Soal Iklim, Anak-anak Menunggu Bukti Cinta Orangtua

Jika cinta adalah bentuk perlindungan tertinggi, maka tak ada bukti cinta yang lebih nyata selain menjaga masa depan Bumi, tempat anak-anak kita lahir dan tumbuh.

14 Mei 2025 07:00 WIB · Opini

Oleh Ahmad Arif

Pada tahun 2050, anak-anak yang lahir tahun ini dan saat itu memasuki usia remaja bakal mengalami Bumi yang memanas lebih dari 2,5 derajat celsius dibandingkan era pra-industri. Pada saat itu, dunia tidak lagi seperti yang kita kenal hari ini.

Di banyak wilayah tropis seperti Indonesia, suhu siang hari rutin menembus 40 derajat celsius, membuat aktivitas luar ruang jadi berbahaya, terutama bagi anak-anak. Sekolah-sekolah di beberapa wilayah mesti ditutup saat panas kian ekstrem.

Gagal panen, banjir besar, rob, siklon tropis, kekeringan ekstrem, hingga kebakaran hutan bisa menjadi peristiwa harian, bukan lagi musiman. Udara dipenuhi debu dan asap membuat anak-anak terkurung dalam ruangan.

Di dalam rumah, di mana mesin penyejuk mesti menyala sepanjang 24 jam, orangtua mungkin bakal bercerita tentang masa kecil mereka bermain di bawah pepohonan rindang—situasi yang saat itu mungkin hanya ada di ingatan.

Situasi mengerikan itu bukanlah fiksi. Namun, hal itu terjadi jika kenaikan emisi mengikuti skenario lintasan iklim ekstrem atau SSP5-8.5, sebagaimana diproyeksikan para ilmuwan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), karena tak ada tindakan global yang besar dan cepat.

Bahkan, dalam skenario iklim moderat, dengan negara-negara melaksanakan sebagian besar komitmen iklim mereka, proyeksi suhu global pada tahun 2050 masih di kisaran 1,7 hingga 2,1 derajat celsius lebih panas.

Ketidakadilan generasi

Bahwa anak-anak dan kaum muda akan menanggung beban perubahan iklim bukanlah informasi baru, tetapi topik ini perlu digaungkan terus mengingat krisis yang semakin hari semakin dalam.

Berdasarkan studi sebelumnya, Luke Grant, seorang peneliti iklim di Vrije Universiteit Brussel, dan rekan-rekannya melaporkan di jurnal Nature pada Rabu (7/5/2025) lalu tentang suramnya masa depan anak-anak kita.

Waktu menuju ambang pemanasan global dalam model iklim global. ( A ) Perubahan suhu global relatif terhadap garis dasar praindustri (1850 hingga 1899) untuk ansambel model iklim global beranggotakan 10 orang dalam skenario pemaksaan iklim Tinggi (SSP3-7.0), Menengah (SSP2-4.5) dan Rendah (SSP1-2.6). B) Peta anomali suhu untuk “threshold year” (yaitu, tahun di mana pemanasan global rata-rata ansambel mencapai 1,5 °C) untuk model iklim global dengan tahun ambang paling awal dan terbaru dalam SSP3-7.0. (C) Perbandingan pelatihan, validasi, dan pengujian jaringan saraf tiruan (JST) yang dilatih pada peta suhu tahunan dan ambang pemanasan global 1,5 °C dalam SSP3-7.0. Sumber: Noah S. Diffenbaugh, dkk. Proceedings of the National Academy of Sciences (2023)

Menurut temuan Grant dan tim, anak-anak dan orang muda yang lahir pada dekade ini bakal menghadapi berbagai dampak pemanasan global, dengan cara yang tak pernah dialami orangtua dan kakek-nenek mereka—dan ini berlaku hampir di mana saja di dunia.

Sebagai contoh, orang yang lahir pada tahun 1960 dan menghabiskan hidup mereka di Brussels, Belgia, diproyeksikan akan mengalami tiga gelombang panas dalam hidup mereka.

Mereka yang lahir pada tahun 2020 dan tinggal di Brussels akan mengalami rata-rata 11 gelombang panas, dengan asumsi pemanasan dapat dipertahankan pada 1,5 derajat celsius pada tahun 2100.

Quote

Anak-anak dan orang muda yang lahir pada dekade ini bakal menghadapi berbagai dampak pemanasan global, dengan cara yang tak pernah dialami orangtua dan kakek-nenek mereka.

Kelompok yang sama diproyeksikan akan mengalami 18 gelombang panas jika pemanasan mencapai 2,5 derajat celsius dan 26 gelombang panas jika pemanasan mencapai 3,5 derajat celsius. Sebagai catatan, jika semua kebijakan iklim saat ini diterapkan, suhu global diperkirakan akan menjadi 2,7 derajat celsius lebih tinggi daripada di masa pra-industri pada 2100.

Gambar tersebut menunjukkan jumlah kumulatif gelombang panas yang dihadapi sejak lahir oleh anak-anak yang lahir di Belgia pada tahun 2020 di bawah tiga skenario perubahan iklim, yang masing-masing mencapai 1,5°C (biru), 2,5°C (oranye), dan 3,5°C (merah) pemanasan global pada tahun 2100. Ambang batas paparan yang belum pernah terjadi sebelumnya (garis abu-abu putus-putus) sebagian besar telah terlampaui, yang menyiratkan bahwa anak-anak di lokasi ini akan menghadapi paparan gelombang panas seumur hidup yang belum pernah terjadi sebelumnya terlepas dari skenarionya.

Para peneliti telah melakukan analisis ini untuk setiap negara dan hasilnya sangat mengerikan. Sekitar 111 juta anak yang lahir pada tahun 2020 akan mengalami apa yang penulis sebut sebagai ”kehidupan yang belum pernah terjadi sebelumnya” dari paparan gelombang panas di dunia yang suhunya meningkat hingga 3,5 derajat celsius.

Para periset mengatakan, situasi tersebut mewakili 92 persen dari kelompok kelahiran tersebut. Paparan gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya masih akan dialami oleh sekitar 62 juta anak yang lahir pada tahun 2020, bahkan dengan pemanasan 1,5 derajat celsius.

Masa depan anak cucu

Situasi saat ini mengkhawatirkan dan anak-anak berhak marah pada orang dewasa. ”Kalian telah mencuri mimpi dan masa kecilku dengan kata-kata kosong,” demikian disuarakan Greta Thunberg, pendiri gerakan iklim anak-anak Fridays for Future, kepada para delegasi di KTT Aksi Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada tahun 2019.

Saat itu Greta berusia 16 tahun dan ia telah mendesak para peserta untuk lebih menjaga pemanasan global berada dalam kisaran 1,5 derajat celsius dari tingkat pra-industri.

Seorang anak bermain balon sabun di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (12/5/2025). Banyak cara warga memanfaatkan libur panjang hari Tri Suci Waisak 2569 BE di Jakarta, salah satunya dengan piknik di taman-taman kota. Berlibur di taman kota menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk menghabiskan waktu libur tanpa banyak mengeluarkan biaya. Jakarta memiliki banyak taman kota dan ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan oleh warga untuk beraktivitas. Taman kota dan ruang terbuka hijau juga ramah untuk bermain dengan anak. Banyak manfaat membawa anak bermain di luar rumah untuk tumbuh kembangnya, baik secara fisik, sosial, maupun kognitif. 

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
12-05-2025

Sejak saat itu, ratusan ribu anak di seluruh dunia telah menyampaikan seruan kepada orang dewasa untuk memperhatikan bukti yang sangat banyak tentang bahaya perubahan iklim.

Namun, sejauh ini orang-orang dewasa, pemegang tampuk kuasa ekonomi dan politik, masih juga lepas dari tanggung jawab untuk mewariskan Bumi yang layak huni. Faktanya, emisi gas rumah kaca masih melonjak tinggi, bahkan mencapai rekor tertinggi pada tahun 2024 lalu.

Akibatnya, suhu global pada April 2025 tertahan pada titik tertinggi, memperpanjang rekor panas yang berlangsung sejak pertengahan 2023. Kecuali satu dari 22 bulan terakhir, suhu Bumi melampaui 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri, batas pemanasan yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.

Sebagai orang dewasa, hari ini kita mungkin masih bisa memilih dan beradaptasi dengan situasi iklim. Namun, jika krisis ini menguat, esok mungkin anak cucu kita tak lagi punya keleluasaan untuk bertahan karena Bumi melebihi ambang batas panas dan zona kehidupan kian menyempit.

Aksi unjuk rasa mengenai perubahan iklim global di depan Balai Kota Jakarta, Jumat (20/9/2019). Kegiatan itu dihadiri ratusan hingga ribuan peserta dari berbagai kalangan, dari yang berusia sekolah hingga profesional.

Jadi, apa yang akan kita wariskan kepada anak-anak cucu kita? Apakah kita akan dikenang sebagai orangtua yang egois, yang menghancurkan ruang hidup anak-anak kita sendiri, ataukah kita bisa menjadi orangtua yang bertanggung jawab dan sungguh-sungguh mencintai anak cucu?

Mencintai anak dalam krisis iklim seperti saat ini bukan hanya soal pelukan dan doa sebelum tidur, apalagi mewariskan harta benda. Ini tentang bagaimana kita menjaga harapan hidup generasi penerus.

Jika cinta adalah bentuk perlindungan tertinggi, maka tidak ada bukti cinta yang lebih nyata selain menjaga masa depan Bumi, tempat anak-anak kita lahir dan tumbuh.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti