SUKU BUNGA ACUAN

Fed Rate Naik: Saham Komoditas Untung, Sektor Teknologi Tertekan

​Kebijakan terbaru suku bunga The Fed membawa angin segar bagi emiten komoditas ekspor, tetapi membayangi emiten berutang tinggi.

17 Sep 2026 11:54 WIB · Ekonomi & Bisnis

AFP

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, menaikkan suku bunga acuan pada September 2026 berpotensi memicu rotasi sektor di pasar saham Indonesia. Saham-saham sektor komoditas ekspor diproyeksikan menjadi pendorong utama yang diuntungkan. Sementara sektor teknologi, properti, dan emiten yang berutang dolar AS diperkirakan paling tertekan.

The Fed menaikkan 25 basis poin suku bunga menjadi 3,75-4,00 persen. Keputusan yang diambil secara aklamasi oleh Komite Kebijakan Moneter The Fed pada Kamis (17/6/2026) dini hari WIB. Ini merupakan kenaikan pertama sejak 2023. Kenaikan dipicu oleh inflasi global yang kembali memanas seiring lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus 100 dolar AS per barel.

Laporan proyeksi ekonomi triwulanan yang dirilis Komite memberikan sinyal peluang kenaikan suku bunga satu kali lagi sebelum akhir 2026. Proyeksi terbaru menunjukkan median suku bunga acuan berada di level 4,1 persen hingga akhir 2027, menegaskan era higher-for-longer atau tren suku bunga ditahan tinggi yang menopang penguatan imbal hasil obligasi AS dan indeks dolar AS (DXY).

Grafik perbandingan tren kebijakan suku bunga The Fed AS dan Bank Indonesia sejak Januari 2024 hingga September 2026.

Investment Consultant sekaligus Founder Indonesia Investment Education, Rita Efendy, menjelaskan, dinamika ini dapat memicu rotasi sektor pasar saham domestik. Bagi investor, strategi pengalihan aset ke emiten berarus kas kuat, bertipe defensif, serta saham-saham komoditas dinilai menjadi pilihan yang lebih baik untuk dikoleksi saat ini.

”Pasar berpotensi bergeser dari growth stocks menuju saham yang memiliki cash flow kuat dan beneficiary dari inflasi serta kenaikan harga komoditas,” ujar Rita kepada Kompas, Kamis (17/9/2026).

Menurut analisisnya, sektor yang akan diuntungkan adalah emiten komoditas ekspor seperti batubara, minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), dan logam. Penguatan didorong ganda oleh tingginya harga jual komoditas global dan pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan pendapatan berbasis dolar AS.

Sementara itu, sektor saham yang kemungkinan tertekan efek kebijakan suku bunga AS ini adalah saham berbasis pertumbuhan seperti teknologi, properti yang sensitif terhadap biaya dana (cost of fund), serta emiten dengan porsi utang dolar AS besar akibat naiknya imbal hasil obligasi AS dan risiko keluarnya modal asing dari pasar.

Produk unggulan UMKM asal Purbalingga dijual di rak khusus yang ada di Alfamart, Purbalingga, Jawa Tengah, Selasa (5/5/2020).

Sementara itu, untuk sektor yang relatif defensif antara lain sektor produsen barang konsumsi harian atau consumer staples. Saham produk konsumsi ini menjadi pilihan aman saat volatilitas makro meningkat karena aliran dana cenderung mencari perlindungan pada saham defensif berarus kas stabil.

Untuk sektor perbankan, Rita membaca peluangnya masih tidak stabil. Kenaikan imbal hasil berpotensi mendukung pricing pinjaman dan net interest margin (NIM). Namun, suku bunga yang terlalu tinggi berisiko menekan pertumbuhan kredit dan meningkatkan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL). Rita menyarankan investor memprioritaskan bank dengan dana murah (CASA) kuat dan kualitas aset terjaga.

Adapun dalam situasi ini, Rita menangkap sektor yang memiliki peluang khusus, yaitu saham dengan tema pusat data dan infrastruktur pendukungnya. Saham di sektor terkait industri ini dinilai tetap menarik untuk strategi buy on weakness atau membeli di posisi harga rendah, mengingat pengembangannya masih berada pada tahap awal di Indonesia.

Riset harian Samuel Economic Update oleh Tim Peneliti Makro Strategi Samuel Sekuritas Indonesia juga meminta pelaku pasar mewaspadai emiten domestik dengan tingkat utang tinggi.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan mengalami volatilitas jangka pendek. Investor disarankan untuk tetap berada dalam mode bertahan, mengedepankan efisiensi portofolio pada saham-saham komoditas dan defensif, serta lebih selektif terhadap saham teknologi dan properti.

Hal ini dipengaruhi pandangan bahwa ketahanan ekonomi AS yang justru dapat membawa implikasi rumit bagi transmisi ekonomi domestik Indonesia. Di satu sisi, AS merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi (PDB) menjadi 2,3 persen untuk 2026 dan 2,4 persen untuk 2027, serta menurunkan tingkat pengangguran ke 4,1 persen. Namun, kombinasi antara pertumbuhan yang solid dan persistennya inflasi AS, di mana inflasi PCE diproyeksikan naik menjadi 3,7 persen, memaksa yield obligasi dan dolar AS bertahan di level tinggi.

Infografik Suku Bunga Acuan Bank Indonesia

Bagi Indonesia, Bank Indonesia (BI) diperkirakan dihadapkan pada pilihan sulit untuk menjaga suku bunga acuan (interest-rate differential) demi menahan pelemahan rupiah, inflasi akibat risiko El Nino, serta lonjakan harga energi, yang pada akhirnya dapat membayangi target pertumbuhan ekonomi nasional.

Dari sisi pergerakan indeks, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai, sentimen pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed memperberat posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sedang berada dalam tren pelemahan.

Pada perdagangan Rabu (16/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,38 persen ke level 6.436,85, menandai penurunan selama enam hari berturut-turut. Pada Kamis (17/9/2026) IHSG dibuka positif di level 6.455.

Pergerakan indeks harga saham terpantau dari monitor elektronik di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (31/8/2026). Pada penutupan perdagangan di awal pekan, IHSG tercatat menguat 0,11 persen atau 7,36 poin dari perdagangan sebelumnya menjadi 6.525,48

31-08-2026

Hendra menambahkan bahwa level 6.371 menjadi garis pertahanan (support) krusial bagi IHSG. Jika level ini mampu dipertahankan, peluang penembusan kembali (technical rebound) tetap terbuka. Namun, jika support tersebut jebol, diikuti tekanan jual saham berkapitalisasi besar, indeks berisiko membentuk level terendah baru.

”Tekanan terhadap IHSG tidak semata-mata berasal dari kondisi eksternal, tetapi juga mencerminkan masih rapuhnya sentimen domestik. Ketika saham-saham big caps mengalami tekanan, kenaikan pada sebagian saham lapis kedua belum cukup untuk menopang indeks secara keseluruhan,” kata Hendra.

Adapun area 6.552 menjadi resistance utama yang harus kembali ditembus untuk mengonfirmasi pemulihan tren.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto