Suara Sukatani adalah Suara Jelata

Dari Purbalingga, Jawa Tengah, band punk Sukatani melantunkan kisah keseharian; mulai dari hutan yang berganti bandara sampai mahalnya berurusan dengan kepolisian.

21 Feb 2025 11:30 WIB · Hiburan

Oleh Herlambang Jaluardi

Duo band punk Sukatani tiba-tiba menyeruak ketika mahasiswa di berbagai kota turun ke jalan mengusung tema Indonesia Gelap, Kamis (20/2/2025). Band asal Purbalingga, Jawa Tengah, ini membuat video permintaan maaf kepada institusi Polri dan menarik lagu ”Bayar Bayar Bayar” dari berbagai pelantar digital.

Lagu ”Bayar Bayar Bayar” ada dalam album perdana mereka Gelap Gempita yang beredar sejak Juli 2023. Melalui lagu itu, mereka menyuarakan kesewenang-wenangan polisi yang hanya akan menyelesaikan masalah jika ”membayar”. Bait pertama lagu itu berlirik, ”Mau bikin SIM, bayar polisi/Ketilang di jalan, bayar polisi/Touring motor gede, bayar polisi/Angkot mau ngetem bayar polisi//”

Seolah mewakili suara jelata, anggota band Ovi alias Twister Angel pada vokal dan Al alias Alectroguy pada vokal dan gitar mengeluh tak bisa berbuat banyak karena tak punya uang. Ini mereka tuliskan di bait refrain yang berbunyi, ”Aduh aduh kutak punya uang/untuk bisa bayar polisi.” Kuat dugaan, atas alasan lagu inilah mereka mengunggah video permintaan maaf di akun Instagram band.

Sukatani

Dalam video itu, Al terlihat lebih banyak bersuara. Salah satu hal yang ia sampaikan adalah ”Memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolri dan Institusi Polri atas lagu ciptaan kami dengan judul ’Bayar Bayar Bayar’ yang liriknya bayar polisi yang telah kami nyanyikan sehingga viral di beberapa platform media sosial,” kata Al. Ia tampak membaca teks di balik kamera.

Ia juga meminta pengguna media sosial untuk tidak lagi menggunakan lagu itu, dan menurunkan unggahan yang telanjur memakainya. ”Tolong segera dihapus video yang menggunakan lagu kami, ’Bayar Bayar Bayar’, yang telah di-upload oleh pengguna media sosial saat ini,” pintanya tergesa-gesa. Di ujung video, dia menyatakan tidak dalam tekanan, tetapi ekspresi dan bahasa tubuhnya berkata lain.

Dari penelusuran pada Kamis siang, lagu tersebut tak lagi ada di pelantar musik digital besar, seperti Spotify dan Apple Music. Namun, lagu lainnya pada album Gelap Gempita masih ada. Sementara di pelantar Bandcamp, pengguna masih bisa membeli dan mengunduhnya.

Album Gelap Gempita muncul melalui label rekaman Dugtrax Records yang berbasis digital. Versi kasetnya diedarkan label Tampui Records dan Gerhana Records. Sukatani membebaskan lisensi penggunaan materi di album tersebut selama menyebutkan penciptanya, dan bukan untuk kepentingan komersial.

 

Isu agraria

Dari delapan lagu di album tersebut, hanya lagu ”Bayar Bayar Bayar” yang menyebutkan kata ”polisi”. Tujuh lagu lainnya menceritakan tema bermacam-macam. Pada lagu pembuka ”Sukatani”, misalnya, mereka mendengungkan nasib buruh tani dalam bahasa ibu, bahasa Jawa. Petikan liriknya berbunyi, ”Sukatani, pengen dadi wong tani/Sukatani, tapi ra ndue lemah”, yang kalau diterjemahkan bebas berbunyi, ”Sukatani, ingin menjadi petani, tapi tak punya tanah.”

Sukatani

Isu agraria juga mereka lantangkan dalam lagu ”Alas Wirasaba”, juga dalam bahasa Jawa, khususnya Banyumasan. Lirik pada bait dua berbunyi ”Lah siki alase ra ana/Wis didadikna bandara/Terus inyong arep dolanan nang ngendi ya?” Gugatan itu kira-kira berbunyi ”Sekarang hutannya sudah musnah/Sudah menjadi bandara/Lalu aku harus bermain ke mana?”

Selain menyuarakan keresahan akar rumput, Sukatani juga berefleksi tentang menjadi punk dalam lagu ”Semakin Tua Semakin Punk”. Ada pula sentilan untuk aktivisme dalam lagu ”Jangan Bicara Solidaritas”. Pada lagu ini, Sukatani mengkritik aksi solidaritas kerap dipakai sebagai tren belaka, agar diakui di ”kelas para pejuang”. Sensitivitas semacam ini rasanya hanya berani diungkapkan oleh mereka yang benar-benar ada di kancah tersebut.

Selama sekitar dua tahun setelah album beredar, Sukatani banyak menerima undangan pentas bermacam skala; mulai dari acara komunitas di kantong pergerakan hingga festival besar sekelas Pestapora di Jakarta. Setiap naik panggung, Al dan Ovi selalu memakai topeng. Identitas mereka tak terungkap, tapi buah pikirnya dinyanyikan bersama-sama oleh penonton.

Berkebalikan dengan video ”permintaan maaf” itu, duo Sukatani tampil tanpa topeng. Mereka bahkan menyebut nama asli mereka, yang di albumnya saja tidak dituliskan. Anonimitas mereka ”terpaksa” dibongkar. Perjuangan klandestin mereka ”dipaksa” berakhir.

Quote

Rakyat harus tetap berisik dan melawan pelarangan berekspresi. Jangan mau kembali ke era Orde Baru yang sama saja dengan memvalidasi Indonesia Gelap.

 

Dukungan mengalir

Mungkin itu yang diharapkan oleh mereka yang tersinggung dengan lirik lagunya. Pada kenyataannya, dukungan untuk Sukatani mengucur deras. Tagar #kamibersamasukatani tersemai di aneka media sosial. Akun Instagram @aksikamisanbdg bahkan mengundang khalayak untuk menyanyikan lagu ini di Taman Vanda, depan Markas Polrestabes Bandung pada Kamis sore ini. Lagu itu juga berkumandang lantang di Aksi Kamisan di Jakarta.

Musisi Ananda Badudu berpendapat, lagu ”Bayar Bayar Bayar” semestinya ditanggapi sebagai kritik untuk mendorong perubahan di tubuh kepolisian. ”Tapi yang terjadi, Sukatani yang malah dibungkam, dipaksa meminta maaf atas kritik yang mereka sampaikan,” kata Ananda, Kamis malam.

Pembungkaman ini, lanjutnya, justru menunjukkan bahwa institusi yang dikritik sebagai aktor perusak tatanan demokrasi dan menyebar ketakutan kepada warga. Warga semestinya bebas menyampaikan aspirasi dan berhak terlibat mendorong negara yang bersih korupsi.

Sukatani

”Semestinya Kapolri yang meminta maaf kepada warga karena tak mendengar kritik, malah membiarkan budaya korupsi terus menggerogoti kepolisian,” katanya, yang juga pernah berurusan dengan aparat ini.

Bagi Ananda, lagu ”Bayar Bayar Bayar” itu adalah fakta sebenarnya yang dihadapi warga jelata. Sukatani mewakili keresahan itu. Memberangus Sukatani sama dengan melecehkan aspirasi warga.

Pelaku industri musik lainnya, Arian13 menganggap pemberangusan karya Sukatani adalah pertanda buruk yang dipertontonkan pemerintahan baru. Sejak pergantian presiden, dia mencatat setidaknya ada tiga peristiwa pemberangusan di kancah seni: pembatalan pameran lukisan Yos Suprapto, pelarangan pementasan teater ”Wawancara dengan Mulyono” garapan kelompok Teater Payung Hitam, dan yang terkini menimpa grup Sukatani.

”Rakyat harus tetap berisik dan melawan pelarangan berekspresi. Jangan mau kembali ke era Orde Baru yang sama saja dengan memvalidasi Indonesia Gelap,” kata Arian13.

Di jagat maya, sejumlah musisi bereaksi memihak Sukatani. Ajakan untuk menggarap ulang lagu ”Bayar Bayar Bayar” berdengung sejak Kamis siang hingga malam. Semoga lagu-lagu Sukatani tetap mengiringi dansa di antara realitas. Dan, yang lebih penting, semoga Twister Angel dan Alectroguy baik-baik saja.


Kerabat Kerja

Penulis:

Herlambang Jaluardi
 | 

Editor:

Moh. Hilmi Faiq
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .