Usai gagal merekrut Nico Williams, Barcelona masih berburu penyerang sayap kiri. Ada alasan khusus mengapa Barca butuh sayap kiri baru meski sudah ada Raphinha.
11 Jul 2025 13:02 WIB · Olahraga
Topik pencarian penyerang sayap kiri baru belum sepenuhnya usai di Barcelona. Setelah gagal mendatangkan Nico Williams dari Athletic Bilbao, Barca dikabarkan membidik Luis Diaz dan Marcus Rashford. Meski sudah ada Raphinha yang tampil gemilang musim lalu, Pelatih Hansi Flick justru merasa masih perlu merekrut penyerang sayap kiri.
Pencarian Barca terhadap sosok penyerang sayap kiri baru sekilas menimbulkan pertanyaan. Apa alasan Barca masih merasa perlu merekrut penyerang sayap kiri sementara mereka masih punya Raphinha di pos tersebut?
Apalagi, Raphinha tampil mengesankan dengan menjadi motor serangan Barca bersama Lamine Yamal. Raphinha total melesakkan 34 gol dan 25 asis dalam 57 laga di seluruh kompetisi musim lalu.
Dengan performa Raphinha yang seperti itu, sebagian pihak berpikir tidak ada urgensinya bagi Barca menambah pemain baru di pos sayap kiri. Menurut mereka, merekrut penyerang sayap kiri saat ini belum begitu mendesak lantaran sudah ada Raphinha sebagai satu dari sedikit pemain sayap terbaik di Eropa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/14/f1f4581c5179f0bc0313ab977fbf3c59-c3f82c348c9b424982bc37a1b1b14bbb_0_928088d3657a45acb4a745d8ccaf73fa.jpg)
Namun, manajemen Barca melihat pos sayap kiri mereka kini amat rentan sehingga perlu diperkuat dengan mendatangkan pemain baru.
Alasan yang paling utama adalah krisis pemain. Raphinha memang tampil impresif musim lalu, tapi dia adalah satu-satunya penyerang sayap kiri yang dimiliki Barca saat ini setelah Ansu Fati memutuskan hengkang ke AS Monaco.
Mengarungi musim yang padat dengan hanya berbekal seorang pemain sayap kiri tanpa pelapis adalah tindakan ceroboh. Terlebih pemain sayap adalah posisi yang tidak bisa ditawar dalam formasi 4-2-3-1 andalan Flick. Oleh sebab itu, Flick dan manajemen Barca sepakat perlu pemain baru untuk menjadi pelapis Raphinha.
Barca memang masih memiliki Ferran Torres yang bisa bermain di sayap kiri. Namun, mantan pemain Manchester City tersebut berposisi asli sebagai penyerang tengah sekaligus pelapis dari Robert Lewandowski.
Jika Lewandowski absen, Torres menjadi sosok terdepan di posisi penyerang tengah sebagaimana terjadi musim lalu. Torres pun tampil lebih baik apabila ditempatkan lebih dekat ke gawang lawan, bukan memulai serangan dari sayap.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/27/74eb08633ffa13d5645d5931fec26dce-Britain_Soccer_Premier_League_6_.jpeg)
Alasan kedua berangkat dari kekhawatiran bahwa performa impresif Raphinha adalah fenomena keajaiban dalam satu musim (one season wonder). Tidak jarang seorang pesepak bola bisa tampil memukau lalu secara tiba-tiba mengalami penurunan performa pada musim berikutnya.
Untuk mengantisipasi fenomena itu terjadi pada Raphinha, mau tidak mau manajamen Barca memang tidak punya pilihan selain mencari penyerang sayap kiri alternatif. Mereka tidak ingin mengambil risiko hanya bergantung pada performa Raphinha seorang.
Adapun alasan ketiga menyangkut persaingan. Seorang pesepak bola lebih mungkin mempertahankan performanya apabila terdapat rival dalam memperebutkan posisi sebagai pemain mula.
Raphinha yang saat ini tanpa pelapis di sayap kiri berpotensi terlena karena sudah pasti mendapat jaminan sebagai pemain mula akibat tidak adanya persaingan. Dengan kehadiran penyerang sayap kiri yang berkemampuan setara, diharapkan Raphinha dan pelapisnya terus terpacu meningkatkan performa.
Keberadaan pelapis Raphinha juga memberikan keuntungan bagi Flick yang akan punya lebih banyak opsi dalam menentukan susunan pemain. Sebagaimana saat asa merekrut Williams masih menyala, Flick diprediksi akan bereksperimen dengan menggeser Raphinha sebagai penyerang lubang (second striker).
Permasalahan Barca sekarang adalah mencari sosok tepat untuk mengisi pos sayap kiri. Setelah Williams gagal bergabung karena lebih memilih memperpanjang kontrak selama 10 tahun dengan Bilbao, Barca kini terus dikaitkan dengan penyerang sayap Manchester United, Marcus Rashford, dan Luis Diaz dari Liverpool.
Diaz dianggap punya kualitas yang diharapkan Flick. Hanya saja, banyak hal perlu dipertimbangkan manajemen Barca dalam merekrutnya, terutama persoalan harga. Dengan kemampuan belanja pemain yang terbatas, membeli Diaz bukanlah pilihan bijak bagi Barca.
Harga pasar Diaz saat ini menyentuh 80 juta euro, cukup tinggi dan akan menghabiskan sebagian besar anggaran Barca di saat mereka juga perlu merekrut pemain pada posisi lainnya. Selain itu, usia Diaz yang menginjak 28 tahun membuat Diaz sulit dijual kembali dengan harga tinggi.
Adapun untuk Rashford, harian Spanyol, Sport, menulis laporan tentang Flick dan Direktur Olahraga Barca, Deco, yang tidak satu suara. ”Hansi Flick sangat menyukai Rashford, tapi tidak begitu dengan manajemen (direktur) olahraga. Ini berarti berarti keputusan akhir harus segera dibuat terkait pengejaran Barca di pos sayap kiri,” tulis Sport.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/25/5b0c200560038eb70bd0a778b6d5fbed-wires_photo_2025_04_25T190255.267.jpg)
Opsi lain yang bisa diambil Barca adalah mengorbitkan kembali pemain lulusan akademi. Untuk pos sayap kiri, ada dua kandidat potensial, yaitu Dani Rodriguez dan Ibrahim Diarra yang saat ini bermain di tim B Barca.
Ide untuk mempromosikan pemain jebolan La Masia terutama disampaikan oleh mantan gelandang Barca, Pedro, yang kini membela Lazio. ”Saya akan memilih pemain dari tim yunior. Mendatangkan bintang selalu menghasilkan lebih banyak antusiasme, tetapi Barca tertarik untuk menyesuaikan satu atau dua bagian dan terus menyusun sisanya dengan akademi,” kata Pedro, dalam wawancara bersama Tribuna.
Pilihan untuk menggunakan pemain hasil didikan akademi lebih masuk akal bagi Barca, alih-alih terus mencari pelapis Raphinha dari klub lain. Barca berkali-kali terbukti sukses mengorbitkan pemain hasil binaan akademi mereka, seperti Pau Cubarsi, Marc Casado, dan yang paling fenomenal Lamine Yamal.
Dengan preseden seperti itu, tidak ada salahnya memberi kesempatan pemain akademi menjadi rival bagi Raphinha.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto