Meski target lolos babak final tak tercapai, Sukma Lintang tampil bagus di seri Piala Dunia 2025 Wujiang. Ini awal baik bagi pemanjat ”lead” Indonesia tersebut.
26 Apr 2025 17:53 WIB · Olahraga
WUJIANG, SABTU — Pemanjat tebing disiplin lead Indonesia, Sukma Lintang Cahyani, tidak berhasil mencapai target menembus babak final di seri Piala Dunia 2025 di Wujiang, China. Walakin, Lintang menunjukkan sinar terangnya dengan menjadi satu-satunya wakil Indonesia di semifinal dan mencatatkan hasil terbaik selama keikutsertaannya di Piala Dunia.
Lintang harus puas menempati peringkat ke-18 dari 24 peserta pada babak semifinal yang digelar di Fenhu Culture and Sports Center, Wujiang, Sabtu (26/4/2025). Artinya, pemanjat berusia 20 tahun itu tidak berhasil melaju ke babak final. Sebab, hanya delapan peserta dengan peringkat terbaik di semifinal yang bisa lolos ke babak puncak.
Padahal, lolos ke babak final merupakan target Lintang di Wujiang yang menjadi turnamen internasional pertama tahun ini. Dia ingin kembali mencicipi babak final seperti saat Kualifikasi Olimpiade Paris 2024 zona Asia pada 2023 di Jakarta.
”Ingin meraih hasil lebih baik dari seri Piala Dunia di Wujiang tahun lalu. Maka dari itu, aku menargetkan masuk final atau delapan besar,” kata Lintang sebelum berangkat ke Wujiang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/26/dce736f666112c21cb8b5c0cdae6f8da-IMG_8157.jpeg)
Di Wujiang tahun lalu, Lintang juga gagal melaju ke final. Pemanjat asal Yogyakarta ini menempati peringkat ke-26 atau posisi terakhir semifinalis. Mulai tahun ini, berdasarkan aturan Federasi Panjat Tebing Internasional (IFSC), semifinalis perlombaan lead hanya mereka yang menempati peringkat 24 besar kualifikasi.
Sebelum Wujiang tahun ini, pencapaian Lintang di Wujiang pada 2023 bersama seri 2022 di Jakarta, merupakan prestasi terbaiknya sepanjang keikutsertaan di Piala Dunia. Sejak 2021, Lintang terhitung enam kali mengikuti Piala Dunia.
Seri Piala Dunia 2025 di Wujiang menjadi keikutsertaanya yang ketujuh kalinya. Meski tak melangkah ke babak selanjutnya, hasil di Wujiang tahun ini memperbarui prestasi terbaik Lintang di Piala Dunia.
Hasil itu diawali Lintang dengan melakukan observasi koleksif selama enam menit bersama 23 atlet lain. Mereka tidak diizinkan mencoba rute tersebut. Setelah observasi, para atlet dimasukkan ke ruang isolasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/11/aa61a060-5d3e-4731-8673-3cfee026e373_jpg.jpg)
Perlombaan babak semifinal dilakukan hanya dalam satu sesi pemanjatan, tidak seperti babak kualifikasi yang dilakukan dua kali. Perlombaan diawali dari peserta urutan terbawah hingga teratas dalam daftar peringkat kualifikasi. Peserta urutan atas kualifikasi mendapatkan keuntungan waktu berpikir lebih lama dari balik dinding lomba.
Lintang sebagai atlet dengan peringkat terbawah di kualifikasi menjadi peserta pertama kategori putri yang memulai semifinal. Seperti saat kualifikasi, Lintang menunjukkan gerakan yang luwes seolah sedang menari di dinding panjat.
Lead memang merupakan disiplin dalam panjat tebing yang membutuhkan keluwesan untuk mencapai pegangan-pegangan di dinding panjat. Tak hanya itu, disiplin ini juga membutuhkan daya tahan, ketangkasan, dan kecepatan. Sebab, pemenang ditentukan oleh atlet yang mencapai titik tertinggi dengan waktu tercepat dalam alokasi waktu 6 menit.
Saat mencapai pegangan ke-32 dan 33 dari total 42 pegangan, Lintang memang tampak kesulitan. Tubuhnya sempat melintang dengan tangan kanan dan kirinya bersilangan pada pegangan.
Lintang kemudian sempat bergelantung selama kurang lebih tiga detik hanya dengan tangan kiri pada pegangan ke-33. Tubuhnya mencoba berbalik agar tangan kanannya bisa mencapai pegangan selanjutnya. Namun, pada momen inilah Lintang jatuh.
Dengan mencapai pegangan ke-33 dari total 42 pegangan untuk sampai puncak, Lintang sempat menempati posisi keenam pada daftar peringkat saat 12 peserta sudah tampil. Posisinya perlahan tergusur ketika dua peserta lainnya selesai beraksi.
Ketika pemanjat Korea Selatan, Kim Juha, mencapai 34+, Lintang langsung terlempar dari posisi delapan besar. Peluang lolos ke babak final pun melayang.
Namun, jika dibandingkan dengan hasil di Wujiang pada 2023, Lintang mampu mencapai titik lebih tinggi di dinding panjat 15 meter tersebut tahun ini. Tahun lalu, Lintang mencapai pegangan 20+. Dia terjatuh saat hendak berpindah ke pegangan ke-21.
”Lead” ini ditargetkan lebih bagus dari sebelumnya. Sebelumnya, kan, semifinal dengan peringkat terbawah. Keinginan kami, paling tidak tembus final. Itu saja sudah keren sekali.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/23/cc830a72-3cad-4b77-b909-9b47dc54d438_jpg.jpg)
Pemanjat lead putri Indonesia yang lain, Nur Diatul Jannah, tak bisa mengikuti langkah Lintang setelah hanya menempati posisi ke-56 pada babak kualifikasi. Nur jatuh saat berupaya berpindah ke poin 19 dan 22.
Lintang juga menunjukkan sinar terangnya di Wujiang tahun ini dengan menjadi satu-satunya wakil Indonesia pada babak semifinal. Dari empat pemanjat tebing disiplin lead Indonesia, hanya Lintang yang lolos ke babak tersebut.
Adapun pemanjat lead putra, Muhammad Rizky Syahrafli Simatupang menempati peringkat ke-32 setelah terjatuh saat hendak menggapai poin ke-37 dan mencapai poin ke-35 pada jalur kedua. Sementara itu, Musauwir bertengger di posisi ke-49 setelah jatuh saat berusaha berpidah ke poin 32 dan 23.
Hasil di Wujiang bisa menjadi modal awal bagi Lintang untuk perjalanannya tahun ini. Disiplin lead akan lebih sering diikutkan kompetisi untuk belajar bersaing dengan pemanjat internasional lain. Itu termasuk seri Piala Dunia selanjutnya di Bali pekan depan.
”Lead ini ditargetkan lebih bagus dari sebelumnya. Sebelumnya, kan, semifinal dengan peringkat terbawah. Keinginan kami, paling tidak tembus final. Itu saja sudah keren sekali,” tutur pelatih panjat tebing Indonesia, Hendra Basir.
”Namun, kita tidak bisa memungkiri meningkatkan kemampuan di lead itu tidak sefluktuatif speed sehingga terkesan stabil. Butuh waktu lebih panjang untuk ada di level puncak performa. Sementara pesaing sudah ada di titik itu. Namun, kami ya bertahap saja,” kata Hendra menambahkan.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase