan apa, apalagi tenggat bayar tagihan?

Carl Honoré dalam bukunya, In Praise of Slowness: Challenging the Cult of Speed (2004), berbicara tentang gerakan hidup lamban ini sebagai perlawanan terhadap pemuja kultus kecepatan dalam masyarakat modern. Filosofinya sederhana saja, yaitu keseimbangan.

Berkaca pada filosofi Honoré, hidup produktif diartikan tidak selalu harus cepat dan multitasking, mengerjakan banyak hal pada waktu hampir bersamaan dengan bantuan teknologi. Menurut Honoré, semua orang bisa menemukan energi dan hidup menjadi lebih hidup justru dengan mengurangi laju kita menjalaninya. Tak semua hal perlu dikejar, kira-kira begitu kata Honoré.

Namun, kembali ke pertanyaan sebelumnya, kalau pemenuhan kebutuhan sehari-hari terus mengejar, apakah filosofi itu tetap bisa dihidupi dan dipraktikkan?

Memang tidak dapat dipahami sesederhana itu. Akan tetapi, ketika direnungkan ulang, di tengah krisis, slow living dapat dibingkai ulang sebagai strategi alternatif untuk tetap produktif. Bukan pelan karena butuh waktu untuk memilih, tapi lamban karena dituntut memunculkan kreativitas baru sebagai strategi bertahan hidup. Dari kondisi tersebut, tanpa direncanakan muncul filosofi slow living yang berbeda.

Mungkin inilah yang disebut Guy Standing dalam The Precariat: The New Dangerous Class (2011) sebagai kondisi prekaritas. Kondisi kehidupan yang tidak stabil, keluar masuk dari pekerjaan sementara, tanpa jaminan sosial. Ibaratnya, makan nasi dengan sayur saja sudah menjadi kemewahan. Cerita menyantap nasi dengan taburan penyedap rasa jadi hal lumrah di sebagian kalangan masyarakat kita.

Standing menggambarkan prekariat sebagai kelas baru yang terbentuk dari kebijakan neoliberal. Orang-orang yang hidup dalam ketidakpastian. Mereka manusia biasa yang kini jumlahnya terus bertambah dan berusaha bertahan di sistem ekonomi yang tidak lagi menjanjikan stabilitas.

Sumber cuan itu memang tidak selalu ada dan kedatangannya tidak bisa diburu. Mereka mau tidak mau harus banyak bersabar dan membiasakan merasakan hidup berjalan lamban dari situasi buruk menjadi sedikit lebih baik untuk kemudian terempas lebih buruk dan terus berulang siklusnya.

Definisi ulang

Pada konteks sekarang, filosofi Honoré perlu didefinisikan ulang. Bagaimana berstrategi tanpa terburu-buru menentukan langkah walau berkejaran dengan tuntutan hidup layak. Bagaimana menepis kalut dan memantapkan pikiran untuk bisa menentukan langkah kecil menuju memenangi pertempuran ini.

Beberapa lembaga atau agensi yang berfokus mendampingi angkatan muda menapaki dunia kerja menyarankan bahwa langkah kecil pertama itu bisa dengan menyadari bahwa mengandalkan satu sumber pendapatan di era sekarang adalah risiko besar. Untuk itu, para pekerja membutuhkan diversifikasi keterampilan dan membangun karier portofolio. Jalan ini berarti cara untuk mengekspresikan banyak minat dan keterampilan, memaksimalkan potensi penghasilan, dan tentunya mengontrol waktu dan kebebasan karier.

Meskipun didorong menguasai keterampilan-keterampilan berbeda, kaum muda ataupun pekerja pada umumnya perlu mengetahui dengan pasti minatnya. Jadi, bukan asal mengikuti tren, seperti ingin menjadi kreator konten atau pemengaruh, tetapi tidak jelas konten apa. Kebutuhan pasar yang kini cukup banyak dicari adalah kemampuan penguasaan di bidang digital dan teknologi. Selain itu, ada tren pekerjaan hijau atau pekerjaan layak berkenaan dengan melestarikan atau memulihkan lingkungan, mendukung ekonomi berkelanjutan, serta mengurangi emisi gas rumah kaca dan polusi.

Walau saat ini begitu banyak yang menjalaninya, pekerja gig (fleksibel, jangka pendek, berbasis aplikasi) dan pekerja independen (freelancer) tetap masuk kategori bukan pilihan ideal. Tapi, selalu bisa menjadi bantalan di saat sistem formal belum mampu menyerap tenaga kerja.

Menyiasati sistem ekonomi formal yang belum responsif, slow living bisa pula diartikan kembali ke komunitas. Bisa mencoba bercocok tanam di lahan terbatas, bahkan hanya di pot-pot di teras rumah, berbagi keterampilan dengan teman, atau memilih berbagi ruang untuk tempat tinggal lebih layak. Ini dapat menjadi cara temporer atau permanen untuk menekan biaya dan memperkuat sistem dukungan hidup.

Di sisi lain, praktik mindfulness atau kesadaran penuh atas momen saat ini untuk situasi krisis berarti lebih bersifat sebagai mekanisme koping. Tidak lagi menakar kesuksesan dari gelar akademis ataupun besar gaji, tapi tentang bersiasat untuk hidup lebih layak dan berkelanjutan. Menghayati hidup dengan menghindari atau mengurangi utang dan inflasi gaya hidup, yaitu kecenderungan pengeluaran meningkat seiring naiknya pendapatan disarankan dihindari. Sebab, terkadang uang cekak bukan masalah, justru banyak uang bisa jadi bertambah banyak pula masalahnya.

Warga duduk di atas tikar saat menunggu pergantian tahun baru di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Rabu (31/12/2025). Pergantian Tahun Baru 2026 digelar meriah di Bundaran HI, Jakarta. Pergantian tahun baru kali ini dirayakan tanpa pesta kembang api untuk berbela rasa dengan para korban bencana di Sumatera. Walau demikian, Pemerintah Jakarta menyediakan panggung hiburan untuk merayakan tahun baru di sejumlah titik di Jakarta. Selain itu, pertunjukan drone pun mewarnai malam pergantian Tahun Baru 2026.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
31-12-2025

Bukan solusi sistemik

Namun, perlu digarisbawahi slow living tidak bisa dan tidak seharusnya dijadikan solusi sistemik untuk masalah struktural seperti PHK massal dan kurangnya lapangan kerja. Jangan terjebak untuk ikut menyalahkan, yaitu seolah-olah pengangguran adalah masalah individu yang bisa diselesaikan dengan mengatur pola pikir.

Mungkin memang ada beberapa kasus, tetapi tidak bisa asal stempel bahwa semua anak muda manja dan pilih-pilih pekerjaan dan yang tua tidak mau berkembang atau enggan belajar keterampilan baru. Sebab, cekaknya lapangan kerja, kaum muda terdidik tidak terwadahi, PHK massal, sampai isu upah yang selalu tak sebanding dengan tuntutan biaya hidup ini juga bagian dari masalah kebijakan ekonomi, politik, dan ketimpangan struktural.

Jadi, apa arti slow living untuk pekerja urban saat ini?

Dalam konteks kekinian, tren tersebut menjadi bagian dari strategi bertahan. Dalam arti lain, berani berhenti sejenak untuk bisa berpikir cermat dan cerdas mengatur ritme agar tidak tumbang di tengah jalan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Neli Triana
 | 

Editor:

Gesit Ariyanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji