Meski tidak diunggulkan, Niko Kovac justru punya potensi paling besar memberi kekalahan perdana bagi Xabi Alonso. Seluruh ide Alonso sudah dimata-matai Kovac.
04 Jul 2025 15:57 WIB · Olahraga
NEW JERSEY, JUMAT — Xabi Alonso masih mempertahankan catatan tidak terkalahkan semenjak melatih Real Madrid bulan lalu. Catatan tersebut terancam ternoda saat Real bertemu Borussia Dortmund pada perempat final Piala Dunia Antarklub.
Pelatih Dortmund Niko Kovac sudah lama memata-matai strategi Alonso saat masih membesut Bayer Leverkusen. Informasi itu akan digunakan Kovac untuk menghadirkan kekalahan perdana Alonso bersama Real.
Hingga saat ini, Kovac dan Alonso sudah bertemu sebanyak lima kali. Seluruh pertemuan terjadi di Bundesliga dan berakhir dengan keunggulan Alonso yang memetik dua kemenangan dan sekali kalah. Dua laga lainnya berakhir imbang.
Meski demikian, Kovac tampaknya mulai memahami karakter taktik Alonso. Buktinya, pada pertemuan terbaru Mei lalu, Kovac sukses menjungkalkan Leverkusen dengan skor cukup telak, 4-2.
Dengan begitu, pertemuan pada perempat final Piala Dunia Antarklub di Stadion Metlife, New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (6/7/2025) pukul 03.00 WIB, nanti menjadi yang keenam bagi Kovac dan Alonso.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/04/98da602de0f87d541967819cda84ed30-CWC_Real_Madrid_Juventus_Soccer_130949330.jpg)
Kovac cukup optimistis mampu mengulangi kemenangan atas Alonso. Terlebih Kovac sudah lama mengumpulkan informasi tentang strategi bermain Alonso semasih berkarier di Bundesliga.
”Kami mengenalnya (Xabi Alonso) dengan sangat baik. Dia bekerja selama dua setengah tahun di Jerman, dan dia melakukan pekerjaan yang fantastis. Sekarang, dia menerapkan semua yang dia dapatkan di Bayer Leverkusen ke Real Madrid. Jadi, kami mengharapkan hal yang sama dengan apa yang kami hadapi dulu di Leverkusen, hanya saja dengan pemain yang berbeda,” kata Kovac menjelang laga, Jumat (4/7/2026).
”Mereka bermain dengan gaya yang sangat vertikal dan cepat. Pada dasarnya, kita melihat gaya sepak bola yang sama dengan yang dimainkan Xabi di Leverkusen,” katanya melanjutkan.
Sebagaimana yang Kovac katakan, Alonso memang menerapkan sistem yang serupa sebagaimana saat menangani Leverkusen. Dia mengubah Real yang biasa bermain dengan formasi empat bek di era Carlo Ancelotti menjadi tiga bek. Seperti tim-tim Bundesliga lainnya, inti dari taktik Alonso adalah menekan lawan dengan garis pertahanan tinggi serta mengandalkan kolektivitas tim.
Saat menyingkirkan Juventus pada babak 16 besar, ciri khas permainan Leverkusen terlihat jelas di tubuh Real. Sistem tiga bek sejajar didukung Aurelien Tchouameni dan Dean Huijsen yang piawai mendistribusikan bola dari belakang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/04/168cd80c4dd309b1aa6b1502de4d7aa7-FBL_WC_CLUB_2025_MATCH56_DORTMUND_MONTERREY_130953636.jpg)
Sementara Fran Garcia dan Trent Alexander-Arnold bergerilya di sisi sayap. Dua bek sayap itu diinstruksikan bergerak maju cukup jauh untuk mendukung serangan.
Dengan begitu, Real akan membentuk formasi 3-2-5 saat menyerang. Garcia dan Trent yang bergerak jauh ke depan membuat Real seakan memiliki lima penyerang. Keberadaan Garcia dan Trent di sisi sayap berguna sebagai opsi umpan dalam situasi switch play atau mengubah arah serangan lantaran Juventus menumpuk bek di area tengah.
Gol kemenangan Real yang dicetak Gonzalo Garcia berawal dari upaya serangan dari sisi sayap kanan yang dimotori Trent. Bermain melebar, juga menginstruksikan banyak pemain bergerak ke depan agar menang jumlah, menjadi kunci Real mengalahkan Juventus.
Cara Alonso tersebut sudah akrab bagi Kovac. Ia sudah menyiapkan antitesis dari taktik bermain agresif Alonso.
”Kami sangat menantikannya (pertandingan). Namun, Anda harus bermain sepak bola selama 90 menit, dan jika kami mengerahkan segalanya di atas lapangan, saya pikir kami akan memiliki peluang yang bagus,” ucap Kovac.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/04/6ffc30ccf32d129cb2c0258d2011a045-FBL_WC_CLUB_2025_MATCH56_DORTMUND_MONTERREY_130954496.jpg)
Bila berhasil mengatasi strategi Alonso, Kovac akan semakin memperbaiki rekor pertemuan mereka berdua. Selain rekor pertemuan pribadi, Real juga unggul cukup telak atas Dortmund.
”Los Blancos” telah memenangi empat laga kontra Dortmund secara beruntun. Kemenangan terakhir Dortmund atas Real terjadi pada 2014 saat masih ditangani Juergen Klopp.
Meski memiliki rekor pertemuan yang lebih bagus, Alonso tetap merasa Dortmund bisa menjadi batu sandungan bagi Real. Apalagi, Dortmund menunjukkan perkembangan positif semenjak memecat Nuri Sahin dan menunjuk Kovac sebagai pengganti. Di bawah arahan pelatih asal Kroasia itu, Dortmund belum terkalahkan dalam 11 laga terakhir.
Sebagaimana kata orang bijak, selalu ada yang pertama untuk segala hal. Alonso pun memasang kewaspadaan tinggi agar tidak terlena dengan rekor pertemuan sehingga bisa terhindar dari menelan kekalahan perdana sebagai pelatih Real.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/04/3f69d5f3ad27873ac84d5b2f4fababf9-FBL_WC_CLUB_2025_MATCH55_REAL_MADRID_JUVENTUS_130950026.jpg)
”Kami harus bekerja keras. Laga ini akan berjalan sulit. Namun, kami bersikap profesional dan melakukannya dengan sangat baik,” kata Alonso, dikutip dari laman Real.
Keputusan sulit harus diambil Alonso terkait pilihan pemain di lini depan. Dengan kembalinya pencetak gol terbanyak La Liga musim lalu, Kylian Mbappe, dari sakit gastroenteritis, Alonso dalam dilema besar.
Dari tiga penyerang, yaitu Mbappe, Garcia, dan Vinicius, ia harus mengorbankan satu di antaranya. Menarik dilihat bagaimana Alonso meramu susunan pemain dengan melimpahnya pilihan di lini depan. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto