Arsenal selalu kesulitan melawan pertahanan blok tengah saat Newcastle merupakan salah satu tim terbaik dengan pendekatan itu. Solusi baru ”Si Meriam” dinanti.
27 Sep 2025 16:56 WIB · Olahraga
NEWCASTLE, SABTU — Dalam tiga kunjungan terakhir ke markas Newcastle United, Arsenal selalu kalah karena kewalahan menghadapi skema pertahanan blok tengah lawan. Arsenal datang dengan solusi baru di musim ini, tetapi efektivitasnya tergantung dari keputusan Manajer Mikel Arteta.
Rasa ragu menyelimuti skuad Arsenal jelang bertamu ke Stadion St James Park, Newcastle, Inggris, Minggu (28/9/2025) pukul 22.30 WIB. Mereka tidak hanya kalah dalam tiga laga terakhir, tetapi juga gagal mencetak gol di stadion itu. ”Mereka selalu membuat kami sangat kesulitan,” kata Arteta.
Banyak kesamaan cerita dalam tiga kali kunjungan Arsenal. ”Si Meriam” selalu dominan menguasai bola, rerata di atas 60 persen, tetapi kesulitan menciptakan peluang matang. Mereka hanya menghasilkan lima tembakan tempat sasaran dari seluruh laga itu atau sekali per 54 menit.
Newcastle, di bawah Pelatih Eddie Howe, selalu menggunakan prinsip sama. Mereka membiarkan tim lawan dominan, selama tidak memasuki area berbahaya. Caranya dengan menggunakan pertahanan blok tengah sehingga Arsenal lebih banyak menguasai bola di area sendiri atau sisi sayap.
Dalam skema blok tengah, Newcastle tidak mau terpancing menekan sampai ke pertahanan lawan. Mereka pun enggan bertahan terlalu dalam. Tim asuhan Howe menumpuk di sepertiga tengah lapangan, menjaga jarak antarpemain serapat mungkin, sehingga lawan kesulitan melakukan progresi.
Meskipun berulang kali berhasil, Howe tidak menjamin akan mengulang pendekatan serupa pada akhir pekan. Dia mengantisipasi respons tim tamu. ”Kami tidak peduli dengan masa lalu. Anda hanya perlu mengerahkan segenap keyakinan. Arsenal adalah tim yang bagus,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/05/e16a14b0c79189b53cbd0eb5ba720f6c-wires_photo_2025_09_01T021514.399.jpg)
Soalnya, Arsenal datang dengan solusi. Mereka memiliki pemain baru, gelandang Eberechi Eze dan penyerang Viktor Gyokeres, yang lebih lugas dan ampuh memecah blok tengah. Kelemahan blok itu adalah tinggi garis pertahanan yang tanggung, bisa dieksploitasi dengan umpan langsung.
Bersama Eze dan Gyokeres, serangan Arsenal terbukti semakin variatif. Terakhir, Eze memberikan umpan yang memecah blok tengah City untuk gol penyeimbang Arsenal. Gyokeres juga sempat menghukum garis pertahanan tanggung Leeds United dengan lolos dari jebakan offside.
Profil pemain lugas seperti itu yang tidak dimiliki Si Meriam sebelumnya. Mereka dibutuhkan karena Newcastle merupakan salah satu yang terbaik dalam praktik blok tengah. Hanya Crystal Palace (62 persen), tim yang lebih banyak menggunakan blok tengah di liga daripada Newcastle (59 persen).
Masalahnya tinggal pemilihan pemain oleh Arteta. Eze selalu dicadangkan dalam dua laga tandang versus tim besar, yaitu Liverpool dan City. Padahal, dia merupakan pemain paling kreatif di kubu Arsenal. Eze baru dimasukkan setelah Arsenal kehilangan momentum, bukan saat kondisi berimbang.
Arteta banyak dikritik karena bermain terlalu aman. Dia lebih memilih trio gelandang Declan Rice, Martin Zubimendi, dan Mikel Merino dalam formasi 4-3-3 untuk laga besar. Tidak ada pemain kreatif ataupun berposisi gelandang serang murni dalam trio tersebut sehingga Arsenal minim kreasi.
Belum lagi, Rice dan Merino terbukti kurang cocok ketika tampil bareng. Mereka sudah dimainkan bersama sejak menit awal dalam sepuluh laga. Dari sekian banyak laga, Arsenal hanya menang sekali. Keberadaan dua gelandang ”box to box” itu membuat permainan tim terlalu datar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/22/f3ca65fab83db282cfe8a88f68a0114a-Britain_Soccer_Premier_League_30_.jpg)
Solusi minim kreativitas Arsenal bisa diselesaikan dengan Eze. Pemain tim nasional Inggris itu sudah menghasilkan dua asis di liga. Dia mencatat rerata satu asis setiap 77 menit, terbaik di klub. Sebagai kreator terbaik, jika Arsenal ingin mencetak gol dan menang, semestinya Eze bermain sejak sepak mula.
Bagi Arsenal, sulit beradu intensitas fisik dengan trio gelandang petarung lawan, yaitu Bruno Guimaraes, Joelinton, dan Sandro Tonali. Apalagi, energi pemain tuan rumah selalu berlipat ketika dibakar seisi St James Park. Tim tamu perlu sosok terampil yang bisa memecah tekanan. Itu adalah Eze.
Menurut Arteta, Eze sudah berkontribusi besar, tetapi masih beradaptasi. ”Dia masih butuh waktu dengan pemain lain. Secara umum, dia sangat bagus. Hanya saja masih banyak yang masih bisa diberikan,” katanya seusai Eze mencetak gol pertama di laga Piala Liga versus Port Vale, Kamis lalu.
Tanda tanya soal produktivitas gol juga berlaku untuk Newcastle. Mereka masih belum bisa lepas sepenuhnya dari bayang-bayang penyerang Alexander Isak yang pindah ke Liverpool. Adapun dalam tiga laga terakhir di liga, ”Si Burung Murai” hanya mampu mencetak satu gol.
Penyerang baru Newcastle, Nick Woltemade, tampak potensial, tetapi masih jauh dari level Isak. ”Permainannya beda dengan penyerang kami sebelumnya. Semua ini tentang memaksimalkan kekuatan Nick. Saya kagum dengannya dalam waktu singkat. Dia menunjukkan sisi kreatif,” tutur Howe. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra