Keunggulan Rusia di medan perang membuat sekutu Ukraina gerah. AS mengirimkan ranjau darat antipersonel dan mengizinkan penggunaannya.
21 Nov 2024 13:54 WIB · Internasional
MOSKWA, KAMIS — Perubahan taktik Rusia di medan tempur membuat sekutu-sekutu Ukraina bergerak menopang pertahanan dan sistem persenjataan. Salah satunya dengan mengizinkan penggunaan ranjau darat antipersonel.
Kantor berita Associated Press, Kamis (21/11/2024), melaporkan, Pemerintah Amerika Serikat telah mengumumkan akan mengirimkan ranjau darat itu guna membantu Ukraina memperlambat capaian Rusia di palagan. Pengiriman itu menandai dua perubahan besar dalam dukungan militer AS bagi Ukraina hanya dalam beberapa hari.
Pada Selasa (19/11/2024), AS mengizinkan Ukraina menggunakan rudal jarak jauh bantuan dari AS, ATACMS, untuk menyasar wilayah Rusia. Ukraina langsung menggunakan ATACMS untuk menyerang wilayah perbatasan kedua negara para Rabu.
Keputusan Amerika Serikat mengirimkan ranjau darat antipersonel dikecam banyak pihak, termasuk kelompok advokasi antiperang. Keputusan ini juga dinilai membalikkan pernyataan Presiden AS Joe Biden tahun 2022 yang menyatakan akan melarang penggunaan ranjau darat.
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin saat menghadiri Forum Pertahanan ASEAN di Vientiane, Laos, Rabu (20/11/2024), mengatakan, perubahan strategi perang membuat situasi di medan tempur berpihak kepada Rusia. ”Mereka memimpin dengan pasukan yang mampu menutup dan melakukan berbagai hal untuk membuka jalan bagi pasukan mekanis. Ukraina ’membutuhkan hal-hal’ yang dapat membantu memperlambat upaya Rusia itu,” katanya.
Sebelumnya, Rusia menggunakan unit-unit mekanis. Kini mereka beralih taktik dengan memperbanyak pasukan infanteri.
Invasi Rusia ke Ukraina telah memasuki hari ke-1.000, Selasa. Para analis menilai jalannya perang saat ini lebih berpihak kepada Rusia. Pasukan Rusia yang lebih besar jumlahnya secara perlahan mampu mendesak, bahkan mendorong mundur, pasukan Ukraina di wilayah Donetsk, Ukraina timur. Sementara, ribuan warga sipil Ukraina terluka dan terbunuh oleh pesawat nirawak dan rudal yang sering ditembakkan dari dalam wilayah Rusia.
Pentagon menilai, pasukan darat individu, bukan pasukan yang lebih terlindungi dalam kendaraan lapis baja, memelopori kemajuan Rusia di medan tempur.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/09/e86fe0aa-ae04-49fb-82e4-57e05b54c99c_jpg.jpg)
Ranjau darat antipersonel yang akan dipasok AS, menurut Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller, adalah jenis ranjau darat nonpersisten yang dapat menghancurkan diri sendiri (self-destruct) atau membuat dirinya tidak aktif setelah kehabisan daya. Ini dipandang bisa mengurangi risiko bahaya bagi warga sipil jika melintas di area yang dipasangi ranjau.
”Dalam waktu dua minggu, jika belum diledakkan, ranjau tersebut menjadi tidak aktif,” kata Miller.
Ranjau itu disekrup secara elektrik dan bertenaga baterai sehingga ketika baterai habis, ranjau itu tidak akan meledak. Ranjau bisa tidak aktif dalam waktu empat jam hingga dua minggu.
Austin mengatakan, Ukraina sebenarnya sudah memiliki ranjau darat antipersonel yang dibuat secara mandiri. Dia mengatakan, AS juga akan menyediakan ranjau antitank untuk digunakan militer Ukraina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/21/7abf82a7e4f085510413bee7b0eff8e3-000_36MU6WT.jpg)
Berbeda dengan Miller yang menyebut ranjau darat itu sebagai ranjau nonpersisten, Austin menyebut ranjau itu tidak persisten. Artinya, pasukan Ukrainalah yang akan mengendalikan peledakan ranjau tersebut.
”Itu pada akhirnya membuatnya jauh lebih aman daripada hal-hal yang mereka buat sendiri,” kata Austin.
Rusia sudah menggunakan ranjau darat di Ukraina. Akan tetapi, ranjau itu menjadi tidak aktif seiring berjalannya waktu.
Untuk mencegah jatuhnya korban dari warga sipil, Washington meminta komitmen Kyiv untuk membatasi dan menggunakan ranjau dengan hati-hati. Ukraina akan menggunakan ranjau di wilayahnya sendiri dan tidak akan menempatkan di wilayah berpenduduk sipil.
Ranjau tersebut masuk dalam paket bantuan militer baru senilai 275 juta dollar AS yang diumumkan oleh pemerintahan Biden, Rabu. Selain pengiriman ranjau darat antipersonel, paket tersebut mencakup Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi atau HIMARS, serta peluru artileri 155 mm dan 105 mm, amunisi antitank Javelin, dan peralatan serta suku cadang lainnya.
Pengumuman pengiriman rudal antipersonel untuk Ukraina muncul dua bulan menjelang Biden lengser dari Gedung Putih dan digantikan oleh Donald Trump. Selama sisa waktu hingga Januari 2025, pemerintahan Biden bertekad membantu Ukraina semaksimal mungkin untuk membalikkan situasi di medan perang.
Jaminan keamanan yang dikatakan Austin tidak menghentikan kritik terhadap Washington yang memberi lampu hijau penggunaan ranjau darat antipersonel oleh Ukraina. Pemerintah Norwegia menyebut keputusan mengirimkan ranjau darat sebagai tindakan ceroboh.
Menteri Luar Negeri Norwegia Espen Barth Eide mengatakan, keputusan AS sangat bermasalah karena Ukraina merupakan penanda tangan konvensi internasional yang menentang penggunaan ranjau darat. Sementara AS dan Rusia bukanlah penanda tangan Perjanjian Pelarangan Ranjau Perserikatan Bangsa-Bangsa. AS dan Rusia telah lama dikritik karena penggunaan ranjau antipersonel di masa lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/21/34aed47f84b8c8d6c625397399eacd68-000_36MV26A.jpg)
Wakil Direktur Human Rights Watch Mary Wareham mengatakan, pengiriman dan penggunaan ranjau oleh Ukraina berpotensi melanggar traktat tersebut. Dia juga mempertanyakan keamanan ranjau yang dikirim karena itu stok lama.
”Dari perspektif pembersihan, penjinak ranjau harus mendekati semua jenis obyek peledak dengan pengetahuan bahwa benda itu dapat meledak,” kata Wareham. Dia mengatakan, fitur penonaktifan diri tidak cukup untuk menjamin keamanan.
Amnesty International menyebut keputusan Washington sebagai ”kemunduran yang sangat mengecewakan”. Lembaga ini mengungkapkan, jenis ranjau nonpersisten yang akan dikirim tetap merupakan ancaman bagi warga sipil.
Laos, tempat Austin menyampaikan rencana pengiriman ranjau darat antipersonel, belum pulih dari pengeboman besar-besaran AS selama Perang Vietnam. Menurut The Halo Trust, kelompok penjinak ranjau, lebih dari 20.000 orang tewas atau terluka akibat persenjataan yang tidak meledak dalam setengah abad sejak perang itu usai.
Setelah mendapat lampu hijau penggunaan ATACMs oleh Presiden Biden, militer Ukraina diketahui telah menembakkan rudal Storm Shadow bantuan Inggris, Rabu (20/11/2024). Mengutip laporan The Financial Times, beberapa rudal diluncurkan terhadap setidaknya satu target militer Rusia. Media itu melaporkan, sumber-sumber pemerintah mengonfirmasi penggunaan rudal jarak jauh untuk pertama kalinya.
Media Inggris lain, The Guardian, menuliskan laporan bahwa Pemerintah Inggris telah memberi izin penggunaan rudal tersebut.
Para bloger militer pro-Kremlin Rusia melaporkan, belasan rudal Storm Shadow ditembakkan ke sebuah target di wilayah perbatasan Kursk, yang sebagian dikuasai pasukan Ukraina.
Media Ukraina mengunggah rekaman video udara dari sebuah pesawat nirawak yang menunjukkan serangkaian ledakan di Maryino, yang diduga digunakan sebagai pusat komando bawah tanah Rusia. Baik Moskwa maupun Kyiv belum secara resmi mengonfirmasi serangan rudal atau penggunaan Storm Shadow. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Fransisca Romana Ninik W