Harapan pada Solusi Dua Negara semakin redup karena Israel terus mencaplok wilayah Palestina. Kini, hanya tersisa 15 persen wilayah yang bisa disebut Palestina.
28 Jul 2025 14:07 WIB · Internasional
NEW YORK, SENIN — Pencaplokan dan kebrutalan Israel membuat Solusi Dua Negara semakin sulit diwujudkan. Dari seluruh bekas wilayah mandat Palestina, tak sampai 15 persen tersisa untuk dijadikan wilayah Palestina merdeka.
Sejumlah negara berusaha menjaga harapan pada Solusi Dua Negara. Konferensi di New York, Amerika Serikat, pada 28-29 Juli 2025 bagian dari upaya menjaga harapan itu. Arab Saudi-Perancis menginisiasi forum di Sekretariat Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut.
Konferensi digelar beberapa hari setelah Presiden Perancis Emmanuel Macron mengumumkan Perancis akan mengakui Palestina. ”Keputusan pengakuan Perancis merupakan napas segar bagi konferensi Solusi Dua Negara yang beberapa tahun ini dianggap lesu darah dan dianggap sudah tidak relevan,” kata Richard Gowan, analis di International Crisis Group (ICG).
Konferensi New York dikecam dan ditolak AS-Israel. Kecaman juga disampaikan kepada Perancis. ”Pernyataan Presiden Macron mengubah situasi global dan mendorong negara lain untuk memutuskan apakah akan ikut mengakui negara Palestina,” kata Gowan.
Perancis bukan satu-satunya negara Eropa yang akan mengakui Palestina. Dalam wawancara dengan La Tribune Dimanche, Menlu Perancis Jean-Noel Barrut mengatakan, ada beberapa negara lain akan mengakui Palestina juga.
Dalam Arabnews, Minggu (27/7/2025), Arab Saudi menegaskan, pengakuan negara Palestina adalah kebutuhan strategis untuk perdamaian Timur Tengah. ”Penerapan Solusi Dua Negara melalui upaya politik, diplomasi, dan usaha masyarakat internasional sebagai pilihan strategis demi mencapai perdamaian dan keamanan dunia,” kata Menlu Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/10/28/PALESTINIAN-ISRAEL-CONFLICT-POLITICS-DEMO_92564682_1603872500.jpg)
Perancis adalah negara Eropa Barat dengan populasi Muslim dan Yahudi terbesar. Dalam laporan France24 disebutkan, AS dan Israel mengecam langkah Perancis.
Perancis sejauh ini berharap Inggris akan mengikuti langkahnya dengan mengakui Palestina. Lebih dari 200 anggota Parlemen Inggris, Jumat (26/7/2025), mendesak PM Keir Starmer untuk mengambil langkah serupa. Namun, Starmer mengatakan, pengakuan Palestina adalah bagian dari langkah besar lainnya yang juga harus dilakukan.
Adapun Menlu AS Marco Rubio, Kamis (24/7/2025), mengecam rencana Perancis mengakui negara Palestina. ”Saya mengecam rencana Presiden Macron mengakui Palestina dalam Sidang Umum PBB,” kata Rubio.
Para elite politik dan penguasa di Amerika Serikat terikat utang budi bantuan keuangan dari kelompok lob Zionis yang mendorong pembentukan negara Israel Raya.
Menurut data kantor berita AFP, 142 dari 193 anggota PBB sudah mengakui Palestina, termasuk terakhir Perancis. Negara Palestina diproklamasikan oleh para pemimpin Palestina yang hidup di pengasingan pada tahun 1988.
Pada tahun 1947, resolusi Sidang Umum PBB memutuskan melakukan partisi wilayah Palestina yang merupakan wilayah mandat Inggris menjadi dua negara merdeka, yakni negara Yahudi dan negara Arab. Setahun kemudian, pada tahun 1948, negara Israel diproklamasikan dan memicu Perang Arab-Israel.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/03/16/a032ab10-14cf-4b90-aa77-b1237061f596.jpg)
Milisi Israel mengusir 90 persen penduduk Palestina pada tahun 1948. Para penduduk asli Palestina itu selanjutnya mengungsi ke negara tetangga atau melarikan diri ke Jalur Gaza dan Tepi Barat hingga kini.
Dalam beberapa dekade terakhir, sebagian besar anggota PBB mendukung gagasan Solusi Dua Negara, yakni Israel dan Palestina saling berdampingan dan damai.
Namun, semakin meningkat kekhawatiran pada potensi Negara Palestina tidak akan bisa terwujud. Hal itu tidak lepas dari serangan hampir dua tahun ke Gaza dan peningkatan keganasan Israel di Tepi Barat. Para pejabat Israel secara terbuka menyatakan mau meresmikan pendudukan dua wilayah itu.
Forum New York merupakan tindakan menyikapi krisis Gaza yang semakin buruk dengan terjadinya kelaparan dan gizi buruk terhadap anak–anak akibat blokade militer Israel. Diperkirakan ratusan ribu perempuan dan anak mengalami kelaparan dan gizi buruk.
Bahkan, diketahui kematian seratusan anak balita karena kelaparan di Gaza. Sejumlah bayi yang mati akibat kelaparan dan gizi buruk, bobot jenazahnya jauh lebih ringan daripada berat badan saat dilahirkan.
PM Palestina Mohammad Mustafa dan sejumlah menteri dari seluruh dunia diperkirakan menghadiri sidang PBB tersebut. ”Sidang tersebut digelar pada saat kemungkinan pembentukan negara Palestina semakin terancam,” kata Menlu Barrot.
Ia menyebut, forum itu akan ditandai kecaman negara Arab kepada Hamas. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut.
Forum itu tak hanya mendorong pengakuan ke Palestina. Forum juga mendorong reformasi Otoritas Palestina, pelucutan dan pemisahan kelompok perjuangan kemerdekaan Palestina, serta normalisasi hubungan dengan Israel.
Meski demikian, sumber Perancis menyatakan, belum ada rencana pembukaan hubungan diplomatik baru antara negara Arab dan Israel disampaikan dalam sidang PBB tersebut.
”Sidang PBB ini akan memberi peluang transformasi hukum internasional dan konsensus dunia untuk mencapai rencana bersama dan mengakhiri pendudukan Israel dan konflik Arab-Israel secara permanen demi kebaikan semua,” kata Wakil Tetap Palestina untuk PBB Riyad Mansour.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/28/91362d317bee1694e2238a3891905b4c-wires_photo_2025_07_28T123453.195.jpg)
Dia mengimbau para peserta sidang untuk berani mengambil sikap demi Palestina dan perdamaian. Israel dan AS tidak akan menghadiri sidang tersebut, di tengah tekanan internasional yang memuncak terhadap Israel atas kematian perempuan dan anak-anak serta kelaparan di Jalur Gaza.
Meskipun ada ”gencatan senjata taktis” yang secara sepihak diberlakukan Israel, kehancuran di Jalur Gaza sudah terjadi dan membuat dunia mengecam Israel.
Tingkat kehancuran Gaza dan penderitaan manusia di Jalur Gaza akan mendominasi pembahasan lebih dari 100 negara yang menghadiri sidang di New York itu. (AFP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji