Stok di Jateng Aman, Warga Minta Harga BBM Tidak Naik

Sebagian warga di Jateng mengaku khawatir harga BBM naik seusai Lebaran. Pertamina menyebut, belum ada informasi mengenai kenaikan harga. Sejauh ini stoknya aman.

25 Mar 2026 18:04 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/KRISTI DWI UTAMI

Oleh Kristi Dwi Utami

SEMARANG, KOMPAS — Stok bahan bakar minyak pada masa arus mudik dan balik Lebaran di Jawa Tengah disebut aman karena bisa mencukupi hingga belasan kali lipat kebutuhan harian. Kendati demikian, sebagian warga khawatir dengan isu kenaikan harga BBM seusai Lebaran.

Selama masa mudik dan balik Lebaran, masyarakat di Jateng mengaku tidak kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM). Di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Semarang, antrean kendaraan tak begitu ramai. Rata-rata waktu tunggu pengisian bahan bakar tak sampai 5 menit.

Sebelumnya, kenaikan harga BBM sempat terjadi pada 1 Maret 2026. Namun, kenaikan hanya terjadi pada BBM non-bersubsidi jenis pertamax, yang naik sebesar Rp 500 menjadi Rp 12.300 per liter.

Untuk BBM yang bersubsidi jenis pertalite, disebut tidak terjadi kenaikan harga. ”Untung yang pertalite tidak naik. Semoga ke depan memang tidak naik,” kata M Khafifi (53) saat ditemui di Kota Semarang, Jateng, Rabu (25/3/2026).

Suasana antrean kendaraan di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum di Tegalsari, Kec. Candisari, Kota Semarang, Jawa Tengah (25/3/2026). Stok bahan bakar minyak di wilayah Jateng yang mencapai belasan kali lipat kebutuhan harian dinilai aman.

Khafifi mengatakan, terakhir kali mengisi BBM pada Selasa (24/3/2026) malam. Ia mengisi BBM sekitar 4 liter dengan harga Rp 40.000. Khafifi yang merupakan pengojek daring itu menyebut, dirinya selalu mengisi BBM setiap hari untuk mengojek dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB.

Ia sempat mendengar adanya isu kenaikan harga BBM seusai Lebaran. Kondisi itu pun membuatnya khawatir. Jika tak diimbangi dengan kenaikan tarif ojek, Khafifi resah pendapatannya akan menurun.

”Saya berharap pemerintah tidak menaikkan harga BBM, apalagi yang bersubsidi. Sebab, kebanyakan yang memanfaatkan rakyat kecil, salah satunya pengojek seperti saya,” ucap Khafifi.

Petugas mengisikan bahan bakar jenis Pertamax ke mobil pemudik yang singgah di tempat peristirahatan KM 487 B pada Jalan Tol Solo-Semarang di Kecamatan Teras, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (25/3/2026). Selama arus balik pada tiga hari terakhir penjualann bahan bakar di tempat itu berkisar 8 - 11 ton per hari. Pada hari biasa, penjualan bahan bakar di tempat itu hanya sekitar 2 ton per hari. 

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Ia melanjutkan, warga akan makin kesulitan ekonomi kalau harga BBM sampai naik lagi. Soalnya, hal itu bakal berdampak pada kenaikan tarif ojek.

Tak hanya di Semarang, antrean kendaraan di sebuah SPBU di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, juga disebut tak panjang. Masyarakat mengaku tidak kesulitan mendapatkan BBM.

Yaya (30), warga Wonosalam, berharap ketersediaan BBM di wilayahnya bisa terus terjaga. Di samping itu, ia juga berharap harga BBM, khususnya BBM bersubsidi, tidak naik, seperti halnya harga BBM non-bersubsidi yang naik pada Maret 2025.

Petugas menuangkan bahan bakar minyak jenis Pertamax untuk memeriksa kualitas secara rutin di SPBU Rest Area 456, Salatiga,  Jawa Tengah, Kamis (12/3/2026).

Kompas/Raditya Mahendra Yasa
11-03-2026
 *** Local Caption ***

”Semoga harganya segini saja, jangan naik-naik. Kalau harga BBM naik, semua-semua pasti ikut naik. Apalagi kondisi ekonomi masyarakat sedang sulit seperti ini,” ujar Yaya.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations, and Corporate Social Responsibility Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah Taufiq Kurniawan mengatakan, belum ada informasi mengenai kenaikan harga BBM. Menurut Taufiq, pihaknya masih fokus pada pelayanan terhadap masyarakat dalam arus balik Lebaran.

”Jadi, kita siapkan dengan maksimal dan harapannya di momen arus mudik dan arus balik ini masih terjangkau untuk bisa dibeli oleh masyarakat,” kata Taufiq.

Petugas mengisikan bahan bakar jenis Pertamax ke mobil pemudik yang singgah di tempat peristirahatan KM 487 B pada Jalan Tol Solo-Semarang di Kecamatan Teras, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (25/3/2026). Selama arus balik pada tiga hari terakhir penjualann bahan bakar di tempat itu berkisar 8 - 11 ton per hari. Pada hari biasa, penjualan bahan bakar di tempat itu hanya sekitar 2 ton per hari. 

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Taufiq menyebut terjadi peningkatan konsumsi BBM pada masa arus mudik dan balik. Kendati demikian, stoknya dinilai masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hingga berkali-kali lipat kebutuhan harian.

Untuk gasoline atau bensin, stoknya disebut Taufiq sebanyak 13 kali lipat konsumsi normal, yakni 21.599 kiloliter (kl) per hari. Sementara untuk gasoil atau solar stoknya masih 17 kali lipat konsumsi normal harian, yaitu 5.750 kl. Adapun stok avtur mencapai 26 kali lipat konsumsi normal, yakni 309 kl per hari.

”Ketersediaannya itu selalu kami jaga, minimal 10 kali lipat konsumsi harian. Jika ada kenaikan konsumsi 10 kali lipat dalam sehari pun, kami masih sanggup mengatasi. Ini tidak hanya berlaku hari ini. Hari besok dan seterusnya, stok BBM juga selalu kami jaga minimal 10 kali lipat dari konsumsi harian. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir,” tutur Taufiq.

Petugas mengisikan bahan bakar jenis Pertamax ke mobil pemudik yang singgah di tempat peristirahatan KM 487 B pada Jalan Tol Solo-Semarang di Kecamatan Teras, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (25/3/2026). Selama arus balik pada tiga hari terakhir penjualann bahan bakar di tempat itu berkisar 8 - 11 ton per hari. Pada hari biasa, penjualan bahan bakar di tempat itu hanya sekitar 2 ton per hari. 

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Terkait isiden terjebaknya kapal pengangkut BBM ke Indonesia di Selat Hormuz akibat perang AS-Israel dan Iran, Taufiq menyebut, masyarakat tidak perlu khawatir. Sebab, dari 345 kapal yang beroperasi mengangkut BBM ke Indonesia, hanya dua yang sempat tersangkut. Kini, dua kapal itu sudah lolos.

”Pasokan BBM kita juga tidak hanya dari wilayah Timur Tengah, ada juga dari tempat-tempat lain. Ada yang langsung impor dari Singapura,” ujar Taufiq.

Selama arus mudik dan balik Lebaran, Taufiq menyebut, tidak ada keluhan dari masyarakat, baik terkait stok BBM maupun antrean panjang di SPBU. Menurutnya, berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi kendala pengiriman BBM selama arus mudik dan balik. 

Untuk menghindari kemacetan, pengiriman BBM selalu dilakukan di jam-jam yang minim aktivitas masyarakat. Tak hanya stok rutin, Pertamina juga, disebut Taufiq, mengirimkan stok BBM penyangga 20 persen lebih banyak dari kebutuhan normal untuk mengantisipasi lonjakan permintaan.

Supaya jarak distribusi BBM lebih pendek, Pertamina menyiapkan 59 unit mobile storage atau penyimpanan mobile. Penyimpanan itu ditempatkan di tengah-tengah antara titik suplai dan SPBU yang akan dituju.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kristi Dwi Utami
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto