2026, Beranjak Menepis Relasi ”Toxic” Kota dan Warganya

Tahun 2026 hampir pasti tidak akan membuat kota ini, negara ini, berubah sempurna. Namun, sebagai warga kita dapat mengikis ”toxic” itu menjadi relasi lebih sehat.

27 Des 2025 13:00 WIB · Kolom

Ilustrasi

Oleh Neli Triana

Tahun mendekati berganti. Melihat lagi perjalanan waktu, ternyata begitu banyak kejadian di sepanjang 12 bulan terakhir. Salah satu yang membuat banyak orang tergoda ikut adalah tren kabur saja dulu dari situasi negara yang mengusik kenyamanan. Kabur juga dari kota-kotanya yang kacau dengan sarana-prasarana publik disiapkan setengah hati.

Namun, tiba-tiba terkekeh sendiri ketika mengingat diarahkan Google Maps melewati jalan pintas demi menghindari macet. Kadang hanya cukup untuk papasan dua sepeda motor, kadang hanya pas sebadan mobil kecil. ”Kok, bisa ketemu jalan-jalan tikus ini. Gila!” Belum lagi banyaknya pilihan makanan termurah di sudut gang sampai yang berkelas di mal atau hotel berbintang dengan akses 24 jam.

Hidup di kota ini menyesakkan tapi sekaligus ternyata sangat nyaman. Rasa-rasanya memang harus kuat fisik dan mental menghadapi berbagai ketimpangannya. Namun, ada banyak jaring resmi maupun tak resmi yang tersebar menopang kita, mulai dari obat-obatan murah di toko kelontong, laundry kiloan, hingga warteg 24 jam.

Relasi warga dengan kotanya memang unik juga rumit. Kota menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ditemukan di tempat asal sebagian besar warganya, yaitu kesempatan, anonimitas, dan kebebasan untuk menjadi versi diri yang berbeda. Seiring waktu, kenyataan yang lebih kompleks menohok keras. Macet menguras energi, banjir, polusi, persoalan sampah, hak atas hunian layak, dan sederet kebijakan publik yang terasa jauh dari kebutuhan riil warga.

Suasana salah satu ruas jalan yang macet di Makassar, Sulsel, Selasa, 17 September 2024. Angkutan bus diharapkan bisa menjadi solusi kemacetan.
Penumpang antre untuk melakukan ”check in” di Bandara Rembele, Bener Meriah, Aceh, Jumat (19/12/2025). Sejak akses darat menuju Bener Meriah dan Aceh Tengah terputus akibat banjir dan tanah longsor, Bandara Rembele menjadi tumpuan warga untuk bermobilitas dan penyaluran logistik ke wilayah terdampak. Bandara ini melayani penerbangan komersial ke Bandara Internasional Kualanamu, Medan, dan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh.
Pengendara mencoba menerobos banjir di Jalan Dr Mansyur, Kota Medan, Sumatera Utara, Sabtu (19/11/2022). Hujan lebat pada Jumat malam membuat sejumlah permukiman dan ruas jalan di Kota Medan tergenang banjir.
Salah seorang tukang pikul air tengah mendistribusikan air ke warga di Muara Angke, Pluit, Jakarta Utara, Jumat (23/8/2019). Air bersih sampai saat ini masih menjadi barang mahal di sejumlah tempat di Jakarta.

Ditempa begitu banyak persoalan, anehnya kita semua memilih tetap di sini. Apakah karena begitu terbiasa dengan ”kekerasan” kota sehingga justru kita menjadi kebas tak lagi mampu merasa, tak lagi mampu melihat dan memilih kehidupan lain yang lebih baik? Di sisi lain, jangan-jangan kita betah karena selalu ada ruang dan tempat cukup nyaman, walau sekadar memenuhi batas standar minimal, yang disediakan oleh kota.

Pendapat Yi-Fu Tuan, geografer humanis, dalam bukunya, Space and Place: The Perspective of Experience (1977), mungkin membantu menjelaskan relasi kota dan warganya. Tuan membedakan antara space dan place. Ruang adalah sesuatu yang abstrak, geometris, dan netral. Tempat adalah ruang yang memiliki makna yang terbentuk berkat pengalaman manusia.

Ketika pertama kali tiba, kota adalah lautan asing yang menakutkan. Jalanannya terlalu ramai, orang-orangnya terlalu cepat, sistemnya terlalu kompleks. Dengan caranya yang mungkin brutal, kota memaksa kita cepat memahami cara untuk hidup di dalamnya. Kita sekarang tahu persis harus masuk di rangkaian kereta ke berapa agar ketika turun di stasiun tujuan langsung menemukan tangga ke pintu keluar. Kita hafal jam-jam ketika jalan protokol harus dihindari.

Mimpi dan memori

Rujukan klasik lain, Invisible Cities (1972) karya Italo Calvino, membuat kita tahu bahwa kota tak terbatas hanya bangunan fisik. Calvino menulis tentang orang-orang datang dengan mimpi untuk mewujudkannya di kota. Hasilnya, memang nyaris selalu ada ruang bagi setiap orang. Ada momen ketika kita menyadari telah menjadi orang kota. Tak salah jika ada rasa asing ketika pulang kampung.

Doreen Massey dalam esainya, ”A Global Sense of Place”, berargumen bahwa kota adalah hasil dari interaksi antara kita dengan orang-orang yang kita temui. Juga dengan ruang yang kita tempati dan waktu yang kita habiskan. Identitas kota tidak bisa dipisahkan dari identitas kita sebagai penghuninya.

Mendukung Massey, Goran Erfani, dalam artikelnya, ”Reconceptualising Sense of Place” (2022), mengembangkan pemahaman ini dengan mengusulkan kerangka tiga dimensi, yaitu interrelasi antara individu, komunitas, dan tempat. Kerangka Erfani ini makin relevan di era digital dan bisa dikatakan mendukung konsep space of flows dari Manuel Castells dalam The Rise of the Network Society (1996), sebuah logika spasial baru yang mendominasi masyarakat jaringan.

Di kota kontemporer, kita hidup dalam dua ruang sekaligus. Secara fisik, kita masih berada di Jakarta tetapi secara digital juga berada dalam ruang aliran global lewat media sosial, rapat dengan klien di negara berbeda, pesan makanan lewat aplikasi. Kita ada di sini, tetapi juga di mana-mana. Kita terikat pada tempat, tetapi juga mengalir dalam jaringan.

Castells mengingatkan bahwa elite global hidup dalam space of flows yang kosmopolitan, mobile, dan tidak terikat pada lokalitas tertentu. Sementara mayoritas warga masih hidup dalam space of places—kehidupan mereka berakar pada tempat, pada kultur lokal, pada sejarah spesifik kota mereka. Ketimpangan ini menciptakan segregasi baru, bukan hanya segregasi spasial (kaya-miskin, utara-selatan), melainkan juga segregasi digital. Ada jurang di antara mereka yang bisa mengakses dan memanfaatkan ruang aliran global dengan mereka yang tetap terjebak dalam keterbatasan lokalitas fisik.

Setiap melihat Jakarta, Surabaya, Bandung, kota mana saja, ada ruang fisik yang macet, banjir, dan penuh masalah. Namun, ada kota digital yang cair, terhubung. Kota telah menjadi persimpangan berlapis antara tempat dan aliran, lokalitas dan globalitas, akar dan mobilitas, serta komunitas fisik dan virtual.

Karena peduli

Tarik-menarik antara ruang sebagai tempat dan ruang sebagai aliran tersebut turut membuka banyak hal. Informasi tentang kebijakan pembangunan yang lebih mementingkan prestige daripada kebutuhan warga mengalir dari mana-mana dan diketahui oleh siapa saja. Lagi-lagi tak salah jika kondisi tersebut membuat kaum urban makin kecewa dengan kota-kotanya, dengan negaranya.

Kita marah. Kita mengeluh di media sosial, di grup Whatsapp keluarga atau teman-teman. Membuat meme atau lelucon gelap soal pemerintah dan pejabat yang tidak pernah belajar, yang tak tahu diri.

Namun, kemarahan ini, sejatinya, adalah bentuk lain dari rasa sayang, rasa cinta. Seperti dalam hubungan personal, kita tidak akan marah pada hal yang tidak penting bagi kita. Kita marah karena kita peduli. Kita menuntut karena telah menginvestasikan waktu, tenaga, emosi, dan harapan.

Henri Lefebvre dalam konsepnya tentang hak atas kota menekankan bahwa warga kota memiliki hak untuk tidak hanya menempati, tetapi juga membentuk dan menentukan arah kota. Namun, hak ini sering kali terabaikan dalam proses pembangunan yang top-down. Warga menjadi obyek, bukan subyek. Kota dibangun untuk investor, bukan untuk penghuninya.

Di sinilah paradoks relasi kita dengan kota. Kita mencintainya, menemukan arti hidup di dalamnya, tetapi semua itu tidak selalu berbalas seperti yang kita mau.

Layak diperjuangkan

Lalu kenapa kita tetap bertahan di sini?

Jawaban sederhananya, untuk pindah butuh akses modal uang sampai keahlian yang tak semua orang memilikinya. Jawaban lain lebih kompleks, yaitu karena kita sudah tak terpisahkan dari kota ini. Meninggalkan kota berarti meninggalkan sebagian dari diri kita. Tidak semua orang siap dengan ini bahkan ketika dijanjikan hal yang berkali-kali lebih baik di luar sana.

Seiring masa perenungan menemukan resolusi Tahun Baru, menyadari telanjur sayang dan sulit meninggalkan kota juga memunculkan kesadaran baru. Relasi kuat dengan kota turut menuntut pula tanggung jawab yang lebih baik dari kaum urban. Bagaimana menjadi warga yang lebih tidak mudah pasrah terhadap ketidakadilan urban. Memanfaatkan teknologi digital, setiap orang dapat mengambil peran aktif dalam partisipasi publik sesuai kemampuannya. Mendesak transparansi kebijakan, vokal mengawal proses pembangunan.

Tahun 2026 hampir pasti tidak akan membuat kota ini, negara ini, tiba-tiba berubah sempurna. Namun, hubungan kita dengan kota bisa menjadi lebih sehat berdasarkan komitmen untuk terus memperbaiki, sedikit demi sedikit, dari posisi kita masing-masing. Jangan mau menjadi warga ”sakit” yang membiarkan diri didera ”kekerasan”. Jangan mau dipaksa diam dengan iming-iming keselamatan semu dari pembuat kebijakan dan penegak aturan yang berkhianat.

Dalam era digital ini, kita punya kesempatan melanjutkan hidup dalam space of places sembari memanfaatkan space of flows untuk menciptakan perubahan yang lebih luas dan terkoneksi.

Dengan segala kekacauannya, kota yang tidak sempurna ini adalah rumah kita bersama. Mungkin logika dan hati kita belum sepenuhnya bisa diyakinkan bahwa ada perasaan sayang mendalam terhadap kota ini. Namun, selama ada kenyamanan di sana, maka ruang dan tempat ini tetap layak diperjuangkan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Neli Triana
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan