Liang Wenfeng, Sosok di Balik Guncangan DeepSeek

Liang Wenfeng mengatakan, DeepSeek akan membuat hasil-hasil riset dan pelatihannya bersifat terbuka guna mencegah monopolisasi teknologi di tangan segelintir orang.

31 Jan 2025 19:57 WIB · Tokoh

Oleh Muhammad Samsul Hadi, Irene Sarwindaningrum

Sampai 20 Januari 2025, nama Liang Wenfeng tidak banyak dikenal orang. Tiba-tiba pria ini jadi sorotan dunia seiring munculnya DeepSeek, teknologi akal imitasi (AI) buatan China yang dalam waktu singkat menggeser dominasi ChatGPT buatan AS.

DeepSeek yang didirikan oleh Liang Wenfeng pada 2023 di Hangzhou, China, mulai meluncurkan produk-produk AI pada Desember 2024. Hanya dalam waktu satu bulan, DeepSeek menjadi rival berat aplikasi ChatGPT.

Reuters melaporkan, pada Selasa (28/1/2025) DeepSeek telah menggeser dominasi ChatGPT sebagai aplikasi asisten AI gratis yang paling banyak diunduh di AS di pasar aplikasi Apple, AppStore. Kehadiran DeepSeek juga membuat harga saham-saham teknologi AS rontok. Secara total, indeks saham semikonduktor AS turun 9,2 persen dalam sehari, kerontokan terparah sejak Maret 2020.

Harga saham perusahaan teknologi besar AS lainnya, Microsoft, turun 2,1 persen; Alphabet, induk perusahaan Google, turun 4,2 persen; pembuat server AI, Dell Technologies, turun 8,7 persen; perusahaan operator pusat data, Digital Realty, turun 8,7 persen; dan perusahaan listrik, salah satunya adalah Vista, juga turun 28,3 persen.

Awalnya, DeepSeek adalah perusahaan rintisan kecil yang sebelumnya sama sekali tidak dihitung dalam kompetisi teknologi AI. Begitu pula sang pendiri, Liang. Dia tidak banyak dikenal. Mungkin karena ia seorang yang sangat low profile dan enggan tampil di muka publik.

Sebelum DeepSeek mengguncang dunia, Liang hanya dua kali bersedia diwawancarai oleh media China, Wave, yakni tahun 2023 dan 2024. Selebihnya, ia memilih menghindari media.

Pada 20 Januari 2025, Liang diundang untuk presentasi dalam simposium tertutup yang digelar oleh Perdana Menteri China Li Qiang. Ia muncul dengan penampilan ala anak muda milenial, kontras dengan hadirin lain yang kebanyakan akademisi beruban, pejabat pemerintah, dan para konglomerat China.

Tak pelak, kehadirannya di forum tersebut dibaca banyak pihak sebagai pengakuan Pemerintah China pada peran dan potensi DeepSeek dalam upaya mengubah tata dunia AI. DeepSeek sekaligus menjadi harapan ”Negeri Tirai Bambu” untuk mengatasi pembatasan ekspor teknologi yang gencar diberlakukan AS terhadap China.

Sontak Liang menjadi sorotan dunia lantaran dianggap sebagai representasi paling mutakhir industri teknologi akal imitasi China. Sosok dan kiprahnya diulas oleh media-media besar di seluruh dunia.

Keyakinan pada inovasi

Seperti pesaingnya dari Barat, yakni ChatGPT dari OpenAI, Llama milik Meta, Gemini dari Google, ataupun Claude dari Anthropic, DeepSeek menggunakan model bahasa besar (LLM). Model ini mahir dalam bahasa Inggris dan China. Kemampuan DeepSeek sama dengan AI dari AS, dari merancang resep masakan, membuat tulisan ilmiah, hingga membuat kode untuk membangun aplikasi.

Dalam laporan terbuka, DeepSeek menampilkan hasil pengujian V-3 yang melebihi Llama, ChatGPT, dan Claude. Keunggulan akurasi ini ada pada komputasi matematika, kompetisi kode pemrograman, dan mendeteksi serta memperbaiki gangguan (bug) dalam kode pemrograman.

Berbeda dengan kebanyakan industri teknologi China yang biasa mengambil inovasi-inovasi terutama dari Barat, lalu mengembangkannya dengan skala yang jauh lebih cepat, Liang memilih jalan lain. Dalam wawancara dengan Wave, Juli 2024, ia menegaskan, ”AI China tidak bisa hanya jadi pengikut selamanya.”

Quote

Kita sering mengatakan, ada jurang perbedaan dalam rentang satu atau dua tahun antara AI China dan AS. Perbedaan yang sebenarnya adalah perbedaan antara orisinalitas dan imitasi.

”Kita sering mengatakan, ada jurang perbedaan dalam rentang satu atau dua tahun antara AI China dan AS. Perbedaan yang sebenarnya adalah perbedaan antara orisinalitas dan imitasi,” tambah Liang.

Liang yakin industri teknologi China saat ini berada di persimpangan jalan. China hanya kurang percaya diri. Padahal, China tidak kekurangan sumber daya untuk membuat terobosan-terobosan mendasar dalam riset dan pengembangan teknologi.

”Dalam 30 tahun terakhir, (industri teknologi China) hanya menekankan untuk terus mencari uang dan mengabaikan inovasi. Inovasi bukan hanya digerakkan oleh bisnis. Itu (inovasi) juga butuh rasa ingin tahu dan keinginan untuk menciptakan (sesuatu),” paparnya.

The building housing the headquarters of Chinese AI startup DeepSeek is seen in Hangzhou, in China’s eastern Zhejiang province on January 28, 2025. Fears of upheaval in the AI gold rush rocked Wall Street, following the emergence of a popular ChatGPT-like model from China, with US President Donald Trump saying it was a "wake-up call" for Silicon Valley. (Photo by AGATHA CANTRILL / AFP)

Tidak seperti para pesaingnya di AS, OpenAI, yang telah mengembangkan model milik sendiri secara eksklusif, DeepSeek bersifat sumber terbuka (open source). Artinya, DeepSeek terbuka bagi siapa pun untuk mengakses kode pemrogramannya, melihat cara kerjanya, memodifikasi, dan turut mengembangkannya sendiri.

”Sumber terbuka (open source) itu lebih seperti praktik budaya dibandingkan dengan praktik bisnis… perusahaan yang melakukannya bakal memiliki kekuatan lunak (soft power),” lanjutnya.

Sifat terbuka ini dipandang sebagai nilai tambah DeepSeek yang membuka potensi pengembangannya menjadi lebih luas dan lebih murah. Konsekuensinya, skema ini kemungkinan membuat perusahaan pengembangnya tidak bisa menangguk keuntungan besar.

Namun, Liang tampaknya tidak terlalu peduli soal itu. Dia punya tujuan lain. Seperti dikutip The Economist (23/1/2025), Liang mengatakan, DeepSeek akan membuat hasil-hasil riset dan pelatihannya bersifat terbuka guna mencegah monopolisasi teknologi AS di tangan segelintir orang atau perusahaan.

Talenta China

Liang lahir di Guangdong, China selatan, pada 1985. Saat itu, China  mengadopsi kapitalisme pasar. Anak-anak yang tumbuh dalam generasinya kebanyakan berminat menekuni bisnis ketimbang belajar.

Liang berbeda, ia cenderung pada aktivitas akademik. Ia melanjutkan belajar dengan kuliah di kampus elite, Universitas Zhejiang. Ia memilih jurusan elektro dan teknik komunikasi. Ia melanjutkan ke jenjang master dan lulus pada jurusan teknik informatika dan komunikasi tahun 2010.

Setelah itu, ia ikut mendirikan beberapa perusahaan. Salah satunya perusahaan investasi dana lindung (hedge fund) kuantitatif di China, High-Flyer Quant. Perusahaan ini fokus pada perdagangan yang digerakkan oleh AI. Pada 2023, barulah ia mendirikan DeepSeek.

Para staf dan karyawan DeepSeek umumnya lulusan dan mahasiswa PhD dari berbagai universitas ternama di China. Liang percaya, lewat kerja sama dengan universitas-universitas top China itu, DeepSeek bisa mengatasi tantangan-tantangan terbesar dalam dunia AI.

Dengan DeepSeek, Liang meniupkan napas baru pengembangan akal imitasi di China yang bertumpu pada spirit inovasi. (REUTERS/AP)

Liang Wenfeng

Lahir: Guangdong, China, 1985

Studi: Zhejiang University (2007)

Karier antara lain:

  • Founder Hangzhou Yakebi Investment Management Co Ltd (2013)
  • Co-founder Hangzhou Huanfang Technology Co Ltd (2015)
  • Co-founder Ningbo High-Flyer Quantitative Investment Management Partnership (Limited Partnership) (2016)
  • Founder High-Flyer AI (2019)
  • Founder DeepSeek (2023)

Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Samsul Hadi, Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Budi Suwarna