Ramadhan dan Suara Azan yang Dirindukan Itu Bergema Lagi
Ritual urban, termasuk terkait keagamaan, menguatkan rasa memiliki sekaligus perekat warga. Bulan puasa dan suara azan saat senja adalah momentum perubahan baik.
Ramadhan telah tiba. Pasar dan pusat perbelanjaan penuh kerumunan: mencari kebutuhan sahur dan berbuka, juga keperluan lain selama puasa. Di ruang maya, ucapan selamat menjalankan ibadah berseliweran. Janji berbuka bersama bersama teman, kolega, ataupun handai taulan ditebar. Yang berpuasa ataupun tidak sama-sama antusias ikut berbuka bersama.
Di antara hiruk pikuk itu, salah satu yang paling dinanti setiap hari selama Ramadhan adalah azan di peralihan sore dan malam. Azan yang sejatinya adalah panggilan bagi kaum Muslimin dan Muslimat untuk menunaikan shalat wajib, khususnya Maghrib, mendapat tambahan ”tugas” menjadi penanda waktu berbuka puasa.
Selama bulan suci, suara azan Maghrib terasa lebih menggema di seantero kota, seantero negeri. Begitu mendengarnya, warga perkotaan yang tengah berdesakan di dalam kereta komuter, bus kota, dan kendaraan pribadi yang terjebak macet menyempatkan sejenak membatalkan puasa. Ada rasa lega dan syukur ketika seteguk air membasahi teronggokan.
Di jalanan ataupun di ruang-ruang publik pun, selalu ada orang yang ikut menyemarakkan puasa dengan berbagi takjil gratis. Banyak pula yang mencoba mendulang rejeki dengan berjualan makanan untuk berbuka. Pasar-pasar kaget untuk ”war takjil” bersemi di banyak tempat.
Suasana di pinggir jalan sampai gedung-gedung bertingkat mengilap pun berubah. Iklan di televisi, radio, videotron, dan laman digital mengusung tema serupa. Lagu-lagu rohani tertentu kembali diputar di mana-mana. Yang menjalankan puasa ataupun tidak bakal merasa akrab dan tak jarang ikut bersenandung kala mendengarnya.
Suasana Jakarta dan banyak kota lain di Indonesia berubah drastis hampir di semua sudutnya. Sederet pengalaman yang hanya dirasakan di bulan spesial tersebut mengukir memori tersendiri di benak warga kota. Bulan istimewa ini tidak lagi monopoli sekelompok masyarakat tertentu. Sebagian dari prosesi ibadah yang sejatinya amat privat telah menjadi tindakan bersama yang menanamkan identitas kolektif.
Fenomena hampir serupa terjadi tiap akhir tahun menjelang Natal tiba. Ketika berada di Bali, sedikit banyak bakal merasakan hal sama sebelum dan selama perayaan hari-hari besar keagamaan yang dianut oleh mayoritas masyarakat di sana.
Apa itu ritual urban?
Kota pada dasarnya lekat dan ikut terbentuk oleh berbagai ritual atau prosesi berulang, baik yang terkait keagamaan maupun di luar itu.
Di perkotaan Jepang, misalnya, berbagai festival adat yang berbasis pada kepercayaan setempat mewarnai dinamika urban di sana dan menjadi salah satu ciri khas kota. Tempat ibadah, seperti Kuil Sensoji di Tokyo, menjadi ikon yang juga menjadi lokasi wajib dikunjungi para wisatawan untuk lebih mengenal metropolitan terbesar di Jepang itu.
Di India, ada ritual keagamaan yang melibatkan jutaan umat melakukan perjalanan dari berbagai daerah tempat ke satu lokasi tujuan. Pergerakan akbar rutin tahunan ini tak hanya menyedot perhatian warga setempat, tetapi juga publik dunia. Fenomena itu mengingatkan pada ibadah haji yang dilakoni umat Islam dari seluruh dunia dengan kunjungan ke Mekkah dan Madinah di Arab Saudi.
Dalam jurnal ”Urbans rituals as spaces of memory and belonging: A Geneva case study” oleh Fiorenza Gamba dan Sandro Cattacin pada Maret 2021 di Elsevier disebutkan, prosesi pada dasarnya adalah tindakan performatif yang menanamkan rasa identitas di antara komunitas perkotaan. Tindakan performatif itu menghubungkan topografi simbolis kota dan menciptakan ruang yang meningkatkan aktivitas ritual dan lanskap khas.
Lanskap ini meliputi pengalaman yang dapat dirasakan kelima indera manusia, seperti aroma, suara, dan juga sentuhan fisik. Dengan warga sebagai para pelakon ataupun penonton, pengalaman tersebut bak pertunjukan langsung yang memberikan wawasan tentang dinamika masyarakat dan pengalaman kehidupan perkotaan. Prosesi tersebut membentuk pengalaman intersensori yang mengharukan yang juga menggerakkan emosi masyarakat perkotaan.
Sosiolog Perancis Emile Durkheim sebelumnya menekankan bahwa dimensi sosial dan kekuatan pengaturan ritual dilihatnya sebagai mekanisme konsolidasi kelompok.
Perpecahan pascamigrasi
Dalam World Cities Report 2016, laporan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk permukiman manusia dan urbanisasi berkelanjutan (UN Habitat), dunia kini ditandai dengan mobilitas dan hubungan transnasional, yang mengakibatkan perpindahan penduduk secara konstan di wilayah mana pun. Kondisi ini menimbulkan isu kepemilikan yang menjadi tantangan terhadap tata kelola ruang, khususnya ruang perkotaan yang berubah dengan cepat.
Mendukung laporan tersebut, Gamba dan Cattacin menyatakan, baru pada abad ke-20 (berlanjut ke abad ke-21), kota menjadi ruang yang mempermasalahkan migrasi dan perbedaan. Masalah ini adalah suatu ironi karena kota secara alami terbentuk oleh masyarakat yang kompleks dari berbagai daerah dan bangsa.
Untuk itu, berpijak pada pendapat Durkheim, mempelajari dan memanfaatkan ritual urban menjadi penting karena diyakini dapat memupuk rasa senasib sepenanggungan sebagai sesama warga yang hidup dan menghidupi kotanya.
”Ritual menghasilkan rasa memiliki melalui interaksi dinamis antara inklusi dan/atau eksklusi, dan hal ini mungkin menjadi kunci tata kelola kota yang terpecah,” tulis kedua peneliti dalam jurnalnya.
Menurut Paul Connerton, dalam bukunya How Societies Remember, ritual tidak sekadar ekspresif atau formal. Pengaruhnya tidak terbatas pada konteks di mana ritual tersebut terjadi. Ritual urban adalah produksi ingatan yang eksplisit sehingga menghasilkan rasa memiliki yang tertanam internal dan menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada dalam suatu kelompok melalui proses negosiasi ulang yang kompleks.
Menyatukan Geneva
Bagaimana ritual urban bertransformasi mengatasi perpecahan di perkotaan pascamigrasi?
Gamba dan Cattacin dalam studinya di Kota Geneva, Swiss, menemukan ada ritual urban yang dimodifikasi untuk mengatasi isu serius di sana. Geneva adalah kota tempat institusi internasional berada, antara lain Kantor PBB dan beberapa lembaga di bawahnya. Penduduk asli bukan menjadi warga dominan di kota ini karena saking banyaknya orang asing yang bekerja di lembaga internasional.
Di Geneva, harga properti melejit—biaya hidup pun tinggi—masuk dalam jajaran paling mahal sedunia. Penghuni dengan paspor berbeda berkutat mengurusi masalah dunia yang ternyata sulit berbaur dengan warga setempat, apalagi memikirkan nasib kota itu. Kota inklusif pernah menjadi status yang jauh dari Geneva.
Ritual urban menjadi cara warga ”mengobati” dirinya juga kotanya.
Kolaborasi warga lokal dan pemerintah setempat melibatkan warga asing kemudian sepakat membuat perubahan pada ritual urban untuk mengatasi persoalan tersebut. Ritual urban di Geneva mengacu pada beberapa perayaan atau festival tahunan.
Perayaan Escalade yang pada masa lalu menjadi simbol perlawanan masyarakat beragama tertentu terhadap umat pemeluk keyakinan berbeda, kemudian diubah narasinya. Escalade masa kini merupakan perayaan keterbukaan Kota Geneva menyambut warga seluruh dunia sehingga mengatasi perpecahan terkait dengan komposisi kompleks populasi Geneva.
Les Fêtes de Genève atau Perayaan Musim Panas yang biasanya digelar selama tiga pekan berturut-turut demi menggenjot industri pariwisata di Geneva, beberapa tahun terakhir mendapat repons buruk dari warga lokal. Proses negosiasi terus berjalan dan sejauh ini tuntutan warga untuk mereduksi waktu gelaran festival disetujui.
Pemerintah menyanggupi pula permintaan agar kegiatan tahunan ini memiliki tujuan baru, yaitu lebih inklusif, mempromosikan integrasi sosial, dan menjadi bagian dari pembangunan kota berkelanjutan.
Sumber kebahagiaan
Di China, Chang Li, Xiaohui Huang, dan Yu Yuan, dalam jurnalnya ”Territory Identity and Ritual Life of Religious Spaces in Urbanized Communities: A Case Study of Jiangsu” di Sage Journals pada 23 Agustus 2023 memaparkan temuan bahwa dalam masyarakat perkotaan modern, ritual urban, khususnya yang terkait keagamaan, menyajikan dua wajah. Kedua wajah tersebut adalah sifat sakral dan milik publik.
Sampai batas tertentu, yaitu tanpa mengusik sifat sakralnya, ritual urban masyarakat perkotaan secara rasional merespons tantangan modernitas yang ditimbulkan urbanisasi. Ritual ini terus mengubah interaksi antara agama, budaya, dan evolusi sosial demi membubuhkan kebahagiaan dan kebaikan dalam keseharian warga kota walaupun mereka menganut agama berbeda.
Ritual urban menjadi cara warga ”mengobati” dirinya, juga kotanya.
Seperti suara azan saat matahari bergulir di ufuk Barat selama puasa yang menerbitkan sukacita warga bahwa bukber bisa segera dimulai, kebersamaan dipupuk dan berbagi kehangatan. Momentum puasa ini juga dapat digunakan untuk menggerakkan perubahan baik.
Pertanyaannya, apakah kita dan negara ini, mau terus berubah lebih baik? Mau!
Ramadhan telah tiba. Pasar dan pusat perbelanjaan penuh kerumunan: mencari kebutuhan sahur dan berbuka, juga keperluan lain selama puasa. Di ruang maya, ucapan selamat menjalankan ibadah berseliweran. Janji berbuka bersama bersama teman, kolega, ataupun handai taulan ditebar. Yang berpuasa ataupun tidak sama-sama antusias ikut berbuka bersama.
Di antara hiruk pikuk itu, salah satu yang paling dinanti setiap hari selama Ramadhan adalah azan di peralihan sore dan malam. Azan yang sejatinya adalah panggilan bagi kaum Muslimin dan Muslimat untuk menunaikan shalat wajib, khususnya Maghrib, mendapat tambahan ”tugas” menjadi penanda waktu berbuka puasa.
Selama bulan suci, suara azan Maghrib terasa lebih menggema di seantero kota, seantero negeri. Begitu mendengarnya, warga perkotaan yang tengah berdesakan di dalam kereta komuter, bus kota, dan kendaraan pribadi yang terjebak macet menyempatkan sejenak membatalkan puasa. Ada rasa lega dan syukur ketika seteguk air membasahi teronggokan.
Di jalanan ataupun di ruang-ruang publik pun, selalu ada orang yang ikut menyemarakkan puasa dengan berbagi takjil gratis. Banyak pula yang mencoba mendulang rejeki dengan berjualan makanan untuk berbuka. Pasar-pasar kaget untuk ”war takjil” bersemi di banyak tempat.
Suasana di pinggir jalan sampai gedung-gedung bertingkat mengilap pun berubah. Iklan di televisi, radio, videotron, dan laman digital mengusung tema serupa. Lagu-lagu rohani tertentu kembali diputar di mana-mana. Yang menjalankan puasa ataupun tidak bakal merasa akrab dan tak jarang ikut bersenandung kala mendengarnya.
Suasana Jakarta dan banyak kota lain di Indonesia berubah drastis hampir di semua sudutnya. Sederet pengalaman yang hanya dirasakan di bulan spesial tersebut mengukir memori tersendiri di benak warga kota. Bulan istimewa ini tidak lagi monopoli sekelompok masyarakat tertentu. Sebagian dari prosesi ibadah yang sejatinya amat privat telah menjadi tindakan bersama yang menanamkan identitas kolektif.
Fenomena hampir serupa terjadi tiap akhir tahun menjelang Natal tiba. Ketika berada di Bali, sedikit banyak bakal merasakan hal sama sebelum dan selama perayaan hari-hari besar keagamaan yang dianut oleh mayoritas masyarakat di sana.
Apa itu ritual urban?
Kota pada dasarnya lekat dan ikut terbentuk oleh berbagai ritual atau prosesi berulang, baik yang terkait keagamaan maupun di luar itu.
Di perkotaan Jepang, misalnya, berbagai festival adat yang berbasis pada kepercayaan setempat mewarnai dinamika urban di sana dan menjadi salah satu ciri khas kota. Tempat ibadah, seperti Kuil Sensoji di Tokyo, menjadi ikon yang juga menjadi lokasi wajib dikunjungi para wisatawan untuk lebih mengenal metropolitan terbesar di Jepang itu.
Di India, ada ritual keagamaan yang melibatkan jutaan umat melakukan perjalanan dari berbagai daerah tempat ke satu lokasi tujuan. Pergerakan akbar rutin tahunan ini tak hanya menyedot perhatian warga setempat, tetapi juga publik dunia. Fenomena itu mengingatkan pada ibadah haji yang dilakoni umat Islam dari seluruh dunia dengan kunjungan ke Mekkah dan Madinah di Arab Saudi.
Serial Artikel
Cara Pemimpin Baru Atasi ”Urban Sprawl” Tentukan Gelap-Terang Kota
Tumpang tindih penguasaan tanah, ketergantungan pada kendaraan pribadi, hingga kekurangan lahan pertanian dipicu urban sprawl biang kerok isu kronis perkotaan.
Dalam jurnal ”Urbans rituals as spaces of memory and belonging: A Geneva case study” oleh Fiorenza Gamba dan Sandro Cattacin pada Maret 2021 di Elsevier disebutkan, prosesi pada dasarnya adalah tindakan performatif yang menanamkan rasa identitas di antara komunitas perkotaan. Tindakan performatif itu menghubungkan topografi simbolis kota dan menciptakan ruang yang meningkatkan aktivitas ritual dan lanskap khas.
Lanskap ini meliputi pengalaman yang dapat dirasakan kelima indera manusia, seperti aroma, suara, dan juga sentuhan fisik. Dengan warga sebagai para pelakon ataupun penonton, pengalaman tersebut bak pertunjukan langsung yang memberikan wawasan tentang dinamika masyarakat dan pengalaman kehidupan perkotaan. Prosesi tersebut membentuk pengalaman intersensori yang mengharukan yang juga menggerakkan emosi masyarakat perkotaan.
Sosiolog Perancis Emile Durkheim sebelumnya menekankan bahwa dimensi sosial dan kekuatan pengaturan ritual dilihatnya sebagai mekanisme konsolidasi kelompok.
Perpecahan pascamigrasi
Dalam World Cities Report 2016, laporan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk permukiman manusia dan urbanisasi berkelanjutan (UN Habitat), dunia kini ditandai dengan mobilitas dan hubungan transnasional, yang mengakibatkan perpindahan penduduk secara konstan di wilayah mana pun. Kondisi ini menimbulkan isu kepemilikan yang menjadi tantangan terhadap tata kelola ruang, khususnya ruang perkotaan yang berubah dengan cepat.
Mendukung laporan tersebut, Gamba dan Cattacin menyatakan, baru pada abad ke-20 (berlanjut ke abad ke-21), kota menjadi ruang yang mempermasalahkan migrasi dan perbedaan. Masalah ini adalah suatu ironi karena kota secara alami terbentuk oleh masyarakat yang kompleks dari berbagai daerah dan bangsa.
Untuk itu, berpijak pada pendapat Durkheim, mempelajari dan memanfaatkan ritual urban menjadi penting karena diyakini dapat memupuk rasa senasib sepenanggungan sebagai sesama warga yang hidup dan menghidupi kotanya.
”Ritual menghasilkan rasa memiliki melalui interaksi dinamis antara inklusi dan/atau eksklusi, dan hal ini mungkin menjadi kunci tata kelola kota yang terpecah,” tulis kedua peneliti dalam jurnalnya.
Menurut Paul Connerton, dalam bukunya How Societies Remember, ritual tidak sekadar ekspresif atau formal. Pengaruhnya tidak terbatas pada konteks di mana ritual tersebut terjadi. Ritual urban adalah produksi ingatan yang eksplisit sehingga menghasilkan rasa memiliki yang tertanam internal dan menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada dalam suatu kelompok melalui proses negosiasi ulang yang kompleks.
Menyatukan Geneva
Bagaimana ritual urban bertransformasi mengatasi perpecahan di perkotaan pascamigrasi?
Gamba dan Cattacin dalam studinya di Kota Geneva, Swiss, menemukan ada ritual urban yang dimodifikasi untuk mengatasi isu serius di sana. Geneva adalah kota tempat institusi internasional berada, antara lain Kantor PBB dan beberapa lembaga di bawahnya. Penduduk asli bukan menjadi warga dominan di kota ini karena saking banyaknya orang asing yang bekerja di lembaga internasional.
Di Geneva, harga properti melejit—biaya hidup pun tinggi—masuk dalam jajaran paling mahal sedunia. Penghuni dengan paspor berbeda berkutat mengurusi masalah dunia yang ternyata sulit berbaur dengan warga setempat, apalagi memikirkan nasib kota itu. Kota inklusif pernah menjadi status yang jauh dari Geneva.
Ritual urban menjadi cara warga ”mengobati” dirinya juga kotanya.
Kolaborasi warga lokal dan pemerintah setempat melibatkan warga asing kemudian sepakat membuat perubahan pada ritual urban untuk mengatasi persoalan tersebut. Ritual urban di Geneva mengacu pada beberapa perayaan atau festival tahunan.
Perayaan Escalade yang pada masa lalu menjadi simbol perlawanan masyarakat beragama tertentu terhadap umat pemeluk keyakinan berbeda, kemudian diubah narasinya. Escalade masa kini merupakan perayaan keterbukaan Kota Geneva menyambut warga seluruh dunia sehingga mengatasi perpecahan terkait dengan komposisi kompleks populasi Geneva.
Les Fêtes de Genève atau Perayaan Musim Panas yang biasanya digelar selama tiga pekan berturut-turut demi menggenjot industri pariwisata di Geneva, beberapa tahun terakhir mendapat repons buruk dari warga lokal. Proses negosiasi terus berjalan dan sejauh ini tuntutan warga untuk mereduksi waktu gelaran festival disetujui.
Pemerintah menyanggupi pula permintaan agar kegiatan tahunan ini memiliki tujuan baru, yaitu lebih inklusif, mempromosikan integrasi sosial, dan menjadi bagian dari pembangunan kota berkelanjutan.
Serial Artikel
”Kabur Saja Dulu, tapi Ke Mana?”
#KaburAjaDulu menjadi opsi populer bagi yang tak sejalan dengan pemimpin populis. Bagi yang tidak bisa kabur, masih ada harapan di kota-kota kita.
Di China, Chang Li, Xiaohui Huang, dan Yu Yuan, dalam jurnalnya ”Territory Identity and Ritual Life of Religious Spaces in Urbanized Communities: A Case Study of Jiangsu” di Sage Journals pada 23 Agustus 2023 memaparkan temuan bahwa dalam masyarakat perkotaan modern, ritual urban, khususnya yang terkait keagamaan, menyajikan dua wajah. Kedua wajah tersebut adalah sifat sakral dan milik publik.
Sampai batas tertentu, yaitu tanpa mengusik sifat sakralnya, ritual urban masyarakat perkotaan secara rasional merespons tantangan modernitas yang ditimbulkan urbanisasi. Ritual ini terus mengubah interaksi antara agama, budaya, dan evolusi sosial demi membubuhkan kebahagiaan dan kebaikan dalam keseharian warga kota walaupun mereka menganut agama berbeda.
Ritual urban menjadi cara warga ”mengobati” dirinya, juga kotanya.
Seperti suara azan saat matahari bergulir di ufuk Barat selama puasa yang menerbitkan sukacita warga bahwa bukber bisa segera dimulai, kebersamaan dipupuk dan berbagi kehangatan. Momentum puasa ini juga dapat digunakan untuk menggerakkan perubahan baik.
Pertanyaannya, apakah kita dan negara ini, mau terus berubah lebih baik? Mau!
Serial Artikel
Tahun Baru Bertubi dalam Sebulan, YOLO pun Menjadi YONO
Seiring tahun berganti, gaya hidup orang kota pun bertransformasi. Dari YOLO bergeser ke YONO. Perubahan karena tekanan atau kesadaran?