Sudah Tiga Hari Akses ke Tapanuli Putus Total, 43 Orang Dilaporkan Meninggal

Dampak bencana di Sumut diperkirakan jauh lebih besar mengingat banyak daerah yang masih terisolasi, tidak ada sinyal seluler, dan jaringan listrik terputus.

27 Nov 2025 17:56 WIB · Lingkungan

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Oleh Nikson Sinaga

TARUTUNG, KOMPAS — Sudah tiga hari Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga di Sumatera Utara terisolasi setelah bencana banjir bandang dan longsor. Sebanyak 43 orang dilaporkan meninggal dan 88 orang hilang.

Dampak bencana diperkirakan jauh lebih besar dari yang dilaporkan mengingat banyak daerah yang masih terisolasi, tidak ada sinyal seluler, dan jaringan listrik terputus.

Berdasarkan pantauan Kompas, jalur utama menuju kawasan pesisir barat Sumut itu masih lumpuh total pada Kamis (27/11/2025). Kompas mencoba masuk ke kawasan bencana Tapanuli melalui jalur utama, yakin Jalan Tarutung-Sibolga. Namun, jalur tersebut tidak bisa ditembus dan lumpuh total.

Sedikitnya enam alat berat ekskavator bekerja untuk membuka jalur utama ke pesisir barat Sumut itu. Sudah lebih dari 20 titik longsor berhasil dibuka di sekitar 10 kilometer jalan di Kecamatan Adian Koting, Tapanuli Utara. Namun, diperkirakan masih ada sekitar 50 lokasi longsor di sepanjang 20 kilometer jalur di perbatasan Tapanuli Utara dengan Tapanuli Tengah.

Alat berat pun bergerak perlahan membuka timbunan longsor satu per satu. Di beberapa titik, timbunan longsor berupa lumpur dan batang pohon menumpuk hingga setinggi 2 meter.

Perkampungan di Jalan Tarutung-Sibolga di Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, rusak berat diterjang banjir bandang, Kamis (27/11/2025). Sudah tiga hari jalan utama menuju Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah itu lumpuh total karena tertimbun material banjir dan longsor di sepanjang 20 kilometer jalan.
Perkampungan di Jalan Tarutung-Sibolga di Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, rusak berat diterjang banjir bandang, Kamis (27/11/2025).
Perkampungan di Jalan Tarutung-Sibolga di Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, rusak berat diterjang banjir bandang, Kamis (27/11/2025).

Di jalur tersebut, sejumlah perkampungan juga rusak berat. Beberapa rumah hanyut diterjang material longsor. ”Banjir bandang dan longsor terjadi beberapa kali sejak Senin (24/11/2025) malam. Hujan turun terus hampir sepanjang hari,” kata Manat Hutagalung (50), warga Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara.

Di beberapa titik, jalan juga ambles sehingga harus ditimbun. Hingga Rabu sore, alat berat masih terus bekerja membuka jalur tersebut.

Ratusan angkutan logistik juga tertahan di jalur tersebut. Para sopir memarkirkan truk menunggu jalur tersebut terbuka. Mereka sudah tiga hari menunggu sejak jalur itu terputus.

Kepala Desa Dolok Nauli, Jonas Aritonang, mengatakan, banjir bandang dan longsor susulan masih terus terjadi di daerah tersebut. Jonas menyebut, dua desa tetangga mereka masih terisolasi, yakni Desa Pagaran Pisang dan Desa Sibalanga.

”Kami mendapat informasi tujuh warga meninggal di Desa Pagaran Pisang. Di Sibalanga, dilaporkan 17 orang hilang. Dua desa itu diterjang banjir bandang dan longsor pada Rabu dini hari,” kata Jonas.

Warga korban bencana banjir bandang dan longsor mengungsi di rumah ibadah di Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Kamis (27/11/2025).
Petugas gabungan berupaya membuka jalur yang tertimbun longsor di Jalan Tarutung-Sibolga, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Kamis (27/11/2025).
Rumah warga tertimbun longsor di Jalan Tarutung-Sibolga, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Kamis (27/11/2025).
Kendaraan tertahan di jalur yang tertimbun longsor di Jalan Tarutung-Sibolga, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Kamis (27/11/2025).

Akses jalan ke dua desa tersebut juga masih terisolasi. Beberapa warga desa bahkan harus berjalan selama tiga jam untuk meminta bantuan. Mereka berjalan kaki agar bisa melewati timbunan longsor. Menurut Jonas, warga terdampak bencana di dua desa tersebut belum mendapat bantuan tanggap darurat bencana.

Kepala Bidang Humas Polda Sumut Komisaris Besar Ferry Walintukan mengatakan, sebanyak 12 kabupaten dan kota di Sumut mengalami bencana banjir bandang dan longsor akibat hujan lebat yang terjadi sejak Minggu (23/11/2025).

Hingga Kamis, sebanyak 43 orang dilaporkan meninggal dan 88 orang hilang akibat bencana alam di Sumut. ”Sebanyak 1.168 orang juga mengungsi di sejumlah daerah,” kata Ferry.

Quote

Kami mendapat informasi tujuh warga meninggal di Desa Pagaran Pisang. Di Sibalanga, dilaporkan 17 orang hilang. Dua desa itu diterjang banjir bandang dan longsor pada Rabu dini hari.

Sementara itu, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumut Herianto mengatakan, upaya penanggulangan bencana menghadapi kesulitan karena terputusnya komunikasi dan akses jalan. Sudah tiga hari komunikasi ke daerah tersebut lumpuh.

Akibatnya, pendataan dampak bencana juga masih sulit dilakukan. Data korban bencana juga masih berbeda-beda. Selain itu, masih banyak daerah yang belum bisa diakses. Menurut Herianto, dampak bencana paling parah terjadi di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikson Sinaga
 | 

Editor:

Haris Firdaus
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar