Solidaritas untuk Affan Terbentang di Lapangan Hijau, dari Eropa hingga Jakarta

Solidaritas untuk Affan muncul dari dunia sepak bola. Dari Jakarta hingga Marseille.

30 Agt 2025 17:12 WIB · Olahraga

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Konten video itu merekam 10 orang memegang sepotong pesan yang sama. ”Rest in Power Affan”, begitu isi pesan itu.

Tidak ada tawa. Hanya ada bangga ketika konten itu diiringi lagu berjudul ”Bersemi Sekebun” milik band Efek Rumah Kaca. Lagu itu berkisah tentang tidak ada perjuangan yang sia-sia meski di tengah rentetan kekalahan.

Affan yang dimaksud adalah Affan Kurniawan. Anak muda berusia 21 tahun itu adalah pengemudi ojek daring (ojek online/ojol) yang tewas dilindas kendaraan taktis polisi pada Kamis (28/8/2025) malam. 

Kejadiannya terjadi di Jakarta. Saat itu, Affan terjebak dalam demonstrasi mengkritisi kinerja anggota legislatif. Tubuh kecilnya dihantam dan dilindas kendaraan taktis Brimob.

Kematian Affan lantas memicu gelombang aksi semakin besar di sejumlah daerah. Kali ini, massa mengkritisi tindakan brutal polisi menghadapi aksi.

Saat Affan tewas dan gelombang massa terjadi, 10 orang dalam video itu tak sedang berada di Indonesia. Jarak mereka ribuan kilometer dengan tanah airnya.

Mereka tengah berusaha membuat bangga Indonesia dalam ajang Homeless World Cup (HWC) 2025. Tahun ini, HWC digelar 23-30 Agustus di Oslo, Norwegia.

HWC bukan turnamen sepak bola biasa. Di ajang ini, setiap negara mengirimkan tim berisi orang-orang yang pernah atau sedang hidup dalam situasi rentan.

Mereka seperti tunawisma, pemulihan dari kecanduan, pengangguran, atau keterlibatan dalam konflik sosial. Tujuannya, memberikan kesempatan yang sama lewat kekuatan sepak bola.

Sejak pertama kali bergabung dengan HWC pada 2011, tim dari Rumah Cemara telah berulang kali menembus peringkat 10 besar dunia. Peringkat terbaik Indonesia adalah peringkat keempat yang diraih pada 2012 dan 2024.

Meski sedang ada di tanah orang, mereka tak lupa. Sisa beberapa pertandingan lagi, dipersembahkan untuk Affan. 

”Rest in Power Affan. Seorang anak muda dengan masa depan panjang tapi direnggut terlalu cepat. Hari ini kami bermain dengan namamu di hati kami,” tulis akun itu. 

Unggahan di akun Instagram klub sepak bola Perancis, Olympique de Marseille, menjadi bentuk solidaritas untuk berbagai kasus kekerasan di Indonesia.

Solidaritas juga terlihat di akun Instagram tim sepak bola asal Perancis, Olympique de Marseille. Di sana, mereka memajang foto Pierre Emile Hojbjerg dengan selebrasi khasnya. Pemain Timnas Denmark itu biasa memberikan hormat seusai mencetak gol. 

Tidak cukup foto pemain andalannya, di bagian takarir, konten yang diunggah 29 Agustus 2025 itu menuliskan sejumlah tiga nama. ”Gamma. Affan Kurniawan. Moh Umar Amarudin”. 

Gamma atau Gamma Rizkynata Oktafandy (17) adalah anak SMA di Semarang, Jawa Tengah, yang tewas di tangan polisi.

Nyawanya melayang akibat timah panas yang ditembakkan Ajun Inspektur Dua Robig. Selain Gamma, ada dua anak lain yang terluka akibat tembakan tersebut.

Moh Umar Amarudin adalah pengemudi ojol yang babak belur dihajar polisi. Dia terluka di kepala, dada, dan lengan.

Tulisan kecaman dari pserta aksi terhadap tindakan polisi yang menembak siswa SMK Negeri 4 Semarang di depan Kantor Polda Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis (28/11/2024). Dukungan serta simpati masyarakat dan warganet terus mengalir atas tragedi penembakan yang dilakukan anggota polisi hingga menyebabkan satu meninggal, dan dua mengalami luka-luka. Masyarakat menuntut peristiwa tersebut diungkap sesuai kebenaran dan faktanya. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 28-11-2024

Seperti Affan, Umar yang tengah mengantar pesanan itu terjebak saat aksi demonstrasi berlangsung. Saat ini, Umar sedang dirawat.

Unggahan itu ditanggapi positif. Video itu disukai lebih dari 60.000 akun. Kolom komentarnya juga ramai. Mayoritas berterima kasih kepada tim yang akan berlaga lagi di Liga Champions UEFA 2025/2026 itu.

"Our big respect to Olympique Marseille. Thank you from Indonesia,” begitu kata akun @mamadtaufik. 

Namun, ada juga komen kocak yang berusaha mencairkan suasana. ”Enggak salah dukung OM dari era Tony Cascarino,” kata akun @geryansyah. Tony Cascarino adalah pemain Irlandia yang memperkuat OM pada 1994-1997. 

Akun Instagram Persis Solo menunjukkan pita hitam yang dipakai pemainnya dalam lanjutan BRI Super League pada Jumat (29/8/2025).

Dari negeri sendiri, pita di lengan juga dipakai pemain di BRI Super League 2025/2026 yang bertanding pada Jumat (29/8/2025).

Persis Solo melakukannya ketika dijamu Bhayangkara Presisi Lampung FC. Persis kalah 0-2 dalam laga itu. Namun, mereka tetap memenangi hati pendukungnya.

”Terlepas dari permainanmu wingi bosikk banget, tapi aku bangga tetep menyuarakan keadilan. Kemanusiaan di atas segalanya,” kata akun @halloden12_.

Selain itu, di akun Instagram-nya, Persija Jakarta juga memasang foto lengan pemain yang diikat pita hitam. Mereka menuliskan hashtag #jagajakarta.

Persija Jakarta menuliskan hashtag #jagajakarta sembari memakai ikatan pita hitam dalam lanjutan laga BRI Super League melawan Dewa United pada Kamis (28/8/2025).

Dalam konferensi pers seusai kemenangan 3-1 melawan Dewa United, Pelatih Persija Jakarta Mauricio Souza juga menyisipkan pesan mendalam tentang kebaikan orang Indonesia.

”Saya berharap semua pihak tetap aman dan selamat. Kita harus tenang supaya semua selesai dengan baik. Bila kita berbuat buruk, maka masalah tidak akan selesai,” kata Souza.

Sepak bola kembali menunjukkan empatinya. Tanpa banyak bicara, sepak bola memperlihatkan tata komunikasi tepat untuk Indonesia yang tengah diuji kali ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati