Sejumlah korban luka akibat banjir bandang di Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, masih dirawat. Warga yang mengungsi juga mulai terserang penyakit.
08 Des 2025 17:39 WIB · Lingkungan
KOMPAS/PANDU WIYOGA
TAPANULI SELATAN, KOMPAS — Sebanyak 19 korban banjir bandang masih dirawat di Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Adapun di pengungsian, warga mulai mengidap sakit pernapasan, flu, dan gatal-gatal. Petugas kesehatan menyatakan stok obat mencukupi untuk menangani warga terdampak bencana.
Kepala Puskemas Batang Toru Elida Batubara mengatakan, hingga Senin (8/12/2025), tim pencari dan penyelamat (SAR) gabungan telah menemukan 47 korban meninggal. Selain itu, masih ada 19 orang yang dirawat di puskesmas karena menderita beragam luka akibat tersapu banjir bandang pada 25 November lalu.
”Yang masih dirawat di puskesmas, rata-rata menderita luka akibat terkena kayu saat hanyut tersapu banjir. Ada yang mengalami luka dalam akibat benturan, tetapi lebih banyak yang menderita luka luar,” kata Elida saat ditemui.
Salah satu korban luka adalah Cahaya Simatupang (10) yang menderita sobek di tumit kaki kiri akibat tertancap potongan pohon sawit yang tersapu banjir. Ia tersapu banjir yang melanda rumahnya di Desa Garoga lalu ditemukan di Desa Aek Ngadong yang berjarak sekitar 2 kilometer (km).
”Kemarin kakinya bengkak dan satu minggu dia nangis kesakitan,” kata ibu Cahaya, Reni Panggabean (48).
Reni menuturkan, saat gemuruh banjir bandang terdengar sekitar pukul 10.00 pada 25 November, ia dan suami serta lima anak mereka lari ke Jembatan Garoga. Namun, air meluap melebihi tinggi jembatan dan menyapu mereka semua. Bencana itu merenggut nyawa anak sulung Reni.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/0988ba5d18d349076f5440e36fd99059-1.DSC09252.jpg)
”Itulah aku rasa kiamat. Enggak ingat lagi sama anak, enggak ingat lagi semuanya. Cuma berusaha menyelamatkan diri sendiri. Setelah surut, baru sadar anakku hilang semua,” ucapnya.
Selain Cahaya, ada pula Fadlan Lubis (6) yang dirawat di Puskesmas Batang Toru. Mata anak itu merah gelap akibat terkena lumpur saat hanyut terbawa banjir. Fadlan tersapu banjir dari dalam rumahnya di Desa Garoga dan lalu ditemukan di Desa Huta Godang yang berjarak sekitar 1 km.
”Aku hanyut juga sampai Huta Godang, setelah sadar baru aku cari dia. Dia ketemu enggak jauh dari tempat aku selamat, kejepit di antara (potongan) kayu-kayu,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/e6fd1bb93d0f00246ecffd8ed38b7ab9-3.DSC09294.jpg)
Junaedi Nainggolan (73), yang tinggal di pusat Kecamatan Batang Toru, berniat menjenguk cucunya yang tengah hamil tua di Desa Garoga pada 8 Desember. Ia sudah tahu Garoga tersapu banjir, tetapi tidak menyangka dampaknya teramat parah.
Junaedi tergeletak dan kesulitan bernapas saat akan menyeberangi Sungai Garoga di perbatasan Desa Huta Godang dan Garoga. Ia kemudian ditandu oleh Tim SAR Gabungan menuju pos kesehatan terdekat.
”Mungkin dia kena panic attack (serangan panik) sehingga tekanan darahnya naik sampai 160 dan langsung jatuh lemas,” kata seorang tenaga medis yang memberi penanganan darurat kepada Junaedi.
Kondisi Junaedi baru membaik setelah ia mendengar kabar bahwa cucunya selamat. Cucu Junaedi dan suaminya telah mengungsi ke lokasi aman di Desa Anguli sebelum banjir bandang menghantam Garoga pukul 10.00 pada 25 November.
”Aku enggak nyangka semua (rumah) sudah rata begini. Aku enggak pernah lihat musibah separah ini,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/b1b8c5d930f33931286bab8ab569be8d-DSC09270.jpg)
Adapun di sejumlah posko pengungsian, warga mulai melaporkan terserang demam, batuk, dan gatal-gatal. Ini mulai terjadi setidaknya lima hari pascabencana atau 1 Desember 2025.
Salah satu warga Garoga yang mengungsi di Posko Batu Hula, Wahyuningsih Pasaribu (40), mengatakan, anak bungsu dia, Ramadhani Hutasuhut (5), telah mengidap demam selama dua hari. Ia telah memberi obat kepada Ramadhani yang diberi petugas medis dari posko kesehatan di lokasi itu.
”Makanan, pakaian, dan obat-obatan di sini mencukupi, tetapi namanya anak-anak di tempat (pengungsian) seperti ini pasti rawan sakit, apalagi turun hujan hampir setiap hari,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/9cefaaf95a57f8a5e243bbfea0a391cf-DSC09246.jpg)
Adapun Juliana Siregar (44), yang juga mengungsi di Batu Hula, melarikan cucunya, Refal Pradipta (2), ke Puskesmas Batang Toru. Anak itu sudah empat hari dirawat di puskesmas.
Kepala puskesmas, Elida, menyatakan, memang mulai banyak pengungsi berobat ke puskesmas akibat sakit selama di pengungsian. Ia menyebut paling banyak mereka menderita infeksi saluran pernapasan, demam, dan gatal-gatal.
”Semua masih bisa kami tangani karena stok obat-obatan mencukupi. Bantuan dari pemerintah dan swasta sudah banyak masuk,” katanya.
Data Badan Nasional Penangggulangan Bencana, hingga pukul 15.00 pada 8 Desember, menunjukkan, ada 85 korban meninggal dan 30 jiwa masih hilang akibat banjir bandang di Tapanuli Selatan. Adapun total jumlah korban meninggal di delapan kabupaten/kota yang terdampak bencana di Sumatera Utara adalah 338 meninggal dan 138 hilang.
Penulis:
Pandu WiyogaEditor:
Johanes Galuh BimantaraPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul