John Herdman samakan Indonesia dengan Kanada terkait ketersediaan talenta skuad. Juara Asia Tenggara cara tercepat Herdman lepas dari bayang-bayang Shin Tae-yong.
04 Jan 2026 16:04 WIB · Olahraga
Laman MLS
Publik sepak bola Indonesia tinggal menunggu hari untuk menyambut pelatih anyar tim nasional Indonesia, John Herdman, tiba di Jakarta. Menjadi juru latih ke-41 skuad ”Garuda”, Herdman bakal diselimuti harapan dan tantangan untuk memenuhi target terbesar mengantarkan Indonesia lolos ke Piala Dunia 2030.
Rekam jejak Herdman sebagai pelatih yang membawa timnas Kanada menembus Piala Dunia 2022 menjadi nilai lebih. PSSI akhirnya mengontrak lagi pelatih yang sebelumnya membawa skuad asuhan tampil di pesta sepak bola terakhir. Hal itu pernah dijalani bersama Shin Tae-yong.
Kehadiran Herdman, yang berusia 50 tahun, membangunkan lagi harapan untuk meraih prestasi dalam persaingan kancah internasional. Indonesia bisa membuktikan bisa bersaing di level Asia ketika nyaris lolos ke Olimpiade Paris 2024 dan Piala Dunia 2026. Dalam dua ajang itu, tim besutan PSSI bersaing hingga fase akhir babak kualifikasi.
”Kita memulai lagi program prestasi timnas menuju Piala Dunia dengan menunjuk Herdman yang memiliki kualifikasi untuk mewujudkan itu,” sebut Ketua Umum PSSI Erick Thohir dalam keterangan tertulis, Sabtu (3/1/2026).
Sejalan dengan Erick, Herdman juga menyebut Indonesia sebagai proyek tepat untuknya. Ia pun sudah menyadari besarnya harapan yang ada di pundaknya dengan menerima pinangan PSSI. Herdman sudah menganggur setelah melepas jabatan Pelatih Toronto FC per Oktober 2024.
Saya pikir hal yang penting untuk mempelajari kultur dan benar-benar menyatu dengan suasana di sana (Indonesia).
”Ini tentang menemukan proyek yang tepat. Satu (proyek) yang dapat membuat Anda merasakan hasrat dan intensitas dari pendukung,” kata Herdman kepada The Canadian Press, Sabtu lalu atau Minggu (4/1/2026) dini hari WIB.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/8e1e8e4810c5aa4694dc7eecd50e1b5b-FAK_4650.jpg)
Herdman dijadwalkan tiba di Indonesia pada pekan ini. Agenda pertamanya adalah menggelar konferensi pers pengenalan di Jakarta. Setelah itu, ia akan memantau kompetisi nasional serta beradaptasi dengan kehidupan di Indonesia.
”Saya pikir hal yang penting untuk mempelajari kultur dan benar-benar menyatu dengan suasana di sana (Indonesia). Anda harus memahami masyarakat dan mengkreasi koneksi dengan mereka,” ucapnya.
Sebelum berbicara jauh tentang Piala Dunia, debut Herdman bersama timnas Indonesia dipastikan akan tercipta pada turnamen internasional mini bertajuk FIFA Series 2026, Maret mendatang, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Pada turnamen itu, tim Garuda akan ditantang dua dari tiga tim peserta lain. Satu calon lawan sudah ditentukan, yakni Saint Kitts dan Nevis yang berasal dari zona Amerika Utara dan Tengah alias CONCACAF.
Sementara dua tim calon lawan Indonesia berpeluang berasal dari Ocenia serta Eropa (UEFA) atau Afrika (CAF). Dalam turnamen itu, setiap tim akan tampil dua kali. Tim dengan perolehan poin terbanyak akan dinobatkan sebagai kampiun.
Tak ayal, turnamen FIFA Series 2026 adalah gelaran awal bagi Herdman untuk merebut hati ratusan juta pendukung timnas Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Hanya dengan capaian terbaik, cinta pendukung Indonesia kepada Herdman akan perlahan tumbuh.
Sekitar empat bulan selanjutnya, tugas besar pertama Herdman akan tersaji. Ia menjadi harapan terkini bagi Indonesia untuk menjadi raja di ASEAN, tepatnya melalui Kejuaraan ASEAN Piala Hyundai 2026. Pengundian grup turnamen dwitahunan itu akan dilakukan di Jakarta, 15 Januari mendatang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/03/dce817e1d544fabab4b6db0a16ab2591-20260103_KID_John_Herdman_mumed.png)
Menjadi juara Asia Tenggara adalah cara tercepat bagi Herdman untuk membuat dirinya terlepas dari bayang-bayang romantisisme pendukung Indonesia terhadap Shin. Jika bisa membantu Indonesia mengangkat trofi di Kejuaraan ASEAN 2026, yang merupakan edisi perayaan 30 tahun turnamen itu, Herdman sudah satu capaian lebih bagi dari Shin, juru latih dari Korea Selatan.
Shin gagal membawa Indonesia menjadi raja ASEAN dalam tiga kesempatan di Kejuaraan ASEAN. Bahkan, pada edisi pamungkas tahun 2024, Shin gagal menghindari Indonesia tersingkir di babak penyisihan.
Persaingan di ASEAN tentu tidak bisa dianggap sebelah mata oleh Herdman dan stafnya. Vietnam dan Thailand merupakan lawan terbesar bagi Indonesia. Kemudian, Singapura, Filipina, dan Kamboja berpeluang menjadi kuda hitam yang bisa meruntuhkan mimpi Indonesia menjadi juara ASEAN jika tidak waspada.
Satu hal keunggulan Herdman ketimbang Shin ialah bisa menggunakan pemain-pemain naturalisasi. Herdman akan leluasa memanggil pemain diaspora yang berkarier di Liga Super Indonesia, seperti Thom Haye, Eliano Reijnders, dan Rafael Struick.
Bahkan, rumor tambahan pemain naturalisasi di Liga Super yang mengarah kepada Joey Pelupessy, Nathan Tjoe-A-On, dan Maarten Paes, akan memperbesar peluang Garuda untuk berkuasa di kancah regional.
Di sisi lain, Kejuaraan ASEAN 2026 adalah ujian bagi Herdman untuk membawa Indonesia naik kelas. Pasalnya, pada 2027, Indonesia akan kembali bersaing di level Asia yang meliputi ajang Piala Asia 2027 dan kualifikasi Piala Dunia 2030, bahkan ada pula rencana Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menggelar Liga Nasional Asia seperti di Eropa pada pertengahan 2027.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/18/5e5cdfb21adff2f38d35290515cc592c-AP22331716649016.jpg)
Terlepas dari besarnya harapan dan tantangan yang mengarah kepada Herdman, pelatih setinggi 1,7 meter itu menganggap Indonesia memiliki kemiripan dengan Kanada. Hal itu menjadi dasar Herdman tertarik untuk memulai petualangan baru di Asia.
”Saya merasakan hal yang sama (antara Indonesia) dengan Kanada. Negara yang besar memiliki potensi besar dari pemain-pemain lokal, tetapi juga berkemampuan merekrut pemain berkewarganegaraan ganda (naturalisasi) yang telah mereka mulai,” ucap Herdman yang berasal dari Inggris.
Selain menggantungkan harapan prestasi kepada Herdman, publik sepak bola nasional juga berharap kemampuan Herdman mengorbitkan potensi-potensi baru untuk mengisi skuad Garuda. Pemain-pemain alumni Piala Dunia U-17 2023 dan 2025 bisa menjadi amunisi awal Herdman untuk menjaga regenerasi talenta lokal Indonesia.
Selamat berjuang demi lambang Garuda di dada, gaffer Herdman!
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Retma Wati