Meski mahal, senjata nuklir dinilai Spanyol tak akan benar-benar melindungi siapa pun.
15 Feb 2026 19:59 WIB · Internasional
AFP / PIERRE-PHILIPPE MARCOU
MUENCHEN, MINGGU — Di saat negara-negara adidaya meningkatkan anggaran pertahanan dan membangun persenjataan nuklir, Spanyol justru menolak senjata nuklir. Spanyol memperingatkan, persenjataan nuklir tidak akan melindungi apa pun. Spanyol menganjurkan negara-negara untuk berinvestasi pada nilai-nilai daripada persenjataan nuklir.
Perdana Menteri (PM) Spanyol Pedro Sanchez menyampaikan peringatan dan pandangan yang berbeda dengan tren hari ini dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Muenchen, Sabtu (14/2/2026). Euronews memberitakan, menurut PM Sanchez, membangun persenjataan nuklir membuat setiap negara harus menghabiskan anggaran besar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/15/770e8d5d-8f40-4dab-b0d9-f17e195851e9.jpg)
Sebagai gambaran, negara-negara adidaya menghabiskan lebih dari 11 juta dolar AS atau setara Rp 185 miliar per jam untuk senjata nuklir. Amerika Serikat bahkan akan menghabiskan 946 miliar dolar AS untuk senjata nuklir selama dekade mendatang.
Secara terpisah, Australia pada Minggu (15/2/2026) mengatakan akan menganggarkan 3,9 miliar dolar Australia atau sekitar 2,76 miliar dolar AS lagi untuk memperbarui fasilitas galangan kapal. Upaya itu diperlukan guna mempersiapkan kedatangan kapal selam nuklir dari pakta trilateral AUKUS 2021 dengan AS dan Inggris.
PM Australia Anthony Albanese mengatakan, anggaran sebesar itu akan menjadi uang muka untuk membangun galangan kapal baru di Osborne. Kota itu berada di pinggiran Adelaide, di negara bagian Australia Selatan.
Sanchez menegaskan, ”Anggaran sebesar itu cukup untuk memberantas kemiskinan ekstrem di dunia.”
Belum lagi, ujar Sanchez, persenjataan nuklir menimbulkan kekhawatiran baru dengan penerapan kecerdasan buatan. Penambahan kecerdasan buatan pada senjata nuklir merupakan hal yang sangat berbahaya. ”Perang nuklir tidak dapat dimenangi,” kata Sanchez mengutip pernyataan mantan Presiden AS Ronald Reagan.
Meski demikian, lanjut Sanchez, menolak persenjataan nuklir bukan berarti mengabaikan pertahanan. Spanyol juga melipatgandakan pengeluaran militer dan menggandakan jumlah pasukan yang dikerahkan.
Dalam ketegangan hubungan Eropa dengan AS, juga ancaman perpecahan pada Aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terkait isu pencaplokan Greenland dan perang Rusia-Ukraina, Sanchez mendukung pembentukan tentara Eropa. Ia memastikan Spanyol ”akan bekerja sama dengan apa pun yang diperlukan”.
Para pemimpin Uni Eropa lain yang hadir, seperti PM Alexander Stubb dari Finlandia dan PM Mette Frederiksen dari Denmark, secara tegas mendukung peningkatan pengeluaran pertahanan dan pengiriman lebih banyak senjata ke Ukraina. Stubb bahkan menanggapi pernyataan Sánchez secara tidak langsung dengan mengingatkan bahwa Finlandia bergabung dengan NATO untuk menjadi ”penyedia keamanan, bukan konsumen”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/14/66270012e8f7610641ce3b105fc6c812-USS_Minnesota_SSN_783.jpg)
Di saat 200 perwakilan pemerintah dari 120 negara hadir dalam Konferensi Keamanan di Muenchen, Kementerian Luar Negeri Swiss mengumumkan AS dan Iran dipastikan akan menggelar putaran kedua pembicaraan mengenai program nuklir Teheran. Pembicaraan dijadwalkan berlangsung pekan depan di Geneva.
Oman yang menjadi fasilitator dalam pembicaraan tidak langsung AS dan Iran pada 6 Februari lalu kembali akan menjadi fasilitator dalam pembicaraan putaran kedua itu.
Dalam pembicaraan tidak langsung di Muscat, Oman, 6 Februari 2026, delegasi Iran dipimpin Menlu Iran Abbas Araghchi. Delegasi AS diwakili utusan AS untuk Perdamaian Steve Witkoff. Panglima Komando Tengah (CENTCOM) Laksamana Charles Brad Cooper juga hadir.
Setelah pembicaraan tidak langsung, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Teheran. Jika AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan, ancam Trump, ia akan menggunakan kekuatan untuk memaksa Iran setuju membatasi program nuklirnya.
Trump pada Jumat (13/2/2026) mengatakan, USS Gerald R Ford, kapal induk terbesar di dunia, sedang dikirim dari Karibia ke Timur Tengah. Armada perang ini akan bergabung dengan kapal induk dan kelompok kapal penyerang lain yang saat ini sudah berada di Timur Tengah.
Pemerintahan Trump sudah menegaskan Iran tidak dapat melakukan pengayaan uranium dalam program nuklirnya. Iran mengatakan tidak akan menyetujui hal itu. Iran bersikeras bahwa program nuklirnya adalah untuk tujuan damai.
Sebelum perang 12 hari pada Juni 2025, Iran diperkirakan sudah memperkaya uranium hingga mencapai 60 persen. Pengayaan hingga tingkat itu membuat Iran selangkah lagi bisa memiliki senjata nuklir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/df03a28d11de6bc3a4b00d6ec31bcb21-20260205_ANU_AFP_Instalasi_Nuklir_Iran_mumed.jpg)
Terkait perkiraan pengayaan uranium, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, negaranya ”siap untuk segala jenis verifikasi”. Namun, badan pengawas nuklir PBB, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), selama berbulan-bulan tidak dapat memeriksa dan memverifikasi persediaan nuklir Iran.
Dalam pertemuannya dengan Trump di Washington, Rabu (11/2/2026), PM Israel Benjamin Netanyahu mendesak agar kesepakatan antara AS dan Iran mencakup langkah-langkah untuk menetralisir program rudal balistik Iran. Kesepakatan juga meminta Iran mengakhiri pendanaannya untuk kelompok proksi, seperti Hamas dan Hizbullah.
Supaya Iran mau mengakhiri pendanaan bagi kelompok proksi, Reuters dengan mengutip penjelasan seorang pejabat senior AS memberitakan, AS akan berupaya mengurangi ekspor minyak Iran ke China.
Kemenlu China belum memberikan tanggapan terkait upaya AS itu. China tengah menikmati hari pertama libur nasional Imlek.
Dalam hal penjualan minyak, China merupakan jujugan untuk lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran. Setiap pengurangan perdagangan berarti akan ada penurunan pendapatan minyak bagi Iran. (AP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Retma Wati