Seruan masyarakat sipil dari kedua belah pihak yang bertikai, yakni Israel dan Hamas, yang menuntut diakhirinya perang dan pengembalian tawanan.
29 Mar 2025 14:30 WIB · Foto
Gagalnya gencatan senjata kedua yang ditandai dengan serangan udara Israel, Selasa (18/3/2025), membuat harapan ribuan keluarga yang kerabatnya masih disandera oleh kedua belah pihak, baik disandera Hamas maupun ditahan Israel, pupus.
Serangan perdana Israel setelah perjanjian gencatan senjata, 19 Januari 2025 hingga 1 Maret 2025, menewaskan sedikitnya 326 warga Palestina. Serangan udara ini juga menghancurkan kehidupan ”normal” 90 hari yang terjadi di wilayah Palestina.
Saat itu, warga di pengungsian berbondong-bondong kembali ke kampung halaman masing-masing. Mereka memulai kehidupan sebagaimana sebuah kampung pada umumnya. Tiap sore menjelang waktu berbuka puasa, lampu akan menyala menerangi meja panjang berisi makanan untuk berbuka yang akan mereka santap bersama-sama.
Suara tawa gembira anak-anak juga terdengar saat berlarian di jalanan atau di antara reruntuhan gedung tempat bermain mereka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/29/7f2cbe16-f6ce-49d0-877b-f9c2e2dc853d_jpg.jpg)
Di Israel, serangan yang dilakukan pemerintah juga mendapat banyak tentangan rakyatnya. Ribuan masyarakat bergabung dan mendukung keluarga yang masih disandera Hamas.
Mereka berunjuk rasa di kediaman serta di kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Mereka meminta Pemerintah Israel menghentikan serangan dan mengupayakan pembebasan sandera yang masih ditahan Hamas.
Perang terbuka antara Isarel dan Hamas yang pecah pada 7 Oktober 2023 kini berlanjut. Kala itu, Hamas berhasil merangsek, masuk ke Israel, menewaskan dan menyandera ratusan warga Israel. Lebih dari 40.000 warga Palestina terbunuh dalam aksi balasan Israel atas serangan Hamas itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/29/f0e1b87c-7c5a-4f36-8962-41ca2b992f3f_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/29/3714b044-4699-4668-95f5-94ab8044cc37_jpg.jpg)
Dalam gencatan senjata tahap pertama yang berlansung 19 Januari 2025 sampai 1 Maret 2025, telah terjadi pertukaran sandera Hamas dan ribuan tahanan Israel. Setidaknya Hamas telah menukar 33 sandera, baik yang hidup maupun dalam kondisi meninggal, ditukar dengan ribuan tahanan Israel. Kedua belah pihak masih memiliki sandera yang ditahan di daerah masing-masing.
Harapan keluarga dan masyarakat agar semua sandera dari kedua belah dibebaskan berakhir buntu. Hamas, yang diyakini masih menahan 58 sandera, bersikukuh akan membebaskan semua sandera, ditukar dengan perdamaian permanen. Israel merespons penolakan syarat yang diajukan Hamas dengan meluncurkan serangan udara. Perang pun kembali berkobar.
Di pihak Palestina, kekecewaan akan terjadinya serangan Israel direspons dengan aksi unjuk rasa di berbagai kota. Sampai Jumat (28/3/2025) telah terjadi protes di beberapa tempat.
Ribuan warga Palestina berbaris di antara reruntuhan kota yang hancur parah di Gaza dan meneriakkan yel-yel penghentian perang. Sesekali terdengar teriakan menentang Hamas.
Pengunjuk rasa menyerukan diakhirinya pertempuran yang telah berlangsung selama 17 bulan dengan Israel yang telah menghancurkan kehidupan di Gaza. Protes serupa terjadi di daerah Jabaliya yang hancur parah pada hari-hari sebelumnya.
Dari banyak foto yang dirilis, terlihat ribuan warga palestina berkumpul di puing-puing bangunan sambil memegang poster berisi tuntutan pengentian perang. Mereka juga membakar ban dan berorasi mengecam terjadinya perang. Seruan masyarakat sipil di kedua belah pihak yang bertikai ini belum mendapatkan tanggapan seperti yang mereka harapkan.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan Setiyawan